“Arrrrgggh!” teriak pak Tomy sambil mengucek-ucek kedua matanya yang disemprot menggunakan cairan khusus oleh Titi. Cairan yang membuat kedua mata pak Tomy terasa sangat panas sekaligus perih. Rasanya kedua mata pak Tomy seperti akan meledak.
Titi memang sudah langsung beraksi tak lama setelah pak Tomy melepas baju kemudian menindih tubuh Jia. Kini, meski pak Tomy masih guling-guling di ranjang tidur Jia, Titi tetap menyunti.kkan cairan biu.s agar pak Tomy tak berulah lagi ke Jia.
Di tengah suasana yang terang benderang, pak Tomy terus mengucek kedua matanya. Kedua mata maupun sekitarnya sudah sangat merah. Karena rasanya pun juga sangat sakit. Andai pria berusia di pertengahan lima puluh itu bisa menangkap tubuh Jia, sudah pasti tubuh rapuh itu remuk karena pak Tomy hajar.
“Kura.ng ajar kamu ya! Cukup layani aku, kenapa kamu justru ... ah! Bajing.an!” lantang pak Tomy berkeluh kesah dan memang tak menyadari bahwa dirinya sudah dibius.
Pelan tapi pasti, pak Tomy akhirnya kehilangan kesadaran. Titi yang sempat ketakutan dan memang berdiri di depan pintu, akhirnya bisa bernapas dengan lega.
“Alhamdullilah,” batin Titi seiring dada Jia yang jadi naik turun secara teratur. Napasnya masih susah, dan memang terasa sangat sakit. “Ayo cepat, Ti. Kamu enggak punya banyak waktu!” sergah Titi dalam hati Jia dan menyemangati dirinya sendiri. “Jia harus berada di lingkungan tepat!” pikirnya lagi.
Ketika Titi akhirnya membuat tubuh Jia keluar dari kamar, dari lantai atas terdengar suara musik yang amat sangat berisik. Titi tahu suara musik tersebut dari dalam kamar Jeam. Alasan yang langsung membuatnya dongkol.
“Tunggu giliranmu, Jeam! Kamu dan papamu sama saja. Sama-sama brengse.k!” batin Titi terus melangkah cepat meninggalkan kediaman orang tua Jeam. Di ransel gendongnya, ia sudah membawa bukti untuk menjebloskan pak Tomy maupun mamanya Jia ke dalam penjara.
Di kamar Jia, pak Tomy sengaja Titi tutupi menggunakan selimut, meski keadaan pak Tomy masih tengkurap. Sementara suasana kamar yang awalnya terang benderang juga sudah Titi padamkan semua.
Satpam yang berjaga mencoba menghalang-halangi kepergian Titi. Apalagi dirasa pria tersebut, kenyataan Titi yang menggendong ransel terkesan bahwa Titi akan minggat.
“Tunggu jangan pergi dulu, Non. Tunggu saya memastikan ke mama Non terlebih dahulu,” ucap sang satpam dan langsung membuat Titi ketar ketir.
Titi langsung memutar otak, mencari cara lain agar secepatnya, dirinya bisa pergi dari sana. “Tapi tadi mama bilang, Bapak diminta bawain barang-barang yang lain, Pak. Itu di ruang tamu. Tolong banget, ya!” sergah Titi terpaksa berbohong.
Meski awalnya sang satpam kelihatan kebingungan, satpam tersebut tetap memastikan masuk ke dalam ruang tamu. Berharap apa yang Jia katakan memang benar. Bersamaan dengan itu, Titi juga langsung mengerahkan tubuh Jia untuk memanjat gerbang. Gerbang yang kiranya bertinggi 2,5 meter itu Titi panjat.dengan buru-buru.
“Hati-hati, ... hati ... hati. Oh iya ... si Jia lagi hamil, kan?” pikir Titi.
Sampai di depan kantor polisi, Titi langsung turun dengan hati-hati juga. Suasana sudah sepi bahkan nyaris tidak ada orang lain selain Titi. Namun kenyataan tersebut tak meredam tekad Titi dalam melaporkan pak Tomy.
Apa yang Titi sampaikan tetap membuat Jia ditatap penuh keraguan. Mengenai kehamilan Titi dan juga apa yang pak Tomy lakukan seolah tak mampu meyakinkan pihak kepolisian.
“Ya sudah, tunggu kabar dari kami,” ucap sang polisi yang dengan kata lain, Titi atau Jia, sudah diizinkan pergi.
“Akhirnya dia kembali lagi. Sudah cukup lama dia tidak membuat laporan seperti sekarang,” ucap sang polisi tak lama setelah Titi pergi.
Mendengar itu, Titi langsung tercengang. Langkah Titi refleks jadi lebih pelan seiring tatapannya yang menatap sekaligus memastikan sang polisi. “Gillllaaa, jadi sebenarnya Jia juga sudah beberapa kali membuat aduan? Kalau begini caranya, aku harus ke komnas perlindungan anak dan perempuan, agar kasus Jia segera diusut dan aku juga bisa segera bapas dendam! Gillla, terus polisi ini kerjanya ngapain? Masa iya aku harus membu.nuh ak Tomi maupun mamanya Jia, agar aku bebas dari mereka? Termasuk juga dengan Jeam, ... masa aku harua membunuhnya secara langsung?!” batin Titi benar-benar kesal.
“Kalau kami tidak meminta perlindungan sekaligus keadilan dari kalian, kami harus melakukannya ke siapa, Pak Polisi? Ke dukun? Atay langsung ke atasan kalian? Atau nunggu kasus ini viral?!” kesal Titi berucap lantang.
Tiga polisi yang baru saja Titi tinggalkan kompak tercengang. Ketiganya kompak kebingungan menatap Titi. Dengan segera, Titi yang sebenarnya tipikal pemberani, sengaja mengeluarkan ponsel Jia. Ia merekam ketiga polisi di depan sana.
“Sekarang katakan kepadaku, Bapak-Bapak polisi yang terhormat, mau menindaklanjuti laporan saya, tidak? Coba sekarang katakan, sudah berapa banyak saya melaporkan kasus yang saya alami? Saya ini diperko.sa loh, Pak. Saya dianiaya oleh orang tua saya. Bukan hanya orang tua kandung, tapi juga orang tua sambung!” Titi berucap lantang. Ia sungguh tidak takut meski selanjutnya, ia harus menghadapi banyak pertanyaan dari masyarakat luas. “Hukum di negara ini, tak viral maka tak diusut!” batin Titi yang juga menyinggung keviralan kasusnya. “Harus viral dulu baru akan diurus yah, Pak? Ya sudah, saya tunggu!” kesal Titi.
Di malam yang makin larut, Titi belum juga menyerah. Titi yang sudah sempat membuat pihak kepolisian ketar-ketir sengaja mendatangi kantor komnas perlindungan anak dan perempuan.
“Banyak jalan menuju keadilan. Lihat, berita yang aku unggah langsung mendapat banyak perhatian dari orang-orang.
Di tengah perjalanan, Titi yang berjalan kaki dalam wujud Jia malah bertemu dengan pria psiko.pat selaku sosok pertama yang Titi lihat tak lama setelah jiwanya memasuki tubuh Jia. Pria itu menggunakan mobil, menyetir sendiri, dan langsung menatap Jia dengan tatapan beringas. Tangan kanan yang awalnya tak memegang pisau belati, buru-buru mengambilnya dari tempat duduk sebelah.
“Celaka!” batin Titi tetap tak berniat meminta bantuan polisi. Titi yakin, pria psikop.at yang tampaknya merupakan papa kandung Jia, hanya akan memperburuk keadaan Jia. Terbukti, setelah gagal mengejar Jia menggunakan mobil karena Jia nekat memasuki gang menuju kontrakan padat, si pria juga tak segan menyusul. Si pria menyembunyikan pisau belatinya, sedangkan Titi yang sempat melakukan siaran video, segera mengakhirinya.
Jia : Tolong aku!!!!!!!! Siapa pun tolong akuu!!!!
Titi terus membuat status di setiap a.kun sosia.l media Jia. Namun di tengah ketakutannya itu, Titi yang terus lari sambil sesekali menoleh ke belakang maupun memastikan ke kanan kiri, sengaja menelepon Bian.
“Kak Bian, ... aku mohon angkat!” batin Titi sambil terus menunggu balasan Bian. Fatalnya, selain ponsel Jia kehabisan baterai, yang ia hindari dan itu si pria psikopat, justru ada di depan matanya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
azka myson28
baca cerita ini g bisa bernafas dengan lega sesak rasanya
2024-07-17
1
Erina Munir
ya ampuun bacanya ini jdi deg degaan thoor
2024-07-15
0
Hilmiya Kasinji
ini polisinya memang mirip kenyataan ya .. mager kalo gak viral ato gak ada uang
2024-06-30
0