Bab 3 Empat Tahun Kemudian

  Seorang bocah laki-laki usia sekitar 3,5 tahun tengah bermain di halaman rumah bertanah, di depan sebuah rumah berbahan kayu. Bocah itu berwajah tampan, berkulit kuning langsat, dan bermata coklat. Sesekali bocah itu bercanda dengan sang nenek buyut yang menungguinya.

  Celotehannya membuat sang nenek buyut gemas. Sang nenek buyut terlihat begitu sangat menyayangi bocah itu, yang terdengar sangat bawel. Apapun ditanyakan pada sang nenek buyut, sembari sesekali memamerkan kepandaiannya memainkan sepeda roda empat.

  "Lihat Nek buyut, Gaza sudah pandai memainkan sepeda. Kalau nanti Gaza sudah besar, Nenek buyut sama Kakek buyut akan Gaza bawa ke kota pakai sepeda ini," bangganya sembari memainkan stang sepedanya, lalu menggowes sepeda itu berkeliling halaman rumah yang luas.

  "Awas jatuh, Sayang," peringat Nek Romlah pada sang cucu. Bocah bernama Gaza Al Kahfi itu, tidak peduli dengan peringatan sang nenek buyut. Dia terus memacu sepedanya sembari cekikikan menghampiri sang kakek buyut yang sedang berkebun.

  "Kakek buyuttt, lihat Gaza, Kek. Gaza sudah pandai main sepeda," pamernya membanggakan diri.

  "Wahhh, pintarnya buyutnya, kakek. Kamu jangan masuk kebun, Nak. Kembali ke nenek buyutmu. Tungguin mama kamu, sebentar lagi pulang dari pabrik," seru Kakek Prana menyuruh buyutnya kembali menghampiri Nek Romlah.

  Kakek Prana dan Nenek Romlah merupakan kakek buyutnya Gaza. Mereka berdua sangat sayang pada buyutnya, karena sejak lahir Gaza sudah tinggal di sana.

  "Itu Mama kamu, dia sudah pulang dari pabrik. Sepertinya bawa oleh-oleh buat kamu. Sana jemput mamamu," titah Nenek Romlah ketika seorang gadis muda berumur sekitar 22 tahun menghampiri mereka dengan sebuah kantong kresek di tangan kanannya.

  "Mamaaa," teriak Gaza seraya menghampiri perempuan muda yang dipanggilnya mama.

  "Tifa, bagaimana hasilnya, apakah pesangon kamu sudah diberikan hari ini?" tanya Nek Romlah pada perempuan muda yang ternyata Latifa.

  "Alhamdulillah, sudah, Nek. Semua sudah selesai. Perusahaan memberikan pesangon karyawan yang di PHK nya karena pengurangan karyawan. Walaupun hanya setengah dari pesangon, tapi alhamdulillah daripada tidak sama sekali. Setidaknya Tifa nanti ada sedikit bekal untuk ke kota," tutur Tifa bersyukur.

  Nek Romlah terlihat senang sekaligus sedih mendengar berita dari sang cucu yang sudah empat tahun ini tinggal bersamanya di kampung ini.

  "Tapi, sayang sekali kamu seminggu lagi harus meninggalkan nenek dan kakek, juga anakmu di sini."

  "Tifa terpaksa, Nek. Andai saja perusahaan tekstil tempat Tifa bekerja tidak mengurangi karyawannya dan mem-PHK nya, mungkin saja Tifa akan tetap tinggal di sini sampai Gaza tiba saatnya sekolah SD," tutur Tifa mendadak sedih lalu memeluk Nek Romlah dan menangis di sana.

  "Lalu, apakah kamu di Jakarta yakin akan segera mendapatkan pekerjaan yang layak serta gajinya lebih tinggi daripada di sini, mengingat satu tahun lagi Gaza masuk TK?" Nek Romlah terlihat khawatir.

  "Nenek tenang saja, Tifa akan berjuang dan mendapatkan pekerjaan yang layak di Jakarta demi Gaza," sahutnya berusaha membuat sang nenek tenang.

  "Baiklah kami percaya kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan bagus di sana." Nek Romlah berkata dengan penuh keyakinan.

  "Terimakasih banyak, ya, Nek, karena selama ini Nenek dan Kakek sudah menampung Tifa dan Gaza di sini. Tanpa kalian, bisa saja Tifa sudah tidak ada di dunia ini, atau mungkin Tifa sudah luntang-lantung di jalanan menjadi orang gila tidak tahu arah," ujarnya diiringi isak tangis.

  Nek Romlah mengusap bahu sang cucu dengan kasih sayang. Benar yang dikatakan Tifa, mungkin tanpa Nek Romlah dan Kakek Prana, bisa jadi Tifa kini sudah tinggal nama, atau luntang-lantung di jalanan karena stres.

  Setelah diungsikan oleh kedua orang tuanya dari Jakarta ke Bogor empat tahun yang lalu, beberapa hari tinggal di rumah Nek Romlah, Tifa masih mengalami depresi dan trauma. Yang dilakukannya hanyalah termenung, duduk diam dan melamun. Ketika sesekali ditanya masalah yang terjadi di malam setelah perpisahan sekolah itu, reaksi Latifa langsung berteriak layaknya orang depresi.

  Namun, berkat kesabaran dan perhatian serta kasih sayang dari Nek Romlah dan Kakek Prana, serta dibantu secara spiritual oleh beberapa pemuka agama di kampung itu, perlahan Tifa berangsur membaik. Baik secara psikis maupun mental.

  Butuh waktu kurang lebih setahun untuk mengembalikan Tifa pada kondisi normal. Sungguh itu masa-masa yang sulit buat menyembuhkan dirinya dari trauma, nasib baik Latifa tidak menyakiti dirinya sendiri kala itu, yang pada saat itu sedang mengandung.

  Namun, berkat kerjasama kedua orang tua Latifa dan kesabaran Nek Romlah dan Kek Prana mendampinginya, akhirnya membuahkan hasil yang perlahan-lahan membaik sampai Latifa bisa menjalani kehidupannya dengan normal kembali.

  "Tifa titip Gaza untuk sementara di sini sampai kondisi aman untuknya. Tifa tidak mau keberadaan Gaza diketahui oleh bajingan itu. Tifa sudah sayang sama Gaza, Nek," ungkap Latifa sendu.

  Nek Romlah mengusap rambut sang cucu dengan lembut. Nek Romlah tahu saat-saat tersulit di mana Latifa sempat mengalami baby blues. Menganggap baby Gaza kala itu bagai monster yang sangat menakutkan di mata Latifa, sebab setiap melihat wajah Gaza, maka bayangan lelaki si pemerkosa itu selalu muncul di dalam otaknya.

  Setahun lebih Latifa melewati masa sulit itu. Perlahan namun pasti, kesembuhan itu mulai dirasakannya. Sebuah kasih sayang dan kesabaran yang diberikan sang nenek, membawa Latifa terlepas dari belenggu trauma.

  "Kamu tenang saja, Gaza aman bersama kami, dia anak yang cerdas dan menyenangkan. Lagipula kalau dia pergi ikut kamu, lantas kami harus menghibur diri ke mana? Gaza sungguh buyut kami yang sangat menyenangkan. Kami akan sangat kesepian kalau dia ikut kamu sekalian," ungkap Nek Romlah dengan raut sedih.

  "Iya, Nek. Tifa paham. Nanti Tifa usahakan datang ke kampung ini sebulan sekali untuk menengok kalian semua," ujar Latifa terlihat lega.

