Ruangan luas dengan pencahayaan redup dan hanya bisa memperlihatkan siluet seseorang tengah duduk di kursi kebesarannya. Satu kakinya disilangkan sementara satu tangannya mengangkat gelas berisi minuman yang sesekali di sesapnya.
"Anak?"
"Apa kau bercanda?" tergelak singkat.
"Dan anak itu berusia lima tahun,"
"Logikaku tidak bisa mencernanya sama sekali,"
"Lima tahun lalu adalah saat dimana penyerangan itu terjadi untuk kedua kalinya dan dia berada didalamnya, bahkan dia berada di garda depan. Dia tidak pernah menikah dan menjalin hubungan dengan siapa pun,"
"Selidiki tentang anak itu! Seret dia jika perlu. Sepertinya anak itu akan berguna,"
Suara berat yang terdengar darinya membuat seorang pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk segera mengangguk patuh sembari membungkukkan badannya sebelum menjawab.
"Dimengerti,"
...@@@@@@@@@@...
"Hai,"
Jefferi kembali menyapa dengan senyum lebar di wajahnya saat ia melihat Claira keluar dari cafetaria dan menahan langkahnya.
"Oh,, Hai," balas Claira datar.
"Apakah kemarin kamu tidak mengantarkan kue kemari?" tanya Jefferi.
"Aku mengantarnya," jawab Claira sekedarnya.
"Tapi kenapa aku tidak melihatmu?" tanya Jefferi.
"Entahlah," jawab Claira menaikkan bahunya.
"Maaf, aku masih memiliki pekerjaan lain, permisi," ujar Claira melangkah melewati Jefferi.
"Tunggu," cegah Jefferi.
"Ya?" sambut Claira menaikkan alisnya.
"Tidak bisakah kamu menemaniku minum sebentar saja?" harap Jefferi.
"Tidak," jawab Claira datar.
Claira kembali berjalan melewati Jefferi, namun pria itu justru mengikuti Claira dengan berjalan disampingnya.
"Bagaimana kalau besok?" tanya Jefferi lagi.
"Tidak," tolak Claira.
"Lusa?" lanjut Jefferi.
"Tidak," jawab Claira mulai merasa terganggu.
"Aku hanya ingin mentraktirmu sebagai teman," ucap Jefferi.
"Jika itu hanya untuk mengganti kotak yang kau rusak, aku menolak," ucap Claira seraya memakai helm nya.
"Tidak, bukan itu, aku murni ingin berteman," ucap Jefferi tulus.
"Kau bahkan memiliki lebih banyak teman disini," sambut Claira menunjuk universitas dengan kepalanya.
"Kenapa kau tidak ajak saja mereka?" imbuhnya.
"Aku tahu. Tapi, apakah salah jika aku ingin berteman denganmu?" tanya Jefferi.
"Teman yang sebenarnya," imbuhnya lirih.
'Setidaknya aku bisa merasakan dia bisa dijadikan sebagai teman sesungguhnya, bukan hanya sebutan teman tanpa makna,' batinnya.
Sesaat, Claira bisa melihat sorot kesepian di matanya, salah satu hal yang cukup baginya untuk melunak.
"Haahh,,," Claira mendesah panjang.
"Dengar, aku benar-benar tidak memiliki waktu sekarang ataupun besok. Aku tidak tahu pasti kapan memiliki waktu luang, jika aku memilikinya, maka aku akan menerima tawaranmu,"
"Apa kau senang sekarang?" sambungnya.
"Sungguh?" sambut Jefferi tersenyum senang.
"Ya," jawab Claira singkat.
"Kalau begitu, boleh aku tahu siapa namamu? Aku Jefferi," ujarnya sembari mengulurkan tangan.
"Jefferi,,,,!!!"
Suara teriakan seseorang menyela lebih cepat sebelum Claira menyambut uluran tangan pria di depannya, membuat si pemilik nama segera menoleh dan melihat salah satu temannya menghampirinya dengan nafas tersengal.
"Kamu diminta untuk ke ruang Rektor sekarang," ucapnya.
Claira memanfaatkan kesempatan yang datang dengan meninggalkan universitas ketika perhatian Jefferi teralihkan. Memacu sepeda motornya menjauh tanpa menjawab pertanyaan yang Jefferi ajukan padanya.
"Heii,,, tunggu,,!" seru Jefferi saat Claira telah menjauh.
"Tck,,, lagi-lagi dia pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku, ada apa sebenarnya dengannya?" decak Jefferi.
"Ada angin apa kau mendekati kurir itu?" tanya teman Jefferi.
