Di tempat lain, Latifa yang tadi menaiki angkot jurusan ke rumah orang tuanya, kini sudah tiba setelah menempuh perjalanan selama 45 menit.
Latifa sangat bahagia ketika kakinya bisa berpijak lagi di kota Jakarta ini. Kota yang menyimpan banyak kenangan, termasuk kenangan buruk.
"Assalamu'alaikum," ucapnya setelah tiba di depan sebuah pintu rumah yang sederhana, akan tetapi sangat terawat. Rumah itu kini tidak panggung lagi, karena sudah mengalami renovasi.
"Wa'alaikumsalam, Mbak Latifa?" Seseorang membalas salam lalu membukakan pintu. Sejenak Latifa dibuat terkejut, ternyata di dalam rumahnya ada seorang tamu yang dikenalnya.
"Latifa, akhirnya kamu datang, Nak?" sambut Pak Yudi diikuti Bu Dina di belakangnya.
Latifa masuk ke dalam rumah seraya menyalami kedua orang tuanya. Lalu berdiri sejenak sambil menatap sosok yang kini duduk di kursi tamu.
"Latifa, apakah kamu kenal dengan orang ini, dia teman kamu saat sekolah, bukan?" Pak Yudi melontarkan sebuah pertanyaan sembari memberi kode supaya Latifa menghampiri sosok itu dan menyalaminya.
Latifa mendekat, tapi begitu jauh dan hanya menyentuh ujung jari pemuda yang duduk di kursi tamu itu, ketika menyalaminya.
"Arda, ada apa kamu kemari?" Sebuah pertanyaan datar keluar dari bibir Latifa, membuat semua orang di dalam sana terlihat terkejut.
"Tifa, ternyata kamu masih ingat aku. Aku hanya ingin bersilaturahmi dengan kamu dan keluarga kamu," balas pemuda bernama Arda itu tersenyum canggung.
"Apakah kamu sering datang ke sini, sejak kapan?" tanya Latifa lagi tanpa senyum. "Lalu untuk apa?" lanjutnya lagi seakan sedang mengintrogasi seorang pelaku kejahatan.
"Enam bulan terakhir ini, Fa. Seperti yang pernah aku bilang tadi, aku datang ke sini untuk bersilaturahmi," jawabnya.
"Ya, sudah. Maaf aku ke belakang dulu. Mau menyimpan ini dan beristirahat," pamitnya seraya memperlihatkan kantong oleh-oleh yang dibawanya dari Bogor.
Melihat reaksi Latifa seperti itu, Bu Dina ngeloyor mengikuti Latifa dari belakang menuju dapur.
"Tifa, letakkan saja kantong itu di atas meja makan, biar ibu yang buka. Kamu segera ke kamar mandi saja, basuh muka dan temui lagi Nak Arda," titah Bu Dina.
"Bu, kenapa Ibu dan Bapak harus hadirkan laki-laki untuk Tifa? Apakah kalian tidak tahu, perasaan yang dulu sempat dirasakan Tifa, rasa trauma?" Latifa melontarkan protes sebelum kakinya menuju kamar mandi.
"Maksud kami tidak seperti itu, Tifa. Tapi, Nak Arda datang kemari pun atas kehendak dia, dia datang punya niat baik sama kamu," ungkap Bu Dina.
Latifa menatap Bu Dina lekat, dia merasa tidak suka dengan apa yang disampaikan ibunya barusan.
"Apa, Bu? Niat baik? Niat baik apa? Pokoknya Tifa tidak mau Ibu atau Bapak hadirkan laki-laki dengan maksud menjodohkan Tifa dengan lelaki itu. Maaf, Tifa harus ke kamar mandi." Setelah mengatakan itu Latifa bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Bu Dina menatap nanar punggung Latifa yang kini memasuki kamar mandi. Ada sesak di dalam dadanya ketika mendapat balasan datar dari sang putri pertama. Bu Dina tahu apa yang pernah Latifa alami empat tahun lalu masih membekas sampai kini.
Latifa keluar dari kamar mandi, di dapur sudah tidak ada Bu Dina. Latifa bergegas menuju kamarnya yang berada tepat di sebelah ruang tamu, dari sana dia bisa mendengar percakapan orang tua bersama tamunya.
Tidak berapa lama, pintu kamarnya dibuka oleh sang ibu. Bu Dina menduduki ranjang di samping Latifa.
"Fa, temui dulu tamunya, tidak enak. Bicarakan apa yang ingin kamu katakan, dan tanyakan apa niat Nak Arda sebenarnya sama kamu. Ayo, bangkitlah," ajak Bu Dina menarik lengan Latifa keluar kamar.
Latifa terpaksa bangkit dan mengikuti Bu Dina menemui Arda yang masih duduk di ruang tamu. Tiba di ruang tamu, kedua orang tua Latifa bangkit dan meninggalkan Latifa berdua dengan Arda, untuk memberi kesempatan supaya mereka bicara dari hati ke hati.
