𝘔𝘢𝘪𝘯 𝘨𝘢𝘮𝘦 𝘻𝘰𝘮𝘣𝘪𝘦 𝘥𝘶𝘭𝘶°°°
"Kirain belum pada datang, ternyata lebih ramai dari biasanya," ucap Aldo sampai di lokasi bersama Fahri dan juga Atan.
"Lo ada ikut taruhan Ri?" tanya Atan.
Fahri hanya tersenyum smirk dan mengangkat sebelah alisnya.
"Lo harus menang, Tan. Fahri taruhan banyak tadi," sahut Aldo.
"Tenang aja.. itu sudah jelas dan pasti," ucap Atan penuh percaya diri.
"Hoi anj_ing!, malah ngerumpi lo kaya mak emak komplek! Jangan harap lo bisa menang kali ini," sarkas Edwin. Musuh bebuyutan Atan.
"Anj_ing teriak anj_ing!!" jawab Atan santai.
"Breng_sek!" umpat Edwin lalu menutup helmnya.
Wasit sudah menginstruksikan untuk segera mengisi posisi masing-masing. Belum dimulai saja penonton perempuan heboh sendiri.
"Ataaan!!, lo pasti menang!"
"Edwin!!! Ayoo!"
"Atan ganteng, kalau menang paha gue buat lo!"
"Edwin, harus menang.. dada adek menunggu!"
Banyak lagi penyemangat abstrak dari mulut cewek-cewek yang mengenakan pakaian kurang bahan untuk menarik perhatian kumbang jantan.
"Tiga!"
"Dua!"
"Satuu!"
"GOOOO!!"
Empat pembalap sudah tancap gas, sorak sorai penonton bergemuruh, apalagi cewek-ceweknya paling heboh. Ke empatnya beradu kecepatan, dan tidak ada yang mau mengalah.
Balapan liar ini sangat meresahkan, lantaran dilakukan di jalan pedesaan pinggir kota dengan hamparan sawah di kanan dan kirinya.
Para petani sering merugi saat tanaman mereka rusak akibat tertimpa motor saat gagal mengendalikan kuda besi mereka, dan berakhir terjun ke dalam sawah.
Bahkan mereka yang nakal tidak segan-segan merusak tanaman padi dan sayuran siap panen.
Meski sering dibubarkan RT setempat, tidak mengurungkan niat para anak muda untuk tetap balapan.
Sore itu, ke empat pembalap masih Keukeh memacu kecepatan motor masing-masing, dengan Atan yang mengendarai motor sport milik Fahri.
Jalan di sini cukup panjang. Namun, cukup satu putaran untuk menentukan jarak. Siapa yang sampai finish duluan dialah pemenangnya. Tempat finishnya adalah start awal.
Saat terlihat garis finish Atan memimpin, di belakang Atan ada Edwin. Tangan Edwin menggenggam erat stang motornya karena kalah satu langkah, terbesit pikiran kotor untuk berbuat curang dengan menyenggol motor Atan. Tapi, Edwin selalu kehilangan momennya.
Dua pembalap lain melihat Edwin akan main curang itu menatap tidak suka. Edwin juga sempat oleng berapa saat, karena ingin berlaku curang, padahal tinggal sedikit lagi Edwin bisa mendahului. Karena mempertahankan keseimbangan agar tidak jatuh dia mengurungkan niatnya.
Dua pembalap lain bernafas lega.
Mereka malas jika harus berkelahi sore ini, karena keduanya ada kencan dengan pacar masing-masing.
"Atan lah pemenangnya!" seru seseorang yang memimpin balapan tersebut.
"Woohooo!"
"Atan keren banget"
"Ataaan, aku padamu!"
Teriak penonton perempuan histeris saat Atan menjadi pemenangnya. Meskipun hari-hari yang lalu Atan selalu menang, Edwin selalu kalah dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri.
"Bang_saaat!!" teriak Edwin setelah membuka helmnya. Ia masih tidak percaya dirinya telah dikalahkan untuk kesekian kalinya.
"Gue kalah lagi!" geram Edwin.
"Sabar bro, gue ada rencana besok. Buat dia ngejar lo di jalan raya," ucap sahabat Edwin.
"Kayaknya tu bocah bakalan nangkap gue, lo ga lihat dia makin jago narik gas," ucap Edwin
"Provokasi seperti biasa, bukannya lo suka dia cidera? Kan bagus kalau dia sampai kecelakaan dan ga bisa ikut balapan lagi, satu musuh bisa berkurang satu," ucap sahabat Edwin terus menghasut, ibarat ia terus menyiraminya dengan bensin.
"Oke, siapa takut!" Edwin setuju.
Edwin pun setuju, hasutan sang sahabat berhasil membuatnya semakin terbakar api amarah, kedua pemuda itu menatap kemenangan Atan untuk kesekian kalinya.
