Tidak sedikit penonton meminta foto bareng, bahkan para konten kreator dengan senang hati membantu mereka viral.
Ada satu orang bernama samaran Ega, bersedia mendokumentasikan setiap perform Atan and the geng. Karena dia anak baru dam membutuhkan konten-konten terbaru.
Dan floger lain memberikan sumbangan yang cukup banyak dari hasil rekam tersebut. Seseorang dengan senang hati mengirim uang, mulai dari dua puluh ribu sampai ratusan ribu Atan dan yang lain mengucap syukur dan berterima kasih.
Dari sudut lain mamad tidak sengaja melihat aksi Atan dan teman-temannya. Rahangnya mengeras, 'inikah yang kamu lakukan setelah menolak papa, kamu lebih memilih ngamen ditaman!' batin mamad geram. Ingin rasanya pria paruh baya itu menyeretnya pulang.
Jam menunjuk angka setengah sembilan.
Fahri menghitung banyak uang disana, "Alhamdulillah guys kita dapat banyak nih, sepuluh juta kurang dikit.. kita bagi dua ya. Ini ke panti asuhan, ini ke panti jompo" terang Fahri.
"Semuanya??" Tanya Aldo.
"Kenapa? Lo mau ambil jatah manggung?" Tanya Atan balik.
"Makan dong, kasih ria juga habis suaranya buat nyanyi" terang Aldo.
"Boleh juga, kita makan bakso gimana??" Ajak Fahri.
"Setuju!!" Serempak semuanya.
Diam-diam mamad membuntuti Atan dan yang lainnya. Setelah Atan mengantar Ria sampai depan gerbang saja.
Ketiga motor itu melaju ke tempat biasa mereka menyumbangkan uang hasil nyanyi.
Setelah hampir tigapuluh menit sampai disatu tempat bertuliskan "panti asuhan Nirmala"
'loh, ngapain mereka kesini??' batin mamad penasaran.
Ketiganya turun dari motor dan menyalami seorang ibu-ibu disana, dia ibu ika pengasuh ditempat itu.
Biasanya mereka mengamen hanya dapat dibawah dua juta, kali ini lebih dan ibu pengasuh itu sangat senang.
"Banyak banget nak, terimakasih atas bantuan kalian selama ini. Mau mampir dulu minum teh" tawar wanita itu.
"Terimakasih bu, kami pulang saja. Sudah mulai larut. Assalamualaikum" pamit Fahri dan yang lain. Kemudian mencium punggung tangan ika.
'ternyata sisi berandal anakku memiliki sifat yang mulia, papa bangga. Tapi papa kesal tidak tau selama ini, pasalnya kamu jika pulang malam selalu dengan wajah babak belur' batin mamad tiba-tiba melting.
Setelah dari panti, mereka bergerak lagi.dan Tentu saja mamad masih membuntuti karena penasaran, sekarang memakan waktu lebih dari setengah jam yakni empat puluh lima menit.
Mereka berhenti dipanti jompo pinggir kota, "RUMAH MULIA"
Mamad masih setia mengawasi dengan hati yang berbunga-bunga.
'Meskipun terkadang dia bandel, suka balapan, berantem, dan banyak lagi. Tapi masih ada sisi baiknya, kalau semua bisa sebaik ini papa ga akan marah sama kamu nak' batin mamad lagi-lagi tersentuh.
"Lo kalian datang, sudah lama ga kesini ya mari duduk dulu" ucap pak Darto pengurus tempat tersebut.
"Kita ga bisa lama-lama karena sudah malam pak, kami cuma memberikan sedikit rezeki untuk bapak dan yang lain. Diterima ya pak" ucap Atan.
"Banyak sekali nak, terimakasih atas kebaikan kalian" syukur pak Darto.
"Sama-sama pak, kita pamit pak assalamualaikum" pamit Fahri setelah mencium punggung tangan Darto.
'sudah beres belum sih, ngantuk juga buntutin Atan' Mamad sudah mengantuk, karena jam tidurnya sudah lewat. Karena biasanya Mamad akan bangun jam 2 dini hari untuk beribadah diseperempat malam.
"Kita pulang nih?" Tanya Aldo.
"Iya lah, mau kemana lagi. Uang sudah kita antar dengan selamat kali ini" ucap Fahri.
"Iya do, pulang aja. Papa gue pasti ngomelin gue lagi" keluh Atan.
'oh Fahri bilang uangnya selamat untuk hari ini, apa hari sebelumnya mereka kena rampok!' batin Ahmad menduga-duga.
"Oke, kita cabut!" Ajak Aldo kemudian.
Jarak pulang cukup jauh, hampir setengah jam masih di alun-alun. Padahal ketiganya Sudah berjalan cukup kencang.
Sampai disebuah jalan, 5 motor dengan 2 orang dimasing-masing motor menghadang Atan.
Atan and the geng berhenti dan membuka helmnya, "B@jingan!! Itu Edwin!" Umpat Aldo.
"Turun Lo!" Edwin menodongkan tongkat baseball kearah mereka bertiga.
Mau tidak mau mereka bertiga turun, mereka juga siap dengan knuckle ditangan kanan.
Fahri yang kurang mahir berkelahi akan langsung melumpuhkan lawannya dengan menyayat lengan dan kaki otomatis dia ga bisa melawan lagi. Sering juga Fahri melukai tangannya sendiri.
Knuckle Fahri sangat tajam diujung.
"Tuh kan, anak gua dihadang preman!" Gumam mamad yang menyaksikan langsung pertarungan itu.
"Uang kalian banyak kan abis ngamen!" Ucap Edwin.
Mereka tau jika kali ini Atan and the geng yang nyawer banyak. Mereka kehabisan uang setelah kalah main judi online.
"Pasti pulang babak belur karena dia dirampok" Batin mamad kembali resah.
"Mau bantu gimana ini?" Ahmad semakin gelisah.
Mereka main keroyokan, sepuluh lawan tiga bukan lawan yang seimbang.
Lawan Atan menyerang dengan membabi buta, diawal pertarungan, pundak kiri Atan kena pukul. Membuat mamad meringis seakan dia juga merasakan ngilunya.
Atan kembali menyerang dengan sisa tenaganya, karena tangan kiri tidak bisa bergerak bebas.
Satu persatu musuhnya tersungkur, Mamad menghela nafasnya lega. Pria paruh baya itu sudah tidak tau mau bantu apa, ponsel saja tidak bawa. Dia berencana untuk memanggil polisi.
Tinggal satu orang bernama Edwin itu yang tersisa, 4 diantaranya pingsan dan 5 lainnya meringis menahan sakit.
Atan jatuh berlutut dengan menyentuh lengannya kuat. Ngilunya terasa sangat luar biasa.
"Ataaan!!" Teriak Fahri dan Aldo.
"Aargh !!" Atan mengerang kesakitan.
"Kita ke klinik, sekarang!!" Ucap Fahri.
"Tunggu!, gue ga mungkin kalo ga pulang. Bisa dihajar gue" keluh Atan.
"Gue bantu bilang nanti, gue sendiri yang akan bilang" ucap Fahri lantang.
"Gue juga. Sekarang yang penting lo dapat penanganan segera!!" Sahut Aldo.
"Tapi..." Atan ragu.
"Udah jangan banyak mikir, gue bayarin juga pengobatan lo, ayo!" Papah Fahri.
"Gue bonceng!" Tawar Aldo.
"Gue bisa nyetir pakai tangan kanan kok" ucap Atan.
"Yakin??" Fahri kembali meyakinkan.
Atan mengangguk.
Mereka pun pergi meninggalkan Edwin sendirian dengan tubuhnya yang bergetar. Dia lagi-lagi kalah.
Mamad yang sedari tadi menyimak, terus mengikuti. Dan benar saja, mereka keklinik.
Mamad pun bergegas pulang, setidaknya Atan sudah mendapat perawatan.
'maaf, papa ga bisa bantu kamu' batin Mamad menyesal.
Ia pulang disambut wajah garang istrinya, karena tidak biasanya pria itu pulang sangat larut.
"Papa dari mana!? Mau kasih Atan peringatan tapi dirinya juga pulang larut?!" Tanya saras ketus.
"Ban motor papa bocor, dan apesnya lagi bengkelnya jauh. Papa lelah dorongnya ma.." keluh, resah manja gulana Mamad pada istrinya.
Saras berubah wajahnya menjadi iba, "oh iya kah?? Emang papa kemana malam-malam sampai jauh dari bengkel??"
"Rumah temen ma, lumayan jauh juga. Dipinggir kota perbatasan. Rumahnya terlalu plosok ma" dusta Mamad Dia terpaksa berbohong demi menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Ya sudah, papa istirahat saja. Kalau lapar didapur ada makanan, dan ini ada nomor ga dikenal telepon terus aku biarin. Lama-lama puyeng, baru aja mau telepon balik, liat papa pulang dengan lesu gak jadi telepon balik. Udah ah, mama ngantuk" celoteh saras panjang lebar.
Ahmad hanya mengangguk dan menerima ponselnya. Ia telepon kembali nomor itu, dua kali panggil belum dijawab. Membuat mamad khawatir.
"Pa! Atan belum pulang tuh! Pasti balapan lagi!" Adu saras dengan sedikit berteriak.
"Oh.." Jawab singkatnya singkat
'memang pernah sekali liat Atan balapan dikampung sebelah, ditegor bagaimana pun ga mempan. Dasar anak kurang ajar sama kayak bapaknya' Batin Mamad geli sendiri.
"Hehe" tiba-tiba Ahmad terkekeh sendiri mengingat kata batinya.
Ahmad sendiri tidak mau anak-anaknya menirukan masa mudanya, dan yang paling mencolok dan lebih parah adalah Atan. Adik-adiknya semua pendiam sampai saat ini, apalagi anak keduanya sangat cuek.
Tring.. tring... Tring..
Panggilan masuk tanpa nama.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments