Tiga bulan kemudian, setelah bekerja di Salina Restoran. Latifa sudah dibolehkan ambil libur. Latifa senang sekali, dengan begitu dia akhirnya bisa pulang kampung ke rumah Nek Romlah dan Kakek Prana.
Besoknya pagi sekali, Latifa sudah bersiap pulang kampung. Dia janjian dengan kedua orang tuanya Pak Yudi dan Bu Dina untuk menengok Gaza. Latifa menaiki mobil sederhana Pak Yudi di simpang empat Cawang.
Semua gerak-gerik Latifa tidak luput dari pantauan Dika dan anak buahnya. Dika menerima laporan tentang semua yang dilakukan Latifa.
"Sampai di mana mereka?" tanya Dika dalam sebuah panggilan telpon.
"Mobil yang ditumpangi keluarga gadis itu masuk wilayah Bogor, dan masuk ke pelosok kampung."
"Pantau terus, dan laporkan setiap pergerakannya," titah Dika sembari menutup sambungan telpon.
Dika tersenyum bahagia, karena kali ini dia tidak akan pernah kehilangan jejak Latifa lagi. Dengan hati yang riang, Dika melajukan mobilnya menuju Salina Restoran, mungpung hari ini Latifa libur, Dika akan berusaha mengorek keterangan dari sang mama.
"Mama," tegur Dika seraya menghampiri Mama Salina.
"Dika, wah tumben kamu ke restoran? Kamu mau makan apa?" sambut Mama Salina senang dengan kedatangan Dika.
"Dika pengen minum jus dong, Ma," pinta Dika seraya menduduki salah satu meja pengunjung.
"Baiklah tunggu, ya. Biarkan mama pesankan." Mama Salina memanggil salah satu pelayan dan meminta dibuatkan jus melon untuk Dika.
"Dika, bagaimana keadaan perusahaan kakekmu, apakah baik-baik saja?"
"Baik, Ma. Dika sedang suntuk nih, Ma. Bolehkah Dika ke mess untuk beristirahat sejenak? Mess banyak yang kosong bukan?" Dika tiba-tiba meminta pada mamanya untuk beristirahat di mess yang masih kosong.
"Ngapain di mess? Di ruangan Papa saja. Papa sedang tidak ada."
"Tidak, Ma. Dika ingin di mess biar sunyi. Messnya selalu dibersihkan bukan?"
"Bersih dong. Ya sudah, kamu tunggu jus dan makanan kamu siap dulu, baru kamu ke mess. Kamu ambil saja kuncinya di Pak Satpam. Pilih mess yang paling depan saja, sebab kalau yang kedua sudah ada penghuninya," terang Bu Salina.
"Baik, Ma. Memangnya mess yang kedua siapa yang huni, Ma? Pria atau wanita?" selidik Dika lagi pura-pura tidak tahu.
"Dia seorang perempuan, sepertinya sih belum menikah, itu makanya dia mau tinggal di mess. Kebanyakan Waitress di sini, kan tidak mau tinggal di mess karena mereka sudah pada menikah dan dilarang oleh suaminya. Kebetulan Latifa sepertinya belum menikah, sehingga dia langsung senang saat ditawari tinggal di mess," jelas Mama Salina.
Dika mengangguk, sudut bibirnya terangkat pertanda senang.
"Nah, bawa jus sama makanannya." Mama Salina memberikan jus melon pesanan Dika dan satu piring cumi asam pedas kesukaan Dika.
"Tapi Dika tidak akan makan dulu, Ma. Ini nanti saja, Dika hanya ingin menikmati jus melon saja. Ok, Dika ke belakang dulu, sepertinya Dika sangat ngantuk nih." Dika segera berdiri dan bergegas menuju mess yang berada di belakang Salina Restoran.
Mama Salina tidak menaruh curiga apa-apa terhadap Dika. Dia membiarkan Dika menuju mess untuk beristirahat.
Dika langsung menuju mess nomer dua yang disebut Mama Salina sebagai messnya Latifa. Sebelum beraksi, Dika mengembangkan senyum, karena seminggu sebelum Latifa pergi ke kampung halaman neneknya, Dika berhasil menduplikat kunci mess milik Latifa.