"Gapapa sayang, meskipun kamu kalah balapan. Tapi kamu pemenang di hati aku," goda pacar Edwin.
"Makasih sayang," ucap Edwin dengan mencium bibir pacarnya sekilas, tanpa ada rasa malu di wajah keduanya.
Padahal banyak pasang mata yang belum pergi dari sana, namun hal seperti itu sudah menjadi pemandangan biasa. Entah itu wanita yang keberapa, meskipun kalah balapan tidak sedikit fans Edwin karena mengidolakan wajahnya lumayan oke.
Atan di seberang juga sedang menikmati kemenangannya dengan dua pemenang lainnya.
Taruhannya uang 10 juta, lumayan banyak untuk anak sekolahan yang berada di pinggir kota.
"Si Edwin dongkol banget Tan, lihat tuh," sahut salah satu penggemar Atan.
"Iya Tan, kalah aja dapat cipok sama dada apalagi kalau menang," sahut penggemar Atan yang lain.
"Kalau menang, ya ke villa dong!" sahut Aldo memperagakan gerakan menunggangi kuda. Gelak tawa di kerumunan itu pun pecah, Edwin tidak ingin berlama-lama di sana beranjak pergi.
"Hoi kalian!!"
"Mau tawuran lagi hah," teriak Pak RT setempat. Sambil mengacung-acungkan samurai.
"Lah, siapa yang lapor pak RT nih, buruan cabut!" Aldo panik dan bergegas menaiki motornya.
Semua orang berhamburan melarikan diri, Pak RT itu terkenal sangat galak.
"Dasar, anak muda jaman sekarang, kalo ga lagi balapan, ya tawuran. Mau jadi apa mereka seperti itu terus!" Pak RT terus menggerutu sepanjang jalan, tanaman jagung yang hampir panen sebagian hilang.
Meskipun tidak terlalu jauh dari pemukiman, para petani sudah geram jika tanaman mereka ada yang gagal panen, apalagi yang dekat dengan jalan beraspal, banyak tanaman hilang.
Sebelumnya belum di aspal masih berup tanah, tetapi sudah ramai kebut balap, dan semenjak jalan kecil itu di aspal, makin banyak remaja beradu cepat dengan kuda besi mereka masing-masing. Mereka melakukannya tiap sore, kadang malam hari dengan bantuan lighting.
Biasanya, Atan dan yang lain balapan menggunakan motor modifikasi dengan suara kenalpot yang sangat nyaring. Tanpa helm atau pengaman lain, tergantung siapa lawan dan motor apa yang di buat balapan.
"Do, Ri!"
"Mampir di warung dulu!" teriak Atan. Mereka bertiga berhenti di rumah makan Padang.
"Ayo makan dulu sebelum pulang, gue traktir," ucap Atan dan menaikan satu alisnya.
"Mantap pak bos. Dapet duit balapan, dapet pula motor Fahri," ucap Aldo.
"Masih belum, gue belum pacaran sama ketos," jawab Atan.
"Hallah!, gue yakin lo ga lama lagi pacaran sama ketos, ya gak Ri." ucap Aldo dan di angguki oleh Fahri.
"Kalian positif sekali."
"Tapi gak salah sih, ga ada yang bisa menolak pesona gue yang ganteng ini," ucap Atan narsis, percaya dirinya meluap-luap.
"Hoex!"
Aldo dan Fahri pura-pura muntah dengan kelakuan Atan.
"Ini mas, pesanannya," ucap pelayan rumah makan padang.
"Makasih kakak cantik," ucap Aldo.
Pelayan itu tersenyum dan jadi salah tingkah saat dirinya disebut cantik.
"Modus lo!" ucap Atan.
"Sudah, kita makan dan terus pulang. Mama sudah banyak kirim pesan nih, ntar gue ga dibolehin main lagi," sahut Fahri.
Fahri Yilmaz tidak terlalu banyak bicara, dan kadang bersikap lurus kadang juga barbar. Tergantung situasi hatinya.
Orang tuanya adalah pengusaha travel, agen haji dan umroh, bahkan showroom mobil dan motor.
Fahri anak paling tajir di antara Aldo dan Atan, meskipun Aldo juga anak juragan tanah, sama seperti Atan, tapi papa Atan juga masih menjabat sebagai kepala sekolah sekaligus pemiliknya.
"Dari sini kita pulang ke rumah masing-masing ya," ucap Fahri yang di angguki Atan dan Aldo.
"Fathan!!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
putri cobain 347
aku merasa bersalah,jadi baca cerita kakak dulu lah,
2024-10-15
2
CacingBesarAlaska
Pd-nya gak habis-habis
2024-08-06
2
CacingBesarAlaska
balapan beberapa detik doang udah menang, dimana? aku mau daftar!
2024-08-06
1