Nadia

'astaga, ternyata dia berisik banget!' batin ketiganya.

"Kita cabut duluan, bye Santi" ucap Atan.

"Oh, sudah mau pergi?.. emm.. baiklah, dah" Santi melambaikan tangannya.

"Lo lihat, mereka memang kulkas tiga pintu. Gue suka banget sama Atan, meskipun terkenal playboy, ga masalah juga jadi yang keberapa pun, ga sabar pengen cepet-cepet masuk SMA negeri satu xyz" ucap santi dengan tingkah centilnya.

"Ii.. iya" Nadia gagap.

Semua mata memandang dengan banyak ekspresi, lebih banyak yang tidak berani karena ia anak seorang Bupati kota XYZ.

Dan sekolah SMP nyasaat ini pun milik ayahnya, Zainuddin.

Itulah yang membuatnya sombong dan berkuasa, dia juga pembully, tapi Atan and the geng belum mengetahuinya.

Dan Nadia yang tidak bersuara duduk dengan mereka tadi adalah korbannya.

Bisa dibilang mainan santi.

Nadia memang anak dari keluarga tidak mampu, dia masuk SMP itupun karena jalur prestasi.

Dia pandai menari tarian tradisional, dan sesekali ia mengikuti tren modern juga.

Nadia tidak terlalu memperlihatkan wajahnya, karena selain malu ia tidak suka diperhatikan.

Setiap latihan pun Nadia sering kena marah meskipun gerakannya sudah sangat bagus, hanya tidak mau melepaskan atau membenahi kerudungnya yang menghalangi wajah cantiknya.

Nadia bisa saja melaporkan kelakuan Santi, tapi karena Santi anak pemilik sekolahan. Ia selalu mengancam akan dikeluarkan jika tidak menuruti perkataan Santi.

Santi sendiri anak pemandu sorak, dan juga penari modern alias dancer.

"Bawain tas gue!" Ketus Santi.

Nadia hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauannya.

Santi juga sudah memberikan sembako yang kurang layak pada keluarga Nadia.

Tapi bagi keluarga Nadia itu sudah sangat istimewa.

"Besok lo harus datang lebih pagi dan gantiin gue piket kelas" ucap Santi ala bos besar.

"Plek!" Santi melempar buku tugasnya kearah Nadia.

"Jangan lupa pr gue kerjain juga!" Sambung Santi bersendekap dada.

"Ba..baik" jawab Nadia.

***

Sebelum pulang ke rumah Nadia selalu mampir dulu dimusola yang tak jauh dari gubuknya.

Dia mandi disana setelah membersihkan mushola yang hampir jarang dipakai.

Ia juga tak pernah lupa untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.

'ya Allah, kapan penderitaan ini akan berakhir. Aku bahkan tidak bisa mengadu ke siapapun kecuali kepada mu ya Allah' Nadia mengangkat kedua tangannya dan berdoa dalam hati, tiap ia berdoa air matanya selalu lolos begitu saja melewati pipi mulusnya.

Sudah dua tahun ini Nadia menjadi budak Santi, ia ingin segera lulus dan sekolah SMA ditempat lain yang jauh dari Santi.

Tinggal setengah semester saja, dia harus bertahan dan lulus dengan nilai yang baik.

"Assalamualaikum mak" ucap Nadia setelah tiba dirumah.

"Wa'alaikumsalam warrohmatullah, anak emak sudah pulang.." sambut seorang wanita paruh baya.

"capek nak?" Tanya Mak Atikah. Mamak Nadia.

"Sedikit mak, soalnya tadi latihan jamnya ditambah in" ucap Nadia.

"Ya sudah istirahat lah.." ucap Atik lembut dan mencium kening putrinya.

'tadi santi bicara sama the wolf dengan begitu berani nya, aku sama sekali tidak bisa menatap wajah mereka dengan benar' batin Nadia.

Gadis itu bergegas mengerjakan tugasnya dan tugas milik santi.

Nadia sampai tertidur diranjang dengan posisi tengkurap beralaskan bantal buku.

"Aduh nak, betulin dulu posisi tidurnya. Nanti badannya sakit semua" Atik membenarkan posisi tidurnya.

"Maaf mak, Dia ngantuk berat" ucap Nadia.

"Ada seseorang mau bantu kamu dapat beasiswa penuh di SMA negeri satu xyz" ucap Atikah.

Beberapa saat Nadia masih loading, dan Atik mengira ia setuju saja.

Namun detik berikutnya ia terkejut. "Apa!!, SMA Negeri satu XYZ?"

"Kirain Mak, kamu setuju... Bikin kaget saja" ucap Atik.

"Mak, aku gak mau sekolah disana. Di SMA lain boleh deh" keluh Nadia.

"Ini satu-satunya cara untuk menebus sawah almarhum bapak nak, Kamu yang harus kerja disana jadi pembantu anaknya yang sekolah di sana" terang Atik, ia sebenarnya berat.

Namun warisan almarhum suaminya harus kembali, dan hanya itu saja yang mereka punya untuk bertahan hidup seterusnya.

Atik berusaha untuk menggantikan peran putrinya tapi tidak bisa.

"Kak Tyo gak pernah kasih mak uang lagi?" Tanya Nadia.

"Cukup untuk makan kita, sekolah kamu gimana? Mak juga gak pingin kamu sampai putus sekolah" ucap Atik.

"Kan aku dapet beasiswa mak, mak ga perlu mikir biaya sekolah" ucap Nadia menenangkan ibunya.

"Kan ada kebutuhan lain nak, mak kadang ga sanggup juga. Mak minta maaf ya buka kepingin emak juga keadaan kita seperti ini" ucap Atik pada putrinya.

"Aduh, emak. Jangan mikir apa-apa, mak pikirkan saja kesehatan emak. Ya" ucap Nadia berlapang dada.

"Terimakasih nak, kamu sama tyo sangat pengertian sama emak" ucap atik sembari memeluk putri kecilnya.

"Iya mak, mak jangan mikir yang berat berat ya. Nadia dan kak Tyo janji sama emak buat bahagia in emak" ucap Nadia.

"Mak doain Nadia ya" sambungnya.

"Tentu saja. Emak selalu berdoa untuk kebaikan kalian berdua" jawab Atik.

"Nadia istirahat ya mak. Besok Nadia ada piket, ga boleh telat"

"Iya Nadia, selamat tidur sayang. Assalamualaikum" ucap Atik sembari mencium kening putrinya.

"Wa'alaikumsalam emak" jawab Atik dan membalas mencium pipi emaknya.

***

"Guys kapan nih kita ngamen lagi?" Ujar Fahri.

"Terserah sih aku gak ada kegiatan" ucap Aldo.

"Gue punya ide, tapi butuh bantuan kalian" sahut Atan yang sedari tadi nyebat tapi ngelamun.

"Akhirnya lo ngomong, kirain lo pingsan berdiri" ucap Aldo.

"Gue pingin buat cafetaria, terus kita bisa ngamen Disana. Dan ga perlu keliling kayak kemarin kemarin" terang Atan.

"Modalnya gede lo juk" ucap Fahri.

"Ya kecil-kecilan dulu, gue ada sekian ratus juta hasil balapan dan jual motor hadiah" ucap Atan.

"Waw, fantastis!! Gimana ri? Gue setuju Atan punya usaha, Gue bersedia banget bantu" ucap Aldo antusias.

"Kita baru saja SMA, yakin bisa?" Ucap Fahri ragu.

"Lo kan yang paling jenius diantara kita, masa lo ga ada saran gitu?" Ucap Aldo.

"Jadi lo ngakuin nih kalo elo bego?" Ucap Fahri.

"Pantat lo dua!! Enggak lah. Gak gitu juga" jengkel Aldo.

"Gimana?" Sahut Atan kemudian.

Keduanya nampak berfikir, bagaimana cara mengolah uang sebesar tiga ratus juta itu cukup.

"Menurut gue ... Kita ga perlu sampai beli tanah dan membangun sebuah bangunan baru, kita cari bangunan kosong yang murah tapi strategis. Jadi,kita cukup renovasi saja, kita bisa buat lowongan untuk part time anak sekolahan. Gimana ide gue??" Terang Atan panjang lebar.

"Ini beneran Fathan Antonio kan??" Ucap Fahri.

"Gue kenapa?" Atan heran.

"Kayak bukan elo tau gak, tiba-tiba punya hati nurani" ucap Fahri.

"Seharusnya lo seneng, mungkin saja Juki dapat hidayah" ucap Aldo.

"Bwahahaha.." ketiganya pun tertawa lepas.

Setelah deal dapat ide, mereka pulang kerumah masing-masing dan Aldolah yang kesepian.

Dirumahnya selalu ada pembantu dan tukang kebun.

"Aku pulang..." Ucap Aldo setibanya di rumah.

"Aldo.. sudah pulang? Sini boy!" Ucap Alex papa Aldo.

"Papa..."

"Papa kapan pulang?" Tanya Aldo dan langsung duduk disofa tanpa memperdulikan gadis disebelahnya.

"Bagus.. kamu sudah akrab sama dia?" Ucap Alex tersenyum puas.

"Ha??" Aldo bingung, gadis siapa? Pikirnya.

"Itu ada cewek disamping kamu.. masa ga tau sih? Kelewatan kamu do!" Ucap Alex

Aldo pun menoleh ke sebelahnya, dia terkejut bukan main. "Astaga Jesus!!"

Bersambung..

Episodes
1 Tantangan
2 Balapan
3 Haikal cemburu
4 Janji Mama
5 Panas (18+ ga suka skip!)
6 Wolf Band
7 bukan suami istri
8 Demam
9 Ugal-ugalan
10 Backstreet
11 stalker
12 Rubah
13 pengakuan
14 pusat perhatian
15 jatuh
16 Intan
17 Ketua OSIS baru
18 Basket
19 Nadia
20 Nadia 2
21 Basket
22 basket II
23 menggoda
24 Dongeng
25 Balapan
26 gotong royong
27 ngantuk
28 Menempel
29 kondisi Atan
30 penghuni alam lain
31 pengganggu
32 kerjasama I
33 kerjasama II
34 kerjasama III
35 Nadia
36 penguntit
37 Berulah
38 saudara
39 Melly
40 Cabut Rumput
41 Adu jotos
42 grand opening cafe bintang
43 Berserakan
44 Ciuman
45 perjodohan
46 Rumor
47 Mantan
48 pingsan
49 Mangsa
50 Anggota Baru
51 party
52 battle
53 Koma
54 Si Ju-ki (TAMAT)
55 (season DUA) tempat tinggal baru
56 sakit kepala
57 Keluarga baru
58 Bima diganggu
59 Ulangan
60 sepedanya jadi dua
61 Sentuhan ajaib
62 Makan siang
63 Setitik ingatan
64 Kabur dari rumah
65 Belum siap nikah!
66 Nikah Sirri
67 Kebakaran!
68 Tamparan!
69 Kawin
70 Cemburu
71 Marahan tapi mau...
72 Dini hari
73 Balik
74 Cemburu Lagi
75 Ikut berkemah
76 Kerajaan Jin
77 sadar
78 Riuh kelas
79 Nadia Pingsan
80 Yunda Selingkuh
81 Pindah sekolah lagi
82 Dokter cantik
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Tantangan
2
Balapan
3
Haikal cemburu
4
Janji Mama
5
Panas (18+ ga suka skip!)
6
Wolf Band
7
bukan suami istri
8
Demam
9
Ugal-ugalan
10
Backstreet
11
stalker
12
Rubah
13
pengakuan
14
pusat perhatian
15
jatuh
16
Intan
17
Ketua OSIS baru
18
Basket
19
Nadia
20
Nadia 2
21
Basket
22
basket II
23
menggoda
24
Dongeng
25
Balapan
26
gotong royong
27
ngantuk
28
Menempel
29
kondisi Atan
30
penghuni alam lain
31
pengganggu
32
kerjasama I
33
kerjasama II
34
kerjasama III
35
Nadia
36
penguntit
37
Berulah
38
saudara
39
Melly
40
Cabut Rumput
41
Adu jotos
42
grand opening cafe bintang
43
Berserakan
44
Ciuman
45
perjodohan
46
Rumor
47
Mantan
48
pingsan
49
Mangsa
50
Anggota Baru
51
party
52
battle
53
Koma
54
Si Ju-ki (TAMAT)
55
(season DUA) tempat tinggal baru
56
sakit kepala
57
Keluarga baru
58
Bima diganggu
59
Ulangan
60
sepedanya jadi dua
61
Sentuhan ajaib
62
Makan siang
63
Setitik ingatan
64
Kabur dari rumah
65
Belum siap nikah!
66
Nikah Sirri
67
Kebakaran!
68
Tamparan!
69
Kawin
70
Cemburu
71
Marahan tapi mau...
72
Dini hari
73
Balik
74
Cemburu Lagi
75
Ikut berkemah
76
Kerajaan Jin
77
sadar
78
Riuh kelas
79
Nadia Pingsan
80
Yunda Selingkuh
81
Pindah sekolah lagi
82
Dokter cantik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!