Tring! Tring! Tring!
Tring! Tring! Tring!
Satu panggilan masuk dari nomor tak dikenal,
-[hallo om, assalamualaikum.Ini Fahri om]-
-[wa'alaikumsalam, Fahri. Ada apa?]-
-[maaf baru kasih kabar, kita lagi latihan kelompok Dirumah saya, saya berkali-kali telepon tapi om ga angkat, saya takut om marah sama Atan]-
-[oh gitu? Yakin kalian gak kelayapan?]-
-[sungguh om, om bisa cek kerumah]-
-[mana Atan!]-
-[ada om, mau bicara sama Atan??]-
-[ga usah, aku ijinkan dia menginap, tidurlah kalian sudah larut]-
-[iya om, terimakasih. Assalamualaikum]-
-[wa'alaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh]-
Ahmad menutup teleponnya, "haaaahh..." Ahmad menghela nafasnya.
'ntah setiap babak belur kamu melakukan kebaikan atau enggak, papa khawatir' batin mamad galau.
'tuh kan, Abang lebih dimanjain!' geram Haikal saat menguping pembicaraannya ditelepon.
Haikal yang ingin minta izin pergi study tour pun urung, dia berfikir tidak akan diberi uang saku.
***
"Kita ga bisa ngamen Kalo lo belum sembuh" ucap Fahri.
Atan mengeluh tidak bisa memainkan alat musik dengan benar.
"Tck, lo diem aja istirahat disini. Gue udah ijin sama pak Ahmad kok, bukan gue sih yang ngomong tapi umma" terang Fahri.
"Gue jadi ngrepotin kalian" Atan merasa sungkan. Merasa jadi beban juga.
"Ntar sore gue balik deh, ga biasanya papa kasih ijin dengan mudah" Atan sedikit curiga ia tidak dipedulikan lagi, pikirnya.
"Jangan berfikir begitu nak, kami senang Fahri ada teman dirumah. Karena Fahri anak tunggal, kalau bisa kamu tinggal disini saja jadi putra umma" sahut Salma. Wanita paruh baya yang dipanggil umma oleh Fahri.
"Eh, umma. Gitu ya umma, kayaknya Atan iri sama Fahri yang anak tunggal" ucap Atan.
"Loh, kenapa gitu nak?" Tanya Salma.
"Atan tidak dekat dengan adik-adik umma, hehe" balas Atan dengan sedikit terkekeh.
"Fahri saja pingin kayak kamu, punya saudara banyak" ucap Salma.
"Bertukar saja, biar tau gimana kehidupan masing-masing" sahut Anam Yilmaz pria paruh baya yang Fahri panggil Abah.
"Abah ikutan aja" fahri menimbrung.
"Umma mu kasian, pingin anak lagi sampai trauma. Sudah tiga kali calon adikmu meninggal sebelum lahir, mau adopsi juga ga mau" ucap Anam.
"Turut berduka umma, abah" ucap Atan.
"Istirahat lah kalian" ucap Anam pada kedua anak muda itu.
"Iya bah" jawab Fahri.
Akhirnya Atan tidak diizinkan pergi kesekolah oleh Abah Fahri, karena luka Atan lebih parah dari teman-temannya.
"Kling!" Satu notif muncul
Mira [Atan, kamu dimana? Kenapa hari ini ga masuk sekolah]
Atan [Kenapa?]
Mira [bisa kita ketemu? Aku kangen banget sama kamu]
Atan [maaf aku sibuk]
Mira [kenapa kamu jadi menghindar seperti ini setelah apa yang kita lakukan!]
Atan [kita?]
Mira [kamu kenapa sih honey?]
Mira terus mengirim pesan beruntun, namun Atan memilih mendiamkannya.
'besok harus ku akhiri hubungan busuk ini, sebelum semakin runyam' batin Atan geram.
Atan terlalu marah untuk masalah Mira kali ini, benar gak main-main, karena Mira akan menuduhnya suatu hari dengan adanya janin diperutnya.
Meskipun hubungannya dengan pria yang menghamilinya tidak diketahui.
Tetap saja Atan tidak akan sudi dibodohi lagi.
"Tok! Tok! Tok!"
"Masuk aja" titah Atan.
"Gue tidur bareng lo ya" pinta Fahri.
Atan reflek menyilangkan kedua tangannya di dada.
Fahri melempar bantal yang dibawanya tepat diwajah Atan.
"Lo Mikir apa sih juki!" Fahri bergidik.
"Lo yang apaan! Tiba-tiba ngajak tidur bareng" sahut Atan yang tadi otaknya traveling.
"Tck!"
"Gue butuh temen aja. Ntar gue tidur disofa kok" ucap Fahri.
"Ntar sakit punggung, sini aja. Masih luas kok" tawar Atan.
Kali ini Fahri yang menyilangkan kedua tangannya di dada.
Atan melempar bantal Fahri, namun berhasil ditangkap.
"Otak siapa sebenarnya yang traveling?" Ejek Atan.
"Eh, juki. Ketos udah lo putusin?" Tanya Fahri.
"Gue memang belum bilang putus, gue nunggu waktu yang tepat buat bongkar kebusukannya" terang Atan.
"Br3ngs3k banget tuh cewek, sumpah otaknya ga ada" umpat Fahri.
"Emang kenapa??" Atan sedikit penasaran.
"Dia suka sama gue katanya, nih chat dia banyak. Tapi gue cuekin" ucap Fahri sembari menunjukkan ponselnya.
"Rubah sialan!" Umpat Atan.
"Ati ati deh lo, kayaknya mau jebak lo juga ituh" Atan mewanti-wanti.
Kling!
Kling!
Satu pesan muncul, itu adalah Aldo. Dia mengirimkan video singkat nan panas terbaru dan paling hot digrup "the wolf".
"B@ngsaaat!!" Fahri dan Atan kompak mengumpati kiriman Aldo.
"Ini tadi loh!"
"ih, gue jijiq!"
"Sorry Tan, gue beneran ga sengaja taruhin lo buat cewek busuk itu. Kasian calon babynya" Fahri benar-benar jijik melihat adegan dewasa itu. Apalagi itu ketos yang pernah ia taksir.
"Gue menyesal dan jijik juga. Bingung gue!"
"Pas dia pingsan itu gue yang buat, lagian nantangin punyaku. Ya kubuat dia ga bisa jalan!" Ucap Atan kesal.
"Lo apain emang??" Tanya Fahri.
"Yakin lo mau denger??" Atan balik nanya untuk memastikan.
Fahri mengangguk dengan sedikit keraguan.
"Gue genjot sampai mampus ga bisa jalan"
"setiap dia ke UKS, itu ulah gue " terang Atan.
"Sadis juga lo, terus gue gimana nih. Kalo dia emang dicampakkan tapi dia masih minta tanggung jawab Dirga gimana? Hati kemanusiaan gue jadi meronta!" Iba Fahri.
"Tck!"
"Kalau dia korban, gue rela lo nolongin tuh cewek. Dia hiper xxx tau!. Gue ga se-psikopat Dia, ada aturannya. Ga main coblos" terang Atan.
"Hallah, elo buat dosa aja ada aturan segala!" Ledek Fahri.
"Eh, beneran. Gue ga semudah itu main coblos kalau dia ga mau. Dan gue selalu main cantik" elak Atan, ia ta terima jika setiap cewek dicoblos nya.
"Duh, gue jadi dapat pengetahuan yang un-faedah" keluh Fahri.
"Suatu saat lo bakalan ngerti sendiri kok, jangan bilang ini un-faedah, gue belum dapat hidayah untuk hidup kaya elo. Jujur aja gue emang cowok rusak, dan gue harap lo ga kayak gue" ucap Atan
"Thanks brother... Lo sahabat terbaik gue" ucap Fahri sembari menepuk bahu kanannya.
Jangan sampai Fahri salah tabok, yang ada luka Atan tak kunjung sembuh.
Mereka pun terus mendebatkan Mira, Atan pun berencana untuk menjebaknya juga.
*****
Fahri dan Aldo lah yang akan melancarkan aksinya, mereka akan pura-pura iba pada Mira.
Disitu atan akan bicara sama orang tuanya, butuh waktu lama menemukan orang tuanya. Dan ternyata rumah kedua orang tua Mira lumayan terpencil.
Rumahnya saja kurang layak untuk ditinggali, tapi Mira sangat modis disekolah.
Dia juga satu-satunya perempuan yang jarang orang tau asal-usul keluarganya.
SMA negeri 1 xyz memang tidak membedakan kaya miskin, asalkan dia berprestasi sekolah terbuka untuk mereka yang berkemampuan.
Mira yang dikenal baik semua orang, dan kedua orang tuanya sangat membanggakan anaknya itu ternyata tidak sebaik itu..
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments