Bab 11 Permintaan Kakek Danial

  Latifa senang bisa bertemu kembali dengan putra semata wayangnya Gaza, di kampung halaman sang Nenek.

  "Mama, besok Gaza mau ikut Mama sama ke kota, biar bisa ketemu Papa," ceplos Gaza, bocah yang kini beranjak empat tahun.

  Latifa, dan kedua orang tuanya saling pandang satu sama lain setelah mendengar celotehan Gaza barusan, mereka tidak menduga kata yang diucapkan selalu tentang kata Papa, tiga bulan terakhir ini.

  Entahlah, Latifa juga bingung, sejak dia akan pergi ke Jakarta, kata-kata Papa itu pertama kali keluar dari bibir Gaza dan didengarnya, mengingatkan Latifa pada sosok yang menyebabkan Gaza terlahir ke dunia. Namun, sedikitpun, Latifa tidak ada perasaan benci terhadap bocah kecil itu, meskipun wajah Gaza jika disandingkan dengan Pradika, sangat mirip.

  "Gaza jangan dulu ikut mama ke Jakarta. Biarlah Gaza di sini bersama Nenek dan Kakek buyut," bujuk Latifa berharap Gaza patuh dan tidak memintanya ikut ke Jakarta. Sebab Latifa takut, jika keberadaan Gaza di Jakarta ketahuan Pradika.

  "Gaza ingin ikut Mama," rengeknya seraya memelas. Latifa bingung, lalu ia menatap pada kedua orang tuanya juga pada nenek dan kakeknya.

  Pak Yudi mengangguk memberi kode dan menyetujui bahwa besok Gaza bisa ikut mereka ke Jakarta.

  "Tapi, Gaza hanya seminggu di Jakarta, ya. Nanti satu tahun lagi, jika Gaza masuk sekolah, Gaza akan mama bawa ke Jakarta. Gimana?" ucap Latifa setuju tapi diakhir kalimat memberi sebuah syarat.

  Bocah yang masih balita itu hanya manggut-manggut lucu. Entah paham atau tidak dengan apa yang Latifa ucapkan.

 Besoknya dengan berat hati, baik Latifa maupun Nek Romlah dan Kakek Prana, terpaksa merelakan Gaza ikut ke Jakarta bersama dirinya.

  "Tenang saja, Gaza bisa tinggal di mess sementara. Saat kamu kerja, dia bisa ditemani oleh tantenya, Raya," ujar Pak Yudi berusaha melegakan hati Latifa yang dilanda takut.

  "Ibu rasa lelaki masa lalu kamu itu tidak akan menemukan Gaza jika dia tinggal di mess," timpal Bu Dina semakin menenangkan Latifa.

  Pada akhirnya, Latifa, Gaza dan kedua orang tua Latifa, kembali ke Jakarta hari itu. Mereka berpamitan pada Nek Romlah dan Kek Prana sebelum berangkat.

  Di dalam mobil, Gaza sangat bahagia bisa naik mobil dan ikut ke Jakarta. Latifa dan kedua orang tuanya terharu setiap mendengar celotehan Gaza di dalam mobil.

  Akhirnya mereka tiba di Jakarta. Latifa turun tepat di depan Salina Restoran. Kedatangan Latifa dan kehadiran Gaza di Jakarta tidak luput dari pantauan orang kepercayaan Pradika.

  Latifa dan Gaza pun masuk ke dalam lingkungan Salina Restoran. Lewat samping restoran, Latifa membawa Gaza ke mess.

  Sementara itu, Dika yang tengah bersantai di apartemennya, perasaannya begitu senang saat dia mendapat kabar dari orang suruhannya, bahwa Latifa membawa seorang anak kecil.

  "Bos, gadis itu membawa seorang anak kecil sekitar umur tiga tahun lebih. Mereka masuk ke dalam mess." Laporan itu membuat Dika senang. Dia yakin anak kecil yang dimaksud Kamal adalah bocah kecil di dalam bingkai foto itu.

  "Aku bisa lebih dekat dengan anakku. Dia ada di Jakarta. Dan kini keberadaannya semakin dekat." Dika berguman dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.

Di Kantor Cabang Javilen Elektronik

   Besoknya di perusahaan Javilen Elektronik, Dika baru saja akan keluar dari ruangannya untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba Kakek Danial datang dan masuk ke dalam ruangan.

  "Dika, boleh kakek masuk? Kakek ada yang ingin disampaikan," ucap Kakek Danial sembari duduk di hadapan meja kerja Dika.

  Kakek Danial meletakkan sebuah wadah bekal di atas meja Dika. "Makan siang kita," ucapnya seraya meletakkan wadah bekal itu di atas meja Dika.

  "Ah, Kakek, kenapa Kakek repot-repot membawakan makan siang untuk Dika segala? Padahal baru saja Dika akan keluar dan mencari makan," sergah Dika merasa tidak enak dengan Kakek Danial yang entah ke berapa kalinya sudah membawakan makan siang untuk Dika.

  "Baiklah, sebaiknya kita makan siang dulu. Setelah itu kakek akan berbicara sedikit penting padamu," tukas Kakek Danial seraya meraih wadah bekal bersusun dua, lalu dibawanya menuju meja di dalam ruangan itu.

  Dika mengikuti Kakek Danial menuju meja di dalam ruangan itu. Lalu mereka makan bersama siang ini di dalam kantor.

  Kakek Danial memang sayang banget pada Dika, sehingga apapun perhatiannya selalu dilimpahkan terhadap Dika.

  "Baiklah, kakek akan mulai menyampaikan sesuatu yang penting untuk kamu."

  "Seberapa penting, Kek?" sela Dika penasaran. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar sesaat sebelum Kakek Danial menyampaikan hal yang menurutnya penting itu.

  "Kakek dan sahabat kakek akan menjodohkan kamu dengan cucunya. Kamu tahu Sihni, kan? Gadis yang dulunya kakak kelas kamu saat SMA?" ungkap Kakek Danial, membuat Dika benar-benar tersentak.

  Dika pikir sang kakek tidak akan membicarakan hal itu. Dika menjadi hilang semangat dan mendadak lesu.

  "Tahu, Kek. Tapi kenapa Kakek ingin menjodohkan Dika dengan Sihni? Dika masih muda dan belum memikirkan hal itu. Lagipula mengenai pasangan, Dika ingin mendapatkannya oleh Dika sendiri, bukan hasil perjodohan," sanggah Dika kurang suka dengan niat yang disampaikan sang kakek.

  "Kenapa kamu menolak perjodohan ini, bukankah Sihni perempuan yang cantik, baik dan sudah memiliki pekerjaan juga?" todong Kakek Danial lagi.

  "Karena Dika tidak menyukai Sihni. Dika sudah ada tambatan hati sejak dulu masa SMA." Entah sadar atau tidak, Dika tiba-tiba sedikit keceplosan menceritakan tentang masa lalunya yang jika diungkap ke permukaan, belum tentu diterima oleh keluarga besarnya, sebab di balik itu semua ada kisah kelam yang masih harus Dika sembunyikan dari keluarganya.

 "Sudah memiiki tambatan hati? Lalu siapa gadis yang kamu maksud itu?" Kakek Danial bertanya dengan rasa penasarannya.

  "Nanti jika Dika sudah siap berbicara, Dika akan ceritakan semua pada keluarga besar."

  "Serius? Alangkah baiknya sekarang kamu ungkapkan siapa gadis itu sebenarnya. Supaya kakek dan keluarga besar kita bisa menilai lebih jauh," bujuk Kakek Danial, berharap Dika menceritakan siapa gadis yang menjadi tambatan hatinya itu.

  "Tidak. Saat ini Dika belum siap mengatakan siapa gadis itu."

  "Baiklah kalau begitu, tidak masalah bagi kakek. Namun, kakek tetap akan menjodohkan kamu dengan Sihni," ucap Kakek Danial teguh dengan pendiriannya.

  "Kakek, apakah tidak ada cara lain selain menjodohkan aku dan perempuan itu?" protes Dika tidak suka.

  "Namanya Sihni bukan perempuan itu. Mulai sekarang, kamu harus bisa bersikap dengan baik terhadapnya sebagai langkah awal perjodohan kalian," tekan Kakek Danial.

  "Apakah kali ini Dika masih harus mematuhi perintah Kakek? Tapi untuk kali ini, sepertinya Dika akan menolak permintaan Kakek," tegas Dika seraya kembali menuju meja kerjanya. Hal ini membuat Kakek Danial terlihat kecewa dan meradang.

Terpopuler

Comments

Noviyanti

Noviyanti

hm menarik nih. teruskan

2024-06-21

0

Citra Merdeka

Citra Merdeka

ya ampun....serem itu sihni 😁

2024-06-13

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Malam Petaka
2 Bab 2 Diungsikan
3 Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4 Bab 4 Kembali ke Jakarta
5 Bab 5 Kekecewaan Pradika
6 Bab 6 Asal Mula
7 Bab 7 Bayang Masa Lalu
8 Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9 Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10 Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11 Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12 Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13 Bab 13 Bolu Keladi
14 Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15 Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16 Bab 16 Pengakuan Pradika
17 Bab 17 Tekad Pradika
18 Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19 Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20 Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21 Bab 21 Pernikahan
22 Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23 Bab 23 Kepergok Sihni
24 Bab 24 Hukuman Dika
25 Bab 25 Papa
26 Bab 26 Fakta Mencengangkan
27 Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28 BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29 Bab 29 Kembali ke Jakarta
30 Bab 30 Jebakan Sihni
31 Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32 Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33 Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34 Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35 Bab 35 Kalung Liontin
36 Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37 Bab 37 Provokasi Sihni
38 Bab 38 Arda Menculik Latifa
39 Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40 Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41 Bab 41 Bosku, Mertuaku
42 Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43 Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44 Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45 Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46 Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47 Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48 Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49 Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1 Malam Petaka
2
Bab 2 Diungsikan
3
Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4
Bab 4 Kembali ke Jakarta
5
Bab 5 Kekecewaan Pradika
6
Bab 6 Asal Mula
7
Bab 7 Bayang Masa Lalu
8
Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9
Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10
Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11
Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12
Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13
Bab 13 Bolu Keladi
14
Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15
Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16
Bab 16 Pengakuan Pradika
17
Bab 17 Tekad Pradika
18
Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19
Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20
Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21
Bab 21 Pernikahan
22
Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23
Bab 23 Kepergok Sihni
24
Bab 24 Hukuman Dika
25
Bab 25 Papa
26
Bab 26 Fakta Mencengangkan
27
Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28
BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29
Bab 29 Kembali ke Jakarta
30
Bab 30 Jebakan Sihni
31
Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32
Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33
Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34
Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35
Bab 35 Kalung Liontin
36
Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37
Bab 37 Provokasi Sihni
38
Bab 38 Arda Menculik Latifa
39
Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40
Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41
Bab 41 Bosku, Mertuaku
42
Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43
Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44
Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45
Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46
Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47
Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48
Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49
Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!