"EEEEHHHHHHH,,,,,,!!!!!"
"Dia wanita????" mereka berseru serentak setelah melihat apa yang baru saja terjadi.
"Dia wanita???" suara seruan lain terdengar kecewa.
"Dia sangat cantik, tapi mematikan," sambung yang lain.
"Lihat bagaimana caranya mengalahkan mereka? Mereka bahkan tidak bisa menyentuh sehelai rambut pun. Dan parahnya mereka berlima, sedangkan dia sendiri, bayangkan saja!" decaknya dengan suara kagum.
Hal yang sama juga di rasakan Jefferi saat melihat semua yang terjadi di depan matanya. Hatinya berdesir hanya dengan melihat wajah tenang wanita berambut panjang terurai yang selama ini ia sangka adalah seorang pria.
Selama beberapa hari ini Claira yang diperlakukan seperti pria hanya dia diam tanpa melakukan pembelaan apapun ataupun mengonfirmasikan bahwa dirinya seorang wanita, hal itu membuat Jeffery menyimpan rasa kagum padanya.
...@@@@@@@@...
### Disisi tempat lain...
Jay menggenggam tangan Charles memasuki cafe dan memilih tempat duduk. Segera setelah mereka berdua duduk, pelayan wanita menghampiri mereka berdua sembari menyerahkan daftar menu mereka.
"Silahkan," ucapnya tersenyum ramah.
"Disini tidak ada minuman yang aku suka seperti biasanya," ucap Charles sedikit kecewa setelah membaca daftar menu.
"Heee,,, jadi kamu sudah pandai membaca adik kecil?" tanyanya ramah.
"Aku bisa membaca," jawab Charles. "Tapi bukan pandai," imbuhnya dengan nada merendah.
"Berapa usiamu?" tanyanya lagi.
"Uhm,,, lima tahun," jawab Charles.
"Waahh,,, lima tahun dan kamu bisa membaca daftar menu? Hebat sekali," puji pelayan.
"Boleh tahu apa yang biasa kamu minum?" tanyanya.
"Milkshake," jawab Charles.
"Pesan saja yang lain untuk sekarang, Charles. Kita beli nanti saat perjalanan pulang, okey?" bujuk Jay.
"Menu itu memang tidak ada, tapi saya tidak keberatan untuk membuatnya, tuan," sambut pelayan.
"Kakak cantik bisa membuatnya?" sela Charles dengan mata berbinar.
"Tentu saja, hanya saja, buah yang tersedia disini hanya berry, kamu mau?" tawarnya.
"Mauuu,," jawab Charles bersemangat.
"Baiklah, satu milkshake untuk jagoan kecil kami," ujarnya sembari mencatat.
"Apa yang ingin anda dapatkan tuan?" tanya pelayan beralih pada Jay.
"Americano," jawab Jay.
"Dan dua Pound Cake," imbuhnya.
"Baik, mohon tunggu sebentar," ucapnya.
Charles menarik lengan baju Jay saat pelayan itu pergi menyiapkan pesanan dan berbisik pelan.
"Kakak itu baik, yang kemarin sempat membuat Mama kesal sepertinya yang duduk di balik meja kasir," bisik Charles.
"Apakah mereka bertukar pekerjaan?" imbuhnya bertanya.
"Sepertinya begitu," sambut Jay.
"Kak Sam juga tidak terlihat," ujar Charles lagi.
"Mungkin di ruangannya," jawab Jay.
Baru saja Jay selesai dengan kalimatnya, Samuel terlihat keluar dari ruangannya, melirik sekilas kearah kasir dimana posisi pekerjaan mereka telah ia ubah sembari menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba, wajahnya memancarkan keterkejutan yang sangat jelas, meski sebelumnya Claira telah mengatakan padanya bahwa Jay akan datang, tapi ia tidak menyangka Jay akan datang lebih dulu dari Claira dan itu bersama Charles.
"K-kak Jay kapan datang?" tanyanya gugup sembari menghampiri Jay.
"Baru saja," jawab Jay singkat.
"Apa kakak ingin minum sesuatu? Ah,, hampir lupa, apa jagoan kecil juga ingin minum milkshake?" tanyanya berusaha senormal mungkin.
Namun siapapun yang mendengar akan langsung tahu ia tengah gugup dan khawatir.
"Apakah kak Sam baru saja menemukan tikus di saku celana? Kenapa pucat begitu?" celetuk Charles.
Samuel mengosok tengkuknya dengan senyum canggung.
"Bisakah kamu mengganti kata tikus dengan kata lain, Charles?" tanya Samuel meringis seperti menahan sakit.
"Pft,,," Jay sekuat tenaga menahan tawanya.
"Kakak cantik di sana sedang membuatkan pesanan kami," papar Charles.
"Ahh,,, begitu rupanya. Bagaimana dengan kudapan?" tanya Samuel lagi.
"Disini mana ada kue kesukaanku," sahut Charles.
"Ahh,, benar juga," sambut Samuel.
"Dari sikapmu, kurasa mereka sebentar lagi datang," sela Jay.
Pelayan yang melayani Jay dan Charles kembali dangan nampan berisi pesanan mereka.
"Silahkan," ucapnya ramah.
"Nama kakak cantik siapa?" tanya Charles menahan pelayan itu pergi setelah meletakan semua pesanan mereka.
Sesaat pelayan itu melirik atasannya, dan melihatnya mengangguk.
"Saya, Floreta," jawabnya.
"Kak Flo ya," sambut Charles.
"Uhm,,, apa aku boleh panggil kak Flo?" lanjutnya bertanya.
"Iya, tentu saja boleh," sambut Floreta tersenyum ramah.
"Kak Flo bisa panggil aku Charles, dan ini Kak Jay," ungkap Charles memperkenalkan diri.
Floreta beserta dua temannya yang mendengar perkataan Charles tampak bingung, mereka tidak mengerti kenapa Samuel yang mereka anggap atasan mereka justru kembali bersikap hormat pada dua pengunjung yang tengah duduk tenang di cafe dan bersikap selayaknya pembeli.
"Kak Flo bingung ya?" tebak Charles tersenyum.
"Nanti di jelasin kok. Kak Sam memang diminta untuk tidak menjelaskan ini di awal," imbuhnya.
Entah bagaimana, kata-kata Charles justru menenangkan hatinya. Ia tersenyum hangat dan menganggukan kepalanya. Perhatian Charles kini tertuju pada pelayan pria dan pelayan yang sebelumnya bersikap kasar pada Claira.
"Kak Sam," panggil Charles.
"Ya?"
"Apa disini memang hanya ada tiga orang?" tanya Charles.
"Benar, di sini memang hanya memperkerjakan tiga orang," jawab Samuel.
"Kalau begitu, siapa yang membuat ini?" tanya Charles menunjuk kopi di depan Jay.
"Dia," jawab Sam menunjuk pelayan pria yang masih tetap berdiri di balik meja bar.
"Aromanya aneh," ujar Charles spontan.
"Itu sebabnya kak Jay tidak langsung minum kopinya," imbuhnya.
Suasana tegang seketika memenuhi ruangan dimana mereka berada. Pelayan pria dan wanita yang berganti menjadi penjaga kasir menghampiri Charles, berharap kebingungan mereka terjawab.
"Maaf saya menyela," ucap pelayan pria sembari menunduk sopan.
"Nama kakak siapa?" tanya Charles tanpa basa-basi.
"EHhh,, saya,,,"
Entah tekanan dari mana yang di dapatkan pelayan pria itu, dia berubah gugup hanya karena Charles memberinya pertanyaan sederhana.
'Kenapa rasanya seperti wawancara kerja pertama kali? Aku benar-benar gugup hanya karena pertanyaan itu,' batinya.
"Saya, Alden," jawabnya.
Charles baru akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba pintu cafe dibuka dengan kasar hingga menimbulkan suara yang memekakan telinga, diikuti dengan suara berat dari pria berperawakan tinggi dan besar.
Pria itu masuk dengan seringai lebar di wajahnya, senyumannya kian melebar ketika dia melihat sosok yang dia cari.
"Sepertinya kau sedang menungguku, Sam," ujarnya.
Sam reflek berdiri di depan Charles, bahkan Floreta, Alden dan satu orang yang belum mereka ketahui namanya juga melakukan hal yang sama tanpa mereka sadari, seolah ingin melindungi Charles.
"Ohoo,,, sedang ada pembeli rupanya," ujarnya lagi dengan suara sinis.
"Aku akan pergi dengan tenang jika kau memberikan apa yang aku mau," sambungnya.
Empat teman di belakang pria itu tertawa mengejek, memberikan tatapan meremehkan seperti biasa yang mereka lakukan.
"Mereka yang bekerja keras, kenapa paman yang menikmati hasil usaha mereka?" celetuk Charles.
Suara Charles terdengar sangat jelas di telinga semua orang, membuat Samuel dan tiga karyawannya membelalakan mata mereka sekaligus mengarahkan pandangan mereka pada Charles.
