Bagian 16

Morgan baru saja tiba di sebuah gedung mewah yang menjadi tempatnya tinggal selama ada di Meksiko, gedung tersebut memiliki lantai lima dengan furnitur mewah serta lift. Saat Morgan melangkah memasuki gedung, ia di sambut oleh para pria berseragam serba hitam di lengkapi senjata di tangan masing-masing.

"Selamat datang, Tuan Besar!" ucap semua bawahan Morgan.

Morgan berdehem kecil sebagai jawaban, ia melangkah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai lima. Di temani satu asisten, Morgan mendengarkan laporan sambil menunggu lift berhenti.

"Bagaimana dengan barangnya?" tanya Morgan di sela-sela laporan sang asisten.

"Semua sudah sampai dengan aman, Tuan. Tapi mereka meminta kita menyediakan beberapa tawanan sebagai imbalan untuk mereka,"

Morgan mengangguk ia kembali menjawab, "Berapa jumlah tawanan yang tersisa?"

"Sepuluh orang, Tuan. Mereka semua berasal dari kalangan bawah!"

"Bagus, berikan tiga pada mereka! lakukan seperti biasa, jangan sampai hal ini terendus oleh polisi!" titah Morgan tak terbantahkan.

Sang asisten mengangguk sebagai jawaban, tak berselang lama lift sampai di lantai lima. Mereka berdua berjalan menuju ruangan milik Morgan. Di sana sudah terlihat beberapa berkas di atas meja.

Morgan meraih berkas itu dan mulai memeriksanya satu persatu, ada laporan yang mengatakan bahwa beberapa barang harus di alihkan agar tidak tercium polisi yang berjaga di pelabuhan.

"Ck mereka terlalu lambat, jika seperti ini kita bisa ikut terseret!" geraman rendah terdengar dari pria paruh baya itu.

"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya sang asisten.

Morgan terdiam sesaat, ia sedang memikirkan cara terbaik agar barang pesanan nya bisa sampai dengan aman di wilayahnya.

"Suruh para sniper memantau area pelabuhan, lalu kau hubungi kapal itu la dan arahkan mereka ke jalur yang paling cepat!"

"Baik, Tuan." Sahut sang asisten.

Loz Colton Cartel, organisasi milik Morgan yang ia dirikan setelah di depak dari militer. Organisasi yang terlihat baik di mata para pengusaha dan tidak pernah terlibat kasus apa pun. Namun itu semua hanya kedok bagi mereka, agar lebih mudah bergerak.

Loz Colton Cartel, bukan hanya sekedar organisasi yang memberikan jasa bodyguard bagi yang membutuhkan. Di balik nama baik yang mereka miliki, organisasi itu kerap kali melakukan transaksi narkoba kelas international. Kekejaman mereka sudah terkenal di kalangan dunia bawah, mereka memiliki ambisi menundukkan semua organisasi di dunia bawah.

Julukan mereka di dunia bawah adalah Iblis Kematian, Loz Colton Cartel tak segan membunuh siapa pun yang berani menyinggung mereka. Mereka sering kali melakukan pembantaian, penculikan, dan perdagangan manusia.

"Apa kau lihat pergerakan yang aneh dari organisasi Sky Blue?" cetus Morgan setelah sekian lama terdiam.

"Ya, saya dengar mereka sedang melakukan pencarian besar-besaran, salah satu anggota mereka menghilang."

Mendengar laporan tersebut, Morgan menjadi penasaran siapa sosok yang di maksud asistennya. Sebab tidak mungkin jika orang itu hanya sebatas anggota biasa, karena Carlos sang pemimpin tidak akan turun tangan sejauh ini jika itu bukan orang yang penting di dalam organisasinya.

"Siapa yang mereka cari?"

"Saya kurang tau, hanya saja dia seorang gadis sekaligus orang yang paling di percaya pemimpin Sky Blue."

Penjelasan asistennya, membuat Morgan semakin penasaran. Selama ini ia hanya mendengar kalau ada seorang gadis yang menolak di adopsi pemimpin sebelumnya, Morgan berasumsi bahwa gadis yang hilang adalah orang tersebut.

"Cari tahu lebih banyak mengenai hilangnya gadis itu, satu lagi berikan pengawasan pada Azhar! Pastikan kali ini dia juga gagal mendapatkan seseorang yang akan membantunya!" tegas Morgan tak terbantahkan.

"Baik, Tuan Besar."

