Setelah Pradika pergi dari mess, Latifa segera mengunci pintu. Tubuhnya merosot ke dinding pintu dan terduduk. Latifa menangis di sana, di bawah lantai mess yang dingin.
Latifa mempertanyakan kenapa dirinya harus bertemu lagi dengan Dika disaat hidupnya sudah mulai tertata dan melupakan masa lalu yang pahit itu.
"Aku benci Pradika, benciiiii," jeritnya seraya memukul-mukul tubuhnya sendiri.
Sementara itu, Dika yang tadi keluar dari mess, tidak serta merta pergi begitu saja. Dia sangat khawatir dengan keadaan mental Latifa setelah kedatangannya. Dika takut sesuatu terjadi pada Latifa. Terbukti, saat ini Latifa tengah meraung-raung memanggil namanya dengan kata-kata umpatan.
"Aku tahu, luka yang telah aku torehkan sangat dalam, dan itu tidak mudah terobati. Jika aku tahu kedatangan aku akan membuat luka lamamu kembali rekah, aku menyesal telah menemuimu," sesalnya tidak tega saat mendengar Latifa menangis dan menjerit di dalam mess.
"Maafkan aku, Fa. Harus dengan apa aku menebus kesalahanku padamu supaya lukamu perlahan sembuh?" tanya Dika dalam bisik kecilnya.
***
Besoknya sepulang kerja, Latifa pulang ke rumah kedua orang tuanya. Tujuannya untuk segera memulangkan Gaza ke Bogor, ke kampung halaman Nek Romlah dan Kakek Prana. Pikirnya di sana keberadaan Gaza akan aman dari siapapun yang berniat jahat, termasuk dari incaran Dika.
Setelah Pak Yudi dan Bu Dina memahami kekhawatiran Latifa, maka detik itu juga mereka segera bersiap mengantar cucu yang baru semata wayangnya ke kampung halaman orang tua dari Pak Yudi.
"Mama, ikut juga sama Aza, kan? Mama." Gaza merengek sembari memegang jemari Latifa, sepertinya Gaza tidak ingin berpisah dari sang mama.
Melihat hal itu, Latifa sangat sedih dan menangis saat itu juga. Hati kecilnya mengatakan dia sama sekali tidak ingin berpisah lagi dari Gaza. Selain Gaza sangat manja dan lengket padanya, Latifa sangat hafal kebiasaan Gaza yang jika tidur harus dikelon dulu olehnya.
"Aza pulang dulu ke rumah Nenek dan kakek buyut di Bogor, ya. Nanti mama akan jemput Aza jika tiba masanya sekolah," bujuk Latifa seraya tidak kuasa membendung air matanya di sudut mata.
"Tidakkkk, Aza ingin bersama Mama," rengeknya lagi seraya memeluk Latifa, lalu mereka berdua menangis. Teriris hati Latifa ketika harus mendengar sang putra menangis.
"Aza pulang dulu, ya. Setelah mama banyak uang, mama akan nyusul Aza ke rumah nenek dan kakek buyut di kampung." Latifa masih belum menyerah untuk membujuk Gaza.
"Tidakk, Aza ingin sama Mama," rengeknya lagi seraya merangkul Latifa. Latifa terpaksa menenangkan dulu Gaza sampai dia tidak memintanya untuk ikut.
Pada akhirnya, ketika Gaza tertidur di pangkuannya, Gaza berhasil dibawa ke dalam mobil Pak Yudi. Perlahan Latifa memindahkan tubuh Gaza ke dalam pangkuan sang ibu.
Air mata Latifa turun kembali saat melepas putra semata wayangnya pergi.
"Mama akan selalu mencintai Aza. Tunggu mama, ya, Sayang." Latifa menatap kepergian mobil Pak Yudi yang membawa pergi sanga anak.
Setelah mobil beranjak dan menjauh dari halaman rumah kedua orang tuanya, Latifa benar-benar sedih dan menangis di sana.
"Maafin mama, Za," desahnya meminta maaf. Namun di balik rasa sedih, timbul rasa lega. Latifa merasa beruntung sudah mengembalikan Gaza ke kampung halaman nenek dan kakeknya, itu artinya keberadaan Gaza aman di sana, duganya.
