Di dalam restoran, Latifa masih saja murung. Tawaran Dika tempo hari yang mengajaknya menikah sebagai formalitas untuk tujuan mempermudah atau syarat kelengkapan pembuatan akte kelahiran, masih saja terngiang. Tapi Latifa masih sulit untuk mengambil keputusan.
"Apa yang harus aku ambil? Menerima pernikahan itu atau tidak? Kalau tidak, bagaimana nasib Gaza, status kependudukannya dan akte kelahirannya?" Latifa masih melamun dan memikirkan apa yang harus dia ambil dan putuskan.
"Tifa! Tolong pelanggan di meja nomer 11 dilayani dulu," ujar Sari salah satu teman satu profesinya. Latifa terhenyak, lamunannya buyar. Dia langsung menuju meja nomer 11 yang disebutkan sari tadi.
"Silahkan Pak, mau pesan apa?" tanya Latifa sopan dan ramah sembari memberikan buku menu pada laki-laki paruh baya berumur 65 tahun itu.
"Pesan menu teristimewa di restoran ini," pesannya dengan gaya yang congkak. Latifa segera bergegas menuju kitchen dan menyebutkan pesanan yang disebutkan bapak tua tadi.
"Chef Galih, Bapak di meja nomer 11 itu pesan menu paling istimewa di restoran ini," lapor Latifa. Chef Galih mengangguk paham, dia tahu siapa yang selalu memesan menu istimewa seperti ini.
Beberapa menit kemudian, menu yang istimewa yang dipesan bapak tua tadi sudah selesai dan Chef Galih memberikan pada Latifa untuk dihidangkan pada bapak tua tadi.
Latifa membawa pesanan istimewa bapak tua itu lalu meletakkan di atas meja dengan sangat hati-hati, tidak lupa minumannya.
"Silahkan dinikmati, Pak," ujar Latifa
"Sebentar, bisa kamu jelaskan ini menu apa?" tanyanya.
"Bisa, Pak. Ini merupakan lobster asam manis pedas, yang sebelum dimasak sudah dimarinasi terlebih dahulu dengan bumbu rahasia restoran ini, sehingga saat dinikmati, lobster ini bumbunya meresap ke dalam dan cita rasanya sangat autentik. Dan ini merupakan menu teristimewa di restoran ini." Latifa menjelaskan dengan lancar.
Beruntung Latifa selalu belajar mengetahui setiap menu masakan yang dimasak di restoran ini.
"Bagus," ujarnya sambil menganggukkan kepalanya tanda puas.
"Silahkan dinikmati, Pak," ujar Latifa seraya tersenyum ramah dan berlalu. Laki-laki tua itu menikmati makanannya dengan lahap. Tiba-tiba seorang pemuda tampan menghampiri meja sang pria tua tadi dan duduk di depannya akrab.
"Kakek, tiba-tiba saja Kakek mau makan di restoran milik Papa, apa yang membuat Kakek datang ke sini?" Si pria tua yang dipanggil kakek oleh pemuda itu sejenak menoleh lalu menikmati kembali makanannya.
"Kamu tidak perlu banyak bicara, pesanlah makan siangmu, setelah ini kita masih ada pekerjaan lain di kantor," ujar pria tua itu meninggi.
Pemuda tampan itu segera memanggil salah satu pelayan. Pelayan itu menghampiri dan bertanya makanan yang akan dipesan oleh pemuda itu.
"Iya Mas, mau pesan apa?"
"Panggilkan pelayan yang bernama Latifa," perintahnya tanpa menoleh.
"Baik. Permisi." Pelayan itu berlalu seraya mencari Latifa. Latifa yang dicari rupanya sedang membantu asisten Chef menyusun makanan.
"Tifa, pengunjung yang duduk di meja nomer 11 ingin dilayani kamu," ujar Adit memberitahu. Latifa termenung sejenak mengingat pengunjung yang berada di meja 11. Latifa masih ingat pengunjung yang dimaksud, dia yang tadi meminta menu istimewa di restoran ini.
Latifa segera bergegas menuju meja nomer 11 tadi. Seketika wajah murung akibat memikirkan akte kelahiran Gaza dan tawaran menikah dengan Dika, hing seketika saat kesibukan itu melanda.
Tiba di meja 11, dia masih mendapati pria tua itu menikmati lobsternya yang masih tersisa setengahnya lagi. Tapi kini ditemani seseorang.
