Latifa bangkit dan menjauh dari ranjang, matanya menatap Pradika yang tadi sudah ketahuan menjamah bibirnya. Sungguh keterlaluan, Dika baginya benar-benar bajingan.
"Apa yang kamu lakukan di mess ini? Dan apa maksudmu mengikutiku sampai di sini? Apa kamu tidak puas dulu pernah menghancurkan masa depanku? Jadi, aku mohon, sekarang kamu pergi dari hadapanku. Aku sungguh-sungguh tidak ingin melihat tampang kamu lagi. Kita sama sekali tidak ada urusan apapun. Pergiiiii," jerit Latifa mengusir Pradika.
Dika terlihat panik melihat Latifa berteriak. Tapi dia tidak peduli, letak mess yang jauh dari jalan dan penghuninya hanya Latifa, tidak membuat Dika takut diketahui orang lain, lagipula Satpam di depan sudah dia beritahu bahwa dia ada urusan dengan penghuni mess.
"Silahkan kamu berteriak, Fa. Aku sama sekali tidak takut, apalagi letak mess ini jauh dari jalan, yang tidak mungkin didengar oleh siapapun termasuk Satpam."
"Aku mohon kamu pergi dari sini. Jangan ganggu hidupku lagi. Bukankah kita tidak pernah ada hubungan apapun?" Mata Latifa menancap tajam menuju bola mata Dika, menyiratkan seolah rasa benci itu begitu dalam.
"Kamu salah Fa, kita justru ada hubungan sejak Gaza tumbuh dalam rahimmu," tukas Dika mengejutkan Latifa. Dari mana Dika tahu nama anak semata wayangnya. Latifa menjadi takut, Gaza menjadi incaran Pradika lalu diambil dari hidupnya.
"Gaza, apa maksudmu? Gaza bukan anak biologismu, Gaza lahir dari hasil pernikahanku dengan seseorang. Dan itu bukan anakmu, melainkan anak dari pria yang menikahiku," aku Latifa berbohong.
Latifa terpaksa mengarang cerita untuk mencegah Pradika merebut Gaza dari tangannya.
"Siapa pria itu, Arda maksudmu? Jangan mengarang, aku tahu kamu dan Arda menjalin hubungan semenjak dia pamerkan momen jadian kamu bersamanya beberapa jam setelah menolak aku. Kamu memang tega Fa, kamu bilang tidak akan menerima siapapun diantara kami, tapi ternyata kamu ingkari. Kamu justru jadian sama Arda saat hatiku hancur menerima penolakanmu. Memang kamu munafik."
Latifa tercengang mendengar umpatan dan unek-unek Dika. Dia tidak paham apa yang dimaksud Dika mengenai momen jadian bersama Arda. Bukankah empat tahun yang lalu, dirinya sama sekali tidak pernah menerima Dika maupun Arda.
"Alasan apapun itu, aku tidak terima kamu menghancurkan masa depanku. Kamu bajingan. Jadi, pergilah. Kita sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. Dan mengenai Gaza, hanya aku yang tahu siapa ayahnya. Dan lagi Gaza tidak butuh siapa-siapa selain aku. Jadi, anak itu sama sekali tidak ada hubungan dengan kamu," tegas Latifa lagi menatap Dika benci.
"Kamu bohong, Fa. Anak itu erta kaitannya denganku. Bahkan aku tidak perlu membuktikan Gaza dengan tes DNA saja, aku sudah bisa memastikan dia darah dagingku. Aku berhasil membidik beberapa foto, dan ternyata dia mirip denganku 99%. Jadi, jangan pernah berusaha menyangkalnya, karena dia darah dagingku," tegas Dika lantang.
"Tidak, dia bukan anakmu, tapi anakku. Aku tidak butuh pengakuanmu, siapa bapak biologisnya, aku tidak membutuhkannya sama sekali. Buktinya selama ini aku bisa besarkan dia bersama kedua orang tuaku serta nenek dan kakekku," balas Latifa lagi tegas.
"Baik, jika itu memang keputusanmu. Tapi setidaknya dengarkan dulu penjelasanku terkait malam itu. Semua itu terjadi adalah atas jebakan seseorang. Dan kalau kamu mau tahu siapa yang menjebak aku malam itu sehingga kamu berada dalam rengkuhanku, tidak lain adalah Arda. Dia biangnya. Pria yang menjadi kekasihmu itulah biang keroknya."
Latifa terperanjat saat Dika mengatakan bahwa Arda kekasihnya, dan Arda juga biang di balik terjadinya pemerkosaan itu oleh Dika.
"Jangan mengalihkan topik dengan menuduh orang lain yang menjadi penyebab kamu melakukan pemerkosaan terhadap aku lima tahun yang lalu." Latifa mendengus.
"Aku masih menyimpan bukti di mana Arda memperlihatkan momen kebersamaan kalian sedang jadian. Arda mengakui bahwa kamu menerima begitu saja pernyataan cintanya. Jujur saja aku emosi setelah membaca pengakuan Arda. Lalu aku datang sengaja ke Kafe Sayang seperti yang lelaki bangsat itu sebutkan untuk bertanya langsung padamu."
"Tiba di kafe dan sebelum aku menghampiri meja kalian, aku sengaja dicegat seseorang yang mengaku pelayan kafe. Dia menyambut kedatanganku seraya memberikan segelas minuman sirup sebagai penyambutan tamu kafe. Setelah aku meminumnya tanpa curiga, lima menit kemudian aku merasakan tubuhku seperti dalam pengaruh obat perangsang."
"Sembari menahan rasa di dalam jiwaku yang menggebu, aku mencari meja kalian. Namun sayang, di meja itu hanya ada kamu. Tadinya aku ingin bertanya di tempat itu kepadamu mengenai pengakuan Arda bahwa kalian telah jadian. Tapi sayangnya, hasratku yang bergelora, justru memaksamu untuk ikut dan membawamu ke sebuah gedung. Lalu aku melakukan hal bejat itu, karena hasratku semakin tidak terbendung."
"Awalnya aku sama sekali tidak bermaksud memaksamu, tapi entah obat apa yang menguasai aku sehingga aku berbuat tidak senonoh terhadapku. Untuk itu, sengaja aku datang ke sini hanya untuk minta maaf sama kamu, Fa. Itu bukan kesengajaanku semata, tapi aku telah sengaja dijebak oleh seseorang, dan aku yakin orang itu Arda."
Panjang lebar Dika menceritakan kronologis kejadian lima tahun silam yang mengakibatkan Latifa kehilangan kesuciannya.
"Omong kosong apa yang kamu karang barusan Pradika? Aku tidak perlu mempercayai bualanmu. Meskipun kamu minta maaf, tidak akan pernah mengembalikan kesucianku yang telah kamu renggut. Pergilah," dengus Latifa tidak percaya.
Dika tidak terima dengan sangkalan Latifa, secepat kilat tangan Dika meraih pinggang Latifa lalu mencengkramnya. Dika menahan tubuh Latifa dalam cengkramannya, lalu memperlihatkan semua bukti tentang pengakuan Arda yang telah jadian dengan Latifa, dan sebuah foto kebersamaan dirinya bersama Arda di Kafe Sayang.
Semua jelas dan Latifa melihatnya, foto maupun isi chat yang dikirimkan Arda pada Dika lima tahun lalu.
Latifa berpikir, di sini Arda memang bersalah. Berusaha memanas-manasi Dika, sehingga Dika nekad dan memaksanya sehingga kesucian Latifa yang dia jaga, direnggut paksa oleh Pradika. Tapi Pradika juga lebih salah, karena dia tidak mampu mengendalikan hasratnya.
"Kalian sama saja. Sekarang aku tidak peduli dengan kalian berdua. Tinggalkan aku sendiri. Aku tidak butuh pengakuanmu atau maafmu karena semua itu sudah terlambat. Pergiiii, kamu pergiiii," usir Latifa berteriak sembari berontak dari cengkraman Dika.
Dika terpaksa melepaskan cengkramannya untuk menghentikan teriakan Latifa.Tapi sebelum pergi, Dika harus menyampaikan niatnya yang berharap akan diterima oleh Latifa.
"Baik aku akan pergi. Tapi sebelum aku pergi, aku harap kamu mendengar aku dan memikirkan baik-baik penawaranku."
"Sejak SMA dulu aku menyukaimu Fa, dan untuk menebus kesalahanku dahulu, aku ingin mengajakmu menikah dan mengurus anak kita bersama-sama. Gaza tidak akan kekurangan kasih sayang maupun materi. Aku akan menyayangi kalian sepenuh hati, karena sejak dulu bahkan sampai sekarang namamu masih selalu di hatiku, terukir indah sebagai kekasih hatiku," ungkap Dika yang hanya dibalas dengan dengusan oleh Latifa.
"Omong kosong. Aku tidak butuh penawaranmu. Aku tidak butuh cinta dan kasih sayangmu. Gaza juga tidak akan pernah membutuhkanmu, sampai kapanpun," tegas Latifa seraya membuka pintu mess dan menyuruh Dika keluar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Noviyanti
berjuang dika,
2024-07-16
0
Citra Merdeka
terima kasih Thor update nya selamat malam
2024-06-26
2