Latifa senang bisa bertemu kembali dengan putra semata wayangnya Gaza, di kampung halaman sang Nenek.
"Mama, besok Gaza mau ikut Mama sama ke kota, biar bisa ketemu Papa," ceplos Gaza, bocah yang kini beranjak empat tahun.
Latifa, dan kedua orang tuanya saling pandang satu sama lain setelah mendengar celotehan Gaza barusan, mereka tidak menduga kata yang diucapkan selalu tentang kata Papa, tiga bulan terakhir ini.
Entahlah, Latifa juga bingung, sejak dia akan pergi ke Jakarta, kata-kata Papa itu pertama kali keluar dari bibir Gaza dan didengarnya, mengingatkan Latifa pada sosok yang menyebabkan Gaza terlahir ke dunia. Namun, sedikitpun, Latifa tidak ada perasaan benci terhadap bocah kecil itu, meskipun wajah Gaza jika disandingkan dengan Pradika, sangat mirip.
"Gaza jangan dulu ikut mama ke Jakarta. Biarlah Gaza di sini bersama Nenek dan Kakek buyut," bujuk Latifa berharap Gaza patuh dan tidak memintanya ikut ke Jakarta. Sebab Latifa takut, jika keberadaan Gaza di Jakarta ketahuan Pradika.
"Gaza ingin ikut Mama," rengeknya seraya memelas. Latifa bingung, lalu ia menatap pada kedua orang tuanya juga pada nenek dan kakeknya.
Pak Yudi mengangguk memberi kode dan menyetujui bahwa besok Gaza bisa ikut mereka ke Jakarta.
"Tapi, Gaza hanya seminggu di Jakarta, ya. Nanti satu tahun lagi, jika Gaza masuk sekolah, Gaza akan mama bawa ke Jakarta. Gimana?" ucap Latifa setuju tapi diakhir kalimat memberi sebuah syarat.
Bocah yang masih balita itu hanya manggut-manggut lucu. Entah paham atau tidak dengan apa yang Latifa ucapkan.
Besoknya dengan berat hati, baik Latifa maupun Nek Romlah dan Kakek Prana, terpaksa merelakan Gaza ikut ke Jakarta bersama dirinya.
"Tenang saja, Gaza bisa tinggal di mess sementara. Saat kamu kerja, dia bisa ditemani oleh tantenya, Raya," ujar Pak Yudi berusaha melegakan hati Latifa yang dilanda takut.
"Ibu rasa lelaki masa lalu kamu itu tidak akan menemukan Gaza jika dia tinggal di mess," timpal Bu Dina semakin menenangkan Latifa.
Pada akhirnya, Latifa, Gaza dan kedua orang tua Latifa, kembali ke Jakarta hari itu. Mereka berpamitan pada Nek Romlah dan Kek Prana sebelum berangkat.
Di dalam mobil, Gaza sangat bahagia bisa naik mobil dan ikut ke Jakarta. Latifa dan kedua orang tuanya terharu setiap mendengar celotehan Gaza di dalam mobil.
Akhirnya mereka tiba di Jakarta. Latifa turun tepat di depan Salina Restoran. Kedatangan Latifa dan kehadiran Gaza di Jakarta tidak luput dari pantauan orang kepercayaan Pradika.
Latifa dan Gaza pun masuk ke dalam lingkungan Salina Restoran. Lewat samping restoran, Latifa membawa Gaza ke mess.
Sementara itu, Dika yang tengah bersantai di apartemennya, perasaannya begitu senang saat dia mendapat kabar dari orang suruhannya, bahwa Latifa membawa seorang anak kecil.
"Bos, gadis itu membawa seorang anak kecil sekitar umur tiga tahun lebih. Mereka masuk ke dalam mess." Laporan itu membuat Dika senang. Dia yakin anak kecil yang dimaksud Kamal adalah bocah kecil di dalam bingkai foto itu.
"Aku bisa lebih dekat dengan anakku. Dia ada di Jakarta. Dan kini keberadaannya semakin dekat." Dika berguman dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
Di Kantor Cabang Javilen Elektronik
Besoknya di perusahaan Javilen Elektronik, Dika baru saja akan keluar dari ruangannya untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba Kakek Danial datang dan masuk ke dalam ruangan.
