###Keesokan harinya......
Jefferi duduk di bawah pohon sembari membaca buku, sesekali ia mengangkat wajah, lalu mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang, lalu mendesah kecewa dan kembali menunduk menekuni buku yang ada di tangannya.
Kegiatanya terusik ketika dering ponsel di saku celananya menyela yang membuat ia segera mengeluarkan ponsel, menggeser layar untuk menerima panggilan itu ketika melihat nama 'Lover' tertera pada layar ponsel.
📞📞📞📞
"Hai Karl, apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Bisakah kita pergi jalan-jalan setelah kelas selesai?"
Suara manja dari seorang wanita terdengar begitu Jefferi menempelkan ponsel ke telinganya. Menghadirkan senyum hambar di bibir Jefferi namun tetap menyambut panggilan kekasihnya.
"Maafkan aku Fey, aku memiliki jadwal penuh hari ini. Bagaimana kalau akhir pekan?" tawar Jefferi.
"Baiklah, tapi janji akhir pekan?" sambutnya manja.
"Aku janji, kita akan pergi ke mana pun kamu mau akhir pekan nanti," janji Jefferi.
"Baiklah, aku ada kelas setelah ini, semoga harimu menyenangkan, Karl,"
"Love you,,," ucapnya.
📞📞📞📞
Panggilan berakhir begitu saja bahkan sebelum Jefferi memiliki kesempatan untuk membalas apa yang diucapkan sang kekasih dan diakhiri dengan hembusan napas panjang.
Feyrin Marcelie. Wanita cantik yang telah menjadi kekasih Jefferi dalam tiga tahun terakhir. Meski progam study yang diambil antara dirinya dengan sang kekasih berbeda, namun hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja, bahkan terasa hangat dan cukup untuk membuat semua teman-temannya merasa iri dengan hubungan mereka. Namun, secara perlahan hubungan mereka mulai renggang sejak sang kekasih mulai bersikap berbeda.
"Haahh,,," desah Jefferi sembari menatap ponsel.
"Sejujurnya jadwalku tak sepadat itu, hanya saja aku merasakan dia telah berubah, dan aku ingin mencari tahu apa penyebabnya," sambungnya.
Tepat saat Jefferi memasukan kembali ponsel ke dalam saku celana, kedua matanya menangkap sosok seseorang yang sengaja ia tunggu kedatangannya.
Seseorang yang mengenakan jaket dan topi yang sama seperti hari sebelumnya serta membawa beberapa kotak berisi kue.
Hal itu membuat Jefferi mengingat kembali insiden saat ia secara tidak sengaja menabrak orang itu hingga membuat orang yang ditabraknya menjatuhkan kotak kue dan berakhir rusak.
Jefferi menunggu orang itu keluar dari cafetaria menyelesaikan tugas pengantaran, dan segera menghampirinya ketika melihat dia berjalan keluar.
"Hai,,," sapa Jefferi.
Sapaan Jefferi yang tidak pernah dia duga membuat orang itu menghentikan langkah, menatap Jefferi dengan alis terangkat.
"Ya,,?" sambutnya.
"Aku belum meminta maaf dengan benar kemarin, aku sungguh menyesal atas apa yang terjadi, dan aku ingin meminta maaf dengan benar padamu," ucap Jefferi tulus.
"Maaf, apa maksudnya?" sambutnya bingung.
"Ah,, sepertinya kamu lupa padaku, aku tidak sengaja menabrakmu kemarin hingga membuatmu terjatuh, sepertinya aku juga telah merusak kotak yang kamu bawa," ujar Jefferi.
Dia yang tidak lain adalah Claira kembali mengerutkan kening, berusaha untuk mengingat apa yang telah ia lupakan.
"Ah,,, itu,,, tak apa. Aku memang melupakannya, kamu tentu tidak sengaja melakukannya," sambut Claira tersenyum.
"Ijinkan aku untuk menggantinya, biar bagaimanapun juga itu kesalahanku," ujar Jefferi.
"Terima kasih tawarannya, tapi kamu tidak perlu melakukannya," tolak Claira.
"Permisi," pamitnya sembari menunduk singkat.
Claira melangkah melewati Jefferi, berharap masalah itu selesai dan ia bisa kembali ke cafe sesegera mungkin, namun Jefferi tidak melepaskan Claira begitu saja.
"Tolong, aku akan merasa tidak enak jika tidak menggantinya disaat akulah yang merusaknya," harap Jefferi mengikuti langkah Claira dan kembali menghentikannya.
"Permintaan maafmu sudah cukup, dan aku sudah menerimanya," jawab Claira seraya melewati Jefferi.
"Tunggu sebentar," cegah Jefferi menghadang di depan Claira dengan dua tangan terangkat menahan Claira meneruskan langkah.
"Baiklah, tak apa jika kamu tidak ingin aku menggantinya. Tapi, bisakah aku meminta nomor ponselmu? Setidaknya aku ingin mentraktirmu makan siang atau sekedar minum kopi sebagai gantinya," pinta Jefferi.
"Kumohon,,, atau aku akan terus merasa bersalah atas kejadian kemarin," imbuhnya penuh harap.
'Tck,,, kenapa dia keras kepala sekali?' decak Claira dalam hati.
"Baiklah," jawab Claira.
Merasa semua akan selesai dengan cepat jika ia memberikan nomor ponselnya, Claira segera mengetik nomor ponselnya di ponsel Jefferi, lalu mengembalikannya.
"Terima kasih, jika kamu tidak keberatan, bisakah besok kamu meluangkan waktu sebentar saja untuk makan atau minum bersamaku?" tawar Jefferi.
"Tidak harus di cafetaria yang ada di tempat ini, aku tidak keberatan jika kamu ingin ke cafe atau restoran lain," imbuhnya.
"Aku akan menerima tawarannya, namun tidak bisa menjanjikannya," jawab Claira.
"Aku mengerti," balas Jefferi.
Claira beranjak pergi ke tempat di mana sepeda motornya terparkir, meletakkan kotak kosong ke dalam box yang terpasang di sepeda motornya, dan segera pergi meninggalkan universitas di mana Jefferi tercatat sebagai pelajar.
"Eh,, tunggu, aku belum mananyakan namanya, Heii,,,, siapa nama_,,mu," kalimat Jefferi terputus ketika melihat Claira telah menjalankan sepeda motornya meninggalkan lingkungan universitas.
"Tck,,, menyebalkan," decaknya.
"Kotak yang dia bawa tadi, dia mengantarnya ke cafetaria, aku coba tanyakan saja pada penjaga cafetaria, mungkin mereka tahu siapa namanya," gumamnya pelan.
Jefferi melangkah menuju cafetaria dan menanyakan tentang kurir laki-laki yang rutin mengantar kue kesana, namun tak satupun dari mereka mengetahui siapa nama kurir itu. Mereka hanya mengetahui alamat cafe dari kue yang di antar olehnya.
"Terima kasih," ucap Jefferi pada penjaga cafetaria.
Tak lupa ia juga membeli kue yang selalu diantarkan oleh Claira untuk menghindari tatapan heran dari para pelajar yang datang ke cafetaria di mana hampir semua pelajar di sana mengenal dirinya.
"Hei, Jefferi,,,!"
Jefferi menoleh kearah sumber suara dan melihat enam teman dari kelasnya tengah berkumpul menikmati makanan dan minuman mereka, salah satu dari mereka melambaikan tangannya sebagai tanda dialah yang memanggil namanya.
"Bergabunglah bersama kami, sangat jarang kamu datang kemari," timpal yang lain.
Jefferi tersenyum dan mengangguk seraya menghampiri mereka.
"Apa yang membuatmu mau datang kemari?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku penasaran dengan ini," kilah Jefferi menunjukkan kue di tangannya.
"Banyak yang mengatakan ini enak," sambungnya.
"Hei, itu memang enak," satu teman Jefferi menyambut antusias.
"Aku bahkan hampir setiap hari membelinya, hanya saja aku sering kehabisan," imbuhnya.
"Uniknya, satu orang hanya boleh membeli satu," sambung yang lain.
"Mengapa begitu?" tanya Jefferi heran.
"Karena kue itu dari cafe yang tidak bisa mengantarkan kemari dalam jumlah banyak sekaligus, dan pemilik cafenya berharap setiap orang bisa mencicipi setidaknya satu potong kue dari cafe itu," terangnya.
"Bukankah jika hanya itu, kita bisa mendatangi cafenya?" sambut Jefferi.
"Kue yang diantarkan kemari, tidak dijual di cafe,"
"Benar, aku pernah mencobanya, dan kue yang ada di sini tidak ada di sana,"
"Bahkan mereka juga menyediakan menu khusus di hari tertentu,"
Suara saling menimpali dari teman-temannya membuat Jefferi tersenyum tipis dan berencana untuk datang langsung ke cafe itu.
