### Belasan tahun lalu...
"Apa hanya ini yang belum diantarkan?"
Pertanyaan itu terlontar dari wanita yang baru saja meletakkan kotak berisi puluhan kue dalam ukuran kecil dan telah dikemas cantik sebagai tanda siap untuk diantarkan ke tujuan.
Di belakangnya, wanita yang sebaya dengannya melakukan hal yang sama, meletakkan dengan hati-hati kue yang telah dikemas dan telah disusun dalam kotak berbeda.
Dua wanita yang memiliki karakter dan tingkah laku yang jauh berbeda namun memiiki hubungan yang sangat dekat layaknya keluarga.
Claira Anne Esmira.
Sosok wanita enerjik yang lebih menyukai berpenampilan layaknya pria. Bahkan hampir semua orang yang bertemu dengannya akan menganggap dirinya seorang pria ketika Claira menyembunyikan rambut panjangnya.
Rambut panjang coklat gelap dan terlihat indah ketika rambut itu terurai, namun si pemilik rambut itu sendiri justru lebih sering mengikat rambutnya terutama ketika dirinya berada di dapur untuk membuat kue-kue yang ia jual di cafe miliknya.
Wajah yang memiliki beberapa noda tepung dan cream saat ia keluar dari dapur cafe serta apron hitam yang setia menempel di tubuhnya tidak menutupi kecantikan yang wanita itu miliki.
Sementara sahabatnya yang bernama Grace memiliki rambut hitam segelap malam dan berpenampilan lebih feminim.
"Iya, hanya ini. Kita perlu menunggu Jay datang untuk mengantarkan ini ke universitas XX," jawab Grace.
"Itu terlalu lama, Jay memerlukan waktu setengah jam untuk kembali, itupun masih memerlukan waktu lagi untuk mengantarkan ini ke tujuan," sahut Claira.
"Tapi, kita hanya bisa menunggu Jay datang karena Dean mengambil cuti hari ini. Ben juga tidak bisa karena dia memiliki jadwal belajar," jawab Grace.
"Bukankah ada satu motor tidak digunakan, Grace?" tanya Claira.
"Memang benar, ada satu motor lagi, tapi kenapa?" Grace balas bertanya.
"Aku yang akan mengantarnya," ucap Claira.
"Jangan bercanda!" sambut Grace tidak setuju.
"Kamu baru saja selesai membuat ini semua,"
"Kamu juga lembur tadi malam untuk pesanan sore nanti. Kapan kamu memiliki waktu istirahat jika kamu juga yang mengantarkan ini? Kamu bahkan belum tidur sama sekali," Grace menambahkan dengan ekspresi cemas.
"Kita harus mempertahankan pelanggan kita, Grace," jawab Claira.
"Terutama universitas satu ini sudah menjalin kerja sama dengan kita cukup lama dan meminta kita untuk mengantarkan kue ini ke cafetaria,"
"Kita tidak mungkin mengecewakan mereka, bukan?"
"Karena dari itu juga Cafe ini bisa seperti sekarang," Claira menambahkan.
"Aku tahu, tapi_,,,"
"Tolong ambilkan topi dan jaketku, Grace! Atau kita akan kehabisan waktu," potong Claira dengan intonasi tidak bisa dibantah.
Grace menatap Claira yang tengah membersihkan noda tepung di wajah, lalu melepas apron dari tubuhnya. Ia hanya bisa mendesah panjang, memilih untuk menuruti Claira mengambilkan jaket serta topi yang biasa sahabatnya kenakan ketika melakukan pengantaran ataupun pergi membeli barang yang disimpan di loker.
Claira segera memakai topi dengan memasukan rambut panjangnya ke dalam topi dilanjutkan memakai jaket, lalu melangkah keluar cafe menuju sisi samping di mana sebuah sepeda motor terparkir di sana dengan sebuah box besar di jok belakang.
Claira segera memposisikan sepeda motor itu untuk mempermudah menaikan semua kotak kue yang akan ia bawa. Meletakkan kotak kue dengan perlahan ke dalam box dan memastikan posisinya tidak akan merusak apa yang ia bawa selama perjalanan.
"Kenapa tidak pakai mobil saja? Bukankah kamu memiliki lisensi untuk mobil juga?" tanya Grace.
"Aku malas, lagi pula ini masih bisa dibawa menggunakan sepeda motor," jawab Claira sembari memakai helm tanpa melepas topinya.
"Baiklah, apakah sudah masuk semua?" tanya Claira memastikan.
"Sudah," jawab Grace.
"Ah,, aku hampir lupa, minta Jay untuk mengurus sampah di belakang saat dia kembali nanti, dan Ivy untuk membuat salai baru, aku sudah memesan buahnya dan akan datang sebentar lagi," pesan Claira.
"Lalu untukmu, aku sudah siapkan uang untuk pembayaran bahan minggu ini, pemilik toko bahan memberi kabar akan datang, jadi berikan saja jika nanti dia datang sebelum aku kembali, beri dia satu Panna cotta sebagai ucapan terima kasih dari kita," tambahnya.
"Aku mengerti, berhati-hatilah selama perjalanan," jawab Grace.
Claira mengangguk sambil tersenyum lebar, dan segera melajukan sepeda motornya.
"Dasar,,, dia masih saja penuh semangat dan menghemat semua pengeluaran untuk dirinya sendiri. Tapi jika mengenai gaji dan bonus, dia tak pernah berpikir dua kali untuk memberikan lebih. Pantas saja Jay, Ivy dan Dean sangat menyukai berkerja dengannya termasuk orangnya," gumam Grace diakhiri tawa pelan.
Grace kembali kedalam cafe, bersiap untuk membuka Cafe dibantu beberapa orang yang berkerja disana.
Sementara Claira melaju pelan dengan sepeda motornya. Menempuh perjalanan selama dua puluh menit dan mulai memperlambat laju sepeda motornya ketika memasuki kawasan universitas yang tampak ramai oleh beberapa mahasiswa yang mengisi waktu luang mereka.
Membaca di bawah pohon, duduk mengobrol dan becanda ria bersama teman, fokus mengetik sesuatu di laptop mereka, bahkan beberapa tengah menikmati makanan ringan.
Claira tiba satu jam sebelum masuk jam makan siang, sengaja datang lebih cepat dengan alasan tidak ingin kue yang ia antarkan terlambat dan mengakibatkan para mahasiswa yang berada di sana tidak bisa menikmati kue buatannya.
"Aku masih memiliki sisa waktu," Claira mendesah lega.
Ia melepas helm tanpa melepaskan topinya, lalu menarik resleting jaket sampai mencapai leher dan mengangkat semua kotak kue sekaligus ke cafetaria yang ada di universitas tersebut, melangkah dengan langkah ringan melewati beberapa pelajar yang berada dalam jangkauan langkahnya.
"Hei, lihat,,bukankah dia tampan? apakah dia juga mahasiswa di sini?"
Kedatangannya ke universitas itu segera menarik perhatian, terutama dari beberapa gadis yang melihat kedatangannya. Suara bisik-bisik dari mereka bahkan terdengar saat Claira melewati mereka dengan kedua tangan membawa beberapa kotak kue sekaligus.
"Woww,,, tampan,"
"Apakah dia kurir?"
"Aku tidak peduli dia kurir atau apa, tapi dia tampan sekali,"
Claira tersenyum tipis sembari mengelengkan kepala saat mendengar komentar mereka, merasa hal itu sudah terlalu sering ia dengar. Ia tetap melangkah tanpa menghiraukan semua komentar bahkan panggilan dari beberapa gadis yang ia lewati dalam perjalanan menuju cafetaria.
"Wahh,,, hari ini lebih cepat dari biasanya," sambut wanita paruh baya penjaga cafetaria saat Claira datang.
"Semua yang ada di sini sangat menyukai kue dari cafe kalian," sambungnya.
"Senang mendengarnya jika mereka menyukai kue dari cafe kami," sambut Claira tersenyum ramah.
"Apakah kamu pertama kali mengantarkan ini? Aku ingat biasanya bukan kamu yang mengantarkan kue-kue ini," dia bertanya.
"Tidak, tapi memang benar biasanya bukan saya yang mengantarkannya," jawab Claira.
"Begitu rupanya," sambutnya.
"Atasan kalian tentu orang baik hingga memiliki karyawan yang ramah seperti kalian," puji wanita itu dengan tulus.
"Dia tentu akan senang mendengar Anda berkata demikian," sambut Claira tersenyum hangat.
"Ini dia kotak kosongnya." ucapnya sembari mengembalikan kotak kosong kepada Claira.
"Semoga saja cafetaria universitas ini bisa terus menjalin hubungan baik dengan cafe kalian," harapnya.
"Saya juga mengharapkan hal yang sama," sambut Claira tersenyum.
"Mari," pamitnya sebelum beranjak meninggalkan cafetaria.
Claira melangkah pelan saat keluar dari cafetaria, mengagumi bangunan universitas yang sempat menjadi mimpinya untuk melanjutkan pendidikan, namun dengan cepat ia segera menepisnya.
Pendidikan yang tidak bisa ia selesaikan karena beberapa alasan hingga membuatnya bekerja keras untuk menyambung hidup bersama seseorang yang sangat penting baginya.
Usianya saat ini bahkan belum memasuki dua puluh, namun ia tidak menyesali apapun. Bahkan kini ia memiliki sebuah Cafe dan tiga cabang tempat lain serta memiliki pelanggan tetap.
'BRUUKK,,,,!!!'
"Akh,,," pekik Claira.
Claira jatuh terduduk ketika seseorang menabraknya. Sama seperti dirinya, orang itu juga jatuh terduduk dan terkubur buku-buku yang dia bawa.
"Maaf, maaf, maaf, aku tidak sengaja," ucapnya panik segera bangkit dan mengulurkan tangan pada Claira.
Claira mendongak, mendapati pemuda bertopi dengan jaket yang menempel di tubuhnya membungkuk mengulurkan tangan pada Claira.
"Aku terburu-buru untuk mengejar jadwal kelas," ucapnya lagi dengan nada penyesalan.
Claira menyambut uluran tangan si pemuda, lalu mengambil kotak kue yang terjatuh tanpa mengatakan apapun.
'Aish,,, pecah,,,' rutuk Claira dalam hati.
'Jika sudah begini, terpaksa beli lagi kan? Pengeluaran bulan ini bahkan sudah melebihi batas,' imbuhnya.
Claira menoleh cepat ke arah pemuda yang menabraknya dan tegah mengumpulkan buku-buku yang dia jatuhkan.
'Kumaafkan karena kau membantuku berdiri lebih dulu sebelum mengumpulkan buku-buku itu,' batin Claira.
Pemuda itu kembali berbalik dan menatap Claira.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku tidak sengaja menabrakmu," sesalnya.
"Jelas saja," sambut Claira.
"Pandanganmu terhalang tumpukan buku yang lebih tinggi dari kepalamu," imbuhnya menyindir.
Pemuda itu tersenyum canggung, lalu segera pergi dengan terburu-buru setelah meminta maaf sekali lagi.
Claira menaikan bahunya dan bersiap pergi ketika sesuatu di tanah menghentikan langkah yang akan ia ambil. Ia membungkuk dan memungutnya, hingga sebuah kartu identitas mahasiswa milik pemuda yang baru saja menabraknya kini berada ditangannya.
"Jefferi Karl Lysander,"
"Laws,"
'Jadi, orang tadi jurusan hukum, mengesankan,' batin Claira.
Claira membaca sekilas kartu identitas itu lalu mencari sosok pemiliknya yang menghilang entah kemana.
"Jika aku menunggu, aku bisa kehabisan waktu. Tapi, kartu ini tentu sangat penting baginya," gumam Claira pelan.
Dart,,, Dart,,, Dart,,,
Getaran ponsel di saku celana menyadarkan Claira, membuat ia dengan cepat menarik ponsel dari saku celana untuk menerima panggilan dari seseorang.
📞📞📞📞
"Ya, Grace?" sambut Claira setelah ponsel menempel di telinga.
"Apakah kamu masih lama?" tanya Grace.
"Sepertinya begitu, ada apa?" tanya Claira.
"Ada dua tamu yang ingin membooking cafe untuk pesta, dan mereka juga menginginkan menu spesial kita, hanya saja jadwal yang mereka minta bertabrakan. Bagaimana baiknya?" tanya Grace.
"Apakah mereka masih di sana?" tanya Claira.
"Tidak, tapi mereka berkata akan datang lagi setelah urusan mereka selesai," jelas Grace.
"Baiklah, aku yang akan mengurusnya nanti," jawab Claira.
"Baiklah," sambut Grace.
"Omong-omong, apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Bukankah seharusnya kamu dalam perjalanan kembali?" tanya Grace.
"Aku perlu membeli kotak baru, yang ada di tanganku sekarang pecah," ungkap Claira.
"Bagaimana bisa?" tanya Grace heran.
"Aku ceroboh dan menjatuhkannya," kilah Claira tertawa pelan.
"Baiklah, kabari aku jika kamu membutuhkan sesuatu," ujar Grace.
"Tentu," jawab Claira.
📞📞📞📞
Panggilan mereka berakhir tanpa menyadari apa yang baru saja Claira ucapkan terdengar di telinga pemuda yang telah menabrak dirinya
"Permisi," sapanya.
Claira berbalik dan tersenyum lega. Sebelum pemuda itu sempat mengatakan sesuatu, Claira membuka suara lebih cepat.
"Ah,, ini milikmu," ujar Claira sembari menyodorkan kartu identitas.
"Aku menemukannya di tempat kamu terjatuh," ucap Claira.
"Terima kasi_,,,Hei,,,,"
Pemuda itu memanggil Claira yang pergi begitu saja setelah menyerahkan kartu identitas miliknya bahkan sebelum ia memiliki kesempatan untuk mengucapkan terima kasih.
"Pria aneh," gumamnya pelan.
"Tapi, aku tadi tidak salah mendengar bukan? Apakah kotak yang dia bawa rusak karena terjatuh tadi?"
Pemuda itu kembali bergumam, mencatat dalam benaknya untuk mengucapkan terima kasih sekaligus meminta maaf jika mereka kembali bertemu.
...@@@@@@@...
. . . .
. . . .
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
First Soldier
hmm...Sandgate menarik apakah ini temanya wanita kuat?
2025-03-02
2
Ana
apakah keliatan banget ya seperti cowok 🤔 Claire ini
2025-01-21
1
Sandisalbiah
jd pingen lihat visual Claire
2024-11-07
0