Dika berhasil membuka pintu itu, perlahan dia masuk tanpa diketahui siapapun, jika Pak Sobirin Satpam Salina Restoran mengetahui pun, dia akan berpikir bahwa Dika akan beristirahat di salah satu mess.
Suasana di dalam mess itu sungguh rapi dan bersih serta terawat, padahal tadi Latifa mungkin saja habis berdandan, tapi tidak meninggalkan bekas kotoran.
Dika sejenak menyusuri ruangan itu, dia pergi ke dapur. Barang yang hanya beberapa buah tersusun rapi dan tidak ada bekas yang kotor, di sini menandakan betapa Latifa merupakan pribadi yang bersih dan rapi.
Dari dapur, Dika kembali ke ruang tengah, lalu memasuki kamar. Di dalam kamar mata Dika memendar kembali melihat seluruh ruangan yang hanya 2 x 2 meter.
Tidak ada yang aneh di sana. Namun Dika seakan menemukan ketenangan berada di dalam kamar itu. Lalu dia menduduki ranjang ukuran medium itu. Rasanya Dika sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuhnya di atas sana.
Namun matanya dibuat terbelalak saat melihat sesuatu di atas bantal. Satu setel baju bocah balita bergambar spiderman teronggok di sana.
Dika meraih baju itu lalu dibeber kemudian diciumnya. Bau minyak telon yang melekat terasa menenangkan saat Dika menciumnya. Sangat aneh bagi Dika. Lantas baju anak itu menjadi sebuah pertanyaan di dalam hati Dika.
"Apakah Latifa sudah menikah dan dia punya anak?"
Detik itu juga Dika merasa lemas saat membayangkan Latifa sudah menikah dan memiliki anak.
"Tidak, Latifa belum menikah. Mungkin saja ini baju keponakannya. Aku harus mencari petunjuk, apakah baju anak kecil ini merupakan baju anaknya atau bukan?" guman Dika dengan perasaan hancur.
Dika berjalan mendekati meja kecil di dalam kamar itu, lalu membuka lacinya. Dika mencari sesuatu di dalam sana berharap ada petunjuk tentang baju anak kecil itu.Tangan Dika berhenti ketika dia meraba benda seperti bingkai foto.
Benar saja itu bingkai foto, dengan tidak sabar Dika meraih dan membalik bingkai itu. Foto Latifa dan seorang anak kecil sekitar usia 3,5 tahun. Bocah kecil itu tertawa lepas dengan gigi depan yang sudah tumbuh semua. Wajahnya tampan dan kalau dilihat lebih lama bocah itu seperti mirip seseorang.
"Bocah ini, jangan-jangan anakku, wajahnya mirip denganku saat kecil."
"Apakah setelah kejadian malam itu, Latifa hamil?" Dika memekik dengan rasa haru dan bahagia yang tiba-tiba membuncah di dalam dadanya.
Dika merasa yakin anak di dalam foto itu adalah anaknya. "Ya Tuhan, jika dia benar anakku, alangkah berdosanya aku karena telah bertahun-tahun menelantarkannya."
Bingkai foto Latifa dan seorang anak kecil yang diduga anak biologisnya itu, dipeluknya seakan tidak mau lepas.
Dika menduduki ranjang, lalu menatap kembali bingkai foto itu. Rupanya Dika menemukan petunjuk lain dari foto itu, yakni sebuah keterangan di sudut kanan bawah foto.
"Aku dan my son 'Gaza Al Kahfi". Begitu tulisan itu, membuat Dika semakin yakin bahwa anak kecil di dalam bingkai itu adalah anak biologisnya.
Rasa kantuk itu tidak tertahan. Dika perlahan membaringkan tubuhnya di atas ranjang medium itu sembari memeluk bingkai foto milik Latifa.
Dika tertidur di atas ranjang yang selalu ditiduri Latifa dengan rasa kantuk yang tidak bisa ditahan lagi. Entah kenapa saat tubuhnya mulai terbaring, Dika merasa tubuhnya enak dan nyaman, terlebih dalam dekapannya kini ada foto Latifa dan anak kecil yang diduga anak biologisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Noviyanti
ya telusuri terus ya, biar bisa ketemu sama anakmu
2024-06-18
0
Citra Merdeka
lanjut update nya Thor terima kasih
2024-06-12
2