"Dika, boleh kakek masuk? Kakek ada yang ingin disampaikan," ucap Kakek Danial sembari duduk di hadapan meja kerja Dika.
Kakek Danial meletakkan sebuah wadah bekal di atas meja Dika. "Makan siang kita," ucapnya seraya meletakkan wadah bekal itu di atas meja Dika.
"Ah, Kakek, kenapa Kakek repot-repot membawakan makan siang untuk Dika segala? Padahal baru saja Dika akan keluar dan mencari makan," sergah Dika merasa tidak enak dengan Kakek Danial yang entah ke berapa kalinya sudah membawakan makan siang untuk Dika.
"Baiklah, sebaiknya kita makan siang dulu. Setelah itu kakek akan berbicara sedikit penting padamu," tukas Kakek Danial seraya meraih wadah bekal bersusun dua, lalu dibawanya menuju meja di dalam ruangan itu.
Dika mengikuti Kakek Danial menuju meja di dalam ruangan itu. Lalu mereka makan bersama siang ini di dalam kantor.
Kakek Danial memang sayang banget pada Dika, sehingga apapun perhatiannya selalu dilimpahkan terhadap Dika.
"Baiklah, kakek akan mulai menyampaikan sesuatu yang penting untuk kamu."
"Seberapa penting, Kek?" sela Dika penasaran. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar sesaat sebelum Kakek Danial menyampaikan hal yang menurutnya penting itu.
"Kakek dan sahabat kakek akan menjodohkan kamu dengan cucunya. Kamu tahu Sihni, kan? Gadis yang dulunya kakak kelas kamu saat SMA?" ungkap Kakek Danial, membuat Dika benar-benar tersentak.
Dika pikir sang kakek tidak akan membicarakan hal itu. Dika menjadi hilang semangat dan mendadak lesu.
"Tahu, Kek. Tapi kenapa Kakek ingin menjodohkan Dika dengan Sihni? Dika masih muda dan belum memikirkan hal itu. Lagipula mengenai pasangan, Dika ingin mendapatkannya oleh Dika sendiri, bukan hasil perjodohan," sanggah Dika kurang suka dengan niat yang disampaikan sang kakek.
"Kenapa kamu menolak perjodohan ini, bukankah Sihni perempuan yang cantik, baik dan sudah memiliki pekerjaan juga?" todong Kakek Danial lagi.
"Karena Dika tidak menyukai Sihni. Dika sudah ada tambatan hati sejak dulu masa SMA." Entah sadar atau tidak, Dika tiba-tiba sedikit keceplosan menceritakan tentang masa lalunya yang jika diungkap ke permukaan, belum tentu diterima oleh keluarga besarnya, sebab di balik itu semua ada kisah kelam yang masih harus Dika sembunyikan dari keluarganya.
"Sudah memiiki tambatan hati? Lalu siapa gadis yang kamu maksud itu?" Kakek Danial bertanya dengan rasa penasarannya.
"Nanti jika Dika sudah siap berbicara, Dika akan ceritakan semua pada keluarga besar."
"Serius? Alangkah baiknya sekarang kamu ungkapkan siapa gadis itu sebenarnya. Supaya kakek dan keluarga besar kita bisa menilai lebih jauh," bujuk Kakek Danial, berharap Dika menceritakan siapa gadis yang menjadi tambatan hatinya itu.
"Tidak. Saat ini Dika belum siap mengatakan siapa gadis itu."
"Baiklah kalau begitu, tidak masalah bagi kakek. Namun, kakek tetap akan menjodohkan kamu dengan Sihni," ucap Kakek Danial teguh dengan pendiriannya.
"Kakek, apakah tidak ada cara lain selain menjodohkan aku dan perempuan itu?" protes Dika tidak suka.
"Namanya Sihni bukan perempuan itu. Mulai sekarang, kamu harus bisa bersikap dengan baik terhadapnya sebagai langkah awal perjodohan kalian," tekan Kakek Danial.
"Apakah kali ini Dika masih harus mematuhi perintah Kakek? Tapi untuk kali ini, sepertinya Dika akan menolak permintaan Kakek," tegas Dika seraya kembali menuju meja kerjanya. Hal ini membuat Kakek Danial terlihat kecewa dan meradang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Noviyanti
hm menarik nih. teruskan
2024-06-21
0
Citra Merdeka
ya ampun....serem itu sihni 😁
2024-06-13
2