"Tidak ada penolakan darimu Pradika, kamu cucu yang paling bisa kakek andalkan dan harapkan. Tidak seperti yang lain yang selalu membantah," tukas Kakek Danial dengan rahang terlihat mengeras.
"Dika sudah ikuti kemauan Kakek. Tapi untuk kehidupan pribadi, Dika lebih memilih pilihan Dika sendiri. Terserah Kakek mau murka sama Dika. Yang jelas kehidupan pribadi, Dika tidak ingin siapapun ikut campur termasuk Kakek," tegas Pradika sembari fokus ke arah laptopnya.
"Tidak ada kemauan kakek yang bisa kamu bantah Dika, termasuk pasangan hidup," tegas Kakek Danial keukeuh.
"Dika sudah penuhi semua kemauan Kakek termasuk berhenti melanjutkan study ke Amerika demi menjadi pemimpin dan memajukan Javilen Elektronik ini. Kecuali pasangan hidup. Bahkan jauh sebelum Dika keluar dari SMA, Dika sudah memilih seseorang untuk jadi pasangan hidup Dika." Pradika berbicara penuh dengan penekanan.
"Pradikaaaa, kamu akan mengalami hal yang sama seperti yang terjadi pada papamu. Dia tidak mendapatkan satupun perusahaan dari warisanku," pekik Kakek Danial seraya menatap berang pada Pradika yang masih fokus dengan laptopnya.
"Baik, kalau perlu mulai sekarang Dika akan keluar dari perusahaan ini. Dika tidak peduli dengan perusahaan Kakek lagi. Lagipula Dika tidak pernah menginginkan memimpin perusahaan ini," balas Pradika.
"Kenapa kamu sangat keras kepala Dika? Kakek hanya ingin ada penerus perusahaan ini, sementara papamu dan saudara-saudaranya tidak ada yang mau kakek jadikan pemimpin di perusahaan ini karena mereka bodoh, termasuk papa kamu," omel Kakek Danial belum berhenti.
"Kakek, dengar Dika Kek. Kakek itu terlalu memaksakan kehendak Dika. Ok, Dika patuh apa-apa yang Kakek mau, tapi mengenai jodoh Dika, Dika tidak mau siapapun yang mengatur," ucap Dika melemah, sorot matanya kini berubah teduh.
Percuma Kakeknya dibalas dengan keras, sebab seperti yang sudah dia rasakan, Kakek Danial akan lebih keras jika dibalas dengan keras, dia sebagai anak muda harus mengalah dan berusaha menahan egonya.
"Tapi, Sihni itu perempuan baik. Kamu akan bahagia bersamanya."
"Dika tidak perlu mendengar rekomen tentang Sihni dari bibir Kakek, sebab Dika sudah tahu seperti apa Sihni," tukas Dika seraya kembali sibuk dengan laptopnya.
Kakek Danial terdiam, sejenak dia renungkan semua yang dikatakan cucunya. Lalu dia berdiri dan keluar dari ruangan Dika dengan wajah yang lesu.
Dika mengawasi kepergian Kakek Danial. Dika merasa kasihan dengan sang kakek yang sejak kepergian istrinya atau neneknya Dika, sikapnya sedikit berubah, dia keras kepala dan suka memaksakan kehendak.
"Sepertinya Kakek memang kesepian setelah kepergian Nenek Yuli. Keceriaannya terganti dengan sikap arogan dan suka memaksakan kehendak. Tapi Dika janji, akan buat Kakek tidak kesepian atau keras kepala lagi. Tunggu saja kejutan dari Dika, Kek." Dika membatin.
Di Salina Restoran
Latifa kini sudah bersiap kembali masuk kerja, setelah ambil cuti dan pulang kampung kemarin. Namun, kepergiannya untuk bekerja, ternyata harus melewati drama terlebih dahulu. Yakni, Gaza merengek ingin ikut ke restoran.
"Aza pengen ikut Mama kerja," rengeknya sebagai bujukan pamungkas untuk merayu Latifa supaya diajaknya.
"Sayang, dengarkan mama. Kalau mama bawa anak kecil ke tempat kerja, maka dikhawatirkan akan dilarang bekerja oleh pemilik restoran ini. Jadi, mama tidak mungkin bawa kamu ke dalam. Sekarang baik-baik bersama Tante Raya, ya." Latifa masih gigih membujuk Gaza untuk tidak ikut bersamanya kerja.