Morgan berjalan menuju kursi kebesarannya, ia kembali memeriksa laporan yang ada di atas meja. Selama ini ia selalu berhasil menyingkirkan orang-orang yang membantu putra keduanya, ia menginginkan Azhar menjadi pemimpin seperti dirinya karena Gilang tidak memiliki ambisi seperti putra keduanya.

"Andai saja kamu tidak membangkang, pasti kamu tidak akan kehilangan banyak hal, Nak!" gumam Morgan tersenyum sinis.

...***...

Hari silih berganti, dua hari sudah berlalu sejak kepergian Morgan ke Meksiko. Dan waktu yang di berikan pada Azhar tinggal satu hari lagi. Namun hingga saat ini Azhar belum mendapatkan seseorang yang bisa ia bawa sebagai calon istri, di hadapan sang ayah.

Saat ini Azhar tengah mengendarai mobil tanpa memikirkan arah tujuannya, ia hanya ingin mendinginkan kepala dari banyaknya tuntutan kerja serta keluarga yang semakin berat.

Mobil itu akhirnya berhenti tepat di sebuah taman, di dalam mobil Azhar berkali-kali menghela nafas berat. Waktu yang di berikan sangat mepet, dan hanya ini kesempatan terakhir dari ayahnya agar membatalkan pertunangan dirinya dengan rekan bisnis ayahnya.

"Aku harus gimana?" gumam Azhar frustasi.

Awalnya Azhar sudah memiliki target, ia sudah menyewa seorang wanita yang nantinya akan ia ajak bertemu dengan Morgan. Namun, sehari setelah ia dan orang itu berdiskusi tiba-tiba pagi harinya wanita itu meninggal dengan kondisi kepala berlubang. Azhar tau kalau itu perbuatan ayahnya, namun ia tak punya bukti kuat untuk memojokkan sang ayah, karena setiap kali Azhar menuduh Morgan, orang itu bisa berkelit dan membuat suasana seakan ia yang menjadi korban.

Hingga di tengah rasa frustasi, ia melihat sosok gadis yang pernah berdebat dengannya di sekolah. Merasa penasaran mengapa gadis itu melamun sendirian, akhirnya Azhar keluar dari mobil dan menghampiri gadis itu.

Azhar duduk di bangku samping Ava, entah mengapa gadis itu tetap diam seolah tidak menyadari kedatangannya. Azhar menatap lekat wajah gadis itu, tatapannya terlihat hampa dan lelah.

"Nona," panggil Azhar membuat gadis itu menoleh.

"Ngapain kamu di sini, Pak?" ujar Ava merasa heran.

"P-Pak?" suara Azhar terdengar gagap, ia merasa belum setua itu untuk di panggil bapak-bapak.

Ava mengangguk polos, "Bapak, ada kerjaan di sini?"

"Jangan panggil saya Bapak! Saya belum setua itu, Nona," protes Azhar tak suka.

"Kenapa? itukan namanya sopan, masa iya saya panggil anda tukang cilok?"

"Sudahlah, lupakan saja. Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan sendirian sambil melamun seperti ini?" ujar Azhar mengalihkan pembicaraan.

Namun Ava tak menjawab, ia memilih diam dan kembali menatap ke arah pohon yang berada di tengah-tengah taman itu. Azhar tak suka jika pertanyaan nya di abaikan begitu saja, ia lalu menarik dagu gadis itu hingga mata mereka saling bertatapan.

Sesaat Azhar terhanyut oleh bola mata milik gadis itu, namun seketika ia mendesis saat tangannya di pelintir oleh gadis itu.

"Ssstt, kamu apa-apaan sih?" sentak Azhar geram.

"Anda sudah tidak sopan, Pak. Jangan dekat-dekat dengan saya, kita nggak seakrab itu!" ucap Ava sambil berdiri dari bangku.

"Kamu mau kemana?"

"Nyari duit!" sahut Ava apa adanya.

Ia memang sedang memikirkan cara untuk membatalkan pernikahan bisnis yang sudah Mark susun, ia tidak mau menikah dengan pria yang sudah memiliki empat istri dan sepuluh anak tersebut.

"Kamu butuh berapa? Saya akan membantumu tapi kamu juga harus membantuku, gimana?" usul Azhar tiba-tiba terpikirkan ide cemerlang.

Terpopuler

Comments

Chalysta Nara Nugraha

Chalysta Nara Nugraha

tukang cilok gak tuh😭😭

2024-07-24

0

Husein

Husein

mungkinkah sebenarnya yg dijodohkan itu ya mereka😀

2024-06-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!