Ia mulai mengigit kue ditangannya, lalu tertegun sesaat setelah gigitan pertamanya menyentuh lidah.
'Ini benar-benar terasa sangat lembut, dan rasa manisnya tidak terlalu kuat, aroma dari buah dan susu didalamnya juga seimbang . Sangat cocok dimakan kapan pun. Entah itu pagi, siang atau malam,' batin jefferi.
"Bagaimana? Berbeda dengan yang biasa dijual di cafe atau toko kue lain bukan?" tanya salah satu dari mereka menyadari raut wajah Jefferi.
"Kuakui, ini benar-benar berbeda, bahkan rasa manisnya tidak menempel di tenggorokan," jawab Jefferi.
"Bagaimana kalau kita ke sana?" tawarnya.
"Kurasa kalau kita pergi bersama akan menyenangkan, kudengar cafe itu nyaman untuk bersantai," ujarnya antusias.
"Baiklah, aku ikut," jawab Jefferi.
...@@@@@@@@@@...
Cafe dengan interior hangat, dinding berwarna abu gelap dan lantai coklat kayu. Lampu gantung berbentuk lentera memberikan kesan unik dari cafe itu, disetiap meja memiliki satu tanaman kecil yang membuat suasana lebih segar.
Meja dan kursi pun tersedia dengan jumlah berbeda. Satu baris didekat jendela hanya menyediakan dua kursi untuk satu meja, meja di sampingnya memiliki jumlah kursi empat, dan di sudut lain memiliki meja lebih rendah dengan sofa yang bisa memuat sepuluh orang.
Dan disanalah Jefferi dan teman-temannya duduk. Seorang pelayan segera menghampiri mereka, mencatat semua pesanan yang mereka sebutkan, lalu pergi setelah memastikan semua pesanan telah selesai disebutkan.
Suara lonceng cafe diikuti dengan seseorang yang melangkah masuk membuat pandangan Jefferi tertuju pada orang itu. Dalam hatinya merasa lega ia bisa menemui orang itu dengan mudah hanya dengan datang ke cafe dilain kesempatan.
"Hei, bukankah itu pria yang mengantar kue ke universitas kita dua hari terakhir?" bisik teman wanita Jefferi.
"Eeehh,,, benar-benar,,, ahh,, bahkan dari sini saja dia terlihat tampan," timpal yang lain.
"Tck,,, sekarang mata kalian hampir keluar dari tempatnya," decak teman pria Jefferi.
"Sepertinya dia kurir yang sangat dipercaya cafe ini," sela Jefferi.
"Aku juga berpikir sama setelah melihat ini,"
"Silakan pesanannya,"
Seorang pelayan menyela percakapan mereka seraya meletakkan semua pesanan mereka. Namun, hal itu tidak membuat Jefferi mengalihkan pandangan dari seseorang yang tidak lain adalah Claira.
"Istirahat dulu saja, sisanya di antar nanti," ujar pelayan cafe pada Claira.
Samar-samar Jefferi bisa mendengar percakapan mereka, begitu juga dengan teman-temannya.
"Dan mengecewakan pelanggan? Tidak akan!" jawab Claira cepat.
"Kamu bahkan belum beristirahat setelah mengantarkan kue siang ini," sambutnya dengan suara khawatir.
"Hanya ini dan satu lagi yang terakhir, setelah itu aku bisa beristirahat dengan tenang," ujar Claira tersenyum lebar.
"Aku pergi dulu," sambungnya seraya membawa beberapa kotak kue di kedua tangannya.
"Woah,,, dia bekerja sangat keras,"
Decakan kagum keluar dari mulut teman-teman wanita Jefferi, membuat beberapa pria di depan mereka berdecak kesal.
Jefferi masih terus menatap Claira sampai sosok yang masih ia anggap sebagai pria itu menghilang dari pandangannya, menjalankan sepeda motor dengan box yang terisi penuh dengan kotak kue.
'Dia harus di beri peringatan sesekali, mari kita lihat sampai sejauh mana dia akan bertingkah,'
...@@@@@@@@...
. . . .
. . . .
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
gomsns reaksi Jefrei saat tau kalau sosok yg di perhatikannya itu perempuan
2024-11-07
1
Ana
mulai dari perut 😁ntar naik ke hati ya suka nya
2025-01-21
0
Ana
hmmmm siapa sih🤔gak mungkin jeff
2025-01-21
0