"Ayo, Za. Ikut tante Raya. Nanti setelah jam istirahat, Mamanya Aza pasti pulang dulu dan membawa makanan untuk Aza," rayu Rayana seraya merangkul tubuh Gaza.
"Tapi, Aza ingin ikut Mama," rengeknya lagi.
"Mama harus segera masuk dan bekerja. Aza sama Tante Raya dulu. Nanti mama pulang saat jam istirahat, sambil bawa makanan yang enak dari restoran ini," bujuk Latifa lagi sembari menatap teduh wajah sang putra.
"Benar, Mama mau pulang saat jam istirahat dan membawa makanan yang enak dari restoran ini, untuk Aza?" tekan Gaza menatap Latifa.
"Tentu saja. Sekarang boleh mama bekerja, ya?" ijin Latifa seraya merunduk dan mencium kepala putra semata wayangnya itu.
Setelah sang putra sudah bisa dibujuk dan mau ditinggal Latifa kerja, Latifa segera menuju restoran. Hari ini merupakan hari pertama dirinya kerja kembali setelah ambil cuti.
Tiba di restoran, kehadirannya disambut oleh pelayan lain. Latifa menyodorkan sebuah kantong yang isinya bolu selai keladi, sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya. Latifa sengaja membawa dua kantong oleh-oleh. Yang satunya lagi akan diberikan pada pemilik restoran ini.
Karena Bu Salina dan Pak Raka belum datang, terpaksa Latifa menyimpan kantong oleh-oleh itu di atas mejanya Pak Raka. Latifa segera bekerja seperti biasanya.
Siang menjelang, Bu Salina dan Pak Raka baru saja tiba di halaman restoran. Mereka menuruni mobil, kali ini mereka masuk melalui pintu belakang.
Untuk menuju pintu belakang, Bu Salina dan suaminya harus melewati samping restoran terlebih dahulu.
Tiba di pintu belakang, Pak Raka dan Bu Salina dikejutkan oleh sebuah pemandangan. Rayana dan Gaza sedang berada di halaman mess, sepertinya Raya sedang menemani Gaza makan.
"Nenekkk," teriak Gaza sesaat setelah Bu Salina dan Pak Raka mengarahkan matanya ke arah Gaza dan Rayana. Melihat Gaza berdiri dan lari mendekat ke arah Bu Salina dan suaminya, Rayana segera mengejarnya.
"Maaf, Pak, Bu. Keponakan saya sudah salah duga," ucap Rayana tidak enak, sembari meraih lengan Gaza dan kembali ke mess.
"Wahhh, ada anak kecil rupanya di sini. Apakah kalian saudara dari penghuni mess itu?" tunjuk Bu Salina dengan tangannya menuju mess.
"Iya betul sekali Bu, dan ini anak pertamanya Kakak saya yang ikut dari kampung," tutur Rayana mengundang kerutan tajam di dahi Pak Raka dan Bu Salina.
Mereka berdua saling pandang sejenak, awalnya mereka menduga Latifa belum menikah dan masih gadis. Tapi kini pengakuan Rayana yang tidak disengaja, memaksa menguak status Latifa yang sebenarnya.
"Jadi, bocah tampan ini anaknya Latifa?" tanya Bu Salina meyakinkan, sembari menatap lekat wajah bocah imut dan tampan itu yang ternyata sangat mirip Pradika saat kecil. Bahkan jika disandingkan saat inipun, maka wajah bocah itu lebih mirip Pradika.
"*Rupanya Latifa sudah menikah. Dan lucunya kenapa wajah bocah imut dan tampan ini, lebih mirip Pradika? Ya ampun, ternyata wajah tampan Dika sudah ada yang menyamai dan mendekati 99* %," batin Bu Salina terbayang Pradika saat kecil.
"Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan keponakan saya. Sepertinya keponakan saya sedang rindu dengan nenek dan kakeknya di kampung halaman. Kami permisi dulu," ujar Rayana seraya membalikkan badan sembari tangan kirinya memegang lengan Gaza kemudian ditariknya.
Kepergian Rayana ke mess, mengundang tatap penasaran dari mata Bu Salina dan Pak Raka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Noviyanti
gk sabar liat dika bertemu sama gaza
2024-06-21
0
Citra Merdeka
terima kasih update nya Thor
selamat hari raya idul adha
maaf lahir batin
2024-06-17
2