"Akhirnya kamu sembuh betul, Fa." Tiba-tiba Arda memulai pembicaraan yang sontak memancing reaksi kesal Latifa.
"Sembuh? Maksud kamu, kamu tahu aku sakit, lalu aku sakit apa?" serang Latifa berang dengan mimik muka kurang suka. Arda gelagapan, dia bingung menjawab.
Sejenak Latifa menatap Arda, lelaki ini memang selalu berpenampilan rapi dan modis, ditunjang lagi dengan wajah yang lumayan tampan. Pantas saja, sebab Arda terbilang anak orang kaya setahu Latifa.
Flashback Latifa (empat tahun yang lalu)
Pikiran Latifa kembali melayang ke masa empat tahun silam, semua berawal dari Arda. Jam lima sore setelah acara perpisahan sekolah berakhir di suatu gedung, Arda tiba-tiba mengajak Latifa ke kafe dengan alasan, Bu Santi sang wali kelas mengadakan pesta makan-makan di sana.
Latifa termakan ucapan Arda, tiba di kafe, ternyata Bu Santi dan teman-teman yang lainnya tidak ada di sana, hanya ada Arda yang tiba-tiba menyatakan cintanya pada Latifa. Dengan rasa yang bingung dan kesal pada Arda, secara baik-baik Latifa menolak halus pernyataan cinta Arda.
"Maaf, Da. Aku saat ini belum memikirkan pacaran. Aku ingin fokus mengejar cita-cita aku, yaitu kuliah dan berkarir." Arda tertegun dengan penolakan Latifa kala itu.
Dengan perasaan kecewa, Arda pamit sejenak ke toilet kafe saat itu. Di toilet Arda menghubungi seseorang entah siapa. Sementara Latifa yang sudah beberapa menit menunggu Arda dari toilet, merasa kesal karena Arda tidak muncul-muncul.
Namun lima belas menit kemudian, tangan dan tubuh Latifa sudah dipaksa seseorang dan dibawa ke suatu tempat dengan mata yang tertutup. Sementara Arda entah ke mana.
Di tempat yang tidak Latifa ketahui itulah, sesuatu yang besar terjadi padanya. Seorang lelaki dengan tangan kekar dan tubuh yang kuat bertenaga, berhasil menindihnya dan melampiaskan hasratnya.
"*Ini akibat elo menolak cinta gue. Elo malah jalan sama si Arda*." Kalimat itu terngiang jelas di telinga Latifa saat tubuh Latifa berhasil dikuasai lelaki yang berada di atasnya. Dia melampiaskan dengan rasa marah dan sepertinya lelaki itu dalam pengaruh minuman yang efeknya kuat.
"*Pradika? Dia Pradika*?" Lelaki yang ditolak cintanya oleh Latifa dengan alasan yang sama seperti yang dia katakan pada Arda. Itu dugaan kuat Latifa terhadap Pradika teman sekelasnya, dari ucapan yang Latifa dengar saat pria itu melampiaskan hasratnya.
Flashback Arda
Sementara itu Arda yang pergi ke toilet, dia segera menghubungi seseorang yang diduga Pradika. Arda mengirimkan sebuah foto bahwa dia baru saja jadian dengan Latifa dan mereka kini sedang makan di kafe Sayang. Arda mengaku dirinya diterima cintanya oleh Latifa. Arda melakukan itu dengan maksud memanas-manasi Pradika.
Rupanya Arda dan Dika bersaing untuk mendapatkan Latifa, karena tidak ingin kalah taruhan, Arda mengarang cerita bahwa dia baru saja jadian sama Latifa dan cinta dia diterima dengan baik oleh Latifa. Karangan inilah pemicu Pradika terpancing emosinya.
Arda juga sengaja mengundang Pradika untuk datang ke kafe Sayang. Atas undangan itu Pradika akhirnya datang dan Arda merencanakan sesuatu. Sebelum masuk kafe, Pradika disambut pelayan kafe yang memberikan sebuah minuman yang wajib diminum pengunjung kafe.
Setelah merasa berhasil memperdaya Pradika, Arda kembali dari toilet. Namun sayang, Latifa yang tadi menolaknya, sudah tidak ada di meja yang tadi mereka tempati.
"Ke mana Latifa?" Arda kebingungan, yang dia temui justru perempuan yang bekerjasama dengannya untuk menjebak Pradika.
Flashback End
"Lalu ke mana saat itu kamu menghilang Da? Ataukah kamu sengaja menjebak aku?" Arda tercengang dan bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan Latifa. Apa yang harus dia katakan pada Latifa saat ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Noviyanti
latifa dibawa dika, ya salah si arda si manas2in
2024-06-14
1