Bagian 17

Mendengar tawaran tersebut, Ava kembali duduk di bangku seperti semula. Ia menoleh hingga bisa melihat pria di sampingnya sedang tersenyum simpul.

"Katakan!" titah gadis itu tanpa basa basi.

Azhar mengangguk, ia mulai menjelaskan tawaran tadi pada Ava. Inti dari pembicaraan mereka adalah, Azhar meminta Ava melakukan pernikahan kontrak dengannya dan ia akan memberikan sejumlah uang pada gadis itu.

"Apakah, kamu mau?" lanjut Azhar menunggu jawaban dari gadis tersebut.

"Berapa tahun kontraknya?"

"Tujuh tahu-"

"Nggak! itu terlalu lama," tolak Ava memotong ucapan pria itu.

Azhar menghela nafas kesal, ia mulai menghitung untung dan rugi mengenai pernikahan kontrak tersebut. Setelah beberapa saat terdiam, Azhar kembali berbicara.

"Bagaimana kalau lima tahun, selama itu jangan sampai ketahuan kalau kita mempunyai kontrak! Kalau sampai ketahuan maka kamu harus mengembalikan uang yang kamu dapat dua kali lipat."

"Tiga tahun, aku cuma bisa kontrak selama tiga tahun!"

"Kalau kamu sejak tadi sudah memutuskan, untuk apa kamu bertanya padaku?" sindir Azhar merasa jengkel.

Ava mengangkat kedua bahunya acuh, "Hanya sebatas sopan santun, karena kamu pelanggan jadi aku berbaik hati memberi pendapat lebih dulu."

"Terserah!"

Azhar mengeluarkan ponselnya, lalu ia menyodorkan ponsel itu ke arah Ava.

"Minta nomormu, nanti aku hubungi lagi saat kontraknya sudah siap."

"Aku butuh uangnya sekarang," sahut Ava tanpa mengambil ponsel itu.

"Berapa?"

"200 triliun,"

"A-apa? kamu mau membegal ku?" tuduh Azhar curiga.

Ava mengangguk tanpa ragu, "Kalau itu yang kamu pikirkan, maka aku anggap benar."

Mendengar jawaban santai dari gadis di sampingnya, Azhar tak bisa berkata-kata lagi. Ia menarik kembali ponselnya, lalu meminta nomor rekening milik Ava. Dengan senang hati gadis itu memberikan nomor rekeningnya pada Azhar, setelah proses transaksi berhasil Ava kembali mengecek m-banking miliknya.

"Deal, jadi apa yang perlu aku lakukan selama kontrak berlangsung?" tanya Ava setelah memastikan uang itu masuk ke dalam rekeningnya.

"Kamu harus bertemu dengan ayahku dulu, mungkin dari sekarang nyawamu bisa saja terancam. Aku akan memberikan pengawal untukmu,"

Ava menggeleng, ia menolak keras usul tersebut. Baginya membawa pengawal justru bisa membuat ia repot, sebab Ava lebih suka bekerja sendiri seperti dulu.

"Nggak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri! Satu lagi, carikan aku apartemen tidak perlu mewah yang penting nyaman." Ujarnya tanpa rasa malu sedikit pun.

"Kamu benar-benar ingin merampokku, Nona."

"Bukan, hanya saja kesempatan seperti ini jarang terjadi. Aku hanya memanfaatkannya saja," sahut Ava enteng.

Azhar hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar semua perkataan gadis itu, setiap kata yang keluar membuat Azhar tak bisa berkutik lagi. Beberapa saat kemudian, Azhar sert Ava berpisah. Mereka kembali ke rumah masing-masing, setelah bertukar nomor ponsel.

...***...

Di sisi lain, pencarian besar-besaran yang di lakukan Sky Blue akhirnya menuntun mereka ke dalam hutan yang menjadi tempat terakhir pelarian Ava Claire. Edgar menunjuk beberapa bodyguard yang ia bawa untuk berpencar, ia sendiri memilih menyusuri jurang berharap kali ini ada hasil yang memuaskan dari pencarian tersebut.

Saat ia melewati jalan setapak itu, tampak bekas kaki seseorang sudah lebih dulu tiba di sana. Edgar mengikuti jejak kaki itu hingga menuju dasar jurang, sesaat Edgar terdiam membeku ketika melihat gundukan tanah di depannya. Ia mulai mendekat, terlihat sebuah batu di letakan di sana bersama dengan tanda pengenal yang menggantung di batu tersebut.

