Bab 17 Tekad Pradika

  Setelah Pradika pergi dari mess, Latifa segera mengunci pintu. Tubuhnya merosot ke dinding pintu dan terduduk. Latifa menangis di sana, di bawah lantai mess yang dingin.

  Latifa mempertanyakan kenapa dirinya harus bertemu lagi dengan Dika disaat hidupnya sudah mulai tertata dan melupakan masa lalu yang pahit itu.

  "Aku benci Pradika, benciiiii," jeritnya seraya memukul-mukul tubuhnya sendiri.

  Sementara itu, Dika yang tadi keluar dari mess, tidak serta merta pergi begitu saja. Dia sangat khawatir dengan keadaan mental Latifa setelah kedatangannya. Dika takut sesuatu terjadi pada Latifa. Terbukti, saat ini Latifa tengah meraung-raung memanggil namanya dengan kata-kata umpatan.

  "Aku tahu, luka yang telah aku torehkan sangat dalam, dan itu tidak mudah terobati. Jika aku tahu kedatangan aku akan membuat luka lamamu kembali rekah, aku menyesal telah menemuimu," sesalnya tidak tega saat mendengar Latifa menangis dan menjerit di dalam mess.

  "Maafkan aku, Fa. Harus dengan apa aku menebus kesalahanku padamu supaya lukamu perlahan sembuh?" tanya Dika dalam bisik kecilnya.

***

  Besoknya sepulang kerja, Latifa pulang ke rumah kedua orang tuanya. Tujuannya untuk segera memulangkan Gaza ke Bogor, ke kampung halaman Nek Romlah dan Kakek Prana. Pikirnya di sana keberadaan Gaza akan aman dari siapapun yang berniat jahat, termasuk dari incaran Dika.

  Setelah Pak Yudi dan Bu Dina memahami kekhawatiran Latifa, maka detik itu juga mereka segera bersiap mengantar cucu yang baru semata wayangnya ke kampung halaman orang tua dari Pak Yudi.

  "Mama, ikut juga sama Aza, kan? Mama." Gaza merengek sembari memegang jemari Latifa, sepertinya Gaza tidak ingin berpisah dari sang mama.

  Melihat hal itu, Latifa sangat sedih dan menangis saat itu juga. Hati kecilnya mengatakan dia sama sekali tidak ingin berpisah lagi dari Gaza. Selain Gaza sangat manja dan lengket padanya, Latifa sangat hafal kebiasaan Gaza yang jika tidur harus dikelon dulu olehnya.

  "Aza pulang dulu ke rumah Nenek dan kakek buyut di Bogor, ya. Nanti mama akan jemput Aza jika tiba masanya sekolah," bujuk Latifa seraya tidak kuasa membendung air matanya di sudut mata.

  "Tidakkkk, Aza ingin bersama Mama," rengeknya lagi seraya memeluk Latifa, lalu mereka berdua menangis. Teriris hati Latifa ketika harus mendengar sang putra menangis.

  "Aza pulang dulu, ya. Setelah mama banyak uang, mama akan nyusul Aza ke rumah nenek dan kakek buyut di kampung." Latifa masih belum menyerah untuk membujuk Gaza.

  "Tidakk, Aza ingin sama Mama," rengeknya lagi seraya merangkul Latifa. Latifa terpaksa menenangkan dulu Gaza sampai dia tidak memintanya untuk ikut.

  Pada akhirnya, ketika Gaza tertidur di pangkuannya, Gaza berhasil dibawa ke dalam mobil Pak Yudi. Perlahan Latifa memindahkan tubuh Gaza ke dalam pangkuan sang ibu.

Air mata Latifa turun kembali saat melepas putra semata wayangnya pergi.

"Mama akan selalu mencintai Aza. Tunggu mama, ya, Sayang." Latifa menatap kepergian mobil Pak Yudi yang membawa pergi sanga anak.

  Setelah mobil beranjak dan menjauh dari halaman rumah kedua orang tuanya, Latifa benar-benar sedih dan menangis di sana.

  "Maafin mama, Za," desahnya meminta maaf. Namun di balik rasa sedih, timbul rasa lega. Latifa merasa beruntung sudah mengembalikan Gaza ke kampung halaman nenek dan kakeknya, itu artinya keberadaan Gaza aman di sana, duganya.

  Di lain tempat, Pradika yang selalu tidak lepas memantau keberadaan Latifa, mendapat kabar bahwa Gaza telah dikembalikan ke Bogor, justru menyunggingkan senyum. Dia tidak merasa susah untuk menjangkau Gaza jika anak itu berada di kampung halaman nenek dan kakeknya Latifa.

  "Justru aku akan dapat dengan mudah mendatangi Gaza di sana, ketimbang di sini. Biarlah di sini kamu tenang dulu mengobati luka batinmu yang terluka karena ulahku." Dika merasa senang dengan dipulangkannya Gaza ke kampung halaman nenek dan kakeknya Latifa di Bogor.

***

  Latifa merasa lega sudah mengembalikan Gaza ke Bogor. Meskipun awalnya ia begitu sedih, Gaza pun demikian, lama-kelamaan dia tidak bersedih lagi.

  "Fa, suatu saat nanti jika Gaza sekolah, dia harus tahu siapa bapaknya. Dan pihak sekolah pasti akan meminta akte kelahirannya saat masuk sekolah. Lalu bagaimana solusinya? Saat itu bapak menawarkan kamu supaya Gaza masuk kartu keluarga bapak dan diakui sebagai anak bapak, tapi kamu tidak mau. Lalu sekarang harus bagaimana?" Pak Yudi mempertanyakan status Gaza nanti jika sekolah.

