Detik berikutnya, Claira segera menutup kotak yang baru saja ia terima setelah melihat isinya. Kedua matanya melebar dan segera memberikan tatapan kesal pada Felix yang justru terbahak setelah melihat reaksi wanita yang duduk di depannya.
"Ha,,, Ha,,, Ha,,, ada apa dengan wajahmu?" ujar Felix tergelak puas.
"Akulah yang seharusnya bertanya di sini," sambut Claira.
"Kenapa memberikan benda seperti ini di tempat terbuka?" imbuhnya.
"Hei,,, aku sudah memperingatkanmu, bukan salahku jika kamu melupakan siapa aku dan apa yang sudah aku janjikan," jawab Felix tanpa beban.
"Itulah mengapa aku menggunakan kotak yang tidak biasa," imbuhnya.
"Kita ke ruanganku saja," sahut Claira.
Felix hanya menaikkan bahunya tanda tidak keberatan tanpa menghilangkan senyum lebar di wajahnya. Sementara Claira beranjak dari duduknya dengan membawa laptop yang masih dalam keadaan menyala.
"Berikan padaku, aku saja yang membawanya," ujar Felix cepat saat melihat Claira akan membawa paper bag.
"Apakah kau memang perhatian seperti ini?" tanya Claira memberikan tatapan menyelidik.
"Aku baru tahu kau sungguh merepotkan," gerutu Felix seraya menyambar kotak dan memasukkan kembali kedalam paper bag.
"Pft,,,, terima kasih," Claira terkekeh pelan.
"Sisi lain dirimu yang menyukai humor sungguh tidak terduga, jika saja aku tidak mengetahui siapa kamu sebenarnya, bukan mustahil aku akan tertarik untuk mendekatimu," sahut Felix.
"Oh,,, apakah itu artinya kamu tidak memiliki niat itu setelah tahu siapa aku?" balas Claira tersenyum jahil.
"Entahlah,,,," ujar Felix menaikan bahunya.
"Aku akan mempertimbangkannya hanya jika aku mendapatkan jaminan nyawaku tetap ada sampai beberapa tahun kedepan," imbuhnya.
Claira menaikan alisnya yang disambut dengan suara tawa pelan.
"Ah,, tolong pindahkan makanan dan minumannya ke ruanganku," ujar Claira beralih ke karyawannya.
"Baik," jawabnya.
Disaat Claira berjalan menuju ruangannya dengan Felix mengikuti di belakangnya, seseorang yang berada di luar cafe terus memperhatikan Claira sampai mereka berdua menghilang dari pandangannya.
Pria itu bergegas masuk kedalam cafe, memperlihatkan lebih jelas wajah Jefferi yang berniat untuk mengejar Claira, namun segera tersadar saat seorang pelayan menyambut kedatangannya.
"Hallo,,, selamat datang,,," sapanya ramah.
"Ah,,, ya terima kasih," sahut Jefferi setengah gugup.
Jefferi memilih duduk dan memesan sesuatu untuk menghilangkan kecurigaan dari pelayan yang menyambut kedatangannya.
"Apa yang ingin anda dapatkan, Tuan?" tanyanya ramah.
"Satu Piccolo," jawab Jefferi.
"Apakah ada yang lain, Tuan?" tanya pelayan lagi.
"Tidak, itu saja," jawab Jefferi.
"Baik, mohon tunggu sebentar," sambut pelayan.
Segera setelah pelayan itu pergi, Jefferi mengeluarkan ponselnya, berniat untuk menghubungi Claira bersamaan dengan dua pria lain masuk ke dalam cafe dan menghampiri meja bar. Pertanyaan dari salah satu pria itu sukses membuat Jefferi menghentikan gerakan jarinya.
"Apakah Lyra di dalam?" tanyanya.
"Ada Tuan, namun sedang ada tamu di dalam," pelayan menjawab ramah.
"Aku sudah tahu, terima kasih," sambutnya.
Setelah mengatakan itu, dua pria itu berjalan menuju ruangan yang Jefferi ketahui sebagai ruangan Claira, membuka pintu setelah mengetuk dua kali seolah itu hal yang biasa di lakukan.
"Siapa mereka? Apakah mereka saling mengenal?" gumam Jefferi.
"Lyra? Dia bahkan memanggil Claira menggunakan panggilan khusus," imbuhnya.
Sementara di dalam ruangan, Claira segera membuka lagi kotak yang baru saja ia terima dari Felix dengan mata berbinar senang.
"Kau sungguh menyelesaikannya, Felix?" ujar Claira.
"Revolver Double Action Colt Python, kamu benar-benar membuat ini?" imbuhnya takjub.
"Dari segi bentuk memang Colt Python. Kau bahkan bisa mengatakannya dengan benar tanpa menyentuhnya," sahut Felix.
"Apakah kau seorang maniak senjata?" selorohnya.
"Apapun itu," jawab Claira abai.
Claira mengeluarkan Revolver dari tempatnya, memperhatikan tiap detail dari senjata yang berada di tangannya sekaligus mengagumi betapa senjata itu di buat dengan sangat hati-hati.
"Jadi, berapa banyak amunisi yang bisa dimasukkan?" tanya Claira.
"Sepuluh," jawab Felix tanpa ragu.
"Aku sudah mengujinya dan memastikan ini bisa di gunakan, hanya saja kamu perlu memastikan ulang dengan mengetesnya sendiri,"
"Aku bisa dengan mudah membuatnya, tapi sangat payah dalam menggunakannya,"
"Jika ada yang membuatmu tidak nyaman ketika mengggunakannya, aku akan segera memperbaikinya," tambahnya.