"Ssttt,,, Charles diam dulu saja, okey?" pinta Samuel.
"Tidak mau," tolak Charles.
"Aku tidak suka mereka bersikap seenaknya di cafe ini, dan bukan hanya aku yang tidak suka," lanjutnya seraya turun dari tempat duduknya.
Dengan langkah tenang tanpa rasa takut, Charles justru berdiri didepan tiga orang yang berniat melindunginya.
"Apakah paman tahu apa yang paman lakukan itu salah?" tanya Charles dengan wajah polosnya.
"Tahu, lalu kenapa?" jawab pria itu dengan nada santai.
"Paman harus minta maaf dan tidak mengulanginya lagi," ucap Charles.
"Ha ha ha,,,,"
Mereka yang mendengar perkataan Charles seketika terbahak, salah satu dari mereka melangkah mendekat dan menarik kerah baju Samuel dengan kasar.
"Berikan atau tempat ini hancur!" ancamnya.
"Hei,, bisakah kalian tidak membuat keributan disini?" sela Jay bangun dari duduknya.
"Dan tolong lepaskan dia," pinta Jay pada orang yang mencengkram kerah baju Samuel.
"Kalau tidak, kau mau apa?" tantang pria yang berdiri paling depan.
"Aku bukan orang yang suka mengancam orang lain, lepaskan saja dia," pinta Jay masih dengan nada tenang.
"Tck,,,"
Pria berbadan besar yang berada di paling depan berdecak kesal, tangannya bergerak cepat meraih tangan Charles dan menarik tubuh kecilnya kearah mereka.
"Hei,,, apa yang kau lakukan!" seru Samuel.
"Akan kuberikan, tapi lepaskan dia," imbuhnya.
"Kau tidak akan memberikan apapun pada mereka, Sam," tegas Jay.
Intonasi suara Jay berubah, tatapan matanya tajam saat melihat pria yang mencengkram tangan Charles hingga anak itu meringis menahan sakit.
Jay melangkah maju dengan langkah tenang, namun tatapannya tertuju pada pria yang mencengkram tangan Charles. Memikirkan cara aman untuk melepaskan anak itu dari tangan mereka.
'Mereka benar-benar mencari masalah. Jika Charles sampai tergores sedikit saja, aku tidak menjamin tangan kalian akan utuh,' batin Samuel.
Samuel yang semula diam saja, mulai melawan meski ia tahu perlawanannya akan berakhir sia-sia mengingat mereka bukan lawan yang bisa ia kalahkan meski menghadapi satu orang saja.
Saat Samuel berhasil melepaskan diri, dan Jay bisa lebih fokus pada Charles, mereka di kejutkan dengan penjaga kasir yang menerjang mereka secara tiba-tiba, memanfaatkan keterkejutan mereka dengan menarik Charles kedalam pelukannya untuk melindungi anak itu.
Bertepatan dengan itu, pria itu mendorongnya sebelum wanita penjaga kasir sempat menjauh, menyebabkan tubuhnya tersungkur namun tidak melepaskan Charles dari pelukannya untuk membuat anak itu tetap aman.
"Akh,,," wanita itu merintih pelan ketika punggungnya membentur kaki meja.
"Kakak,,, terluka," ucap Charles dengan suara bergetar.
Pria itu baru akan melangkah maju ketika tiba-tiba pintu cafe terbuka dengan seseorang bertopi berada dibaliknya.
"Apa-apaan ini?" desisnya kesal.
Serentak semua orang mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu dan melihat Claira baru saja datang sembari menutup pintu di belakangnya.
Claira segera berlutut membantu Charles dan wanita yang telah melindungi anaknya berdiri. Pandangannya segera tertuju pada pergelangan tangan Charles yang memerah, dan membuat ekspresi wajahnya seketika berubah.
Dengan hati-hati, Claira meraih tangan sang anak, memperhatikan pergelangan tangan anaknya sejenak, lalu mengangkat wajahnya menatap sang anak.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Claira.
"Ini tidak apa-apa kok, kakak cantik ini melindungiku," sanggah Charles.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang melakukannya?" tanya Claira lagi dengan suara lebih tegas.
"Ehm,,, orang itu," jawab Charles sedikit ragu menunjuk satu orang.
. . . . .
. . . . . .
To be Continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
habis lah kalian.. mengusik singa betina maka kalian akan jadi mangsanya
2024-11-07
0
Ana
peka banget charles😁tikus berambut hitam
2025-01-25
1
Ana
ehmmm 🤭🤭tertarik ya
2025-01-23
1