Bab 7 Bayang Masa Lalu

"Sudahlah, Da. Sebaiknya kamu pulang saja. Aku tidak mau membahas masa lalu yang hanya akan menyakiti hati aku. Sudah aku katakan sejak dulu, aku belum mau menjalin suatu hubungan dengan seorang laki-laki, terlebih setelah kejadian itu, kepercayaan aku terhadap laki-laki sudah musnah. Jadi, silahkan kamu pergi," ucap Latifa mengusir Arda dengan halus.

"Jawab dulu pertanyaan aku, La. Saat aku kembali dari toilet, kamu ke mana? Aku mencarimu tapi tidak ada?" tanya Arda dengan kening mengkerut, sebab dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Latifa setelah ia dari toilet.

Bayang-bayang pemaksaan itu kembali terbayang setelah Arda melontarkan tanya. Justru di sini Latifa terpancing sebuah pertanyaan untuk Arda, sebab lelaki bajingan yang diduga Pradika, sempat terdengar berbicara meskipun dalam pengaruh obat, akan tetapi masih jelas terdengar.

"Ini akibat elo menolak cinta gue. Elo malah jalan sama si Arda." Kalimat itu terngiang, dan yang ditolak cintanya oleh Latifa saat itu hanya Arda dan Pradika. Bahkan sebelum menolak Arda, Pradika duluan yang ditolak Latifa dengan baik-baik, awalnya Pradika hanya terlihat kecewa, setelah itu dia pergi.

  Namun dimalam pemaksaan itu, kenapa Pradika justru memaksa Latifa dan sempat menyebutkan nama Arda, dengan nada marah? Latifa penasaran dengan kalimat yang diucapkan lelaki bajingan bernama Pradika itu, dan mengapa Pradika menyebut dirinya jalan dengan Arda, lalu dari siapa Pradika tahu bahwa dirinya jalan dengan Arda. Meskipun kala itu wajah Latifa masih ditutup, akan tetapi dia bisa mengenali Pradika.

  "Harusnya kamu yang jawab pertanyaan aku. Apakah saat kamu ngajak aku ke kafe Sayang, kamu sempat memberitahukan kebersamaan kita pada seseorang? Dari awal kamu sudah bohongi aku, Da, dengan mengatakan bahwa Bu Santi Guru wali kelas kita mengundang kita makan-makan. Apakah di balik semua itu, ada campur tangan kamu? Kalau iya, betapa jahatnya kamu. Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu."

  Latifa mengungkapkan kekecewaannya terhadap Arda empat tahun yang lalu, sehingga dia akhirnya mengalami pemerkosaan dari seseorang yang sempat dia tolak cintanya.

  "Pergilah, Da. Dan jangan pernah perlihatkan kembali wajahmu di depanku. Setiap mengingatmu dan malam itu, kepalaku hanya akan pusing saja. Pergi," usirnya seraya memegangi kepalanya.

  "Sebentar, La. Apakah malam itu kamu diperkosa seseorang? Kalau boleh tahu siapa lelaki itu?" korek Arda ingin tahu. Latifa menatap tajam wajah Arda dengan kemarahan yang tidak terkira, matanya kini memerah, dan pipinya mulai basah.

  "Pergiiiii, jangan usik hidupku lagi. Pergiiii!" teriak Latifa mengusir Arda, bersamaan dengan itu sakit di kepalanya tiba-tiba saja menyerang dan terasa sangat menghentak.

  Bu Dina dan Pak Yudi serta Rayana berdatangan menghampiri ruang tamu. Mereka meminta Arda pulang dengan baik-baik.

  "Nak Arda, sebaiknya pulang saja. Sepertinya jiwanya Latifa terguncang kembali setelah mengungkit kejadian empat tahun silam itu. Biarkan dia tenang dulu." Pak Yudi meminta pengertian Arda, dan untungnya Arda setuju. Arda berpamitan dan pulang dengan mobilnya yang dia parkir.

  Arda pulang dengan hati yang berkecamuk. Sepanjang perjalanan dia kembali mengingat kejadian empat tahun lalu. Ke mana Latifa menghilang, lalu jika Latifa memang ada yang memperkosa, siapa yang memperkosanya? Lantas ke mana Pradika yang sengaja dia jebak dan dia undang ke Kafe Sayang kala itu, tidak terlihat batang hidungnya?

  Kecamuk rasa bersalah tiba-tiba menyelinap dalam diri Arda. Untuk itu, Arda akan berusaha mendapatkan Latifa, untuk menebus dosanya di masa lalu. Sebab Arda merasa, nasib buruk yang menimpa Latifa, tidak lepas dari perannya juga. Namun Arda sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya yang telah menodai Latifa malam itu? Sekali ditanyapun, yang terjadi pada Latifa adalah histeris dan kepalanya sakit.

  Arda melajukan mobilnya menuju kampusnya tempat di mana dia menjadi Asisten Dosen kini.

***

  Besoknya di kediaman orang tua Latifa. Latifa yang sudah segar dan tidak histeris seperti kemarin saat ada Arda, kini sudah bersiap dengan kemeja dan rok selututnya, kesannya formal karena Latifa hari ini akan mencari kerja di perusahaan atau tempat yang kira-kiranya sedang membuka lowongan.

  "Mbak Tifa, Mbak mau ke mana sudah rapi dan formal, cantik lagi?" tanya Raya adik semata wayangnya yang sudah siap juga dengan pakaian kuliahnya dengan jas almamater sebagai outernya.

  Sejenak Latifa tertegun saat melihat jas almamater sebuah universitas ternama impiannya dulu, melekat di tubuh Rayana. Bagaimana tidak, dulu saat kelulusan, impian dia kuliah di Universitas Negeri itu, tapi sayang, nasib buruk keburu menimpanya. Terpaksa Latifa harus mengubur dalam-dalam impiannya itu.

  "Mbak, kok, melamun?" kejut Rayana. Latifa sampai hampir terjengkang karena Rayana.

  "Ya ampun, Raya, kamu mengejutkan Mbak saja." Latifa menegur Raya yang justru cekikikan melihat tingkah kaget Latifa.

  "Mbak, melamun, ya? Kalau Mbak masih ada ganjalan dalam hati, aku siap kok jadi pendengar. Tapi tidak sekarang, nanti saja pulang aku kuliah," ujar Raya sembari memakai kaos kakinya.

  "Mbak ikut sampai depan, Ra."

  "Ok."

  "Bu, Pak, aku pamit, ya." Rayana berteriak pamit pada kedua orang tuanya. Bu Dina dan Pak Yudi muncul dari arah dapur. Mereka tercengang saat melihat Latifa sudah cantik dengan kemeja dan roknya juga, seperti akan bekerja kantoran.

  "Fa, kamu sudah rapi dan cantik, memangnya kamu mau ke mana?" tanya Bu Dina heran.

  "Tifa hari ini mau mencari pekerjaan, Bu. Kalau tidak dicari dari sekarang, mau sampai kapan Tifa akan duduk diam di rumah? Gaza sebentar lagi TK, tentu butuh uang banyak untuk sekolahnya," jawab Latifa seraya memakai kaos kaki.

  "Kenapa kamu begitu takut memikirkan biaya untuk Gaza? Gaji bapak juga masih cukup untuk membiayai kehidupan kalian, belum lagi usaha kuliner ibumu yang lumayan maju. Itu semua masih bisa mengcover biaya hidup kalian," tegas Pak Yudi.

  "Tidak, Pak. Tifa tidak mau menjadi beban Bapak dan Ibu. Tifa sudah punya tanggungan, sebagai seorang mama, kini Tifa punya tanggung jawab. Tifa tidak mau berpangku tangan, meskipun Bapak dan Ibu sanggup membiayai hidup kami," sergah Latifa penuh tekad.

  "Baiklah. Tapi, apakah tidak sebaiknya menunggu sampai besok atau minggu depan saja? Kamu beristirahat saja dulu di rumah," saran Bu Dina yang mendapat gelengan dari Latifa detik itu juga.

  "Tidak, Bu. Tifa tidak mau membiarkan tenaga Tifa sia-sia begitu saja. Selama Latifa sehat, Tifa harus siap bekerja dan mempergunakan tubuh ini seproduktif mungkin," jelasnya yang terpaksa diangguki Bu Dina dan Pak Yudi yang kini sudah siap dengan pakaian dinasnya di sebuah instansi pemerintahan.

  "Sampai lupa menanyakan kabar Gaza. Bagaimana kabar cucu ibu yang tampan itu, apakah saat kamu tinggal dia tidak sedih?" ungkit Bu Dina mengingatkan Latifa pada putra semata wayangnya yang selalu membuatnya kangen. 

Terpopuler

Comments

Noviyanti

Noviyanti

bunga mendarat, bayang2 menyedihkan pasti sulit dilupakan. semangat latifa

2024-06-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Malam Petaka
2 Bab 2 Diungsikan
3 Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4 Bab 4 Kembali ke Jakarta
5 Bab 5 Kekecewaan Pradika
6 Bab 6 Asal Mula
7 Bab 7 Bayang Masa Lalu
8 Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9 Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10 Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11 Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12 Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13 Bab 13 Bolu Keladi
14 Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15 Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16 Bab 16 Pengakuan Pradika
17 Bab 17 Tekad Pradika
18 Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19 Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20 Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21 Bab 21 Pernikahan
22 Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23 Bab 23 Kepergok Sihni
24 Bab 24 Hukuman Dika
25 Bab 25 Papa
26 Bab 26 Fakta Mencengangkan
27 Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28 BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29 Bab 29 Kembali ke Jakarta
30 Bab 30 Jebakan Sihni
31 Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32 Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33 Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34 Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35 Bab 35 Kalung Liontin
36 Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37 Bab 37 Provokasi Sihni
38 Bab 38 Arda Menculik Latifa
39 Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40 Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41 Bab 41 Bosku, Mertuaku
42 Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43 Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44 Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45 Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46 Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47 Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48 Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49 Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1 Malam Petaka
2
Bab 2 Diungsikan
3
Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4
Bab 4 Kembali ke Jakarta
5
Bab 5 Kekecewaan Pradika
6
Bab 6 Asal Mula
7
Bab 7 Bayang Masa Lalu
8
Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9
Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10
Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11
Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12
Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13
Bab 13 Bolu Keladi
14
Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15
Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16
Bab 16 Pengakuan Pradika
17
Bab 17 Tekad Pradika
18
Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19
Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20
Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21
Bab 21 Pernikahan
22
Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23
Bab 23 Kepergok Sihni
24
Bab 24 Hukuman Dika
25
Bab 25 Papa
26
Bab 26 Fakta Mencengangkan
27
Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28
BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29
Bab 29 Kembali ke Jakarta
30
Bab 30 Jebakan Sihni
31
Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32
Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33
Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34
Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35
Bab 35 Kalung Liontin
36
Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37
Bab 37 Provokasi Sihni
38
Bab 38 Arda Menculik Latifa
39
Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40
Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41
Bab 41 Bosku, Mertuaku
42
Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43
Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44
Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45
Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46
Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47
Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48
Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49
Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!