Sebelum Dika menuju mess di mana Latifa tinggal, Dika membelokkan mobilnya ke sebuah toko mainan dan membelikan sesuatu untuk anak itu, sebuah mobil-mobilan.
Lima belas menit kemudian, mobil Dika sudah tiba di sana. Dika melewati pos Satpam yang kebetulan saat ini dijaga oleh Pak Suha.
"Den Dika, mau sekalian ke mess atau langsung ke restoran?" sambut Pak Suha yang memang sudah tahu kebiasaan Dika yang sudah dua kali istirahat di mess belakang restoran.
"Saya mau ke restoran, tapi lewat belakang saja, Pak," sahut Dika tidak jujur. Dia sengaja berkata begitu untuk menutupi maksud sebenarnya, yakni menemui bocah yang diduga anak biologisnya itu.
Setelah itu Dika berlalu dan bergegas menuju belakang restoran sembari menjinjing kotak hadiah yang dalamnya mobil-mobilan.
Dika mempercepat langkahnya, dia tidak mau keduluan Latifa yang sebentar lagi istirahat, yang dipastikan akan ke mess untuk makan siang.
Tiba di depan halaman mess, keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Dika. Gaza, bocah yang ditenggarai sebagai putra biologisnya, kini tengah bermain bola di halaman mess.
Dika mencari peluang supaya bola yang ditendang anak itu meluncur ke arahnya. Dan beruntung sekali bola itu meluncur dan mengarah padanya. Dika segera berjongkok. Sebelah tangannya meraih bola itu dan dipegangnya.
"Om, itu bola Aza," celoteh Gaza seraya menghampiri Dika tanpa rasa takut. Senyum terbit di bibir Dika tatkala dia mendengar bocah itu berkata bahwa bola yang berada di tangannya adalah miliknya.
"Om, boleh Aza minta bola itu?" mohonnya lucu dan menggemaskan. Hati Dika cukup bergetar mendengar seorang bocah yang baru empat tahun, meminta sesuatu barangnya begitu sopan pada orang lain.
Dika merasa terharu dan salut, rupanya Latifa sudah mendidik anaknya dengan sangat baik.
"Ini bola kamu, Sayang? Kamu pandai main bola, ya? Ini om kembalikan bolanya," ujar Dika seraya memberikan kembali bola itu pada Gaza.
Gaza menerima kembali bola itu dan berterimakasih seraya menatap mata Dika, hati Dika semakin bergetar kala melihat tatap mata itu. Bola mata yang coklat dan teduh, persis mata miliknya.
"Gaza putraku," bisik hati Dika sedih. Ingin rasanya saat itu juga Dika memeluk Gaza sembari mengatakan bahwa dirinya adalah ayah biologis dari Gaza.
"Terimakasih Om," ucapnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Dika mencoba lebih akrab.
"Nama aku Gaza, Om bisa panggil Aza," terangnya.
"Aza mau tidak main bola sama om, nanti jika om datang lagi ke sini?"
"Boleh, Om. Aza mau," celotehnya senang.
"Baiklah. Karena kamu sudah janji akan bermain bola bersama om nanti jika om ke sini lagi, maka om akan memberi kamu hadiah. Kamu mau tidak hadiah dari om?"
"Hadiah? Aza mau om, Aza mau hadiah," soraknya senang. Lalu tanpa berlama, Dika memberikan kantong hadiah yang diberikan pada Gaza. Bocah itu nampak senang seraya melihat hadiah apa yang diberikan Dika.
"Sayang, dibukanya nanti kalau om sudah pergi. Sebab om sepertinya harus segera pergi. Sebentar lagi Mamamu pasti datang menghampiri kamu. Om pamit dulu, ya." Dengan terburu-buru Dika segera pergi dari hadapan Gaza, karena jam istirahat sudah dekat. Dia tahu Latifa sebentar lagi pasti akan ke mess, makan siang dan istirahat sejenak.
Dika berjalan menjauh melewati samping restoran dan kembali ke depan.
"Aza, ayo masuk, sebentar lagi Mama datang. Eh itu apa yang Aza pegang?" Suara seorang perempuan terdengar nyaring menyapa Gaza dan mempertanyakan benda apa yang dipegang Gaza saat ini.
"Mobil-mobilan dari mana itu, siapa yang kasih?" tanya Rayana sang tante.
"Itu tadi Om ganteng yang memberi Aza mobil-mobilan ini," jawab Gaza. Dika mempercepat jalannya dan terpaksa melipir sejenak ke pos jaga pura-pura menanyakan sesuatu pada Pak Suha, karena para karyawan Salina Restoran masih belum bubar.
"Mana Om nya? Pakai baju apa? Lain kali kalau ada orang yang tidak kenal dan tiba-tiba memberi sesuatu pada Aza, jangan langsung diterima, ya. Tante jadi khawatir itu orang jahat," ucap Rayana sedikit panik. Untung saja Gaza tidak kenapa-kenapa saat dirinya tinggal ke kamar mandi karena kebelet.
