°°°
Messenger
Atan [Hai kak Mira, Assalamualaikum ❤️]
Mira [Hallo Atan, wa'alaikumsalam, kok belum tidur?]
Atan [Lagi mikirin Kakak]
Mira [Kenapa mikirin aku? Bukannya mikirin pacar kamu]
Atan [aku ga punya pacar kok kak, atau Kakak yang sudah punya pacar?]
Mira [Ada sih, anak SMK sebelah]
Atan [Yah.. ga bisa terus chattingan dong]
Mira [kenapa ga bisa?]
Atan [Nanti pacar kak Mira bisa marah]
Atan [Padahal, aku pingin daftar buat jadi calon pacar kak Mira🥺]
Atan memelas dengan mengirim emoticon menangis tertahan.
Mira [Oh, ya? Kamu suka sama aku?]
Atan [Pada pandangan pertama]
Mira [Aku bisa nerima kamu jadi yang kedua]
Atan [Gapapa, meskipun jadi yang kedua. Aku pasti diutamakan 🥰]
Mira [Tergantung sikap kamu]
Atan [Benar ya?, kalau begitu datang ke sekolah lebih pagi, aku ada kejutan buat Kakak]
Mira [Ok]
°°°
Atan menghitung hasil balapan tadi sore, Aldo dan Fahri tidak menginginkan pembagian hasil balapan, karena dia juga punya taruhannya sendiri. Dan uangnya bahkan lebih besar.
'Sepuluh jutanya gue umpetin deh, sembilan juta lapan ratus simpen sini,' batin Atan, lalu memasukkannya ke dalam saku.
'Ha? Semudah itu?' batin Atan tidak percaya.
"Ya Allah.. ya Tuhanku.. Kenapa hidup ini begitu mudah, jika ini jalan takdirku, teruskan lah. Aamiin," ucap Atan dengan tangan menengadah.
"Doa macam apa itu?" ucap Sara, tiba-tiba masuk ke kamar Atan yang tidak terkunci, mengantarkan baju bersih sudah dilipat rapi di keranjang.
"Mama bikin kaget aja," ucap Atan yang masih dengan wajah terkejutnya.
"Sekolah saja yang bener, jangan main terus. Mama tau kamu balapan di kampung sebelah," ucap Sara, sambil menata baju ke dalam lemari.
"Atan main ke warung Padang kok," elak Atan.
"Ini bukan kamu?" Sara menunjukkan video Atan sore tadi.
"Mama dapat dari mana video ini," ucap Atan penasaran.
"Mama abis ada pelanggan di kampung itu, ga sengaja liat kamu balapan dan menang," jelas Sara.
"Mau apa Mama sama video itu?" tanya Atan.
"Mau kasih tau Papa, biar kamu ga ikutan balapan lagi," ancam Sara.
"Jangan Ma, Mama mau apa? Atan beliin." rayu Atan.
"Mama sih mau shopping, Tan." ucap Sara spontan.
"Haaahh..." Atan menghela nafas.
Atan menghitung uang disaku kiri yang sudah berkurang jumlahnya karena mentraktir Aldo dan Fahri.
Belum selesai Atan menghitung, sudah disambar Mamanya, dan berkata "Buat Mama aja semua."
"Jangan Ma, sisain buat aku nongkrong dong," ucap Atan memelas.
"Kalau gitu, Mama aduin ke Papa." ancam Sara.
"Iya deh, buat Mama.."
"Hapus dulu video tadi, lagian kalau Mama lapor sama Papa, nanti Atan menang lagi, Mama ga dapat uang dari Atan. Atan mau berbagi dengan Mama, asal jangan aduin ke Papa" rayu Atan pada sang Mama.
"Bener juga, Mama jadi dilema," ucap Sara.
"Kenapa dilema?" ucap Atan dengan menaikkan kedua alisnya.
"Sebagai Ibu, tentu saja Mama khawatir kamu kenapa-kenapa," ucap Sara, ada sedikit rasa khawatir.
"Atan janji akan baik-baik saja, dan menang untuk Mama. Do'a kan Atan selalu menang dan selamat saat balapan," ucap Atan menenangkan hati Sara.
"Bener ya. Nih kamu pegang sisanya aja. Terimakasih anak Mama. Mama do'akan kamu selalu menang dan selamat" ucap Sara dan mencubit pipi putranya, kemudian berlalu.
"Aamiin."
"Sisa apaan? Ini cuma lapan ratus ribu!" gumam Atan memandang uang kertas merah berjejer di ranjangnya.
"Mama kalau sama uang cepet banget, kayaknya gue nurun ke Mama deh. Astaga! Kesal sekali!"
"Aagghh!!!" teriak Atan tertahan.
Atan pun merebahkan tubuhnya yang lelah, dia juga memikirkan kejutan apa yang bagus untuk menembak Mira besok.
''Bunga mawar dan boneka kayaknya bagus,'' gumam Atan.
"Untung yang sepuluh juta gue umpetin, kalau enggak. Bisa diambil semua` batin Atan menangis.
Mama Atan memang doyan sekali belanja baju gamis, tas, sepatu, dan lain sebagainya.
Keluarga Antonio memanjakan keluarganya dengan uang, semua kebutuhan selalu tercukupi. Namun Sara selalu kurang dengan uang bulanannya, Sara bukan cuma pandai menghabiskan uang saja. Dia juga rajin ikut arisan dan investasi.
Semua itu untuk dirinya sendiri, tapi juga dengan putra-putrinya jika dibutuhkan, Sara bukan ibu-ibu sosialita yang menganggur, dia punya butik sendiri, dan juga sebagai tukang pijat panggilan.
Namun, kecintaannya terhadap shopping sangat tinggi, itulah mengapa dia juga bekerja. Meskipun suaminya memberikan lebih dari cukup, wanita satu ini tetap menghasilkan uang dengan usahanya sendiri, tentu dengan izin suaminya.
Sara, tergolong ibu paling muda di desa ini, meskipun anaknya sudah lima dan anak pertama sudah menginjak SMA. Sara tak terlihat setua itu, dirinya rajin merawat diri, pandai meracik ramuan jamu herbal untuk menjaga tubuhnya tetap singset. Tidak sedikit pemuda di kompleksnya menaruh hati pada istri Mamad, bahkan ke tiga adik pria itu juga diam-diam memperlihatkan.
Mamad sendiri adalah anak pertama dari lima bersaudara, empat laki-laki dan satu perempuan.
Padahal mereka juga sudah berkeluarga dan memiliki anak, tapi tak dipungkiri jika mereka masih bisa mendua di luaran sana.
Dimeja makan
"Ingat Atan, jangan bandel. Kamu sudah SMA sekarang, dan jadilah contoh yang baik buat adik-adik kamu," ucap Mamad memberikan nasihat, sebelum berangkat menuju sekolah.
"Iya Pa.." jawab Atan singkat.
"Ayo kita berangkat, Haikal dan Bagas. Papa berangkat dulu ya Ma, assalamualaikum," pamit Mamad.
"Iya wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan," jawab Sara sembari mencium punggung tangan suaminya.
Begitu pula Haikal dan Bagas pada Mamanya.
"Kamu ga berangkat Atan?" tanya Sara pada putranya yang masih bengong memandang piring yang sudah kosong.
"Atan malas Ma ke sekolah. Badan Atan sakit semua, tapi ga bisa kalau ga ke sekolah," jawab Atan dengan pandangan yang sama tanpa berkedip.
"Mau Mama pijit dulu? Masih ada waktu lima belas menit.. lumayan, kan." saran Sara.
"Nanti saja Ma, Atan berangkat dulu ya. Assalamualaikum Mama," Atan menolak permintaan Sara untuk memijat tubuhnya kemudian berpamitan.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut!" teriak Sara setelah Atan mulai memacu motornya.
Atan malas jika akan jadi bahan gunjingan sahabat dan semua orang jika ia ke sekolah dengan wajah luka dan lengannya penuh lebam, bekas Papanya pukul semalam.
Berkelahi atau tidak, tampilan Atan yang kadang selalu berantakan juga karena Papanya.
Meski sudah begitu ia tidak punya rasa jera sama sekali.
Ddrrtt!!!
Ponsel Atan bergetar tiada henti. Atan berhenti sejenak memastikan siapa yang mengganggu itu.
"Siapa sih, rese banget!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
💫0m@~ga0eL🔱
🌹🌹biar gak galau/Facepalm/
2024-11-22
1
💫0m@~ga0eL🔱
aku bukan siapa-siapa /Facepalm/
2024-11-22
1
Ejaa 💤
ish, sara mata duitan, kek aku 😆
2025-03-25
0