***

  Seminggu kemudian, tiba saatnya kepergian Latifa ke kota Jakarta. Latifa berpamitan pada nenek dan kakeknya serta Gaza sang anak. Dengan berurai air mata Latifa berpelukan dengan sang anak. Perempuan muda itu sebetulnya berat jika harus berjauhan dengan putra kecilnya itu. Namun dengan terpaksa Latifa harus meninggalkan Gaza, demi masa depan sang putra.

"Mama, mau menyusul Papa ke Jakarta?" celetuk Gaza dengan polosnya. Latifa terhenyak mendengar pertanyaan polos dari sang putra. Perempuan muda itu, kembali teringat masa-masa kelam di malam perpisahan itu. Bayangan seringai wajah lelaki bajingan itu kini bagai di pelupuk mata. Dan kini tugas Latifa adalah benar-benar melupakannya.

"Mama pamit, ya, Sayang. Jangan nakal sama Nenek dan Kakek buyut. Nurut sama mereka," peringat Latifa seraya mencium pipi kiri dan kanan sang anak.

Setelah berpamitan pada nenek dan kakeknya serta sang putra, Latifa segera bergegas menghampiri ojeg yang sudah menjemputnya yang kebetulan tetangga sebelah Nek Romlah. Latifa diantar dengan ojeg sampai terminal Bogor. Dari sana dia menaiki bis untuk ke Jakarta, kota yang menyimpan kenangan buruk. Tapi kini buruknya kenangan itu harus Latifa taklukan demi sang buah hati.

Terpopuler

Comments

mama Al

mama Al

semangat Latifa

2024-08-24

1

Noviyanti

Noviyanti

wah namanya gaza 😍

2024-06-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Malam Petaka
2 Bab 2 Diungsikan
3 Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4 Bab 4 Kembali ke Jakarta
5 Bab 5 Kekecewaan Pradika
6 Bab 6 Asal Mula
7 Bab 7 Bayang Masa Lalu
8 Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9 Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10 Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11 Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12 Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13 Bab 13 Bolu Keladi
14 Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15 Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16 Bab 16 Pengakuan Pradika
17 Bab 17 Tekad Pradika
18 Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19 Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20 Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21 Bab 21 Pernikahan
22 Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23 Bab 23 Kepergok Sihni
24 Bab 24 Hukuman Dika
25 Bab 25 Papa
26 Bab 26 Fakta Mencengangkan
27 Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28 BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29 Bab 29 Kembali ke Jakarta
30 Bab 30 Jebakan Sihni
31 Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32 Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33 Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34 Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35 Bab 35 Kalung Liontin
36 Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37 Bab 37 Provokasi Sihni
38 Bab 38 Arda Menculik Latifa
39 Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40 Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41 Bab 41 Bosku, Mertuaku
42 Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43 Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44 Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45 Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46 Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47 Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48 Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49 Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1 Malam Petaka
2
Bab 2 Diungsikan
3
Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4
Bab 4 Kembali ke Jakarta
5
Bab 5 Kekecewaan Pradika
6
Bab 6 Asal Mula
7
Bab 7 Bayang Masa Lalu
8
Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9
Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10
Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11
Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12
Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13
Bab 13 Bolu Keladi
14
Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15
Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16
Bab 16 Pengakuan Pradika
17
Bab 17 Tekad Pradika
18
Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19
Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20
Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21
Bab 21 Pernikahan
22
Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23
Bab 23 Kepergok Sihni
24
Bab 24 Hukuman Dika
25
Bab 25 Papa
26
Bab 26 Fakta Mencengangkan
27
Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28
BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29
Bab 29 Kembali ke Jakarta
30
Bab 30 Jebakan Sihni
31
Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32
Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33
Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34
Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35
Bab 35 Kalung Liontin
36
Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37
Bab 37 Provokasi Sihni
38
Bab 38 Arda Menculik Latifa
39
Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40
Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41
Bab 41 Bosku, Mertuaku
42
Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43
Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44
Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45
Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46
Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47
Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48
Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49
Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!