Di lain tempat, Pradika yang selalu tidak lepas memantau keberadaan Latifa, mendapat kabar bahwa Gaza telah dikembalikan ke Bogor, justru menyunggingkan senyum. Dia tidak merasa susah untuk menjangkau Gaza jika anak itu berada di kampung halaman nenek dan kakeknya Latifa.
"Justru aku akan dapat dengan mudah mendatangi Gaza di sana, ketimbang di sini. Biarlah di sini kamu tenang dulu mengobati luka batinmu yang terluka karena ulahku." Dika merasa senang dengan dipulangkannya Gaza ke kampung halaman nenek dan kakeknya Latifa di Bogor.
***
Latifa merasa lega sudah mengembalikan Gaza ke Bogor. Meskipun awalnya ia begitu sedih, Gaza pun demikian, lama-kelamaan dia tidak bersedih lagi.
"Fa, suatu saat nanti jika Gaza sekolah, dia harus tahu siapa bapaknya. Dan pihak sekolah pasti akan meminta akte kelahirannya saat masuk sekolah. Lalu bagaimana solusinya? Saat itu bapak menawarkan kamu supaya Gaza masuk kartu keluarga bapak dan diakui sebagai anak bapak, tapi kamu tidak mau. Lalu sekarang harus bagaimana?" Pak Yudi mempertanyakan status Gaza nanti jika sekolah.
Hal itu sungguh tidak terpikirkan oleh Latifa. Dan kini saat bapaknya menyinggung soal sekolah Gaza kelak yang harus ada akte kelahiran, Latifa seketika dilanda bingung yang hebat, kepalanya sakit sehingga dia hari ini ijin tidak masuk kerja pada Bu Salina.
Sementara itu di rumahnya Bu Salina yang belum berangkat ke restoran, mendapatkan kabar bahwa Latifa hari ini ijin kerja. Bu Salina merasa khawatir dengan sakit yang diderita Latifa yang mendadak.
"Pah, Latifa hari ini ijin tidak masuk kerja karena tiba-tiba sakit katanya. Entah kenapa sudah seminggu ini dia terlihat murung dan sedih, mama jadi kasihan melihatnya," cetus Bu Salina pada Pak Raka.
Dika yang kebetulan semalam menginap di rumah kedua orang tuanya, terkejut mendengar Latifa sakit, dia menjadi khawatir dengan keadaan Latifa saat ini. Dika tahu alasan Latifa murung dan sedih, itu karena kedatangannya suatu hari ke mess dan menemui Latifa secara tiba-tiba.
"Sepertinya dia murung dan sedih karena berjauhan dengan anak semata wayangnya yang kembali dipulangkan ke Bogor. Semua ibu pasti sedih berpisah dengan anak semata wayangnya, terlebih Latifa itu ibu muda single parent lagi," respon Pak Raka santai.
"Bisa jadi itu penyebabnya. Mama jadi merasa kasihan dengan Latifa. Sepertinya dia punya masalah dengan mantan suaminya sampai hidup harus berjauhan dengan anaknya. Usianya masih muda, tapi harus mengalami penderitaan berumah tangga secepat itu." Bu Salina merasa iba dengan keadaan Latifa sampai matanya berkaca-kaca.
"Ada apa dengan Latifa, sampai Mama seiba itu padanya? Aku harus mencari tahu secepatnya, kenapa Latifa bisa seperti itu."
"Kamal, cari tahu masalah yang dihadapi Latifa saat ini. Dan jangan lupa, persiapkan keberangkatan kita ke Bogor hari Minggu besok," perintah Dika pada Kamal, salah satu orang kepercayaannya. Di ujung telpon Kamal menyambut siap perintah sang Bos.
Dika bertekad akan bergerak cepat mencari tahu masalah yang kini sedang dihadapi Latifa. Mulai detik ini Dika akan melancarkan rencananya untuk melakukan pendekatan terhadap Gaza, dengan cara menemui Gaza di sana sedikitnya sebulan sekali sebagai upaya pendekatan pada putra biologisnya itu.
Namun tidak gampang, untuk itu Dika harus bisa meluluhkan dan mengajak kerja sama nenek dan kakeknya Latifa di Bogor, supaya Dika bisa meraih hati mereka, lalu mencari jalan supaya Gaza bisa lebih dekat dengannya lalu memanggilnya papa dan tidak lepas lagi darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Noviyanti
terus semangat buat dika kejar hati latifa dan keluarganya. bunga mendarat
2024-07-16
1