  Hal itu sungguh tidak terpikirkan oleh Latifa. Dan kini saat bapaknya menyinggung soal sekolah Gaza kelak yang harus ada akte kelahiran, Latifa seketika dilanda bingung yang hebat, kepalanya sakit sehingga dia hari ini ijin tidak masuk kerja pada Bu Salina.

  Sementara itu di rumahnya Bu Salina yang belum berangkat ke restoran, mendapatkan kabar bahwa Latifa hari ini ijin kerja. Bu Salina merasa khawatir dengan sakit yang diderita Latifa yang mendadak.

  "Pah, Latifa hari ini ijin tidak masuk kerja karena tiba-tiba sakit katanya. Entah kenapa sudah seminggu ini dia terlihat murung dan sedih, mama jadi kasihan melihatnya," cetus Bu Salina pada Pak Raka.

  Dika yang kebetulan semalam menginap di rumah kedua orang tuanya, terkejut mendengar Latifa sakit, dia menjadi khawatir dengan keadaan Latifa saat ini. Dika tahu alasan Latifa murung dan sedih, itu karena kedatangannya suatu hari ke mess dan menemui Latifa secara tiba-tiba.

  "Sepertinya dia murung dan sedih karena berjauhan dengan anak semata wayangnya yang kembali dipulangkan ke Bogor. Semua ibu pasti sedih berpisah dengan anak semata wayangnya, terlebih Latifa itu ibu muda single parent lagi," respon Pak Raka santai.

  "Bisa jadi itu penyebabnya. Mama jadi merasa kasihan dengan Latifa. Sepertinya dia punya masalah dengan mantan suaminya sampai hidup harus berjauhan dengan anaknya. Usianya masih muda, tapi harus mengalami penderitaan berumah tangga secepat itu." Bu Salina merasa iba dengan keadaan Latifa sampai matanya berkaca-kaca.

 "Ada apa dengan Latifa, sampai Mama seiba itu padanya? Aku harus mencari tahu secepatnya, kenapa Latifa bisa seperti itu."

  "Kamal, cari tahu masalah yang dihadapi Latifa saat ini. Dan jangan lupa, persiapkan keberangkatan kita ke Bogor hari Minggu besok," perintah Dika pada Kamal, salah satu orang kepercayaannya. Di ujung telpon Kamal menyambut siap perintah sang Bos.

  Dika bertekad akan bergerak cepat mencari tahu masalah yang kini sedang dihadapi Latifa. Mulai detik ini Dika akan melancarkan rencananya untuk melakukan pendekatan terhadap Gaza, dengan cara menemui Gaza di sana sedikitnya sebulan sekali sebagai upaya pendekatan pada putra biologisnya itu.

  Namun tidak gampang, untuk itu Dika harus bisa meluluhkan dan mengajak kerja sama nenek dan kakeknya Latifa di Bogor, supaya Dika bisa meraih hati mereka, lalu mencari jalan supaya Gaza bisa lebih dekat dengannya lalu memanggilnya papa dan tidak lepas lagi darinya.

Terpopuler

Comments

Noviyanti

Noviyanti

terus semangat buat dika kejar hati latifa dan keluarganya. bunga mendarat

2024-07-16

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Malam Petaka
2 Bab 2 Diungsikan
3 Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4 Bab 4 Kembali ke Jakarta
5 Bab 5 Kekecewaan Pradika
6 Bab 6 Asal Mula
7 Bab 7 Bayang Masa Lalu
8 Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9 Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10 Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11 Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12 Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13 Bab 13 Bolu Keladi
14 Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15 Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16 Bab 16 Pengakuan Pradika
17 Bab 17 Tekad Pradika
18 Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19 Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20 Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21 Bab 21 Pernikahan
22 Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23 Bab 23 Kepergok Sihni
24 Bab 24 Hukuman Dika
25 Bab 25 Papa
26 Bab 26 Fakta Mencengangkan
27 Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28 BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29 Bab 29 Kembali ke Jakarta
30 Bab 30 Jebakan Sihni
31 Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32 Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33 Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34 Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35 Bab 35 Kalung Liontin
36 Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37 Bab 37 Provokasi Sihni
38 Bab 38 Arda Menculik Latifa
39 Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40 Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41 Bab 41 Bosku, Mertuaku
42 Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43 Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44 Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45 Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46 Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47 Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48 Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49 Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1 Malam Petaka
2
Bab 2 Diungsikan
3
Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4
Bab 4 Kembali ke Jakarta
5
Bab 5 Kekecewaan Pradika
6
Bab 6 Asal Mula
7
Bab 7 Bayang Masa Lalu
8
Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9
Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10
Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11
Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12
Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13
Bab 13 Bolu Keladi
14
Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15
Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16
Bab 16 Pengakuan Pradika
17
Bab 17 Tekad Pradika
18
Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19
Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20
Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21
Bab 21 Pernikahan
22
Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23
Bab 23 Kepergok Sihni
24
Bab 24 Hukuman Dika
25
Bab 25 Papa
26
Bab 26 Fakta Mencengangkan
27
Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28
BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29
Bab 29 Kembali ke Jakarta
30
Bab 30 Jebakan Sihni
31
Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32
Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33
Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34
Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35
Bab 35 Kalung Liontin
36
Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37
Bab 37 Provokasi Sihni
38
Bab 38 Arda Menculik Latifa
39
Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40
Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41
Bab 41 Bosku, Mertuaku
42
Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43
Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44
Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45
Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46
Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47
Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48
Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49
Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!