"Selamat pagi,"
Claira menyapa anaknya yang baru saja keluar kamar dan menemuinya di dapur dengan wajah khas bangun tidur.
"Mama sudah bangun?" tanya Charles sembari mengusap wajahnya.
"Tentu saja," sambut Claira tersenyum.
"Apakah kamu menginginkan sesuatu untuk sarapan?" imbuhnya bertanya.
"Ehmm,,,," Charles bergumam pelan sembari menarik kursi yang berada di bawah meja counter dapur untuk dirinya duduk.
"Sandwich saja, Ma," jawab Charles.
"Baiklah, bersihkan dulu dirimu," jawab Claira.
Charles mengangguk seraya beranjak dari duduknya, melangkah meninggalkan dapur menuju kamarnya lagi, namun kembali membalikkan badannya.
"Ma,,,?"
"Ya,,,?"
"Apakah aku boleh menggunakan komputer yang ada di kamar, Mama?" tanya Charles.
"Tentu Baby. Kamu bisa menggunakan komputer sepuasnya," jawab Claira tanpa ragu.
'Apakah itu artinya Mama tidak menyembunyikan apapun di komputer yang ada di kamar?' batin Charles.
"Terima kasih, Ma," sambut Charles.
Claira menghentikan kegiatannya sesaat setelah Charles meninggalkan dapur, lalu mengarahkan pandangannya kearah kamar anaknya dan mendesah lelah.
'Dart,,,, Dart,,,, Dart,,,,!!'
Suara getar ponsel miliknya membuat Claira segera menoleh hanya untuk melihat nama 'JAY' tertera pada layar ponselnya.
📞📞📞📞
"Ya, Jay? Ada apa?" sambut Claira setelah menempelkan ponsel ke telinganya, sementara satu tangannya lagi kembali melanjutkan membuatkan sandwich untuk anaknya.
"Kabar buruk," ujar Jay.
"Aku mendapatkan informasi seseorang telah meletakkan bom di jembatan, dan itu berada di tengah-tengah jalan,"
"Ada apa sebenarnya dengan kota ini? Kenapa sekarang sangat kacau?" erangnya.
"Kapan kamu mendapatkan informasinya?" tanya Claira.
"Lima menit lalu," jawab Jay cepat.
"Apakah kau masih di Apartemenmu?" tanya Claira lagi.
"Aku baru akan pergi keluar, haruskah aku ke markas sekarang?" jawab Jay balas bertanya.
"Lihatlah di sekitar Apartemenmu, adakah seseorang mengawasi Apartemenmu atau tidak. Jika aman, pergilah ke Markas. Gunakan Drone untuk melihat titik pasti dimana tepatnya bom itu diletakkan," jawab Claira.
"Aku segera menyusul," imbuhnya.
"Dimengerti," jawab Jay.
📞📞📞📞
Claira segera memasukan ponsel kedalam saku celananya setelah panggilan berakhir, menyelesaikan sandwich di tangannya dan meletakkannya di meja sekaligus menyiapkan segelas susu.
"Baby,,,"
Claira memanggil dengan sedikit mengeraskan suaranya saat ia berdiri didepan pintu kamar sang anak.
"Sebentar lagi, Ma," sahut Charles.
"Mama hanya ingin mengatakan sarapanmu sudah siap, Mama sedang ada urusan, jadi Mama harus pergi," ujar Claira.
"Tunggu, Ma," Charles kembali berteriak, sesaat kemudian pintu kamar terbuka.
"Nanti siang, bisakah Mama menemaniku makan siang di luar? Tapi aku ingin Mama memakai dress," sambungnya.
"APAA,,??" Claira terang-terangan melebarkan kedua matanya, memberikan ekspresi keberatan yang terlihat sangat jelas.
"Ayolah, Ma!" bujuk Charles.
"Jika saja saat Mama menjemputku rambut Mama tidak terurai, mereka yang melihat Mama akan menganggap Mama sebagai pria,"
"Padahal, Mama terlihat cantik ketika memakai pakaian wanita pada umumnya, memakai heels dan riasan," papar Charles.
"Tunggu sebentar,,," Claira mengangkat satu tangannya, menyipitkan matanya dengan tatapan penuh selidik kearah Charles.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Claira.
"Astaga,,, apakah sekarang aku juga di curigai, Baby?" balas Charles.
"Vier,,,," tegur Claira.
"Bukankah sekarang adil? Siapa yang Baby sekarang? Tinggi Mama saja hanya mencapai bahuku," jawab Charles tanpa beban.
"Makin berani sekarang, hemm??" sambut Claira sembari menarik telinga anaknya.
"Aaahh,,,, iya iya,,, ampun,, ini serius sakit, Ma," Charles meringis sembari membungkukkan badannya tanpa memiliki niat untuk melepaskan diri.
"Dasar,,,," Claira menggeram gemas sembari mengacak rambut anaknya.
"Mama pergi dulu," imbuhnya.
"Baiklah, utamakan keselamatan, Mama," sambut Charles.
"Pasti," jawab Claira.
Claira keluar dari Apartemen, dan segera berlari begitu ia berada di luar. Sementara Charles tetap berada di Apartemen menikmati sarapan pertama yang di buat sang ibu untuknya setelah sekian lama.
Mobil yang dikemudikan Claira melesat cepat meninggalkan gedung Apartemen yang ia tinggali bersama sang anak, menuju rumah dua lantai yang ia jadikan sebagai markas.
Claira tiba disana dan melihat Jay sudah berada disana, duduk menghadap beberapa komputer yang dinyalakan secara serentak, memantau jalan menuju jembatan menggunakan Drone yang sudah ia kendalikan sebelumnya untuk melihat keadaan sekitar.
"Bagaimana?" tanya Claira.
Claira berdiri di belakang Jay dengan memperhatikan tiap rekaman yang berhasil diambil. Satu tangan Jay menggerakkan drone, berusaha untuk mengambil rekaman lebih baik. Sementara Claira memperhatikan bentuk bom yang berhasil terekam melalui drone.
"Kurasa itu bom plastik, untuk jenisnya aku tidak bisa memastikannya. Disana terlalu banyak polisi," ungkap Jay.
Claira meraih jaket yang tergantung di salah satu loker, memakainya dan menutupi rambutnya menggunakan hoodie dari jaket itu, lalu memasukan tongkat baseball ke punggungnya.
"Untuk apa kamu membawa tongkat baseball?" tanya Jay bingung.
"Hanya persepsiku, aku akan membutuhkan ini. Aku tahu jenis bom apa itu, bom plastik tipe C4, atau bahkan mungkin sudah di ubah ke jenis yang berbeda aku akan tahu setelah melihat aslinya," jawab Claira.
"Tidak sensitif getaran bahkan benturan, juga tidak akan bisa meledak meski di tembak, dan bisa dibentuk sesuka hati. Namun, sensitif cahaya dan panas,"
"Itu menjelaskan kenapa bom itu berada di tengah jalan sekaligus titik tengah jembatan, yang artinya kita dikejar waktu karena cahaya matahari hanya terhalang bukit batu, tapi setelah itu sinar matahari akan menyorot ke jembatan sepenuhnya,"
"Sebenarnya, ini termasuk taruhan. Jika dugaanku benar, waktu dari bom itu akan berkurang drastis, dan satu-satunya cara yang bisa di lakukan untuk menyelamatkan semua orang jika tidak memiliki cukup waktu untuk menjinakkannya hanyalah melemparnya sejauh mungkin," terangnya.
"Jangan gila!" sergah Jay.
"Jika itu gagal, nyawamu sendiri yang akan menjadi taruhannya," imbuhnya.
"Maka itu adalah taruhan yang sepadan dengan hasil yang akan kita dapat, pengebom akan keluar jika dia melihat aku tewas, dan kau bisa melihat wajah mereka sekaligus menangkap mereka," jawab Claira seraya memakai helm.
"Jika satu nyawaku bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa mereka, itu adalah harga yang layak,"
"Pantau terus, aku akan berusaha secepatnya sampai disana. Tujuan mereka jelas ingin menghancurkan jembatan yang menjadi jalan satu-satunya menuju kota sebelah, sekaligus membunuh mereka yang secara kebetulan berada di atas jembatan," imbuhnya.
Sebelum Jay memiliki kesempatan untuk menjawab, Claira sudah lebih dulu melajukan sepeda motor sport miliknya meninggalkan markas.
Sepeda motor sport yang dikendarai Claira melesat dengan kecepatan tinggi, menghindari banyaknya pengendara lain yang berada di depannya tanpa kesulitan.
[[ "Seseorang menahan tim penjinak bom di tengah perjalanan mereka, aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai penutup wajah," suara Jay terdengar melalui earphone di telinga kiri Claira.
"Kita bahas ini setelah aku kembali, aku berasumsi mereka akan meletakkan bom lagi di suatu tempat," ujar Claira.
"Dan minta seseorang untuk menyelamatkan tim penjinak bom, aku yakin mereka telah di tahan setidaknya setengah jam lalu," imbuhnya.
"Dimengerti," sahut Jay.
"Tidak mungkin!!!" Jay mendesis tak percaya.
"Apa?" sambut Claira.
"Waktu dari bom itu berubah saat ada pasangan pria dan wanita mendekat, sepertinya mereka ingin membantu menjinakkannya_,,,"
"Aku mengerti," ucap Claira cepat.
"Apa-apaan,,,,?" ]]
Jay kembali mendesis tak percaya, namun Claira sudah bisa menebak apa yang di lihat Jay melalui komputer. Ia segera mempercepat laju sepeda motornya saat jembatan sudah berada di depan matanya.
"Tck,,,, kenapa mereka justru menghalangi,,,,?" gerutu Claira saat melihat petugas polisi berniat untuk menghalangi dirinya.
'Tin,,,, Tin,,, Tin,,,,,!!'
Claira membunyikan klakson dengan tidak sabar yang membuat mereka segera mengenali dirinya dan membuka jalan, mempermudah dirinya untuk mendekati bom yang masih aktif.
'SRAKKK,,,!
Claira turun dari sepeda motornya dengan terburu-buru, mengabaikannya saat sepeda motor itu terhempas menyentuh aspal, tangannya bergerak cepat meraih bom yang masih aktif dan menyisakan waktu beberapa detik.
Satu tangan Claira melepaskan helm miliknya, memasukan bom itu ke dalamnya sementara satu tangan lainnya mengeluarkan tongkat baseball yang ia bawa, lalu melempar helm itu keatas.
Dalam waktu sepersekian detik, Claira mencengkram kuat tongkat baseball di tangannya, mengayunkannya sekuat tenaga saat helm yang ia lemparkan berada di depan wajahnya, dan,,
'BUKKK,,,,, WUSHHH,,,,,!
'DHUARRRR,,,,,,,!'
Ledakan besar seketika terjadi bertepatan dengan bom yang terlempar keatas laut, dimana tidak ada tebing atau sesuatu yang bisa membahayakan warga setempat.
'BYUURRR,,,,,,.
Air laut segera mengguyur tubuhnya bersamaan dengan ledakan yang baru terjadi. Tidak ada satupun penduduk sekitar yang menjadi korban dari ledakan itu. Claira menoleh kearah pria yang sebelumnya memeluk tubuh si wanita untuk melindunginya dari guyuran air laut, hingga tatapan mereka bertemu selama beberapa saat.
Claira mengerutkan keningnya sejenak, seolah mengenali wajah wanita itu, namun jarak yang ada diantara mereka membuat ia menggelengkan kepalanya perlahan, membalikkan tubuhnya dan mendekati sepeda motornya yang tergeletak.
Setelah memastikan sekali lagi tempat itu telah aman, Claira pergi begitu saja, mengabaikan teriakan wanita asing yang tidak ia kenal memanggil dirinya. Kembali ke markas dimana sahabatnya masih berada disana.
Claira kembali memasuki rumah dua lantai dan memasukan sepeda motornya ke ruang rahasia, menurunkan hoodie yang sebelumnya menutupi kepalanya, lalu menengadah dengan mata terpejam dan mendesah lelah.
"Kahidupan damaiku benar-benar berakhir, jika kamu tahu siapa aku sebenarnya, apakah kamu akan membenciku, Baby?" Claira berbicara pelan.
"Aku ragu dia akan membencimu,"
Suara Jay tiba-tiba menyela, membuat ia segera mengarahkan pandanganya kearah datangnya suara dan melihat Jay tengah tersenyum padanya.
"Anak itu,,, sungguh berbeda," ujar Jay melangkah mendekat.
"Sama sepertimu yang sangat menyanyangi dirinya, dia juga sangat menyayangimu lebih dari apapun," imbuhnya sembari mendaratkan tangannya di bahu Claira.
"Dia sudah curiga sejak awal, dia bahkan tidak bertanya banyak saat dia berpisah denganmu karena dia percaya bahwa kamu akan mengatakan apa yang terjadi disaat kamu siap,"
"Jika dia mencari tahu dengan caranya sendiri, itu hanya untuk menghilangkan pikiran buruk yang mengisi pikirannya,"
"Apapun itu, percayalah bahwa dia tidak akan membencimu,"
...@@@@@@@@@...
Mobil van hitam yang sebelumnya mengikuti Claira dari bandara terparkir di depan gedung apartemen yang Claira tempati. Mengawasi dari tempat duduk mereka lantai Apartemen Claira sembari menyelipkan belati di balik pakaian mereka masing-masing.
. . . . .
. . . . .
To be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ana
seru banget kalau di bikin film 😁aku suka soalnya menantang
2025-02-05
1
Ana
semoga tidak 🥺
2025-02-05
1
Ana
hais 😂😂
2025-02-05
1