Titi mendadak berpikir, bahwa time travel yang ia jalani bisa membuatnya mengubah takdir. Kenyataan tersebut terjadi lantaran kebanyakan kejadian time travel, selalu membuat yang mengalami menjalani misi. Namun, benarkah time travel yang Titi alami juga akan menghasilkan kesempatan serupa? Benarkah time travel yang Titi alami bisa menghapus kejadian naas yang membuat Titi menjadi gadis terno.da?
Kedua mata Titi terbuka, tapi kali ini Titi merasa dirinya tidak ada di tubuhnya. Rasa perih khas dari luka yang belum kering, Titi rasakan di sepanjang tubuhnya. Benar saja, ketika Titi mengangkat tangannya silih berganti, tangan kurus yang sudah penuh bekas sayat juga kembali dihiasi luka baru.
Bisa Titi pastikan, dirinya kembali menempati tubuh Jia. Kali ini tak tanggung-tanggung, kedua tangan maupun kedua kakinya telah diikat dengan tali tambang. Tubuh Jia ada di sebuah ranjang berantakan. Ranjang yang Titi kenali sebagai bagian dari rumah si pria psikopat.
Sebuah langkah terdengar disusul derit dari sebelah dan itu pintu kamar mandi yang dibuka. Sebuah celana cokelat tua menghiasi kaki jenjang yang keluar dari sana. Titi membuat Jia mengawasi sosok siapa di sana. Sosok yang membuat Titi malah mendapatkan kebenaran dari kecurigaannya. Bahwa sosok tersebut memang memakai seragam polisi.
Dueeeer! Itu polisi Pram! Polisi yang baru kemarin Titi jumpai di kehidupan nyatanya. Pantas saja Titi merasa tidak asing kepada sosok polisi Pram. Sosok polisi yang tak segan menggoda Titi melalui tatapan.
“Jadi, semuanya sungguh berkesinambungan. Ternyata alasanku kembali ke tubuhku karena agar tahu, bahwa polisi Pram yang bagiku tidak asing, memang pria psikopat ini!” batin Titi membuat Jia menatap polisi Pram penuh dendam.
Entah apa yang sudah Jia alami selama Titi meninggalkan raganya. Namun setelah apa yang terjadi, Titi berpikir, membu.nuh orang seperti polisi Pram bukanlah sebuah kejahatan fatal. Apalagi bisa Titi pastikan, polisi Pram ini preda.tor. Polisi Pram seolah memiliki kelainan bahkan menyimpang s.eksual. Pria itu begitu tertarik kepada wanita tak berdaya sekaligus penuh luka! Titi berpikir begitu karena setelah pertemuan kemarin saat polisi Pram mendatanginya ke rumah sakit.
“Apa yang harus aku lakukan? Apakah membun.uh setiap mereka yang melukai Jia termasuk yang melukaiku, bisa membuatku mengubah takdir? Bukan hanya takdirku karena sekarang merupakan satu tahun sebelum kejadian itu. Karena aku juga ingin mengubah takdir Jia,” pikir Titi yang menyudahi tatapannya dari polisi Pram.
“Aku mau kerja dulu. Setelah nanti aku pulang, kita lanjut bersenang-senang!” ucap polisi Pram sambil mengancing seragam bagian pergelangan tangan kirinya.
Tatapan beringas dan bagi Titi menji.jikan, Titi dapati lagi dari kedua mata polisi Pram. Rasanya, Titi sungguh ingin menik.am pria yang kiranya berusia di akhir empat puluh atau awal lima puluh tahun itu berulang kali. “Semoga aku benar-benar bisa melakukannya! Apalagi setelah semua yang dia lakukan!” batin Titi menahan emosi ketika kaki Jia yang diguyur minyak beraroma wangi zaitun, dielus agresif oleh polisi Pram.
Yang membuat Titi terbelalak, di bawah ketek kiri Jia, ada semprotan cairan bubuk cabai miliknya. “Ini semprotan beneran bikin aku agak curiga. Kenapa dia selalu ngikutin aku,” batinnya yang kemudian meminta semua ikatan Jia dilepas.
“Jika aku melepasmu, ... kamu bisa lari!” santai polisi Pram sambil terus mengusap agresif kaki kiri Jia yang penuh sayatan baru.
“Kenapa aku harus lari, sementara aku saja sedang menghindari Tomy!” balas Titi membuat Jia melakukannya.
“Tomy?” lirih polisi Pram yang seketika itu juga mengernyit.
Polisi Pram sampai berhenti mengelus kaki kiri Jia.
“Kok tanggapannya jadi beda, ya? Memangnya dia enggak tahu kalau Jia juga dibegitukan oleh si Tomy?” pikir Titi.
“Mama menyerahkanku kepada Tomy. Kapan pun dia mau, aku harus melayaninya!” tegas Jia. Titi dapati, kedua tangan polisi Pram yang langsung mengepal sangat kencang. “Aku sudah memohon ke mama, tapi mama enggak peduli!”
