"Gaza tentu saja sedih dan menangis saat Tifa pamit, untungnya ada Nek Romlah yang pandai merayu."
"Syukurlah."
"Mbak, bolu selai keladi hitamnya enak banget. Sayangnya, di toko-toko kue di sini tidak ada yang jual. Coba Mbak beli dua rasa yang di-mix, bolu rasa taro keladi, itu favorit aku banget," ungkap Rayana sembari mencomot bolu lapis bawa Latifa dari Bogor kemarin, yang sudah Bu Dina potong-potong lalu diletak di meja.
"Mbak bawa kok rasa taro keladi. Di dalam kantong oleh-oleh itu ada tiga bolu, masa kamu tidak lihat?"
"Hanya ada dua bolu, kok, Fa. Yang taro keladi justru tidak ada," sambung Bu Dina.
"Oh, ya? Kemarin bawanya tiga kok, Bu."
"Tapi hanya ada dua, rasa original saja," ujar Bu Dina.
"Sepertinya tertinggal di terminal, soalnya kemarin Tifa sempat tabrakan dengan seseorang. Mungkin saja kantong oleh-olehnya ada yang tertinggal di sana."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Ini juga banyak," sela Bu Dina.
"Kalau begitu Tifa berangkat, ya, Bu, Pak. Doakan Tifa hari ini beruntung dan dapat pekerjaan. Ra, ayo. Katanya kamu mau kuliah, kenapa mulutnya masih ngunyah?" tegur Latifa kala melihat Rayana justru tengah asik menikmati bolu bawanya dari Bogor.
"Iya, ayo, Mbak."
"Memangnya kamu mau cari kerja ke mana? Pabrik elektronik atau apa?" tanya Pak Yudi.
"Sepertinya rumah makan saja, Pak. Kalau pabrik elektronik, Tifa tidak percaya diri dengan pendidikan Tifa yang hanya SMA. Kalau rumah makan, sepertinya tidak terlalu memprioritaskan ijazah. Kebetulan di daerah Cawang ada rumah makan besar yang sedang menerima lowongan pekerjaan menurut info dari media sosial."
"Baiklah, kalau kamu mau mencoba, coba saja. Semoga lancar dan berhasil," doa Pak Yudi sembari menerima uluran tangan Latifa dan Rayana yang akan pergi.
"Kami pergi, Pak, Bu. Assalamualaikum." Mereka berdua berpamitan seraya menaiki motor milik Rayana dan membelah jalan raya besar.
"Wa'alaikumsalam." Pak Yudi dan Bu Dina membalas salam kedua anaknya, sembari menatap kepergian keduanya.
"Ra, stop di depan." Latifa menghentikan motornya tepat di dekat angkot yang menuju ke Cawang.
"Beneran Mbak mau naik angkot ke Cawang?" yakin Rayana.
"Iya, Mbak memang mau naik angkot. Emangnya kenapa? Kamu mau antar? Tapi mbak rasa tidak perlu kamu antar, sebab mbak tidak terburu-buru juga," tukas Latifa menolak halus Rayana yang belum sempat menawarkan bantuan.
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit, dan Mbak Tifa hati-hati di jalan," peringat Rayana sembari menjalankan kembali motor ke arah kampusnya.
Latifa segera berjalan menuju angkot tujuan Cawang. Untungnya angkot itu tidak ngetem lama.
"Stop, Bang." Latifa menghentikan angkot itu, sepertinya tujuannya sudah sampai. Namun, ternyata Latifa harus nyebrang untuk menuju rumah makan yang dia maksud. Rumah makan itu sudah terlihat dari sebrang, atapnya yang menjulang dengan nama sebuah restoran ternama di kawasan itu.
"Salina Restoran? Apa benar ini restorannya yang sedang ada lowongan kerja itu sesuai info di media sosial?" Latifa berdiri bingung dengan kepala tengadah menatap restoran ternama itu. Membaca dan mengamatinya beberapa saat.
Latifa memutuskan melangkahkan kakinya dan bersiap menyebrang. Namun alangkah terkejutnya, dari arah kanan sebuah mobil hampir saja menyerempetnya. Salah Latifa sendiri, dia terlalu terburu-buru, padahal posisi mobil itu sudah sangat dekat.
"Akhhh, ya ampun. Untung saja hanya keserempet sedikit saja," gumannya seraya berdiri dengan benar. Sementara orang yang hampir menyerempetnya, menghentikan mobilnya, lalu menuruni mobil dengan hati yang risau.
"Apakah ada yang kena dengan gadis itu?" bisiknya was-was seraya menghampiri Latifa.
