"Ppfftt!!" Alex menahan tawa melihat anak semata wayangnya terkejut hanya karena gadis SMP.
"Ma.. maaf" ucap gadis itu berusaha menarik roknya namun rok birunya susah ditarik karena diduduki oleh Aldo.
"Oh! Maaf" Aldo segera bangun dan duduk di sofa sebelahnya.
"Dia siapa pa?!, sumpah Aldo kaget!" Ucap Aldo yang masih tidak percaya.
"Dia putri ibu Atikah, dia yang akan melayani keperluan sekolah mu. Dan sebagai teman selama kami berkerja" terang Alex.
"Aldo bisa sendiri pa, Kenapa harus perempuan sih pa?" Aldo tidak terima.
"Kenapa kalau perempuan, dia gadis muslimah yang baik" ucap Jefri.
"Kalau Aldo apa-apa in gimana??" Ucap Aldo.
"Papa yakin kamu pria yang baik" ucap Alex yang kemudian beranjak.
"Tapi pa!.. papa!!" Teriak Aldo, namun Alex tidak menoleh lagi.
"Hais!! Papa apaan sih" geram Aldo.
Aldo sedikit tidak suka dengan penampilan gadis itu, bukan karena dia berhijab. Tapi karena seragamnya yang lusuh.
"Siapa nama lo!" Tanya Aldo ketus.
"Na..nadia kak" jawab Nadia gagap.
"Berapa duit yang harus gue keluarin buat lo!" Ketus Aldo.
"Maa.. maksud kakak apa?" Tanya Nadia.
"Lo pasti butuh duit kan!?, lo pasti godain papa gue!" Hardik Aldo.
"Maaf kak, aku bukan perempuan seperti itu. Aku hanya membantu emak" ucapnya membela diri.
"Lo pasti nyamar jadi anak alim kan buat papa gue jadi iba!" Ucap Aldo.
"Enggak!, sama sekali bukan seperti itu" Nadia pun berlari keluar dari rumah itu dengan langkah lebar.
"Hah! Ada-ada saja, mana ada cewek jaman sekarang baik-baik!" Gumam Aldo kesal.
"Loh, mana Nadia?" Tanya Alex
"Oh, simpanan muda papa? Udah pergi!" Ketus Aldo.
"Jangan kurang ajar kamu Aldo! Dia anak yatim. Dan keluarganya sedang susah papa cuma membantunya mendapatkan pekerjaan. Jangan berfikir negatif kamu!" Murka Alex.
"Terserah!" Aldo pun menuju kamarnya.
"Dasar anak bandel, selalu saja berfikir negatif!" Geram Alex
Ia segera mencari Nadia, karena sudah berjanji akan menjaga putri Atikah.
Atikah sendiri adalah asisten rumah tangga Alex sejak mereka mulai membangun rumah tangga, wanita itu sangat berbakti. namun karena sebuah fitnah dari satu teman art dirumah itu Atikah diusir tanpa mendapatkan gaji.
Saat itu pula ia tengah hamil Nadia, dan suami Atikah meninggal karena sakit keras.
Begitu berat perjuangan seorang Atikah. Ia juga sampai menjual semua tanahnya untuk kebutuhan hidupnya selama hamil dan melahirkan.
Sampai saat tinggal satu tanah sawah yang ia sayang i digadaikan kepada istri Alex saat itu.
Istri Alex,
Dia satu-satunya orang dari keluarga Alex yang masih membantu.
Atikah ingin mengambil sawah tersebut, namun sekarang ia harus menebus sawah itu kembali.
Alex mengetahui fitnah tersebut dari cctv, dan kembali berbaikan dengan Atikah, namun Atikah sudah tidak ingin bekerja padanya lagi.
***
"Itu anak SMP waktu itu kan juk!" Tunjuk Fahri pada gadis berseragam biru putih, yang menangis dibawah pohon bonsai di taman biasa the wolf ngamen.
"Iya ri, itu temen si.. siapa ya ? Lupa gue" jawab Atan menggaruk pelipis nya yang tidak gatal.
"Gue juga lupa, kita samperin??" Ajak Fahri.
"Oke, siapa tau dia tersesat" Atan mencoba berfikir positif.
"Hai.. lo ngapain dibawah situ? Lagi ngepet ya?" Fahri asal tebak.
"Ppfftt!!.. kok ngepet sih? Ada ada aja lo!" Atan menggeplak lengan Fahri.
Namun Nadia tidak ingin menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Jangan-jangan dia kesurupan ri! Cepetan panggil dukun beranak!" Ucap Atan ngasal.
"Mana ada orang kesurupan yang dipanggil dukun bayi! Ngaco lo!" Fahri membalas memukul lengan Atan.
"Aw! Sakit bang... Jangan sakiti daku..." Atan malah ngelawak.
"Ih, lo kaya bencong dipinggir sungai noh!" Ucap Fahri sambil menunjuk jembatan kecil diatas kolam ikan.
"Maaf, kalian pergi saja. Jangan menggangguku" ucap Nadia.
"Kita mau nolongin kok" ucap Fahri tulus.
"Terimakasih, tapi aku ga papa kak" balas gadis itu tanpa memandang wajah kedua pemuda tampan itu.
"Gimana dong, ntar ada satpam kesini. Dia bawa karung dan katanya mau ngangkut cewek SMP pake seragam sekolah" ucap Fahri lirih namun bisa didengar olehnya.
Ia sengaja bilang begitu agar dia mau beranjak, dan betapa terkejutnya Nadia dia seolah percaya dengan ucapan Fahri dan kelur dari semak.
"Kaka bilang apa barusan? Satpam bawa karung buat ngarungin aku??" Tanya Nadia. Penampilannya sangat berantakan saat ini, dia juga takut jika perkataan Fahri benar adanya.
"Emmm... Iya! Disebelah sana tapi. Mungkin sudah dapat mangsa" ucap Atan semakin menakut-nakuti Nadia.
"Aku harus sembunyi dimana? Aku takut jika akan dijual dipasar gelap!" Panik Nadia.
Atan dan Fahri benar-benar menahan tawanya agar tidak pecah. Keduanya berwajah merah karena tidak tahan lagi untuk mengerjainya.
"Ikut kita cepet, Kita sembunyi diwarung makan sana" ajak Atan sembari menunjukkan tempat yang dimaksud.
"Baiklah, terimakasih sudah menolongku kak" ucap Nadia.
"Tidak masalah, ayo" ucap Atan.
"Wah, rame banget ri. Ga bisa duduk deh" ucap Fahri setelah sampai didalam.
"Eh, mas Fahri.. naik aja mas. Diatas tidak banyak orang " ucap wanita pemilik warung.
"Iya mbak. Makasih " ucap Fahri yang kemudian sedikit berlari ke arah anak tangga disusul atan dan Nadia.
"Mbak, nasi Padang nya satu ya, jus jeruknya tiga" atan memesan sesuatu untuk mereka distand atas.
"Siap mas, ditunggu ya" ucap karyawan yang bekerja di situ.
"Kak, kok malah duduk disini?? Aku ga nyaman" ucap Nadia.
"Kamu makan dulu deh, biar ga gemetar kayak gitu" ucap Fahri.
"Nih, makanan sudah datang" sahut Atan dengan nampan berisikan satu piring nasi Padang penuh dengan lauk pauknya, beserta tiga jus jeruk.
"Kak! Banyak banget!?" Nadia terkejut.
"Gapapa, makanlah dengan santai. Aku traktir " ucap Atan.
"Te.. terimakasih" Nadia sangat bahagia bisa makan makanan enak selain sisa dari Santi.
Karena Santi selalu tidak menghabiskan makanannya dan Nadia lah yang menghabiskan.
Tentu saja karena titah pembully itu.
"Hai.. pelan-pelan saja, nanti tersedak" ucap Atan. Nadia memang makan seperti orang yang tidak makan berhari-hari.
"Jiwa kemanusiaan gue tersentuh ri" bisik Atan.
Fahri diam dan memikirkan perkataan sohibnya.
Dan dia manggut-manggut.
"Loh! Atan dan Fahri disini??" Sapa Alex yang baru saja masuk.
"Om Alex!" Seru Fahri dan Atan. Mereka terkejut karena hampir tidak pernah melihat papa Aldo itu keluar rumah seperti ini.
Nadia juga terkejut dan menoleh, benar saja. Itu Alex yang Nadia kenal.
"Nadia!!" Seru Alex.
"Om kenal sama cewek ini?" Tanya Atan.
Nadia tidak bisa berkata apapun, dia juga lari dari rumah Alex karena ulah putranya.
"Dia amanah dari sahabat om" ucap Alex.
"Oh.." kompak kedua pemuda itu ber-oh ria.
"Nak.. pulang ya? Om sudah siapkan semua keperluan kamu" ajak Alex dengan lembut kali ini.
Nadia berkaca-kaca, dia merasa bersalah karena sudah kabur tanpa tau arah jalan.
"Maaf om, Baiklah.. Nadia akan menurut" jawab Nadia.
"Anak baik" Alex mengusap puncak kepala gadis itu.
"Bukan calon istri Aldo kan Om??" Sela atan.
"Uhuk! Uhuk!! Uhuk!!" Nadia tersedak lantaran mendengar ucapan ngawur dari Atan.
Ketiga laki-laki itu menjulurkan minuman masing-masing yang memang belum diminum.
"Terimakasih" ucap Nadia. Namun ia meneguk gelasnya sendiri tanpa menggunakan sedotan.
"Lo sih, ngawur kalo ngomong. Kan Nadia jadi kaget" ucap Fahri.
"Ya kali aja" ucap Atan.
"Tidak Atan.. kita berbeda keyakinan" terang Alex
"Oh".. Atan kembali ber-oh ria.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments