Di sisi lain, sebuah gedung pencakar langit, terlihat seorang pria sedang memeriksa laporan dari bawahannya. Ia adalah pemilik perusahaan Sky Blue, Carlos Donovan. Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya, Carlos menyahut dan menyuruh orang tersebut masuk.
Ceklek.
Pintu terbuka memperlihatkan sosok pria yang menjadi sekertaris Carlos, pria tersebut mendekati meja Carlos sambil membawa map berwarna coklat.
"Permisi, Tuan." Ucap pria tersebut.
Carlos mendongak, "Ya, ada apa, Gar?"
"Saya ingin melaporkan mengenai pencarian Nona Ava, Tuan." Sahut Edgar Darius.
Sontak Carlos menghentikan gerakan tangan yang sedang membolak balik berkas, ia menatap lekat ke arah Edgar.
"Katakan," titah Carlos.
Edgar mengangguk ia membuka map, lalu meletakannya di atas meja Carlos. Ia mulai menjelaskan laporannya.
"Nona Ava terakhir kali terlihat di jl.xx setelah bertugas mengawal para rekan kerja perusahaan kita, namun sejak malam itu tidak ada tanda-tanda bahwa Nona Ava kembali ke rumahnya." Jelas Edgar panjang lebar.
Mendengar penjelasan Edgar, membuat Carlos heran. Ia kenal Ava dengan baik, gadis itu tidak mudah di tumbangkan. Tapi sampai sekarang jejaknya hilang, bahkan ia sudah mengerahkan banyak anggota Sky Blue untuk mencari keberadaannya tapi belum juga membuahkan hasil.
Edgar melihat raut wajah atasannya yang nampak lelah, sosok Ava sangat penting bagi Sky Blue. Bukan hanya karena kinerjanya yang rapi, tapi Ava sudah di anggap sebagai keluarga bagi mereka semua terutama Carlos.
"Tuan, saya juga mendapat laporan kalau di jalan tempat terakhir Nona Ava muncul, sempat terjadi pertarungan." Imbuh Edgar.
Kening Carlos berkerut, "Maksudmu?"
"Saat anak-anak Sky Blue ke tempat itu, mereka melihat rerumputan di sana berantakan dan motor Nona Ava masih tergeletak di tepi jalan,"
"Selidiki lebih dalam lagi, pastikan kalian menemukan petunjuk keberadaan Ava. Entah dia dalam keadaan hidup atau tidak, pastikan kalian menemukannya," perintah Carlos tegas.
Edgar mengangguk patuh, ia berpamitan pada Carlos untuk memberi instruksi pada anak-anak Sky Blue. Pencarian Ava akan di lakukan secara besar-besaran mulai saat ini.
Selepas kepergian Edgar, suasana hening menghiasi ruangan Carlos. Hanya terdengar bunyi jam di dinding, Carlos membuka laci yang terkunci di sebelah kanan. Di sana terdapat sepenggal surat yang terlihat sudah berubah warna menjadi kekuningan.
Carlos meraih kertas itu, ia kembali membaca surat dari mendiang ayahnya. Surat yang berisi amanat untuk menjaga seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
"Aku pasti akan menemukannya, Pah." Gumam Carlos.
Carlos teringat dulu saat Ava ingin di adopsi oleh mendiang ayahnya, namun dengan tegas gadis itu menolak tawaran pemilik Sky Blue sebelumnya. Alasan Ava menolak justru semakin membuat mendiang ayah Carlos bersikeras menginginkan Ava sebagai anaknya, tapi pendirian gadis itu tak bisa di runtuhkan.
Ava menolak tawaran itu dengan alasan, ia tidak pantas menjadi anggota keluarga Donovan. Ava yang terlahir yatim piatu menyadari posisinya, ia lebih nyaman menjadi bagian Sky Blue sebagai bodyguard bukan putri angkat.
Carlos kembali memasukan surat itu ke dalam laci, selama Ava menghilang Carlos sangat sulit tidur. Ia selalu kepikiran dan khawatir dengan kondisi gadis itu.
"Kamu dimana, Va? Kenapa kamu pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun padaku?" gumam Carlos sendu.
...***...
Sinar matahari mulai menyusup dari sela-sela jendela di ruang bawah tanah, semalaman Ava di biarkan menggantung di posisinya yang semula, Mark membiarkan Ava tanpa makan dan minum bahkan saat ini tenaga gadis itu sudah mulai melemah.
Kepalanya terasa pusing, perutnya sejak semalam sudah berbunyi. Karena Ava hanya makan saat ia hendak berangkat ke sekolah, di tengah perasaan miris yang ia rasakan. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari lantai atas, Ava mendongak ia melihat sosok Marvel sedang berlari menuruni tangga dengan wajah yang terlihat panik.
"Ava!" teriak Marvel dari arah tangga.
Marvel berlari sekencang mungkin agar bisa sampai lebih cepat, begitu tiba di depan sang adik. Marvel langsung melepas ikatan di tangan adiknya, setelah ikatan terlepas tubuh Ava jatuh ke dalam pelukan sang Kakak.
"Va, Abang minta maaf. Nggak seharusnya Abang ninggalin kamu sendirian," sesal Marvel sambil mengangkat tubuh adiknya.
"Nggak papa, ini bukan salah Abang... Terimakasih sudah datang Ba...ng,"
Bersamaan dengan itu tubuh Ava jatuh terkulai, ia pingsan di dekapan Marvel. Tanpa menunggu lama, Marvel menggendong adiknya menuju lantai atas. Ia berniat membawa Ava ke rumah sakit, namun rencananya gagal seketika saat Mark menghalangi jalannya di lantai atas.
"Mau kamu bawa kemana anak itu, Vel?" ujar Mark menatap tajam putranya.
"Minggir, Pah. Adik aku perlu penanganan secepatnya!" usir Marvel.
Namun Mark justru melarang Marvel membawa Ava ke rumah sakit, dengan alasan itu bisa membuat skandal besar bagi keluarga mereka di dunia bisnis.
"Papah sudah memanggil dokter ke rumah, kamu bawa saja adikmu ke kamarnya!"
Marvel menggeleng tak percaya, "Pah, luka Ava sangat banyak. Dia butuh perawatan yang lebih baik,"
"Jangan membantah, Vel! Di rumah ini siapa pun yang nggak setuju dengan keputusan Papah, maka mereka harus di hukum! Kamu yakin ingin terus memberontak heh?" sentak Mark.
Marvel terdiam, jika ia terus berseteru dengan ayahnya yang ada Ava kembali terabaikan. Marvel masih mempertimbangkan adiknya yang saat ini lebih butuh pertolongan, akhirnya Marvel membawa Ava menuju kamarnya. Tak lupa ia meminta satu pelayan wanita mengikutinya, untuk membantu Marvel melepas pakaian Ava.
Di ruang makan, Elisa dan Maya yang sejak tadi melihat kejadian itu justru tersenyum simpul. Mereka berdua menyukai kegaduhan yang terjadi setiap kali anak dan ayah itu saling bermusuhan.
Elisa mengedipkan satu matanya pada sang ibu, rencana mereka untuk menendang Ava dari rumah itu semakin berpeluang besar.
"Kita berhasil, Sayang." Bisik Maya.
Elisa menangguk setuju, namun saat Mark kembali ke meja makan. Raut wajah kedua orang itu berubah sendu, Maya meraih tangan Mark dan mengelusnya perlahan.
"Pah, jangan terlalu keras pada anak-anak. Kasihan mereka masih kecil," cetus Maya menunjukan raut simpatinya.
"Kamu terlalu baik, May. Ava perlu di disiplinkan secara rutin, anak itu semakin hari semakin keras kepala!" sahut Mark terlihat kesal.
"Benar kata Mamah, Pah. Kalo Papah terlalu keras, nanti Kak Ava bisa benci sama Papah." Imbuh Elisa.
Mark menghela nafas berat, ia mengusap pucuk kepala Elisa yang kini duduk di kursi sebelahnya.
"Kamu memang anak yang baik, berbeda jauh dengan Ava. Kamu sama sekali nggak pernah membangkang perkataan Papah," ujar Mark merasa bangga pada anak tirinya itu.
Elisa tersenyum malu-malu, keluarga itu nampak sangat harmonis. Bahkan Mark sama sekali tidak memikirkan, jika saat ini nyawa Ava sedang di ambang kematian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Grey
lu sama kek bokap gue, sukanya bandingin anak kandung sama anak tiri. lu sama² layak mendapatkan kalimat "sampai jumpa di hari pemakaman mu"😒
2024-06-09
11