Bab 4 Kembali ke Jakarta

  Hampir empat jam perjalanan Bogor ke Jakarta ditempuh, semua karena macet di akhir pekan. Seperti sudah menjadi tradisi, jalanan di kota besar di Indonesia, akhir pekan memang selalu macet, kendaraan pribadi tumpah ruah ke jalan.

  Rasa lelah menyelimuti sekujur tubuh Latifa yang kini sudah menuruni bis di terminal Rambutan. Hanya tinggal menaiki satu kali angkot lagi, Latifa sampai di rumah kedua orang tuanya, yang sudah empat tahun tidak pernah dia datangi.

  Kini rasa rindu begitu membuncah di dalam dada, membuat Latifa begitu gembira. Sehingga dia tidak sadar sudah menabrak seseorang saking antusias dan tidak fokus dengan jalanan.

  Kantong oleh-oleh yang dibawa Latifa terlepas dari tangannya, sehingga Latifa terpaksa berjongkok dan meraih kantong yang isinya bolu lapis dengan selai keladi ungu di dalamnya. Latifa hanya membawa oleh-oleh itu untuk keluarganya, sebab menurutnya bolu lapis itu sangat enak dan jarang ada di toko-toko kue di Jakarta.

  "Maaf."

  Ucapan maaf terlontar dari sebuah suara. Latifa tidak menoleh, sebab ia masih mengutip kantong yang jatuh itu. Latifa hanya berguman, "tidak apa-apa."

  Latifa segera berdiri, lalu berjalan menuju angkot yang dia maksud tanpa menoleh lagi pada orang yang bertabrakannya tadi.

  "Mbak, ini barangnya masih ada yang tertinggal," teriak pemuda yang diperkirakan usianya hanya berbeda beberapa bulan lebih tua dari Latifa. Pemuda itu begitu tampan dengan kulit kuning bersih, hidung mancung, dengan tinggi yang cukup menjulang untuk ukuran orang Indonesia, yakni sekitar 178 senti meter.

  Namun teriakan itu tidak terdengar oleh Latifa yang kini sudah menaiki salah satu angkot menuju ke rumah orang tuanya.

  "Ya ampun ke mana perempuan itu?" bingungnya seraya celingak-celinguk mencari Latifa yang yang tidak sengaja bertabrakan dengannya tadi. Akan tetapi Latifa sudah tidak ada dan tidak ada sama sekali.

  "Den Dika, kenapa Den?" Seorang lelaki paruh baya yang diduga Supir dari pemuda itu menghampiri dan bertanya heran.

  "Barusan saya tidak sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan muda, dan barang bawaannya ada yang jatuh, saat saya mau bantu, dia keburu pergi. Tapi barang bawaannya ternyata masih ada yang tertinggal satu," terang lelaki muda yang dipanggil Dika oleh si lelaki paruh baya itu, sembari mengangkat kantong yang isinya entah apa.

  "Kita susul saja, Den. Kasihan, takutnya itu barang yang penting," usil Supir itu.

  "Tapi, saya tadi sudah kehilangan jejaknya Pak, saat dia nyebrang dia sepertinya menaiki salah satu angkot itu, tapi saya tidak tahu angkot yang mana yang dia naiki," jelasnya lagi bingung.

  "Sebaiknya kita segera pergi saja, Pak Rustan. Biarlah barang ini saya bawa saja," lanjut pemuda itu mengarahkan Pak Rustan.

  "Apakah Den Dika akan langsung pulang ke rumah Bapak dan Ibu, atau ke rumah Juragan Besar?" tanya Pak Rustan memastikan. Yang dimaksud bapak dan ibu oleh Pak Rustan adalah kedua orang tua Dika, sedangkan juragan besar merupakan kakek kandung dari papanya Dika.

  "Ke rumah Papa dan Mama saja, Pak. Kakek juga sudah ada di sana," jawab Dika. Pak Rustan patuh dan segera menuju pintu mobil lalu membukanya untuk Dika.

  "Terimakasih, Pak."

  Pak Rustan mengangguk hormat membalas ucapan dari anak majikannya itu..

  Pradika Pratama atau lebih dikenal sebagai Dika, merupakan anak pertama dari pasangan Pak Raka dan Bu Salena, mereka dikaruniai dua anak laki-laki. Sedangkan sang adik bernama Dwirafa Putra Raka, atau lebih dikenal dengan panggilan Rafa. Kini sedang menjalani pendidikan S1 semester enam di Universitas ternama di Ibu Kota Jakarta.

  Berbeda dengan sang kakak, Rafa lebih memilih kuliah di universitas dalam negeri.

  Mobil yang disupiri Pak Rustan tiba di sebuah rumah yang cukup besar, dengan halamannya yang luas. Sepertinya rumah itu berada di dalam sebuah kawasan perumahan elit.

  Dika menuruni mobil, lalu segera memasuki rumah setelah seseorang sudah menyambut dari dalam rumah.

  "Kak Dika, apa kabar? Ciee, yang akan memimpin perusahaan cabang milik Kakek," ejek Raka yang ternyata adiknya Dika yang menyambut.

  "Apaan sih, aku pulang ke Indonesia hanya liburan setelah lulus S1. Setelah itu kembali lagi Amerika dan melanjutkan S2 di sana," sergah Dika pada adik semata wayangnya yang wajahnya kurang lebih sama tampannya dengan Dika.

  "Tidak ada yang akan melanjutkan S2 ke Amerika. Kamu harus sudah memimpin perusahaan cabang milik kakek di kota Jakarta ini bulan depan. Kamu bisa melanjutkan S2 di negara kita tanpa harus ke Amerika," sanggah Kakek Danial tegas.

  Dika tidak bisa membantah jika sang kakek suah berbicara. Namun, Dika menyayangkan jika pendidikan S2 nya tidak dilanjutkan di sana, sebab Dika sudah merasa nyaman belajar di negara Paman Sam selama ini.

  "Tapi, bagaimana dengan S2 Dika, Kek?" Dika bertanya dengan nada kecewa.

  "Kamu bisa melanjutkan pendidikan S2 di negara kita, tidak di Amerika. Jika kamu membantah, maka nasibmu akan sama seperti Papamu. Tidak memegang perusahaan satupun dari warisan kakek," tegasnya.

  "Tapi, sejak awal Papa memang tidak berminat untuk memimpin perusahaan Kakek, bukan? Papa lebih memilih pengusaha di bidang kuliner. Dan Papa sangat menikmatinya. Dan Papa sangat bahagia."

  "Tidak perlu membela Papamu. Papamu saja yang bodoh, dia tidak mau melangkah lebih maju dan memimpin perusahaan di bidang elektronik yang kakek geluti, dia pemalas dan tidak mau bersaing," rutuknya mengumpat Pak Raka sang anak yang dianggapnya membantah.

  "Baiklah, Dika, persiapkan diri kamu bulan depan untuk memimpin di perusahaan Javilen Elektronik cabang Jakarta." Kakek bergegas pergi setelah mengatakan itu pada Dika.

  Kepulangannya dari Amerika bukan disambut dengan euforia, melainkan langsung dibebani mandat, bukan amanah seperti yang dikatakan papanya empat tahun yang lalu saat mengantarnya ke bandara.

  "Bagaimana Kak, pulang dari Amerika bukan menerima ucapan selamat atas kelulusan S1 nya, melainkan dapat mandat dari Kakek?" ejek Rafa seraya meraih bahu Dika lalu memberi sebuah rangkulan sebagai tanda ucapan karena Dika sudah lulus sebagai Bachelor, bahkan Dika termasuk salah satu mahasiswa yang berprestasi di sana.

  "Selamat, ya, Kak. Walaupun Kakek tidak memberi selamat, setidaknya aku selalu memberimu selamat dan motivasi," ucap Rafa seraya melerai kembali rangkulannya.

***

  Setelah dari rumah kedua orang tuanya. Dika memutuskan untuk pulang dulu ke apartemennya. Apartemen yang lumayan mewah yang dia beli atas hasil jerih payahnya selama kuliah nyambi bekerja di Amerika.

"Den Raka, apakah perlu saya antar?" Pak Rustan mencegat Dika dan menanyakan apakah Raka butuh bantuannya untuk diantar.

"Sepertinya tidak, Pak. Pak Rustan santai saja sembari menunggu tugas selanjutnya, siapa tahu Mama atau Papa sebentar lagi minta tolong Pak Rustan. Saya ke apartemen dulu," balas Dika seraya memasuki mobilnya. Mobil Dika pun meluncur membelah jalan menuju apartemen milik Dika di kawasan Jagakarsa.

Saat menaiki lift untuk menuju apartemennya, Dika seperti ada yang menguntit. Namun saat menoleh, sang penguntit itu tidak ada. Sampai tiba di depan unitnya dan pintu unit mulai terbuka, tiba-tiba seseorang mendorong tubuh Dika.

"Kamu?!!"

Terpopuler

Comments

Noviyanti

Noviyanti

gk sabar mau lihat ekspresi dika ini liat anaknya

2024-06-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Malam Petaka
2 Bab 2 Diungsikan
3 Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4 Bab 4 Kembali ke Jakarta
5 Bab 5 Kekecewaan Pradika
6 Bab 6 Asal Mula
7 Bab 7 Bayang Masa Lalu
8 Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9 Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10 Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11 Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12 Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13 Bab 13 Bolu Keladi
14 Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15 Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16 Bab 16 Pengakuan Pradika
17 Bab 17 Tekad Pradika
18 Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19 Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20 Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21 Bab 21 Pernikahan
22 Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23 Bab 23 Kepergok Sihni
24 Bab 24 Hukuman Dika
25 Bab 25 Papa
26 Bab 26 Fakta Mencengangkan
27 Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28 BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29 Bab 29 Kembali ke Jakarta
30 Bab 30 Jebakan Sihni
31 Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32 Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33 Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34 Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35 Bab 35 Kalung Liontin
36 Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37 Bab 37 Provokasi Sihni
38 Bab 38 Arda Menculik Latifa
39 Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40 Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41 Bab 41 Bosku, Mertuaku
42 Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43 Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44 Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45 Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46 Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47 Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48 Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49 Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1 Malam Petaka
2
Bab 2 Diungsikan
3
Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4
Bab 4 Kembali ke Jakarta
5
Bab 5 Kekecewaan Pradika
6
Bab 6 Asal Mula
7
Bab 7 Bayang Masa Lalu
8
Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9
Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10
Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11
Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12
Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13
Bab 13 Bolu Keladi
14
Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15
Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16
Bab 16 Pengakuan Pradika
17
Bab 17 Tekad Pradika
18
Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19
Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20
Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21
Bab 21 Pernikahan
22
Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23
Bab 23 Kepergok Sihni
24
Bab 24 Hukuman Dika
25
Bab 25 Papa
26
Bab 26 Fakta Mencengangkan
27
Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28
BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29
Bab 29 Kembali ke Jakarta
30
Bab 30 Jebakan Sihni
31
Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32
Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33
Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34
Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35
Bab 35 Kalung Liontin
36
Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37
Bab 37 Provokasi Sihni
38
Bab 38 Arda Menculik Latifa
39
Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40
Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41
Bab 41 Bosku, Mertuaku
42
Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43
Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44
Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45
Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46
Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47
Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48
Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49
Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!