"Iya, Pak. Apakah ada yang diperlukan lagi? Atau Masnya mau pesan apa?" Mata Latifa tertuju pada Dika seraya memegang pena dan sebuah nota untuk catatan pesanan.
Latifa tersentak saat matanya beradu dengan pemuda itu yang ternyata Pradika, mulutnya sedikit menganga dan wajahnya kini pias.
"Saya pesan tom yam dan jus jambu, ya." Dika mengatakan pesanannya membuyarkan keterkejutan Latifa. Latifa kembali mengatur nafasnya untuk mengembalikan keadaan semula. Dia berusaha tenang, bahkan saat Pradika berusaha menyentuh Latifa.
Latifa segera menuju kitchen dan memesan satu pesanan Pradika. Saat kembali menuju meja Pradika, jantung Latifa kembali berdegup sangat kencang. Nasib baik, saat itu Dika sepertinya sedang terlibat obrolan bersama pria tua di depannya.
"Permisi." Latifa segera meletakkan pesanan Pradika dengan hati yang berdebar dan muka yang pias.
"Jangan lupa penawaran saya dipikirkan," ucap Dika ditujukan pada Latifa. Pria tua di depan Pradika menoleh ke arah Dika dan mengerutkan kening tanda heran, lalu fokus kembali dengan Hp di tangannya.
Setelah meletakkan pesanan Dika, Latifa segera berlalu dari meja itu dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Sepanjang melayani pengunjung lain, pikiran Latifa benar-benar tidak fokus, dia memikirkan Pradika dan bertanya-tanya kenapa Dika bisa berada di restoran ini.
"Salina Restoran merupakan restoran ternama di wilayah ini, tidak mungkin lelaki bajingan itu tidak kenal restoran ini."
Berulang kali Latifa melakukan kesalahan dalam pekerjaannya hari ini, diantaranya salah meletakan pesanan tamu. Untung saja kesalahannya hanya itu dan tidak fatal, masih bisa ditolerir.
Jam tujuh malam tiba, jam pulang tiba. Latifa segera bergegas keluar restoran dan menuju mess. Sesekali Latifa menoleh ke belakang. Perasaannya kini dilanda takut, takut tiba-tiba Dika berada di belakangnya dan mengikutinya.
Tiba di dalam mess, Latifa membaringkan sejenak tubuhnya yang lelah di kursi seraya berselonjor, sungguh hari ini bukan saja lelah fisik, akan tetapi batin pun tersiksa oleh kemunculan Dika yang tiba-tiba, serta tawaran Dika yang selalu muncul di kepalanya.
Jam sembilan malam tiba, suasana begitu sunyi. Latifa sudah mempersiapkan diri masuk ke dalam kamar. Hatinya sedikit lega, dia berpikir di jam segini akan aman dan Dika tidak mungkin datang bertamu dengan memaksa.
"Jangan tidur dulu aku akan datang."
Sebuah pesan WA tiba-tiba masuk dari sebuah nomer yang tidak dikenal Latifa. Akan tetapi foto profil orang itu merupakan foto Gaza yang disandingkan dengan Dika. Latifa mendengus sebal, lalu dia duduk di tepi ranjang.
Tiba-tiba Dika sudah berada di dalam ruangan mess. Untuk beberapa saat Latifa sangat terkejut lalu berdiri keluar dari kamar yang hanya bersekat gorden.
"Kamu? Kenapa tiba-tiba masuk tanpa dipersilakan?" kejut Latifa sekilas menatap wajah Dika yang sudah kembali seperti semula, hanya di ujung bibir menimbulkan bekas luka.
"Aku datang untuk menawarkan tawaranku yang kemarin. Ini kesempatan terakhir untuk kamu. Jika kamu menolak, maka kesempatan itu tidak akan ada lagi," ucap Dika penuh penekanan.
Latifa terhenyak kala mendengar ucapan Dika barusan. Dia bingung dan harus memutuskan apa.
"Baiklah. Aku datang ke sini hanya untuk mengingatkan kamu. Jika tidak bersedia, maka kamu tahu resiko yang akan terima," pungkas Dika seraya berlalu meninggalkan Latifa yang bengong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Citra Merdeka
aku mampir Thor... mana kopi 😁
2024-07-04
1
Lina Zascia Amandia
Mampir dong wahai Readers Zayang...
2024-07-01
0