"Maaf, Mbak. Apakah ada yang kena? Jika ada, mari saya antar Anda ke klinik terdekat," tawar pemuda tampan berpenampilan rapi dan menarik itu menawarkan bantuan pada Latifa yang sedang membelakanginya.
Perlahan Latifa membalikkan badan seraya berkata, "Sudah, tidak apa-apa, Mas. Tidak ada yang luka sama sekali," sahutnya.
Sepersekian detik wajah Latifa berubah terkejut setelah melihat siapa pemuda yang tadi hampir menyerempetnya. Mulutnya sedikit ternganga, lalu rasa takut itu tiba-tiba muncul begitu saja. Ingatannya kembali ke masa empat tahun silam.
"Ini semua gara-gara elu menolak cinta gue. Elu malah jalan dengan si Arda." Kalimat itu terngiang kembali, dan Latifa hanya fokus pada sosok Pradika, sebab hanya Pradika dan Arda lah dua lelaki yang dia tolak cintanya di hari yang sama.
Perlahan Latifa memundurkan tubuhnya dua langkah, tubuhnya bergetar menandakan bahwa dia mengalami perasaan takut berlebih.
"Latifa, benarkah kamu Latifa?" kejut pemuda yang kini berada dekat di hadapan Latifa seraya meraih lengan Latifa dengan maksud ingin merangkulnya.
"Empat tahun lamanya aku cari kamu, Fa. Aku ingin meminta maaf atas khilafku padamu kala itu. Namun, keberadaanmu tidak pernah aku temukan. Lewat orang-orangku, juga nihil. Mereka tidak pernah menemukan jejakmu. Aku sungguh menyesal telah melakukan itu padamu. Kemarilah, Fa. Aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku buat empat tahun yang lalu kepadamu," ungkap Pradika penuh harap.
Flashback Pradika
Pemuda tampan itu Pradika atau Dika, dia ingat betul dengan Latifa. Gadis yang sejak SMA disukainya, tapi cintanya tidak pernah disambut oleh Latifa. Latifa justru memilih Arda yang notabene rival abadinya dalam meraih cinta Latifa.
Dika meradang kala berita Latifa telah jadian dengan Arda, sedangkan sebelumnya Latifa telah menegaskan tidak akan menerima cinta dari salah satunya. Namun bukti foto dan kebersamaan Latifa bersama Arda, kini sudah Dika kantongi.
Dika merasa dikhianati dan dibohongi, sehingga tantangan dari Arda yang menghubunginya dan menyuruhnya untuk datang ke kafe Sayang, dia penuhi. Arda menegaskan pada Dika untuk bertanya langsung alasannya pada Latifa kenapa dia lebih memilih Arda.
Di depan pintu kafe, kedatangan Dika disambut seorang pelayan kafe yang sudah menyodorkan segelas minuman sirup, sebagai sambutan pada pengunjung kafe. Dika tidak menolaknya dan langsung meminum sirup itu.
Namun, tidak berapa lama, tiba-tiba tubuhnya bereaksi hebat, Dika seakan mengalami sebuah rangsangan yang harus segera dituntaskan.
Pikirannya kacau, akan tetapi Dika tetap masuk ke dalam kafe dengan niat ingin segera menemui Arda dan Latifa. Dalam jarak 20 meter, Dika hanya melihat Latifa tengah duduk sendiri menghadap meja, sementara Arda tidak ada didekatnya.
Dika menghampiri dan bermaksud bertanya langsung pada Latifa alasan kenapa dia lebih memilih Arda. Namun Dika memilih cara lain. Dika menghampiri Latifa, tiba-tiba Dika menutup wajah Latifa dengan sebuah kain. Segera Latifa dibawa keluar kafe pada saat kafe tengah ramai pengunjung yang baru datang. Dan sepertinya para pengunjung itu tidak peduli dengan aksi Dika yang membawa Latifa begitu saja. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
Dika berhasil membawa Latifa masuk mobilnya dan membawa pada sebuah gedung. Niat awal hanya ingin bertanya pada Latifa, kenapa dia lebih memilih Arda setelah sebelumnya menyatakan bahwa tidak akan memilih Arda ataupun dirinya.
Namun gejolak rasa yang Dika rasakan dalam tubuhnya, justru menuntunnya untuk segera melepaskan hasratnya untuk dituntaskan. Dan malam itulah, meski dalam pengaruh obat, Dika sadar bahwa dirinya sudah memberikan goresan luka di hati gadis yang dia cintai sekaligus dia benci kini, setelah bukti kebersamaan Latifa dan Arda dia dapatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments