Bagian 3

Ava masih termenung di atas karpet lusuh itu, ia belum bisa mencerna kejadian yang menimpa dirinya saat ini. Selama ia menjalani pekerjaan sebagai bodyguard, ia belum pernah masuk ke dalam penjara. Tapi sekarang? Ia bahkan tidak tahu kesalahannya secara pasti tapi ia sudah mendekam di sana seminggu.

Sesaat kemudian, lamunan gadis itu buyar ketika melihat seorang polisi menghampiri sel miliknya.

"Saudara Ava Claire, anda sudah bisa bebas hari ini." Ujar sang polisi.

"S-saya, Pak?" tanya Ava meminta kepastian.

Polisi itu mengangguk, ia membuka gembok lalu menyuruh Ava keluar dari ruangan tersebut. Ia di arahkan menuju ruang tunggu, begitu tiba di sana Ava melihat seorang pemuda sedang duduk sambil bermain ponsel.

Pemuda itu menoleh saat menyadari seseorang berdiri di sampingnya, ia menaikan satu alisnya ketika melihat pakaian Ava yang sangat lusuh. Pemuda itu berdiri dan memberikan paper bag berwarna coklat pada gadis itu.

"Ganti baju sana, jangan lama-lama!" perintah pemuda itu datar.

"Kamu siapa?" cetus Ava tiba-tiba.

Raut pemuda itu nampak terkejut, di lihat dari kerutan di kening yang samar. Tak lama pemuda itu kembali duduk di kursi mengabaikan pertanyaan Ava, lantas gadis itu pun bertanya pada polisi di sampingnya.

"Dia siapa, Pak?" bisik Ava.

"Dia Kakak anda, Nona. Namanya Marvel Leonardo,"

"K-Kakak? Dia?" tunjuk Ava pada pemuda yang sedang duduk.

Polisi itu mengangguk dan segera pergi meninggalkan mereka berdua, polisi itu membiarkan Kakak beradik tersebut berbicara, melihat adiknya termenung Marvel menegurnya dengan dingin.

"Va, ganti baju sekarang! Jangan membuatku menunggu lebih lama,"

Ava memutar kedua bola matanya malas, ia membawa paper bag coklat itu menuju toilet. Lima menit kemudian Ava kembali dengan setelan yang sudah berubah, gadis itu mendekat ke arah Marvel.

Pemuda itu berdiri, tanpa banyak kata ia meraih pergelangan tangan Ava lalu mengajaknya keluar dari kantor kepolisian. Sesampainya di depan mobil, Marvel membukakan pintu untuk adiknya.

"Masuk, keburu malem kalo kamu bengong mulu!" sindir pemuda itu tajam.

Ava masuk dan Marvel menutup pintu lalu berlari kecil menuju kursi kemudi. Mereka berdua mulai menjauh dari halaman kantor polisi, selama dalam perjalanan Marvel merasa adiknya menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia mengira jika hal itu karena adiknya masih syok setelah mendekam di penjara selama seminggu.

"Ava, jangan bikin ulah lagi! Kali ini kamu bisa selamat tapi nggak tahu nanti kalo kamu berani melawan Papah lagi," tegur Marvel dingin.

Gadis itu menoleh, wajah Marvel nampak acuh tak acuh tapi setiap kata yang ia keluarkan menyiratkan rasa khawatir hanya saja ia nampak gengsi untuk mengakuinya.

"Makasih, Bang,"

Sontak Marvel melongo, satu tangannya terangkat. Ia menyentuh kening Ava sebentar.

"Kamu nggak panas, tumben kamu manggil aku Abang?"

"Salah?" tanya balik gadis itu.

Marvel menggeleng, ia semakin yakin jika adiknya mengalami gangguan mental. Terlebih sikap Ava yang begitu tenang, bahkan tidak ada raut marah yang terlihat di wajah gadis itu, Marvel kembali fokus menyetir.

"Bukan salah, Va. Hanya saja itu terasa aneh,"

"Kenapa?"

"Karena kamu membenciku," sahut Marvel, nampak senyum getir di wajah pemuda tersebut.

Ava kembali menatap lurus ke depan, beberapa kali ada mobil yang mulai menyalip kendaraan mereka. Ava belum tahu alasan di balik kebenciannya terhadap Marvel, ia hanya bisa menjawab sekedarnya untuk saat ini.

"Aku rasa sebagian ingatanku hilang. Aku bahkan nggak tahu siapa kamu dan keluargaku,"

"Apa!" sentak Marvel lantang.

Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan, tangan pemuda itu meraih pundak Ava dan mengguncangnya cukup kencang.

"Jangan bercanda, Va!"

Ava menggeleng pelan, saat ini ia hanya bisa berbohong demi mengetahui lebih banyak mengenai tubuh baru yang ia tempati. Karena ia tidak mendapat ingatan apa pun dari pemilik tubuh itu.

"Aku serius, aku jatuh dari kamar mandi dan kepalaku membentur lantai. Awalnya aku bahkan nggak tahu siapa namaku,"

Penjelasan Ava membuat pemuda itu terguncang, ia kembali memegang stir kemudi lalu melajukan kembali mobil itu. Mereka berdua sama-sama diam selama perjalanan, namun begitu Ava melihat gedung bertuliskan rumah sakit ia menjadi heran.

"Ngapain kita ke rumah sakit?" ujar Ava menoleh ke arah Marvel.

"Periksa, kepala kamu sepertinya bermasalah."

"Tapi, Bang-"

"Turun, jangan buang waktu terus, Va!" tegas Marvel tak terbantahkan.

Ava pun mengikuti keinginan Marvel, mereka mulai memasuki rumah sakit. Selang beberapa saat Ava di ajak menuju ruangan seorang dokter, ia hanya mengikuti Marvel seperti anak ayam di belakangnya.

Sesampainya di ruangan dokter, Ava langsung mendapat pemeriksaan. Dua puluh menit kemudian pemeriksaan itu usai, dokter menulis hal-hal yang ia ketahui.

"Bagaimana kondisi adik saya, Dok?" tanya Marvel.

"Adik anda mengalami amnesia ringan, selain itu adik anda memerlukan waktu istirahat lebih banyak. Kondisinya tidak stabil dan Nona Ava sepertinya mengalami syok berat akhir-akhir ini,"

Marvel termenung, ia merasa bersalah karena telah membiarkan adiknya mendekam di penjara selama seminggu, setelah semua selesai Marvel mengajak Ava kembali ke dalam mobil. Ava tidak banyak bertanya, ia ikut prihatin pada pemilik tubuh yang asli. namun ia lebih kasihan pada dirinya sendiri, Ava masih belum tahu alasan ia masuk ke dalam tubuh itu.

Perjalanan yang cukup memakan waktu akhirnya selesai, mobil itu berhenti di halaman rumah mewah yang baru pertama kali Ava lihat. Marvel turun lebih dulu, ia mengernyit heran saat melihat Ava masih duduk di dalam mobil.

"Va, kamu nggak turun?"

Ava bergegas keluar dari mobil, "Ini rumah siapa, Bang?"

"Rumah kita, nanti kalo ketemu Papah kamu jangan banyak membantah, Va!"

Ava mengangguk, ia mengikuti Marvel memasuki rumah besar itu. Saat pintu terbuka ia terkejut melihat seorang gadis berdiri di depan pintu.

"Astaga, Kakak akhirnya keluar juga dari penjara," ujar gadis itu.

Ava menaikan satu alisnya, ia bisa merasakan nada bicara gadis itu terdengar mengejek dirinya.

"Kita kenal?" tanya Ava dengan polos.

Sontak Marvel yang berdiri di samping adiknya tertawa pelan, ia sepeti melihat sosok baru dari adiknya.

"K-Kakak lupa sama aku?"

"Aku bahkan nggak ingat sama kamu, bisa jelasin kamu siapa?" sahut Ava.

"A-apa?"

Belum sempat Ava bertanya lebih lanjut, dari belakang gadis itu muncul seorang pria paruh baya. Terlihat pria itu menatapnya penuh permusuhan.

"Va, seminggu lagi kamu harus menikah!" titah pria itu tiba-tiba.

Ava masih diam di tempat, berbeda dengan Marvel yang sudah maju menghalangi pandangan gadis itu dan sang ayah.

"Pah, Ava baru saja pulang! kenapa Papah nggak bisa ngasih dia waktu buat istirahat?" sentak Marvel.

"Diam kamu! Ini nggak ada urusannya denganmu, Marvel!"

Kedua tangan Marvel mengepal erat, "Ada! Ava adik aku, Pah!"

Melihat ketegangan yang terjadi di depannya, gadis tadi mendekat ke arah Ava. Ia berbisik di telinga Ava.

"Kamu lihat, kan. Di sini nggak ada satu pun orang yang berada di pihakmu, Kak!" bisik gadis itu.

Ava melirik sekilas ke samping, ia lalu menjawab, "Aku nggak butuh belas kasihan dari siapa pun, karena aku bukan orang yang suka mengemis perhatian dari orang lain!"

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

sampe sini menarik nih.. walo di awal bab sempat heran, seorg pimpinan bodyguard kok bisa diremehin anak buah.

2024-08-05

1

Husein

Husein

bakalan seru nih..,

banyakin up nya Thor 👍❤️

2024-05-25

1

Cahaya yani

Cahaya yani

up yg byk donk thoooorrrt

2024-05-25

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!