Azhar menunggu kelanjutan dari perkataan Kai, rasa penasaran kian menjadi ketika Kai menyebut nama gadis yang nantinya akan menjadi istrinya.
"Tuan Besar sudah mengetahui bahwa anda sudah memilih seorang gadis, menurut laporan dari mata-mata kita. Saat ini Tuan Besar sudah mengirim seseorang untuk menghabisi nyawa Nona Ava,"
"Tua bangka itu benar-benar tidak sabaran," Azhar mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuknya, ia terlihat sedang memikirkan banyak hal di dalam kepala mungilnya itu.
"Kirim beberapa orang terbaik milik kita, pastikan gadis itu baik-baik saja!" imbuh pemuda itu tak terbantahkan.
Kai mengangguk patuh, ia segera keluar dari ruangan Azhar menuju tempat para anggota Death Demon latihan.
Selepas kepergian Kai, kini Azhar meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia mencari nomor Ava, setelah mendapatkannya ia langsung menghubungi nomor itu. Dering pertama tidak di angkat, namun hingga dering ketiga panggilan darinya tak kunjung mendapat respon dari gadis itu.
"Sialan, kenapa dia tidak mengangkat telfon dariku?" gumam Azhar jengkel.
Saat ia berniat menghubunginya lagi, tiba-tiba muncul sebuah pesan dari Ava. Pesan singkat yang sangat menjengkelkan bagi Azhar.
Ava.
Jangan telfon, aku sibuk.
Melihat pesan itu, Azhar langsung membanjiri nomor Ava dengan panggilan telfon darinya. Namun hingga akhir, Ava justru mematikan ponselnya. Hal itu membuat Azhar kalap, ia meletakan ponselnya ke atas meja dengan kasar, pria itu memijit pelipisnya pelan. Baru sebentar saja ia mengenal gadis itu, ia sudah di buat darah tinggi habis-habisan.
"Ck sebenarnya apa mau gadis itu? Apa dia benar-benar tidak tertarik denganku?" ujarnya bertanya pada diri sendiri.
Lelah karena di abaikan oleh Ava, pada akhirnya Azhar memilih kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi sebelum itu ia sempat mengirim pesan pada Ava, agar lebih berhati-hati saat keluar dari rumah.
...***...
Di sisi lain, Mila tengah menjenguk Hades dan Ares di rumah sakit. Efek dari pukulan Ava membuat kedua pemuda itu harus mendekam di rumah sakit, untuk sementara waktu.
Sialnya lagi rongga tenggorokan milik Hades mengalami luka yang cukup serius, bahkan Hades tidak di perkenankan memakan makanan keras dan harus rutin meminum obatnya agar rongga tenggorokannya tidak infeksi.
"Kondisi kalian berdua sangat parah, apa Ava benar-benar melakukannya sendiri?" ujar Mila masih belum percaya.
"Iya lah, Ava sekarang mirip berandalan tau," sahut Ares yang duduk di ranjang sebelah Hades.
Hades mengangguk setuju, ia kembali bertanya pada Mila, "Ngomong-ngomong sejak kapan si Ava bisa bela diri, Mil?"
"Nggak tau, selama ini dia nggak pernah terlihat di luar rumah kecuali waktu sekolah,"
"Aneh, kalo di lihat dari gerakannya dia pasti udah belajar dari lama. Apa lagi Ava tau setiap titik vital yang bisa bikin cedera lawannya," imbuh Ares.
Mendengar penuturan kedua temannya, Mila jadi ikut heran. Sejak lama Ava selalu mengurung diri di dalam kamarnya hampir setiap hari, ia bahkan bisa menjamin kalo Ava tidak pernah menyentuh tempat GYM atau pun tempat kursus karate.
''Mil, kayanya ada yang nggak beres sama Ava. Mending kamu cari tau lagi, siapa tau ada hal bagus yang bisa kamu temukan nantinya," usul Hades.
Ia masih dendam pada gadis itu, karena sudah membuatnya malu di depan semua murid. Bahkan sekarang Hades harus menghadapi amarah kedua orang tuanya yang selalu mengomel ketika menjenguk mereka berdua.
"Ya, kamu benar. Mungkin saja nanti aku bisa menemukan hal seru," sahut Mila sumringah.
Mereka bertiga mengobrol ringan hingga tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Mila segera pamit pada kakak beradik itu dan bergegas menuju mobilnya yang berada di halaman parkir.
Tanpa sengaja ia menabrak seseorang, Mila langsung mendongak seketika ia terdiam membisu ketika melihat seorang pria jangkung pemilik sorot mata dingin.
"Minggir!" usir pria itu.
Namun bukannya menyingkir, Mila justru menjulurkan tangannya. Hal itu membuat pria yang tak lain adalah Azhar mengernyit heran.
"Kenalin, aku Mila, Kak," ujarnya memperkenalkan diri.
Azhar terdiam, ia bisa berada di rumah sakit ini bukan tanpa alasan. Melainkan tadi saat ia sedang membereskan pekerjaannya, tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri. Kai yang mengetahui hal itu segera menyuruh Azhar ke rumah sakit.
"Apa kau tidak di didik oleh orang tuamu, Nona?" sindir Azhar.
"Maksud Kakak apa?" ujar Mila kebingungan.
Azhar berdecih sinis sebelum menjawab, "Ck bahkan kau tidak tau kata maaf, sungguh miris. Kau yang menabrak ku, tapi kau dengan tidak tau diri justru meminta berkenalan,"
Seketika Mila tersadar, ia buru-buru meminta maaf dan berniat mengecek tubuh Azhar yang ia tabrak, namun jawaban Azhar mengurungkan niat Mila.
"Maaf Kak, aku beneran nggak sengaja. Apa Kakak terluka?"
"Menjauh dariku! Kata maaf mu sudah tidak berguna, lain kali utamakan dulu sopan santun mu, Nona,"
Azhar berlalu dari sana, tanpa menoleh sedikit pun ke arah gadis tadi. Azhar merasa mual dan ia segera berlari menuju toilet di rumah sakit itu, tidak ada yang tau jika Azhar sangat membenci bersentuhan dengan wanita tapi anehnya itu tidak berlaku pada Ava.
Di dalam toilet, Azhar benar-benar muntah. Trauma yang ia miliki kembali kambuh, ingatan masa lalu berangsur-angsur muncul. Azhar meremas jengkel area dadanya yang terus berdebar-debar, ia mulai berkeringat dingin. Azhar berusaha berpegangan pada pintu toilet, namun ia tak bisa menjaga keseimbangannya hingga membuat ia jatuh ke lantai dan menimbulkan suara cukup keras. Nafas pria itu mulai tak beraturan, ia membutuhkan pertolongan secepat mungkin.
"B-brengsek!" umpat Azhar melampiaskan kekesalannya.
Bersamaan dengan itu, pintu toilet terbuka. Memperlihatkan seseorang yang berlari ke arahnya, Azhar merasa tak asing dengan siluet orang itu. Namun ia tak bisa mengenalinya secara jelas, karena pandangan pria itu mulai buram.
Keringat sebesar biji jagung terus keluar dari tubuhnya. Di tengah rasa sesak yang menghimpit jantungnya, tiba-tiba Azhar merasakan kepalanya di angkat lalu sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.
Entah apa benda itu, namun Azhar tidak bisa mengelak. Ia tak memiliki tenaga lagi untuk mendorong tubuh orang tersebut. Sesaat setelah nafas pria itu sudah stabil, terdengar bunyi gaduh dari arah luar.
Suara roda yang di dorong, lalu teriakan panik dari orang-orang yang ada di sana terdengar samar di telinga pria itu. Namun ada satu hal yang membuat Azhar merasa yakin bahwa ia mengenal orang yang menolongnya, meski tidak terlalu jelas tapi ia bisa melihat rambut orang itu yang di kuncir menjadi satu.
'Aku harap kita segera bertemu lagi, Nona,' batin Azhar, sebelum kegelapan membawanya ke alam mimpi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
YuWie
heleww siapa lagi.
2024-08-06
0
Husein
hai Thor akhirnya muncul lagi, terimakasih sdh kembali...
jd Azhar ada phobia dgn perempuan ya tp tdk dg ava... apakah yg menolongnya td jg ava?
2024-06-23
0