Bab 2 Diungsikan

  Perasaan kaget dan shock kini menyelimuti wajah Pak Yudi dan Bu Dian. Berita kehamilan Latifa yang didapat dari Dokter Hana tadi, membuat mereka berdua untuk sejenak diam mematung.

  "Apa, kenapa dia bisa hamil? Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak kita?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Pak Yudi beberapa saat kemudian, diliputi wajah yang marah sekaligus tidak percaya.

  Bu Dina yang ingat akan kata-kata Dokter Hana tadi di dalam ruang pemeriksaan, segera menghampiri suaminya dan meraih tangannya dengan lembut, lalu mengusapnya berusaha menyalurkan energi positif supaya suaminya bisa mengontrol emosi dan tenang.

  Bu Dina yang melihat Rayana, segera memberi isyarat untuk segera membawa Latifa ke dalam kamarnya. Rayana patuh, lalu meraih lengan Latifa dan membawanya ke kamar Latifa.

  "Apa yang dibicarakan Dokter tadi di dalam ruang pemeriksaan, Bu? Katakan semua pada bapak. Dan kenapa Latifa bisa hamil?" Pak Yudi kembali melontarkan tanya yang sejak tadi belum terjawab.

  "Bapak tenang dulu. Sekarang kita masuk kamar, biar ibu ceritakan semua yang dikatakan Dokter Hana." Bu Dina berdiri lalu membawa Pak Yudi masuk ke dalam kamar.

  Di dalam kamar, Bu Dina yang sudah mendudukkan suaminya di kursi dalam kamar itu, ikut duduk di sampingnya sembari tidak lepas mengusap lengan suaminya.

  "Kata Dokter Hana, setelah diperiksa secara detil, feeling-nya mengatakan bahwa anak kita pernah mengalami suatu hal yang mengguncang jiwanya, sehingga berakibat buruk kepada kesehatan psikisnya. Latifa mengalami trauma, ...."

  "Trauma? Trauma kenapa? Lalu hal apa yang mengguncang jiwanya itu? Apakah keadaan Latifa seperti ini ada kaitannya dengan kejadian sebulan yang lalu, ketika dia ditemukan tidak sadarkan diri di bawah rumah panggung kita?" duga Pak Yudi dengan muka kembali memerah menahan emosi yang kembali memuncak.

  "Tenangkan emosi Bapak. Percuma kita emosi, buktinya dengan emosi sampai saat ini kita belum juga menemukan penyebab anak pertama kita berubah menjadi murung seperti sekarang ini. Setiap kita mencoba bertanya dan mengorek keterangan darinya, reaksinya justru di luar dugaan, Latifa menjerit-jerit."

  "Lalu dengan cara apa kita harus mencari tahu, apa yang sebenarnya telah dialami anak kita malam itu?" Pak Yudi menatap wajah istrinya dalam meminta sebuah penjelasan.

  "Trauma yang dialami anak kita termasuk trauma ringan, yang bisa disembuhkan dengan mendatangi psikiater atau yang lebih mudah, yaitu dengan dibiarkan pikirannya tenang. Latifa harus kita ungsikan ke tempat yang lebih nyaman dan damai, supaya pikirannya kembali tenang dan stabil," jelas Bu Dina, tapi tidak cukup menenangkan Pak Yudi.

  "Lantas, kenapa dia bisa hamil? Itu yang ingin bapak dapatkan jawabannya, apakah anak kita telah menjadi korban pemerkosaan, atau justru dia terjerumus ke dalam kenakalan remaja?" duga Pak Yudi risau dan tidak sabar.

  "Tenang, Pak. Nanti kita tanyakan secara perlahan pada anak kita saat dia tenang. Kita coba suruh Rayana saja yang bertanya. Siapa tahu, melalui adiknya, Latifa mau berterus terang," bujuk Bu Dina tidak berputus asa agar Pak Yudi bisa tenang menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

  Sejenak keduanya diam mematung, larut dalam pikirannya masing-masing.

  Sementara di dalam kamar Latifa, Rayana yang sudah mengetahui keadaan sang kakak, berusaha memberikan kenyamanan untuk sang kakak. Karena Rayana tahu, dia yang akan ditugasi mengorek keterangan dari Latifa terkait perubahan sikapnya.

  "Ya ampun, ada apa dengan kakakku ini? Benarkah Mbak Tifa diperkosa? Lalu dengan cara apa aku bisa mengorek keterangan dari Mbak Tifa, sementara selama ini saja Mbak Tifa selalu berteriak jika ditanyakan kejadian apa setelah malam perpisahan itu."