Edgar meraihnya, betapa shock nya ia ketika melihat nama yang tertera di tanda pengenal itu.

"Ava?" gumam pria tersebut.

Tanpa basa basi, ia memanggil rekan-rekannya. Mereka mulai membongkar makam itu menggunakan ranting pohon, hingga sesaat kemudian terlihat jasad gadis yang selama ini mereka cari mulai tampak membusuk.

"Ambil tandu dan kain untuk mengangkat tubuh ini," perintah Edgar.

"Maaf Tuan, tapi kita tidak memiliki tandu." Sahut salah satu bodyguard.

"Kita buat dulu, kita berpencar dan cari bahan untuk membuat tandu. Sebagian dari kalian ambil kain di dalam bagasi mobil, cepat!" titah Edgar tak terbantahkan.

Mereka semua mengangguk, dan mulai berpencar. Hanya butuh waktu setengah jam mereka sudah berhasil membuat tandu seadanya, Edgar membungkus jasad Ava dengan susah payah lalu memindahkannya ke atas tandu. Mereka mulai meninggalkan jurang tersebut, jalanan yang curam dan sedikit licin membuat mereka sangat berhati-hati saat melangkah.

Beberapa saat berlalu mereka sudah sampai di mobil, mereka segera memasukan tubuh Ava ke dalam mobil dan bergegas menuju rumah sakit.

...***...

Sedangkan di sisi Carlos, ia yang tengah sibuk mengurus dokumen tiba-tiba terkejut saat mendapat pesan dari Edgar. Ia buru-buru merapikan kembali dokumennya, dan bergegas menuju rumah sakit yang sudah di kirim oleh Edgar.

Pikiran buruk sudah singgah di benak Carlos sejak tadi, ia hanya bisa berharap bahwa Edgar membawa kabar baik.

Setengah jam berlalu, kini Carlos sudah sampai di rumah sakit. Ia di sambut hangat oleh Edgar, mereka berdua menuju ruangan tempat jasad Ava berada.

"Bagaimana kondisi anak itu? Apa dia baik-baik saja?" cecar Carlos di tengah perjalanannya.

"Maaf, Tuan. Namun Nona Ava sudah meninggal, kami menemukan jasadnya di dasar jurang."

Sontak Carlos langsung berhenti melangkah, ia menoleh ke arah Edgar yang sedang menunduk lesu.

"Apa kamu yakin, kalau jasad itu milik Ava Claire?"

"Ya, Tuan. Seragam dan juga tanda pengenal yang ada di sana memang milik Nona Ava,"

Sungguh Carlos tak pernah membayangkan ia akan kehilangan anggota terbaiknya, Carlos merasa tungkainya lemas hingga tiba-tiba tubuhnya limbung dan bersandar di tembok.

"Tuan, para dokter sudah memandikan tubuh Nona Ava. Sekarang kita harus membawanya menuju tempat peristirahatan terakhirnya," ujar Edgar mengingatkan.

Carlos mengangguk lesu, ia membiarkan Edgar mengurus semua keperluan pemakaman gadis itu. Sesaat sebelum keberangkatan mereka ke area pemakaman, Carlos meminta Edgar mengikutinya ke taman rumah sakit dan membiarkan para bodyguard berangkat lebih dulu.

"Gar, cari tau siapa dalang di balik pembunuhan Ava. Saya tidak perduli mau berapa lama kamu mencarinya, pastikan kamu menemukan orang yang melakukan hal keji itu pada gadis tersebut!" titah Carlos tak terbantahkan.

"Baik, Tuan. Saya akan melakukan pencarian secepat mungkin," sahut Edgar dengan yakin.

Carlos tersenyum puas, ia tidak bisa menerima kepergian Ava begitu saja. Ia teringat kejadian yang menimpa keluarga Donovan beberapa tahun yang lalu, kejadian itu bahkan membuat kesehatan sang ayah menurun drastis hingga ajal menjemputnya.

"Mungkin kah saat ini, dia masih ada di dunia ini? aku harap kita bisa bertemu lagi, Kak." Gumam Carlos teringat dengan Kakaknya yang saat ini entah berada dimana.

Terpopuler

Comments

Husein

Husein

"dia" siapakah itu??🤔

2024-06-14

1

Mey Abimanyu

Mey Abimanyu

curiga kalo ava itu kakaknya di Carlos .. makanya bapaknya ava juga engga sayang sama avaa

2024-06-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!