Hari berlalu dengan cepat, tanpa terasa seminggu sudah Ava menempati tubuh barunya. Selama seminggu itu juga, ia mencoba bersosialisasi dalam kehidupan Ava Claire yang baru. Kini ia sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ia mengenakan seragam SMA nya. Ava mematut diri di depan cermin, selama ini ia jarang sekali menggunakan rok dan kini ia harus kembali bergelut dengan rok sekolah.
"Apa aku pake celana aja? Rok ini nggak nyaman,"
Ava terlihat bimbang, ia menimang-nimang akan mengganti roknya atau tidak. Hingga akhirnya Ava memilih menggantinya saja, ia memakai celana jins panjang berwarna hitam. Selepas semua siap, Ava meraih ransel berwarna hitam dan menyampirkan di pundak kiri. Ia bergegas keluar kamar, hari ini ia berniat nebeng pada sang Kakak.
Tap. Tap. Tap.
Ava menuruni tangga sambil sesekali bernyanyi, begitu ia sampai di lantai satu Ava berbelok menuju meja makan. Di sana terlihat semua orang sudah berkumpul termasuk Marvel, ia menarik kursi di samping sang Kakak dan duduk di sana tanpa menyapa Ayah serta ibu tirinya ia hanya menyapa Marvel seorang.
"Pagi, Bang." Sapa Ava begitu duduk di samping Marvel.
"Pagi juga, Va. Kamu mau sarapan apa?" tanya Marvel dengan hangat.
"Aku mau roti aja Bang,"
Marvel mengangguk, ia mengambil dua lembar roti tawar dan juga selai srikaya kesukaan adiknya. Mark melihat interaksi kedua anaknya yang semakin dekat, menjadi sedikit heran. Selama ini Ava terlihat membenci Marvel, tapi sekarang kebencian itu justru mengarah padanya.
"Va, kamu berangkat dengan siapa?" cetus Maya tiba-tiba memecah keheningan.
Ava mendongak menatap ke arah Maya, "Abang."
"Kak, jawabnya yang sopan, di tanya Mamah kok jawabnya ketus gitu." Ujar Elisa ikut-ikutan.
"Kalo nggak suka, nggak usah nanya bisa, kan?" sahut Ava acuh.
Semua orang seketika diam, hanya Marvel yang tersenyum tipis, ia masih saja merasa mimpi jika saat ini adiknya sudah berubah. Ia lebih tenang namun tidak mudah di jatuhkan.
Mereka kembali menikmati sarapan dalam diam, sepuluh menit kemudian mereka semua selesai sarapan. Ava berniat pergi tapi Mark meminta tetap duduk di tempat.
"Ava, kita harus membahas pertemuan mu dengan pria yang akan menikah denganmu," ujar Mark.
"Pah, Ava masih kecil dia masih sekolah! Kenapa Papah terus memaksanya menikah?" protes Marvel tak terima.
Mark menangkup kedua tangannya di atas meja, "Marvel, mungkin kamu belum tahu hal ini. Tapi Papah sudah memiliki perjanjian dengan orang itu, bahwa Papah akan menyerahkan salah satu anak Papah pada mereka,"
Marvel terkejut, ia menggeleng pelan lalu menoleh ke arah adiknya yang masih diam seribu bahasa.
"Papah menjual adik aku?" tebak Marvel berharap dugaannya salah.
Namun bukan Mark yang menjawab melainkan Ava, ia membenarkan tebakan Marvel karena memang seperti itulah fakta sesungguhnya.
"Ya, aku di jual Bang. Aku pengganti Elisa, kesalahan yang Elisa buat membuat perusahaan Papah mengalami kerugian besar dan hutang yang menumpuk, sialnya aku yang harus membayar semua itu."
"Kenapa harus kamu?" Marvel menoleh ke arah Mark, "Pah, kenapa bukan Elisa yang bertanggung jawab? Dia yang membuat masalah bukan Ava!"
"Bang, aku masih sekolah aku mau ngejar karir aku dulu. Aku nggak mau nikah muda," sahut Elisa tak mau di salahkan.
Mendengar hal itu Marvel terkekeh remeh, ia menunjuk wajah Elisa menggunakan garpu seakan Marvel ingin mencongkel kedua mata gadis itu.
"Itu kamu sadar, harusnya sejak awal kamu nggak usah buat masalah. Adik aku juga sama sepertimu yang masih duduk di bangku sekolah. Dia punya cita-cita dan masa depan yang ingin dia kejar, tapi kamu kenapa memasukan dia ke dalam lingkup permasalahan yang kamu buat?" cerocos Marvel sarkas.
Mark memijit pelipisnya pelan, "Sudahlah, lagi pula pernikahan itu tidak bisa di batalkan. Kecuali kita membayar denda sebanyak 200 Triliun, maka Ava bisa terbebas dari pernikahan ini."
"Dari tadi Papah selalu menyalahkan Ava, Papah kan bisa mencari cara agar mendapatkan uang tersebut! Tapi Papah lebih memilih tutup mata dan sama sekali nggak perduli siapa yang membuat masal-"
"Bang, udah. Mau Abang bicara sampai pita suara Abang hilang juga percuma, karena tujuan Papah sejak awal ingin aku angkat kaki dari rumah ini! Benar, kan Pah?" sahut Ava memotong perkataan Marvel, ia meminta persetujuan dari Mark yang langsung diam membisu.
Ava memundurkan kursi, ia meraih ranselnya kembali lalu mengajak Marvel keluar. Namun sebelum pergi, Ava kembali berbicara pada Mark tanpa menoleh.
"Aku akan pastikan pernikahan ini gagal, aku tidak perduli jika harus membuat perusahaan Papah bangkrut." Imbuh gadis itu lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.
...***...
Di sisi lain, terlihat Azhar sedang mengendari mobilnya menuju sekolah menengah atas. Ia hendak meninjau sekolah yang ia bangun selama lima tahun ini, di usianya yang baru menginjak 28 tahun Azhar berhasil mendapatkan penghasilan besar tanpa bantuan dari siapa pun termasuk keluarganya.
"Kai, kau sudah mengabari pihak sekolah bahwa hari ini kita kesana?" ujar Azhar dari bangku belakang.
Kai mengangguk, suasana dalam mobil kembali hening. Tanpa terasa satu jam kemudian mereka sampai di sekolah yang di beri nama Hight School Galaksi. Begitu mobil memasuki pekarangan sekolah, para guru dan juga kepala sekolah langsung menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat datang, Tuan Muda." Sapa para guru sambil membungkuk 90 derajat.
"Terima kasih sudah menyambut saya," sahut Azhar sopan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria itu memiliki sifat kejam dan gila darah, penampilan yang selalu ia tunjukan pada semua orang adalah topeng semata. Ia selalu bertutur kata lembut dan hangat pada setiap orang yang bertemu dengannya, Azhar sangat di kagumi banyak orang itulah yang membuat relasinya berjalan hingga ke manca negara.
Kepala sekolah mengajak Azhar menuju ruangannya, tanpa sengaja saat sedang melintasi lapangan ia melihat seorang gadis tengah berlari mengitari lapangan di tengah teriknya matahari.
Satu jam sebelumnya, Ava yang telat masuk gara-gara berdebat dengan Mark membuatnya harus mendapat hukuman dari wali kelas. Ia di minta lari mengelilingi lapangan sebanyak 50 puluh putaran, dan kini ia baru menyelesaikan 30 puluh putaran.
"Sialan, gara-gara bajingan Mark. Aku harus mendapat hukuman seperti ini," gerutu Ava sambil terus berlari.
Keringat sudah membanjiri kening gadis itu, tanpa ia sadari Azhar masih memperhatikannya sejak ia tiba di area lapangan tersebut.
"Tuan, ada apa?" tanya kepala sekolah kebingungan.
"Siapa gadis itu?" ujar Azhar berpura-pura tidak tahu.
Kepala sekolah mengikuti arah pandang pria tersebut, ia kembali menjawab. "Dia Ava, anak kelas 3 di sekolah ini. Tadi dia telat makanya dia mendapat hukuman,"
"Berapa lama dia di hukum?" lanjut Azhar.
"Saya tidak tahu Tuan, itu tugas wali kelasnya." Sahut kepala sekolah.
Azhar menarik sudut bibirnya ke atas, ia berniat memutar jalan melewati tengah lapangan. Namun tubuhnya seketika membeku ketika melihat seorang pemuda berlari ke arah gadis itu sambil membawa handuk dan juga sebotol air mineral. Tanpa Azhar sadari, kedua tangannya mengepal erat. Terlebih saat ia melihat pemuda itu menyeka keringat di kening Ava.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Solekah
katanya gak suka kok meradang lihat ava dideketin cowok
2024-10-26
0
nichi.raitaa
gueh ampe lupa kaga neken like drtd kakkkk🫣😆
2024-06-13
0
Hasna 💙
lanjut kk author
2024-06-01
2