***

  "Mbak diperkosa, Ra. Mbak diperkosa teman sekelas Mbak yang menyukai Mbak. Dia lari entah ke mana setelah berhasil memperkosa Mbak," cerita Latifa setelah berhasil ditanyai Rayana beberapa hari kemudian, tentu saja pertanyaan Rayana yang berhasil dijawab Latifa ini, benar-benar menunggu suasana hening dan tenang.

  Pengakuan Latifa yang membuat Rayana shock, berhasil direkam di Hp Rayana, atas perintah kedua orang tuanya.

  "Mbak bisa ceritakan, siapa yang sudah memperkosa Mbak?" tanya Rayana lagi hati-hati.

  Latifa diam, raut wajahnya seakan sedang mengingat rekaman kejadian yang pernah menimpanya. Lalu air muka wajah itu berubah menjadi sedih. Latifa bukan menjawab, akan tetapi menjerit-jerit sehingga membuat Rayana panik.

  "Sudah, Mbak. Aku ti~tidak akan tanyakan itu lagi." Rayana menghentikan penyelidikannya yang justru lagi-lagi membuat Latifa histeris dan menjerit, sehingga sampai kini siapa yang telah menodai sang kakak belum terungkap dengan jelas.

  "Siapa sebenarnya yang telah memperkosa kakak aku? Tega banget laki-laki itu," kesal Rayana sembari mengusap bahu Latifa yang sudah mulai tenang.

  Melihat sang kakak tertidur, Rayana keluar dari kamar Latifa, lalu menyerahkan hasil rekaman di Hpnya pada Pak Yudi.

  Pak Yudi dan Bu Dina cukup terkejut dengan pengakuan Latifa yang didengar dari rekaman Hp Rayana. Sayangnya pelaku pemerkosa itu belum juga terungkap dari bibir Latifa. Kalau diamati Latifa memang mengalami goncangan jiwa, sehingga percuma ditanya lebih lanjut pun. Sehingga Pak Yudi dan Bu Dina sepakat akan mengajak Latifa berobat ke psikiater.

  Latifa beberapa kali dibawa ke psikiater. Namun setelah kurang lebih tiga kali dibawa ke sana, belum juga terlihat hasil yang baik, setiap ditanya Latifa akan bungkam dan menjerit jika pertanyaannya menyangkut kejadian di malam setelah acara perpisahan sekolah itu.

  Karena perut Latifa semakin lama semakin kelihatan membesar, Pak Yudi dan Bu Dina akhirnya sepakat membawa Latifa mengungsi atau diasingkan dulu di kediaman kedua orang tua Pak Yudi. Kebetulan kedua orang tua Pak Yudi tinggal di kampung yang keadaan alamnya masih sangat bagus dan adem, diduga cocok untuk penyembuhan Latifa..

 "Apakah, Bapak yakin akan mengasingkan anak kita di rumah nenek dan kakeknya? Apakah tidak akan merepotkan mereka, Pak?" tanya Bu Dina was-was.

  "Bapak yakin, Bu. Di sana sepertinya tempat yang bisa menyembuhkan trauma dan guncangan anak kita. Biarlah kita dua minggu sekali atau paling lama sebulan sekali menengok ke sana. Dan yang terpenting, Latifa aman dari gunjingan tetangga kita jika dia berada di sana," pungkas Pak Yudi dengan raut wajah yang sedih.

  Hari itupun Latifa dibawa ke kampung halaman orang tua Pak Yudi. Jarak Jakarta-Bogor sepertinya tidak akan menjadi penghalang untuk Pak Yudi dan Bu Dina menengok Latifa setiap dua minggu sekali ke kampung halaman nenek dan kakek Latifa, yang tempatnya benar-benar di pelosok kampung.

Sementara itu, seorang anak lelaki remaja yang baru lulus SMA, tengah bersiap untuk terbang ke Negara Paman Sam untuk melanjutkan study nya di sana.

"Kamu baik-baik di sana, belajar yang benar. Seminggu sekali papa dan mama akan hubungi kamu," ujar lelaki berusia sekitar 42 tahun itu mengantar anak lelaki pertamanya ke bandara.

"Dika pamit, ya, Pa, Ma. Dika janji, setelah Dika mendapatkan gelar S2, Dika akan pulang ke Indonesia."

"Dan jangan lupa, kamu harus siap-siap menjalankan amanah Kakekmu memimpin perusahaan cabang miliknya sepulang dari Paman Sam. Siapkan mentalmu dari sekarang supaya saat kembali nanti, kamu siap segalanya," peringat Pak Raka sang papa.

Tanpa menyahut lagi, Dika menyunggingkan senyum pada kedua orang tuanya, lalu melambaikan tangan dan membalikkan badan menuju bandara.

"*Aku juga pamit Tifa, maafkan aku yang telah menghancurkan masa depanmu*," batinnya penuh sesal seraya bergegas meninggalkan bandara Sekarno-Hatta.

Terpopuler

Comments

Noviyanti

Noviyanti

kasian sekali si latifa, semoga dapat keadilan ya

2024-06-12

1

Citra Merdeka

Citra Merdeka

mampir Thor

2024-06-11

2

Lina Zascia Amandia

Lina Zascia Amandia

😥😥😥😥😥

2024-06-06

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Malam Petaka
2 Bab 2 Diungsikan
3 Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4 Bab 4 Kembali ke Jakarta
5 Bab 5 Kekecewaan Pradika
6 Bab 6 Asal Mula
7 Bab 7 Bayang Masa Lalu
8 Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9 Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10 Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11 Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12 Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13 Bab 13 Bolu Keladi
14 Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15 Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16 Bab 16 Pengakuan Pradika
17 Bab 17 Tekad Pradika
18 Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19 Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20 Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21 Bab 21 Pernikahan
22 Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23 Bab 23 Kepergok Sihni
24 Bab 24 Hukuman Dika
25 Bab 25 Papa
26 Bab 26 Fakta Mencengangkan
27 Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28 BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29 Bab 29 Kembali ke Jakarta
30 Bab 30 Jebakan Sihni
31 Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32 Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33 Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34 Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35 Bab 35 Kalung Liontin
36 Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37 Bab 37 Provokasi Sihni
38 Bab 38 Arda Menculik Latifa
39 Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40 Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41 Bab 41 Bosku, Mertuaku
42 Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43 Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44 Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45 Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46 Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47 Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48 Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49 Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1 Malam Petaka
2
Bab 2 Diungsikan
3
Bab 3 Empat Tahun Kemudian
4
Bab 4 Kembali ke Jakarta
5
Bab 5 Kekecewaan Pradika
6
Bab 6 Asal Mula
7
Bab 7 Bayang Masa Lalu
8
Bab 8 Pertemuan Kembali dan Goresan Luka Lama
9
Bab 9 Memulai Hidup Baru dan Tinggal di Mess
10
Bab 10 Penemuan Baju dan Foto Anak Kecil
11
Bab 11 Permintaan Kakek Danial
12
Bab 12 Bocah Yang Mirip Dika
13
Bab 13 Bolu Keladi
14
Bab 14 Diam-diam Dika Menemui Gaza
15
Bab 15 Kedatangan Dika dan Nafas Buatan
16
Bab 16 Pengakuan Pradika
17
Bab 17 Tekad Pradika
18
Bab 18 Mendatangi Mess Lagi
19
Bab 19 Ajakan Menikah Demi Gaza
20
Bab 20 Latifa Masih Dilanda Bingung
21
Bab 21 Pernikahan
22
Bab 22 Akte Kelahiran Gaza
23
Bab 23 Kepergok Sihni
24
Bab 24 Hukuman Dika
25
Bab 25 Papa
26
Bab 26 Fakta Mencengangkan
27
Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika
28
BAB 28 Malam Yang Panjang Sampai Pagi
29
Bab 29 Kembali ke Jakarta
30
Bab 30 Jebakan Sihni
31
Bab 31 Bukti Rekaman CCTV
32
Bab 32 Dika Membawa Gaza Ke Jakarta
33
Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
34
Bab 34 Malam Yang Syahdu Dan Romantis
35
Bab 35 Kalung Liontin
36
Bab 36 Kunjungan Mendadak Bu Salina
37
Bab 37 Provokasi Sihni
38
Bab 38 Arda Menculik Latifa
39
Bab 39 Siapa Peneror Itu? (Sudah Revisi)
40
Bab 40 Interograsi Bu Salina (Sudah Revisi)
41
Bab 41 Bosku, Mertuaku
42
Bab 42 Dika Berterus Terang (Sudah Revisi)
43
Bab 43 Penerornya Terungkap (Sudah Revisi)
44
Bab 44 Pertengkaran Sengit Dika dan Kakek Danial (Sudah Revisi)
45
Bab 45 Kekecewaan Latifa (Sudah Revisi)
46
Bab 46 Kekecewaan Kakek Danial, Membatalkan Perjodohan (Sudah Reivisi)
47
Bab 47 Kemarahan Rangga (Sudah Revisi)
48
Bab 48 Pertemuan Kakek Danial dan Gaza (Sudah Revisi)
49
Bab 49 Kehamilan Latifa dan Permintaan Maaf Kakek Danial (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!