Nadia 2

"Ppfftt!!" Alex menahan tawa melihat anak semata wayangnya terkejut hanya karena gadis SMP.

"Ma.. maaf" ucap gadis itu berusaha menarik roknya namun rok birunya susah ditarik karena diduduki oleh Aldo.

"Oh! Maaf" Aldo segera bangun dan duduk di sofa sebelahnya.

"Dia siapa pa?!, sumpah Aldo kaget!" Ucap Aldo yang masih tidak percaya.

"Dia putri ibu Atikah, dia yang akan melayani keperluan sekolah mu. Dan sebagai teman selama kami berkerja" terang Alex.

"Aldo bisa sendiri pa, Kenapa harus perempuan sih pa?" Aldo tidak terima.

"Kenapa kalau perempuan, dia gadis muslimah yang baik" ucap Jefri.

"Kalau Aldo apa-apa in gimana??" Ucap Aldo.

"Papa yakin kamu pria yang baik" ucap Alex yang kemudian beranjak.

"Tapi pa!.. papa!!" Teriak Aldo, namun Alex tidak menoleh lagi.

"Hais!! Papa apaan sih" geram Aldo.

Aldo sedikit tidak suka dengan penampilan gadis itu, bukan karena dia berhijab. Tapi karena seragamnya yang lusuh.

"Siapa nama lo!" Tanya Aldo ketus.

"Na..nadia kak" jawab Nadia gagap.

"Berapa duit yang harus gue keluarin buat lo!" Ketus Aldo.

"Maa.. maksud kakak apa?" Tanya Nadia.

"Lo pasti butuh duit kan!?, lo pasti godain papa gue!" Hardik Aldo.

"Maaf kak, aku bukan perempuan seperti itu. Aku hanya membantu emak" ucapnya membela diri.

"Lo pasti nyamar jadi anak alim kan buat papa gue jadi iba!" Ucap Aldo.

"Enggak!, sama sekali bukan seperti itu" Nadia pun berlari keluar dari rumah itu dengan langkah lebar.

"Hah! Ada-ada saja, mana ada cewek jaman sekarang baik-baik!" Gumam Aldo kesal.

"Loh, mana Nadia?" Tanya Alex

"Oh, simpanan muda papa? Udah pergi!" Ketus Aldo.

"Jangan kurang ajar kamu Aldo! Dia anak yatim. Dan keluarganya sedang susah papa cuma membantunya mendapatkan pekerjaan. Jangan berfikir negatif kamu!" Murka Alex.

"Terserah!" Aldo pun menuju kamarnya.

"Dasar anak bandel, selalu saja berfikir negatif!" Geram Alex

Ia segera mencari Nadia, karena sudah berjanji akan menjaga putri Atikah.

Atikah sendiri adalah asisten rumah tangga Alex sejak mereka mulai membangun rumah tangga, wanita itu sangat berbakti. namun karena sebuah fitnah dari satu teman art dirumah itu Atikah diusir tanpa mendapatkan gaji.

Saat itu pula ia tengah hamil Nadia, dan suami Atikah meninggal karena sakit keras.

Begitu berat perjuangan seorang Atikah. Ia juga sampai menjual semua tanahnya untuk kebutuhan hidupnya selama hamil dan melahirkan.

Sampai saat tinggal satu tanah sawah yang ia sayang i digadaikan kepada istri Alex saat itu.

Istri Alex,

Dia satu-satunya orang dari keluarga Alex yang masih membantu.

Atikah ingin mengambil sawah tersebut, namun sekarang ia harus menebus sawah itu kembali.

Alex mengetahui fitnah tersebut dari cctv, dan kembali berbaikan dengan Atikah, namun Atikah sudah tidak ingin bekerja padanya lagi.

***

"Itu anak SMP waktu itu kan juk!" Tunjuk Fahri pada gadis berseragam biru putih, yang menangis dibawah pohon bonsai di taman biasa the wolf ngamen.

"Iya ri, itu temen si.. siapa ya ? Lupa gue" jawab Atan menggaruk pelipis nya yang tidak gatal.

"Gue juga lupa, kita samperin??" Ajak Fahri.

"Oke, siapa tau dia tersesat" Atan mencoba berfikir positif.

"Hai.. lo ngapain dibawah situ? Lagi ngepet ya?" Fahri asal tebak.

"Ppfftt!!.. kok ngepet sih? Ada ada aja lo!" Atan menggeplak lengan Fahri.

Namun Nadia tidak ingin menjawab pertanyaan pemuda itu.

"Jangan-jangan dia kesurupan ri! Cepetan panggil dukun beranak!" Ucap Atan ngasal.

"Mana ada orang kesurupan yang dipanggil dukun bayi! Ngaco lo!" Fahri membalas memukul lengan Atan.

"Aw! Sakit bang... Jangan sakiti daku..." Atan malah ngelawak.

"Ih, lo kaya bencong dipinggir sungai noh!" Ucap Fahri sambil menunjuk jembatan kecil diatas kolam ikan.

"Maaf, kalian pergi saja. Jangan menggangguku" ucap Nadia.

"Kita mau nolongin kok" ucap Fahri tulus.

"Terimakasih, tapi aku ga papa kak" balas gadis itu tanpa memandang wajah kedua pemuda tampan itu.

"Gimana dong, ntar ada satpam kesini. Dia bawa karung dan katanya mau ngangkut cewek SMP pake seragam sekolah" ucap Fahri lirih namun bisa didengar olehnya.

Ia sengaja bilang begitu agar dia mau beranjak, dan betapa terkejutnya Nadia dia seolah percaya dengan ucapan Fahri dan kelur dari semak.

"Kaka bilang apa barusan? Satpam bawa karung buat ngarungin aku??" Tanya Nadia. Penampilannya sangat berantakan saat ini, dia juga takut jika perkataan Fahri benar adanya.

"Emmm... Iya! Disebelah sana tapi. Mungkin sudah dapat mangsa" ucap Atan semakin menakut-nakuti Nadia.

"Aku harus sembunyi dimana? Aku takut jika akan dijual dipasar gelap!" Panik Nadia.

Atan dan Fahri benar-benar menahan tawanya agar tidak pecah. Keduanya berwajah merah karena tidak tahan lagi untuk mengerjainya.

"Ikut kita cepet, Kita sembunyi diwarung makan sana" ajak Atan sembari menunjukkan tempat yang dimaksud.

"Baiklah, terimakasih sudah menolongku kak" ucap Nadia.

"Tidak masalah, ayo" ucap Atan.

"Wah, rame banget ri. Ga bisa duduk deh" ucap Fahri setelah sampai didalam.

"Eh, mas Fahri.. naik aja mas. Diatas tidak banyak orang " ucap wanita pemilik warung.

"Iya mbak. Makasih " ucap Fahri yang kemudian sedikit berlari ke arah anak tangga disusul atan dan Nadia.

"Mbak, nasi Padang nya satu ya, jus jeruknya tiga" atan memesan sesuatu untuk mereka distand atas.

"Siap mas, ditunggu ya" ucap karyawan yang bekerja di situ.

"Kak, kok malah duduk disini?? Aku ga nyaman" ucap Nadia.

"Kamu makan dulu deh, biar ga gemetar kayak gitu" ucap Fahri.

"Nih, makanan sudah datang" sahut Atan dengan nampan berisikan satu piring nasi Padang penuh dengan lauk pauknya, beserta tiga jus jeruk.

"Kak! Banyak banget!?" Nadia terkejut.

"Gapapa, makanlah dengan santai. Aku traktir " ucap Atan.

"Te.. terimakasih" Nadia sangat bahagia bisa makan makanan enak selain sisa dari Santi.

Karena Santi selalu tidak menghabiskan makanannya dan Nadia lah yang menghabiskan.

Tentu saja karena titah pembully itu.

"Hai.. pelan-pelan saja, nanti tersedak" ucap Atan. Nadia memang makan seperti orang yang tidak makan berhari-hari.

"Jiwa kemanusiaan gue tersentuh ri" bisik Atan.

Fahri diam dan memikirkan perkataan sohibnya.

Dan dia manggut-manggut.

"Loh! Atan dan Fahri disini??" Sapa Alex yang baru saja masuk.

"Om Alex!" Seru Fahri dan Atan. Mereka terkejut karena hampir tidak pernah melihat papa Aldo itu keluar rumah seperti ini.

Nadia juga terkejut dan menoleh, benar saja. Itu Alex yang Nadia kenal.

"Nadia!!" Seru Alex.

"Om kenal sama cewek ini?" Tanya Atan.

Nadia tidak bisa berkata apapun, dia juga lari dari rumah Alex karena ulah putranya.

"Dia amanah dari sahabat om" ucap Alex.

"Oh.." kompak kedua pemuda itu ber-oh ria.

"Nak.. pulang ya? Om sudah siapkan semua keperluan kamu" ajak Alex dengan lembut kali ini.

Nadia berkaca-kaca, dia merasa bersalah karena sudah kabur tanpa tau arah jalan.

"Maaf om, Baiklah.. Nadia akan menurut" jawab Nadia.

"Anak baik" Alex mengusap puncak kepala gadis itu.

"Bukan calon istri Aldo kan Om??" Sela atan.

"Uhuk! Uhuk!! Uhuk!!" Nadia tersedak lantaran mendengar ucapan ngawur dari Atan.

Ketiga laki-laki itu menjulurkan minuman masing-masing yang memang belum diminum.

"Terimakasih" ucap Nadia. Namun ia meneguk gelasnya sendiri tanpa menggunakan sedotan.

"Lo sih, ngawur kalo ngomong. Kan Nadia jadi kaget" ucap Fahri.

"Ya kali aja" ucap Atan.

"Tidak Atan.. kita berbeda keyakinan" terang Alex

"Oh".. Atan kembali ber-oh ria.

Bersambung...

Episodes
1 Tantangan
2 Balapan
3 Haikal cemburu
4 Janji Mama
5 Panas (18+ ga suka skip!)
6 Wolf Band
7 bukan suami istri
8 Demam
9 Ugal-ugalan
10 Backstreet
11 stalker
12 Rubah
13 pengakuan
14 pusat perhatian
15 jatuh
16 Intan
17 Ketua OSIS baru
18 Basket
19 Nadia
20 Nadia 2
21 Basket
22 basket II
23 menggoda
24 Dongeng
25 Balapan
26 gotong royong
27 ngantuk
28 Menempel
29 kondisi Atan
30 penghuni alam lain
31 pengganggu
32 kerjasama I
33 kerjasama II
34 kerjasama III
35 Nadia
36 penguntit
37 Berulah
38 saudara
39 Melly
40 Cabut Rumput
41 Adu jotos
42 grand opening cafe bintang
43 Berserakan
44 Ciuman
45 perjodohan
46 Rumor
47 Mantan
48 pingsan
49 Mangsa
50 Anggota Baru
51 party
52 battle
53 Koma
54 Si Ju-ki (TAMAT)
55 (season DUA) tempat tinggal baru
56 sakit kepala
57 Keluarga baru
58 Bima diganggu
59 Ulangan
60 sepedanya jadi dua
61 Sentuhan ajaib
62 Makan siang
63 Setitik ingatan
64 Kabur dari rumah
65 Belum siap nikah!
66 Nikah Sirri
67 Kebakaran!
68 Tamparan!
69 Kawin
70 Cemburu
71 Marahan tapi mau...
72 Dini hari
73 Balik
74 Cemburu Lagi
75 Ikut berkemah
76 Kerajaan Jin
77 sadar
78 Riuh kelas
79 Nadia Pingsan
80 Yunda Selingkuh
81 Pindah sekolah lagi
82 Dokter cantik
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Tantangan
2
Balapan
3
Haikal cemburu
4
Janji Mama
5
Panas (18+ ga suka skip!)
6
Wolf Band
7
bukan suami istri
8
Demam
9
Ugal-ugalan
10
Backstreet
11
stalker
12
Rubah
13
pengakuan
14
pusat perhatian
15
jatuh
16
Intan
17
Ketua OSIS baru
18
Basket
19
Nadia
20
Nadia 2
21
Basket
22
basket II
23
menggoda
24
Dongeng
25
Balapan
26
gotong royong
27
ngantuk
28
Menempel
29
kondisi Atan
30
penghuni alam lain
31
pengganggu
32
kerjasama I
33
kerjasama II
34
kerjasama III
35
Nadia
36
penguntit
37
Berulah
38
saudara
39
Melly
40
Cabut Rumput
41
Adu jotos
42
grand opening cafe bintang
43
Berserakan
44
Ciuman
45
perjodohan
46
Rumor
47
Mantan
48
pingsan
49
Mangsa
50
Anggota Baru
51
party
52
battle
53
Koma
54
Si Ju-ki (TAMAT)
55
(season DUA) tempat tinggal baru
56
sakit kepala
57
Keluarga baru
58
Bima diganggu
59
Ulangan
60
sepedanya jadi dua
61
Sentuhan ajaib
62
Makan siang
63
Setitik ingatan
64
Kabur dari rumah
65
Belum siap nikah!
66
Nikah Sirri
67
Kebakaran!
68
Tamparan!
69
Kawin
70
Cemburu
71
Marahan tapi mau...
72
Dini hari
73
Balik
74
Cemburu Lagi
75
Ikut berkemah
76
Kerajaan Jin
77
sadar
78
Riuh kelas
79
Nadia Pingsan
80
Yunda Selingkuh
81
Pindah sekolah lagi
82
Dokter cantik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!