"Hanya ingin berteman karena dia pernah menolongku dan aku tidak sengaja merusak barang miliknya," terang Jefferi.
"Jika dia lebih lama berada disini, mungkin dia akan menjadi saingan berat untukmu," seloroh temannya.
"Kenapa begitu?" tanya Jefferi mengerutkan keningnya.
"Kau sungguh tidak tahu? Lebih dari separuh para wanita universitas ini mengagumi wajah tampannya juga dirimu," jawabnya.
"Bukankah itu artinya dia bisa menjadi sainganmu?" imbuhnya.
"Aku tidak memikirkan hal seperti itu, aku hanya ingin berteman dengannya," sahut Jefferi.
"Lagipula, kamu juga tahu aku masih bersama Feyrin bukan?" imbuhnya.
"Entahlah," sahut sang teman sembari menaikan bahunya.
"Aku hanya merasa dia tidak lagi peduli denganmu," imbuhnya.
"Jangan sembarang bicara!" sambut Jefferi.
"Feyrin masih kekasihku," imbuhnya.
"Aku pergi ke ruang Rektor dulu, terima kasih sudah memberitahuku," ujar Jefferi menepuk bahu temannya dan berlalu pergi.
"Dasar, dia masih saja tidak sadar bahwa dia menjadi idola disini. Tapi aku juga kasihan padanya, sepertinya Feyrin hanya memanfaatkannya saja," gumamnya pelan sembari menatap punggung Jefferi yang menjauh.
...@@@@@@@...
### Disisi lain....
Papan yang tergantung dipintu masuk cafe bertuliskan OPEN tidak membuat orang yang melihatnya tertarik untuk masuk kedalam.
Claira melangkah masuk tanpa melepas jaket dan topinya, menimbulkan suara lonceng yang sangat khas saat ia membuka pintu masuk yang segera disambut oleh dua pelayan pria dan wanita.
Namun, ketika melihat penampilan Claira, pelayan wanita itu segera merubah raut wajahnya.
"Cih,,, kenapa harus orang kumuh yang datang," decaknya
"Hei, jangan berkata begitu," tegur pelayan pria.
Pelayan pria itu segera menghampiri Claira dengan senyum ramah, mengabaikan temannya yang tidak mau melayani pengunjung yang datang untuk menikmati kopi.
"Hallo,,, selamat datang," sapanya ramah.
"Apa yang ingin anda pesan?" tanyanya lagi setelah menyodorkan daftar menu.
"Aku bingung dengan apa yang mau aku pesan, bisakah kamu saja yang memilih?" tanya Claira setelah beberapa saat hanya melihat daftar menu tanpa membacanya.
"Tentu," sambutnya tersenyum.
"Sebelum itu, bolehkah saya bertanya apakah anda menyukai sesuatu yang manis?" imbuhnya bertanya.
"Saya menyukainya, hanya saja dibawah rata-rata," jawab Claira.
"Bagaimana dengan White Flat dengan kudapan Zeppole?" tawar si pelayan.
"White Flat memiliki rasa cenderung pahit dibandingkan Cappucino atau Latte," imbuhnya.
"Jenis kudapan apa itu?" tanya Claira.
"Zeppole adalah nama lain dari Frittele, jenis kue yang berasal dari Italia. Berbentuk bola kecil yang di goreng dengan toping diatasnya dan diberi filling," jelas pelayan.
"Baiklah, saya mau mencoba itu," jawab Claira.
"Baik, mohon tunggu sebentar," sambut pelayan pria.
Pelayan pria itu segera pergi dan kembali lagi setelah beberapa menit dengan nampan di tangannya yang berisi pesanan Claira.
"Silahkan, dan selamat menikmati," ucapnya ramah.
"Terima kasih," sambut Claira.
Claira segera mengernyit tajam saat aroma kopi di depannya masuk kedalam indra penciumannya, merasakan hal yang pasti bahwa tiap takaran kopi yang disuguhkan di buat secara asal. Namun, ia tetap mencoba kopi didepannya dan segera tahu dimana letak kesalahannya.
'Suhu air kurang panas, biji kopinya bahkan tidak digiling dengan halus,' batin Claira.
Ia beralih pada kue didepannya, memotong salah satunya dan mengigit kue yang tampak cantik didepannya. Sama seperti sebelumnya, Claira kembali mengernyit saat kue itu menyentuh lidahnya, jelas itu melenceng terlalu jauh dari resep miliknya.
'Ku tutup saja cafe ini untuk sementara, jelas saja cafe ini sepi pembeli, semua yang di sajikan sangat kacau. Ini juga karena kesalahanku sendiri karena satu bulan ini tidak memantau cafe ini sama sekali,' batin Claira.
Tanpa menyelesaikan hidangan dimejanya, Claira beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kasir.
"Hallo, saya ingin membayar tagihan," ucap Claira ramah.
Wanita yang duduk dibelakang meja kasir tersenyum dan akan memberikan struk dari apa yang di pesan Claira ketika pelayan wanita yang sebelumnya menyela dan mengganti struk yang akan di berikan dengan struk lain.
"Apa-apaan ini?" protes Claira.
"Ini bukan harga aslinya," imbuhnya.
"Itu jelas harganya, tuan," sambut pelayan wanita tersenyum angkuh.
"Benarkah? Sejak kapan harganya berubah?" tanya Claira.
"Jika anda tidak mampu membayar, anda tidak seharusnya datang kemari," jawab pelayan wanita.
"Maaf, ada apa ini?" sela pelayan pria yang segera datang mendengar keributan.
Sementara wanita yang duduk dibalik meja kasir mulai berdiri.
"Struk milik anda yang ini, tuan," ucapnya setengah takut.
"Diam kau!" sergah pelayan wanita merebut struk yang akan diberikan pada Claira.
"Aku benar-benar tidak suka bertele-tele," gerundel Claira.
"Dan aku juga tidak menyukai drama terlalu panjang," lanjutnya.
"Sekarang, tolong bayar," pinta pelayan wanita.
Claira menghela nafas kasar, lalu mengeluarkan ponselnya, jarinya menggulir ponsel dengan cepat sembari mencari nomor yang ia inginkan. Tepat saat di layar ponsel Claira muncul nama 'Samuel' ia segera menggesernya menjadi panggilan.
[["Iya kak? Ada apa?" sambut suara pria dari ponsel Claira dengan suara gugup.]]
"Hei, saya meminta anda untuk baya_,,,
"KELUAR KAU SAM!!! AKU TAHU KAU DIDALAM!" sergah Claira.
Kalimat pelayan wanita itu terputus saat Claira membentak seseorang melalui ponselnya. Tak lama setelah itu, pria lain muncul dengan tergesa-gesa menghampiri Claira.
Claira menatap pria yang ia sebut dengan nama Sam saat dia muncul dengan melipat tangannya. Sementara pelayan wanita itu terkejut melihat atasannya justru bersikap hormat pada Claira.
"Apa-apan ini? Jelaskan padaku kenapa cafe ini bisa sekacau ini?" tanya Claira kesal.
"Aku mempercayakan cafe ini untuk di kelola, bukan dihancurkan!"
Samuel menundukan kepalanya, tak berani menatap Claira. Terlebih lagi wanita di depannya tahu dirinya terlihat melalaikan tugas meski ia tidak bermaksud untuk melakukannya.
"Jelaskan!" perintah Claira.
"M-Maaf kak, itu,,," Samuel menelan ludahnya.
"Kau tak mau menjelaskannya atau tidak bisa menjelaskannya?" tanya Claira.
Samuel terdiam semakin menundukkan kepalanya.
"Mulai hari ini, cafe ini aku tutup, antarkan semua laporannya besok!" tegas Claira.
"Tapi kak, bagaimana dengan mereka?" tanya Samuel menunjuk tiga karyawan yang berada disana dengan wajah memelas.
"Beri dia gaji penuh," ucap Claira menunjuk pelayan wanita yang bersikap kasar.
"Untuk kalian berdua," ucap Claira menatap pelayan pria dan pejaga kasir.
"Kalian bisa tetap bekerja dengan ikut bersama Sam besok, tapi jika kalian tidak ingin lanjut bekerja, cukup ambil gaji kalian padanya," ucap Claira.
"Sisanya, aku akan urus nanti," imbunya.
"Terima kasih, kak," sambut Samuel sedikit lega.
"Aku masih harus mendengar penjelasan darimu, dan aku ingin mendengarnya besok!" tegas Claira.
"Baik," jawab Samuel lesu.
Claira berbalik tanpa menghiraukan kebingungan yang ada di wajah tiga orang yang berada disana. Namun, langkahnya kembali terhenti saat ia melihat lima orang pria berperawakan besar membuka pintu cafe dengan kasar dan menerobos masuk.
. . . .
. . . . .
To be Continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ana
kenapa ga mencoba membantu jefferi, mungkin dengan menyelidiki pacar nya
2025-01-23
1
Sandisalbiah
plot twis jd kudu sabar membacanya biar paham alurnya...
2024-11-07
0
Ana
siapa orang orang itu
2025-01-23
1