“Sepertinya aku baru saja menemukan cara jitu agar Tomy dan polisi Pram, saling berhadapan!” batin Titi.
“Izinkan aku mandi!” pinta Titi.
“Kamu bisa melakukannya denganku, ketika nanti aku pulang!” balas polisi Pram.
“Dasar manusa set.an!” batin Titi benar-benar geram.
Tanpa basa basi apalagi menggoda Titi lagi, polisi Pram langsung pergi. Polisi Pram tampak sangat emosi dan Titi berpikir, itu terjadi karena apa yang Titi ceritakan mengena Tomy maupun mamanya Jia.
Akan tetapi perginya polisi Pram dari sana membuat Titi tetap tidak bisa menyiapkan sen.jata untuk menghabisi polisi Pram. Iya, Titi bertekad menghabi.si polisi Pram. Hal yang juga akan Titi lakukan kepada Jeam dan kelima temannya.
“T—tolong ...? T—olong aku!” teriak Titi setelah sekitar satu jam dari kepergian polisi Pram.
“Kalau gini caranya, aku benar-benar enggak bisa lari,” pikir Titi yang mulai mencari cara lain. “Beneran enggak ada cara lain. Jia diikat begini, sementara di sini tidak ada orang lain,” lirih Titi membuat Jia melakukannya.
“Sepertinya suara tadi dari sini,” ucap suara wanita terdengar dari luar pintu sana. Alasan yang membuat jantung Jia berdetak lebih cepat.
“Iya ... tolong!” seru Jia amat sangat antusias. Karena sudah terbiasa merasakan luka, Titi bahkan tak mempermasalahkan rasa sakit yang menggerogoti sekujur tubuh Jia.
“T—tolong ... tolong buka pintunya! T—tolong aku!” heboh Titi.
“Maaf, tapi pintunya dikunci!” teriak suara wanita dari luar pintu sambil mencoba membuka pintu. Gagang pintu kamar Jia berada sibuk berputar ke kanan dan ke kiri.
“Lewat jendela kamar. Ada balkon dan semacamnya enggak? Kalau enggak ada, berarti wajib dobrak pintu. Tolong minta bantuan!”
Sekitar satu jam kemudian, Jia diboyong oleh beberapa warga. Mereka mengambil Jia melalui salah satu kaca jendela yang dipecahkan. Sebab wanita yang mendengar permintaan tolong Jia, tak berani jika harus meru.sak pintu.
Jia dibawa ke rumah RT di kawasan sana. Beberapa orang mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera ponsel. Kenyataan tersebut membuat Titi bertanya-tanya. Apakah kali ini dirinya bisa membuat Jia mendapatkan keadilan?
“Semoga saja bisa! Namun aku harus segera membuat Jia sehat. Seperih dan seremuk apa pun rasanya!” batin Titi optimis.
Malamnya, meski warga setempat yang diketuai RT meminta Jia untuk musyawarah bersama polisi Pram, Titi sengaja menolaknya. Titi membuat Jia berdalih takut, padahal Titi yang bersembunyi di dapur pak RT sengaja diam-diam mengambil sebuah pisau dapur. Titi menyimpan pisau yang sengaja ia bungkus dengan kain lap, di balik pinggang kanannya.
“Saya lebih tahu apa yang harusnya saya lakukan kepada putri saya. Itu kenapa, saya sengaja mengikatnya begitu karena dia memiliki kebiasaan aneh yang bisa membahayakan dirinya maupun orang lain, jika dia tidak diikat begitu!” tegas polisi Pram meledak-ledak hingga Titi sampai mendengarnya.
Seperti yang Titi duga, polisi Pram akan melakukan segala cara untuk meyakinkan warga. Bisa jadi, setelah ini warga juga tidak akan pernah percaya apalagi peduli kemudian menolong Titi lagi.
Pada akhirnya, warga yang lebih percaya ke polisi Pram, mengembalikan Jia kepada pak Pram. Apalagi status pak Pram yang notabene orang berpangkat, membuat mereka tak mungkin untuk tidak percaya.
Semuanya berjalan seperti rencana. Titi tetap membuat Jia diam. Begitu juga ketika akhirnya polisi Pram mengantarnya masuk ke dalam kamar. Setelah bergegas mengunci pintu, polisi Pram sengaja memeluk erat tubuh sang putri. Detik itu juga Titi membuat Jia mengambil pisau di balik pinggang kanannya. Tanpa pikir panjang dan malah penuh emosi, Titi langsung menik.am polisi Pram. Tak hanya sekali dua kali, tapi benar-benar berulang kali!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Erina Munir
rassaiiin.luhh polisi cabul...matek luuhh...
2024-07-15
1
Dahwi Khusnia
rasain
2024-07-01
0
Hilmiya Kasinji
org seperti Pram memang akan selalu lolos secara dia kan polisi
2024-06-30
0