"Ada apa Ra? Kenapa dengan Gaza?" Tiba-tiba Latifa datang dan menemui Rayana dan Gaza yang masih di halaman mess.
"Itu, Mbak, Aza barusan mendapat mobil-mobilan dari seseorang, tapi aku tidak tahu siapa orang yang memberi mobil-mobilan itu, karena orangnya sudah keburu pergi ke depan. Kata Gaza seorang om yang memberinya mobil-mobilan," jelas Rayana.
"Eh, kok, siapa juga yang sudah memberi mainan ini pada Gaza? Apakah Pak Satpam? Sepertinya Pak Suha kalau menurut Mbak. Biarkan saja, nanti mbak tanyakan pada Pak Suha apakah dia memang memberi mobil-mobilan ini. Sekarang lebih baik masuk dan kita makan," ajak Latifa seraya menuntun lengan sang putra masuk mess.
Di dalam mess, Latifa membuka kantong kresek yang isinya makanan dari restoran. Chef Salina Restoran selalu memberikan lauk atau sayur pada karyawannya jika stoknya lebih.
"Ayo kita makan, mungpung hari ini mama mendapatkan lauk yang enak-enak," ajak Latifa memulai makan siangnya bersama anak dan adiknya.
Sementara itu, Dika kini sudah masuk ke dalam Salina Restoran. Sebagian Waitress sudah ada yang pergi beristirahat, termasuk Latifa. Kesempatan ini tidak disia-siakan Dika, dia segera masuk dan pesan makan di sana.
"Dika, kamu datang tepat di jam istirahat. Kamu mau makan apa? Sop iga atau nasi tom yam?" Menu yang dua-duanya menggugah selera Dika, ditawarkan Mama Salina, Dika sempat bingung. Tapi pilihannya jatuh pada tom yam, sebab sudah agak lama Dika memang tidak menikmati tom yam lagi.
"Nasi tom yam saja, Ma."
"Kamu masuk saja ke ruangan Papa, temani Papa makan siang. Sekalian kamu bisa makan bolu keladi favorit kamu di sana," ujar sang mama seraya menyuruh Dika ke dalam saja ke ruangan sang papa.
Dika patuh dan memilih makan di dalam bersama sang papa.
"Papa," sapa Dika pada Pak Raka yang kini sedang menikmati makan siangnya.
"Dika, kamu datang? Bisa-bisanya jam istirahat kamu makan di restoran papa. Bukankah biasanya Kakek Danial kakek kesayangan kamu itu yang selalu membawakan makan siang spesial buat kamu?" singgung Pak Raka menyebut nama Kakek Danial yang notabene ayah dari Pak Raka.
"Tidak, Pah. Hari ini Kakek tidak membawakan makanan untuk Dika. Kakek justru membawa kabar perjodohan untuk Dika. Kakek, berkeras ingin menjodohkan Dika sama Sihni, cucu sahabatnya Kakek, atau kakak kelas dari Dika saat SMA."
"Masih berkeras rupanya orang tua itu. Lantas, apa yang kamu putuskan? Menerima atau ...."
"Dika tidak mau, Pah," potong Dika cepat dengan bola mata menyapu atas meja milik sang papa. "Eh, seperti kotak bolu kesukaan Dika. Siapa yang beli, pasti Mama pesan via online dari toko kue yang ada di Bogor itu. Mama memang tahu saja favorit Dika," girang Dika seraya meraih sepotong bolu taro keladi yang sudah dipotong-potong oleh Bu Salina.
"Bukan. Bukan mama yang beli via online atau offline. Tapi itu pemberian salah satu karyawan mama yang kemarin pulang ke kampung halamannya di Bogor. Dia memberi oleh-oleh buat mama bolu selai taro keladi ini," sela Bu Salina meralat dugaan Dika yang salah sembari meletakkan nasi tom yam pesanan Dika.
Benak Dika langsung melayang pada Latifa yang beberapa hari lalu sempat pulang ke kampung halamannya. Dan kebetulan hari ini dia membagi oleh-oleh untuk mamanya, yang sejatinya oleh-oleh itu adalah sesuatu benda yang menjadi favoritnya.
"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Aku sungguh menyesal dahulu pernah terjadi tragedi kesalahan itu. Ya Tuhan," guman Dika dalam hati penuh sesal.
"Dika, katanya kamu mau makan, kenapa sehabis makan bolu favorit, kamu justru bengong kaya orang kesambet. Ayo makan siang dulu," tegur Bu Salina membuyarkan lamunan Dika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Noviyanti
dika teringat latifa mah
2024-07-07
1
Citra Merdeka
terima kasih Thor update nya
2024-06-23
2