"Senang mendengar_,,,"
'Tok,,,, Tok,,, '
Suara ketukan pintu menyela sebelum Claira menyelesaikan kalimatnya.
"Masuk," seru Claira segera tahu siapa yang datang.
"Hei,,, sembunyikan dulu_,,,"
"Tenang saja, dia berbeda," potong Claira seraya meletakkan kembali Revolver ketempatnya semula.
"Kunci pintunya, Jay," sambungnya.
Claira segera tersenyum melihat anaknya datang bersama Jay yang berada di depannya, sebagai tanda Jay sudah mengetahui bahwa Charles telah mendapatkan ijin darinya dan tidak perlu bersikap hati-hati seperti sebelumnya.
"Diakah orang yang kau ceritakan padaku?" Jay bertanya ketika melangkah mendekat.
"Ya," jawab Claira.
Jay segera duduk di samping Felix, sementara Charles berjalan menghampiri ibunya, menghadirkan tatapan bingung dari Felix yang belum mengetahui tentang Charles.
"Apakah kamu sudah mengatakan apa yang harus kamu katakan, Baby?" tanya Claira.
"Tentu saja," sahut Charles.
"Bukankah itu yang harus aku lakukan?" balasnya bertanya.
'Apakah itu artinya dia kekasih Claira? Terlihat lebih muda,' batin Felix.
"Revolver_,,, apa yang akan Mama lakukan dengan itu?" tanya Charles lagi.
"Mama,,, hemph,,, maaf," Felix tanpa sadar berseru dengan mata melebar dan segera membekap mulutnya sendiri.
"Pft,,, ha ha ha,,, apa yang aku duga benar," ujar Jay masih tertawa.
"Kau pasti berpikir mereka sepasang kekasih," imbuhnya tanpa beban.
Felix menggosok tengkuknya dengan canggung, tersenyum kaku saat orang yang berada di dekatnya mengatakan apa yang ia pikirkan tanpa beban.
'Aku memang tahu dia memiliki satu anak, akan tetapi aku tidak pernah melihat anaknya sebelumnya,' batin Felix.
"Jadi, sekarang apa?" tanya Charles.
"Baiklah, kita ke markas," ujar Claira.
"Namun sebelum itu, aku akan memperkenalkan kalian berdua padanya,"
"Dia,,," menunjuk Felix dengan telapak tangannya.
"Felix Evander. Perakit sekaligus pembuat senjata api, kita akan membahas lebih jauh disana, sederhananya dia akan menjadi bagian dari kita,"
"Dan, Felix_,,, dia Jay dan Charles," ungkap Claira seraya menunjuk keduanya secara bergantian.
"Kalian bisa saling bertanya dan saling mengenal nanti, sekarang kita berangkat," imbuhnya.
Mereka mengangguk tanda setuju, Charles mengambil alih Revolver yang akan dibawa ibunya dan berjalan beriringan dengan sang ibu. Sementara Claira menghampiri karyawannya sebelum ia pergi meninggalkan cafe tanpa mengetahui Jefferi sempat duduk di cafe dan baru saja pergi.
...@@@@@@@@@@...
'KRAAKK,,,, PYARR,,,!!!
Gelas berisi minuman itu seketika pecah saat seorang pria menggenggam kuat gelas yang berada di tangannya, meninggalkan tetesan darah di atas pecahan gelas yang ia lepaskan.
Pria itu menggertakkan giginya, kilatan amarah yang terlihat jelas di matanya membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya tidak berani melangkah mendekat, kecuali seorang pria yang berusia lebih muda darinya segera meraih tangan yang terluka serta mengobatinya tanpa ekspresi di wajahnya.
"Bodoh!"
"Hanya menyingkirkan dua orang saja, mereka berakhir menjadi mayat," umpatnya.
"Siapa yang peduli mereka akan hidup atau mati," sambut pria yang lebih muda.
"Setidaknya kita sudah mengetahui bahwa dia masih tetap berdua setelah sekian lama dimana kita sudah menghabisi semua temannya, termasuk orang yang selalu dia hormati dan selalu dia panggil dengan sebutan 'Tuan'," sambungnya dengan nada tenang.
"Tak masalah jika kita gagal kali ini, tapi mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menganggu, bukankah itu sedikit melegakan?" ujarnya.
Pria yang berusia lebih muda itu menurunkan tangan Tuan-nya setelah selesai mengobatinya.
"Lalu, apa yang kau dapatkan, Jaeger?"
"Apakah kau yakin orang-orang suruhanmu tidak menyebutkan namamu jika mereka diancam?" tanyanya.
"Mereka pengecut, tentu saja mereka akan buka mulut. Tapi mereka boneka yang berguna meski mayatnya tidak,"
"Mereka tentu saja akan menyebutkan nama saya, lalu kenapa? Mereka hanya tahu kode nama, bukan nama asli," jawab Jaeger tenang.
"Tolong berhentilah menyakiti diri anda sendiri ketika anda kesal, Tuan," sambung Jaeger mengingatkan.
"Lalu, berikan aku kabar yang membuatku senang," ujarnya.
"Baik," jawab Jaeger.
Jaeger membungkukkan badannya seraya melangkah mundur, meninggalkan ruangan nuansa gelap dengan pencahayaan remang-remang dimana Tuan-nya berada.
...@@@@@@@@@...
. . . . . .
. . . . .
To be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
sedikit tdk adil sih.. musuh bisa leluasa memantau pergerakan Claira, juga org di sisinya tp Claira masih belum bisa mendekat pd musuh utama.. masih jauh malah..
2024-11-07
1
HNF G
apakah jeager itu Jeffrey?
2024-11-20
1
Ana
pfft 🤭kamu belum tau ternyata
2025-02-07
0