Beberapa hari setelahnya,,,,
Claira kembali keluar dari dapur dengan wajah bernoda tepung dengan apron hijau lumut yang menempel di tubuhnya, seolah memang itulah yang harus ia lakukan meski sudah memiliki beberapa karyawan yang bekerja di cafe miliknya.
Tangannya membawa nampan berisi kue dalam potongan kecil berlapis cream lembut dengan buah dan coklat sebagai toping diatasnya, lalu menyusun semua kue di sebuah etalase kaca yang berada disamping mini bar.
"Biarkan saya yang membawa ini ke belakang,"
Suara seseorang yang terdengar tepat dibelakang Claira membuat ia berbalik, lalu tersenyum pada laki-laki yang berusia lebih muda darinya memberikan anggukan sopan padanya. Satu-satunya pegawai termuda di cafe yang bekerja paruh waktu dan masih berstatus pelajar
"Ah,,, ini," ucap Claira seraya memberikan nampan pada laki-laki itu.
"Apa kau tidak bersekolah, Ben?" tanya Claira.
"Saya libur untuk tiga hari kedepan," jawabnya sopan.
"Kau yakin tidak sedang berbohong atau sekedar ingin melarikan diri dari pelajaran sekolahmu?" selidik Claira menyipitkan mata.
"Astaga,,, kak,,, aku serius libur," sambut Ben tanpa sadar mengubah sikap formalnya.
"Kenapa kakak tidak menghubungi guruku saja alih-alih memberikan tuduhan padaku?" imbuhnya.
"Ahh,,, begitu terdengar lebih baik," sambut Claira tertawa puas.
"Kau tidak lupa bahwa aku tidak menyukai sikap formalmu bukan?" imbuhnya .
"Kakak sangat senang menggodaku," sungut Ben..
"Karena menyenangkan," jawab Claira tanpa beban.
"Ukh,, Kak,,," Ben mengeluh sembari menepuk dahinya.
Claira tergelak sembari melepaskan apron yang menempel di tubuhnya, lalu memberikan apron itu kepada Ben yang segera menyambutnya.
'KRINCINGGG,,,,!!!'
Suara lonceng yang berada diatas pintu cafe tiba-tiba terdengar, cukup untuk menarik perhatian mereka berdua untuk melihat siapa yang datang disaat cafe belum buka.
"MAMAAAA,,,,!!!!"
Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun muncul dari balik pintu dengan wajah ceria. Wajahnya bebinar senang kala melihat wajah seseorang yang dipanggil menoleh dan tersenyum lembut menyambut kedatangannya.
"Hey,,, Baby,,, " sambut Claira sembari merentangkan kedua tangan sekaligus membungkukan badan.
Anak laki-laki itu segera berlari dan menghambur ke dalam pelukan Claira. Sementara Claira segera mengangkat anak itu ke dalam gendongan dan memutarnya sebentar sebelum akhirnya anak itu mengecup pipi Claira.
"Woah,,, Baby, kamu semakin berat sekarang," ucap Claira menggesekkan hidungnya ke hidung anak itu.
"Apakah percobaan tinggal di asrama sangat menyenangkan?" imbuhnya bertanya.
"Itu sangat menyenangkan, Mama. Di sana juga ada perpustakaan yang sangat besar," jelasnya sembari merentangkan kedua tangan.
"Tapi, aku jadi sangat merindukan, Mama," ujarnya memeluk leher Claira.
"Itu namanya adil, karena Mama juga sangat merindukanmu," balas Claira.
"Siapa yang menjemputmu?" lanjutnya bertanya.
"Kak Jay," dia menjawab.
"Heee,,, Charles sudah datang?" sela Grace yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Hallo kak Grace. Bagaimana kabar kakak?" Charles balas bertanya.
"Sangat baik," jawab Grace.
"Sepertinya Charles bertambah tinggi," sanjung Grace menumbuhkan senyum bangga di wajah anak laki-laki itu.
"He he,, tinggiku naik tiga senti," ujar Charles tersenyum lebar sembari menunjukan tiga jarinya.
"Pantas saja sekarang kamu bertambah berat," sela Claira.
"Kalau begitu, aku turun saja, Ma," sambut Charles berubah murung.
"Kenapa turun? Mama masih kuat, bahkan kalau kamu menjadi lebih berat dari ini, Mama tetap bisa mengendongmu seperti ini," ujar Claira sembari memutar tubuh Charles di pelukannya.
"Aahh,,, MAMAAA,,," Charles berteriak dan reflek memeluk erat leher ibunya.
"Hoo,,, Apakah kamu takut, Baby?" goda Claira.
Mereka yang melihat interaksi ibu dan anak di depan mereka hanya tertawa, merasa interaksi serupa sangatlah jarang ditemukan.
Mereka sangat mengenal atasan mereka yang memiliki satu anak laki-laki. Dan anak laki-laki yang kini berusia lima tahun itu memiliki sikap dan pola pikir yang berbeda dengan anak sebaya dengannya.
Charles Javier Esmira. Nama Esmira yang di ambil dari nama belakang Claira yang biasa di panggil Charles oleh semua orang yang dikenalnya, namun anak itu sangat menyukai panggilan yang hanya Claira saja yang menggunakannya, sekaligus menjadi tanda ketika sang ibu tengah marah padanya, Vier.
Meskipun Charles baru berusia lima tahun, namun memiliki kecerdasan diatas rata-rata, bahkan bisa bersikap lebih dewasa dari usianya di mana dia sangat mengerti kesibukan ibundanya tercinta.
Claira yang disibukkan dengan urusan cafe, terkadang meminta salah satu karyawannya untuk menjemput Charles di sekolah, menemani belajar ataupun bermain.
Hingga, suatu hari Charles memilih untuk bersekolah di sekolah yang memiliki fasilitas asrama, yang artinya Charles hanya pulang saat liburan pergantian musim atau diakhir pekan.
Setelah puas menggoda anaknya, Claira menurunkan Charles dari gendongannya perlahan.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu, Baby?" tanya Claira.
"Hemmm,,," Charles bergumam pelan dengan mata tertutup sembari menghirup udara dengan kuat, lalu kembali membuka kedua mata dan menatap sang Ibu.
"Aroma kue kesukaanku baru keluar dari oven, bolehkah aku memakannya, Ma?" tanya Charles.
"Tentu saja, Mama membuat itu khusus untukmu," sambut Claira tersenyum.
"Cuci tanganmu, dan mintalah pada kak Dean," sambungnya.
"Baik, Ma," Charles melompat girang setelah menjawab dan segera masuk ke dalam.
"Ben, tolong bantu dia menyimpan tasnya," pinta Claira.
"Baik, kak," jawab Ben.
Ben berbalik dan menyusul Charles tanpa diminta dua kali, meninggalkan Claira bersama Grace yang mulai menyusun kotak kue yang akan segera diantar ke pelanggan mereka.
"Apakah sekarang kamu lagi yang akan mengantarkan ini ke universitas?" tanya Grace.
"Ya, biar aku saja," jawab Claira.
"Jay memiliki banyak kue yang harus diantar, dan itu tidak satu arah dengan universitas ini. Sekaligus, aku ingin melihat keadaan cafe cabang yang ada disana ," jelas Claira.
"Omsetnya menurun terlalu jauh. Aku perlu tahu apa permasalahannya, apakah cafe itu akan bertahan atau aku harus menutupnya, akan terjawab nanti," imbuhnya seraya memakai jaket dan topi seperti biasa.
Pintu cafe kembali terbuka hanya untuk memperlihatkan sosok pria yang sedikit lebih tua dari Claira masuk ke dalam, menahan pintu agar tetap terbuka dengan pengait yang menempel di dinding, lalu menghampiri dua wanita yang sudah dikenalnya sejak lama.
"Benar-benar tidak adil," gerutunya saat sudah berdiri di depan Claira.
Pria itu menatap Claira dari atas sampai bawah, lalu melipat kedua tangannya dan menggerutu lagi.
"Bagaimana bisa kau bahkan terlihat tampan dan cantik disaat yang bersamaan?" ujarnya.
"Apa maksudnya itu, Jay?" sambut Claira mengerutkan kening.
"Aku setuju," timpal Grace terkekeh.
"Aa,,,???" Claira mengerutkan kening, memberikan tatapan bingung.
"Mama kan punya peran ganda,"
Penyelaan dari Charles terdengar saat ia tidak sengaja mendengar gerutuan yang Jay ucapkan bertepatan dengan ia yang keluar dari dapur.
Mereka serentak menoleh ke sumber suara dan melihat Charles melangkah mendekati Claira, lalu meletakkan piring yang ada ditangannya di meja.
"Mama bukan hanya menjadi Mamaku saja, tapi juga menjadi papa," ujar Charles memeluk kaki Claira.
"Itu artinya yang aku katakan memang benar bukan?" sambut Jay bertanya.
"Uhhmm,,, sepertinya iya," jawab Charles tersenyum lebar.
"Apakah sekarang kamu membela mereka, Baby?" tanya Claira berkacak pinggang.
"Karena, ketika Mama seperti ini, Mama memang seperti laki-laki, tampan juga, kak Jay saja kalah. Dan ketika melihat Mama berambut panjang, Mama sangat cantik," ucap Charles dengan wajah polos.
"Sekarang kamu menjadi pengkhianat," sambut Jay.
"Tanya saja kepada kak Grace atau kak Ivy. Siapa yang paling tampan di sini ketika Mama memakai pakaian laki-laki," jawab Charles membela diri.
Perkataan Charles sukses mengundang tawa Grace serta Claira, sementara Jay hanya bisa terdiam, terutama ketika dia mengingat semua yang berada disana memang setuju dengan apa yang baru saja Charles katakan, dan akan mengatakan hal serupa ketika mereka di tanya.
"Baiklah, sekarang kembali bekerja," sela Claira menepuk tangannya.
"Jay, antarkan yang menjadi bagianmu, aku akan mengurus sisanya," ucap Claira.
"Baiklah," jawab Jay.
Jay mengeluarkan semua kotak kue yang akan diantar, menyiapkan semua yang diperlukan untuk memudahkan Claira membawa semua kotak dengan sepeda motor yang akan wanita gunakan.
"Baby, Mama pergi sebentar untuk mengantarkan kue. Kamu bisa membantu mereka jika kamu bosan menunggu, atau membaca buku di ruangan Mama, ada buku baru yang Mama beli untukmu," ucap Claira berlutut di depan sang anak untuk menyesuaikan tingginya sembari memberikan usapan lembut pada kepala Charles..
"Baik, Ma," jawab Charles.
"Tapi, bisakah Mama kembali untuk makan siang bersama?" imbuhnya bertanya.
"Mama berharap bisa kembali sebelum jam makan siang, tapi andai Mama belum kembali, kamu harus tetap makan. Kamu bisa makan bersama mereka, kamu mengerti, Baby?" ucap Claira lembut.
"Aku mengerti, Ma," jawab Charles.
"Anak pintar," puji Claira yang segera mengecup pipi anaknya.
Charles melambaikan tangan ketika Claira berada didekat pintu sebelum keluar yang segera dibalas oleh sang ibu. Sedangkan Claira menghampiri Jay yang masih menunggu dengan dua sepeda motor yang terisi penuh kotak kue pesanan pelanggan tetap mereka.
"Bisakah aku minta tolong padamu, Jay?" tanya Claira saat memakai helm.
Jay menoleh dengan alis terangkat, menunggu wanita menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.
"Sebelum kembali, bisakah kamu membelikan makanan kesukaan, Vier?" tanya Claira.
"Tentu, apakah kamu tidak makan bersama Charles lagi siang ini?" jawab Jay balas bertanya.
"Aku berharap aku bisa, hanya jika permasalahan di cafe cabang bisa kuselesaikan lebih cepat. Aku hanya berharap tidak ada masalah serius di sana," ucap Claira.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Jay.
"Kalau begitu, aku berangkat," ucap Jay mulai menghidupkan sepeda motornya.
"Utamakan keselamatanmu," pesan Claira.
"Begitu juga denganmu," balas Jay tersenyum.
Claira mulai menjalankan sepeda motornya setelah sosok Jay menghilang dari pandangan, tanpa menyadari seseorang dengan penutup wajah telah mengawasi semua pergerakannya sejak ia keluar dari cafe, lalu menghubungi seseorang.
"Aku sudah menemukannya!"
"Kumpulkan semua orang, dia hanya berdua,"
...@@@@@@@@...
. . . .
. . . .
To be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
apa masalah mereka sehingga ingin mencelakai Claeir
2024-11-07
0
Ana
bahaya nih
2025-01-21
0
Ana
siapa sih🤔
2025-01-21
0