### Di tempat yang berbeda...
(catatan penting! Nama tokoh yang muncul kali ini adalah beberapa nama tokoh yang berada di karya sebelumnya yang berjudul " SILVER BULLET ". Jadi akan author tulis langsung menggunakan nama mereka tanpa perkenalan ulang ya,,,)
HAPPY READING.....
____________________________________________________
"Apa yang sedang kau lihat," Bernardo bertanya pada istrinya yang sejak beberapa menit lalu memperhatikan luar jendela.
"Aku seperti melihat beberapa orang memanjat Apartemen yang berada di seberang kita," jawab Cyrene.
"Hanya saja di lantai yang lebih tinggi," imbuhnya.
"Bagaimana caramu bisa melihatnya?" tanya Bernardo mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan istrinya.
"Meski gelap, tapi jika ada seseorang memanjat keatas, bayangan orang itu tetap terlihat karena pantulan cahaya bulan," sahut Cyrene.
"Sama sepertimu yang memanjat balkon Apartemenku," imbuhnya menyindir.
"Hei,,, Ayolah! Jangan ingatkan aku tentang itu," protes Bernardo.
"Itu sudah berlalu sangat lama," imbuhnya.
Cyrene terkekeh pelan sebelum kembali berbicara.
"Itu artinya apa yang aku katakan bukanlah hal yang tidak mungkin bisa terjadi disini bukan?" sambut Cyrene.
"Kalaupun yang kamu katakan itu benar," ujar Bernardo sembari melingkarkan tanganya di pinggang istrinya dari belakang.
"Apa yang bisa kita perbuat? Kita tidak mengetahui dengan pasti seperti apa kota ini," imbuhnya.
"Aku bahkan tidak menyangka kota ini jauh lebih buruk dari kota tempat kita tinggal. Bayangkan saja, bom yang di letakkan di jembatan waktu itu benar-benar tindakan menantang seseorang," ujar Cyrene.
"Jika saja saat itu tidak ada pria_,,,,"
"Lihat,,,!" tiba-tiba Cyrene berseru tanpa menyelesaikan kalimatnya.
"Ada mobil Ambulance berhenti di depan gedung Apartemen itu," imbuhnya.
Bernardo mengikuti arah yang di tunjuk istrinya, dari tempat mereka berada sekarang ia bisa melihat dua mobil Ambulance dan empat mobil Van yang berhenti serentak di depan gedung Apartemen.
Bernardo bahkan bisa menghitung berapa orang yang keluar dari mobil itu yang mencapai sepuluh orang. Beberapa saat setelahnya mereka keluar dari gedung dengan membawa brankar (tempat tidur dengan roda) dan kantong Kadaver (kantong mayat) di tangan mereka.
"Lebih dari dua puluh,,," Bernardo mendesis lirih.
"Aku tidak tahu apakah yang mereka bawa itu mayat atau apa, tapi polisi bahkan tidak datang. Dan tidak ada keributan apapun yang menarik perhatian publik,"
"Sebaiknya kamu menghubungi Carlo dan minta dia untuk datang lebih cepat," ujar Bernardo memberi saran.
"Aku juga berniat begitu," sambut Cyrene.
"Sepertinya kakak juga perlu bersama Dexter untuk berjaga-jaga," imbuhnya.
"Aku setuju, akan lebih baik jika kita membahas lebih dulu tentang apa yang harus kita lakukan," sahut Bernardo.
"Jika ada insiden atau apapun itu di Apartemen yang berada di depan kita, polisi tentu datang. Tapi, pada kenyataannya tidak ada tanda-tanda polisi akan datang dan kita buta sama sekali tentang kota ini," imbuhnya.
Cyrene melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya, mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi sang kakak.
Segera setelah panggilannya di angkat, Cyrene menjelaskan apa yang terjadi termasuk kasus bom yang berada di jembatan.
📞📞📞📞
"Baiklah,,, aku akan kesana lebih cepat. Aku perlu menghubungi Dexter lebih dulu," ujar Carlo.
"Aku akan kesana beberapa hari lagi," imbuhnya.
"Apakah kakak juga akan mengajak yang lain?" tanya Cyrene memastikan.
"Tidak. Glen di perlukan disini, Brandon perlu menjaga Camp tetap aman, Kenzo dan Barny juga harus tetap mengawasi mereka latihan," sahut Carlo.
"Melegakan untuk di dengar," sambut Cyrene.
"Mereka selalu ribut jika berada di tempat yang sama," lanjutnya.
"Kau benar, tapi mereka juga sangat bisa di andalkan," sahut Carlo.
"Aku tidak akan menyangkal tentang itu," sambut Cyrene.
"Baiklah, kalau begitu sampai nanti," ujar Carlo.
📞📞📞📞
Panggilan berakhir...
Cyrene kembali mengarahkan pandangannya kearah gedung Apartemen yang berseberangan dengan Apartemen yang ia tempati. Pikirannya melayang ke waktu sebelumnya dimana ia melihat dengan mata sendiri bagaimana pria yang mengendarai sepeda motor sport memukul bom aktif menggunakan tongkat baseball, seolah pria itu tahu pasti tentang bom apa yang ada disana dan berhasil menghindari hal buruk yang akan terjadi.
'TAKK,,,!!'
"Akh,,,!"
Cyrene merintih singkat dan segera menyentuh dahinya sendiri setelah suaminya mendaratkan sentilan pelan disana.
"Apa lagi yang kamu pikirkan, Liebste (sayang) ?" tanya Bernardo.
"Kenapa kamu suka sekali menyentil dahiku?" protes Cyrene memasang wajah cemberut.
"Karena kamu selalu banyak berpikir sendirian," jawab Bernardo.
"Sekarang katakan! Apa yang mengganggu pikiranmu kali ini!" pintanya.
"Pria yang memukul bom waktu itu_,,,,"
"Kamu tertarik padanya?" potong Bernardo cepat.
Cyrene menyipitkan matanya, menatap suaminya yang juga tengah menatapnya, lalu menghela napas panjang.
"Bukankah dia luar biasa?" sambut Cyrene memasang wajah serius.
"Siapapun wanita yang melihat aksinya juga akan mengatakan hal yang sama, dia juga terlihat tampan meski menutupi kepalanya menggunakan hoodie," imbuhnya.
"Tapi terlihat lebih pendek dariku," sahut Bernardo.
"Apa masalahnya? Dia terlihat lebih kuat dari kelihatannya," balas Cyrene.
"Apakah begitu?" sahut Bernardo, senyum di wajahnya memudar.
Cyrene berusaha menahan tawanya saat melihat raut wajah suaminya yang kini memalingkan wajahnya. Sekuat apapun ia berusaha, Cyrene tetap gagal menahan tawanya hingga suara tawanya menggema di kamar mereka.
"Pft,,, ha ha haa,,, seharusnya kamu melihat bagaimana wajahmu sekarang," ujar Cyrene.
"Apapun,,," jawab Bernardo tanpa menoleh.
"Hei,,, Liebster (sayang),,," Cyrene memanggil, namun suaminya tetap tidak menoleh.
"Aku hanya bercanda," imbuhnya.
Cyrene mendaratkan telapak tangannya di wajah suaminya, memintanya untuk menatap dirinya, lalu tersenyum.
"Kenapa kamu masih saja khawatir tentang hal sederhana seperti itu? Sampai kapanpun, pilihanku tidak akan pernah berubah," ujar Cyrene.
"Aku tahu," jawab Bernardo meletakkan telapak tangannya di atas tangan istrinya.
"Dasar beruang," ucap Cyrene sembari menarik hidung suaminya.
Bernardo terkekeh pelan, namun segera terhenti saat tangan istrinya mulai melingkar di lehernya, tersenyum lembut serta memberikan tatapan yang tidak bisa ia tolak. Tangan Bernardo pun tidak tinggal diam dan segera bergerak turun melingkari pinggang istrinya, membungkukkan badannya sampai bibir mereka bertemu. Melupakan sejenak tentang apa yang baru saja mereka lihat serta apa saja yang telah terjadi sejak mereka tiba di kota untuk menjalankan misi mereka.
...@@@@@@@@@@...
Tubuh Claira membeku di tempat setelah ia berbalik ketika ia justru melihat Charles tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri memberikan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Hanya dengan melihat bagaimana reaksi wajah anaknya, Claira sudah bisa menebak bahwa Charles telah melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat. Mengelak hanya akan membuat keadaan menjadi lebih rumit dari sebelumnya.
Tiap langkah yang di lakukan Charles saat berjalan mendekat membuat napas Claira tercekat, ia bahkan tidak bisa memikirkan kata apapun yang akan ia katakan kepada anaknya. Hingga, saat tangan Charles meraih tangannya, ia tersentak.
Charles menuntun ibunya dalam diam, membawanya menuju sofa dan meminta ibunya untuk duduk. Dalam diam, Charles pergi meninggalkan ibunya selama beberapa saat, dan kembali lagi dengan sebuah wadah berisi air bersih serta handuk kecil di tangannya.
Ia berlutut di depan ibunya, mencelupkan handuk kecil itu kedalam air serta memerasnya, lalu membersihkan cipratan darah yang mengotori wajah ibunya. Sesaat kemudian, Charles meraih tangan ibunya dan mulai membersihkan sisa darah yang menempel di tangan sang ibu. Ia baru menyadari, tangan yang senantiasa terasa halus ketika ia menyentuhnya memiliki banyak goresan luka yang memudar. Tanpa sadar, air matanya mulai mengalir.
"Aku tidak akan bertanya tentang siapa mereka dan mengapa mereka berada disini serta untuk apa," ujar Charles beralih membersihkan satu tangan ibunya yang lain.
"Tapi, bisakah Mama menjawab pertanyaanku? Hanya satu pertanyaan saja, dan aku janji tidak akan bertanya lagi," imbuhnya.
"Aku mohon dengan sangat Mama menjawabnya dengan jujur,"
Charles mengangkat wajahnya yang telah basah oleh air mata.
"Apakah karena hal ini yang membuat Mama mengirimku ke tempat jauh tujuh belas tahun lalu?"
. . . . .
. . . . .
To be continued....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Charles sudah dewasa, Clai.. gak ada salahnya utk terbuka dan jujur akan jati dirimu padanya.. setidaknya dgn tau akan identitas mu maka Charles akan lebih berhati² dan mempersiapkan diri.. toh putramu juga seorang agen kan??
2024-11-07
0
Ana
iya 😭🤧
2025-02-07
0
Atha Diyuta
mulai cemburu🤣🤣🤣
2024-09-16
1