Bagian 5

Sinar matahari sudah berganti menjadi rembulan, keheningan menyelimuti kamar milik Ava. Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi ia nampak masih enggan keluar dari kamar. Kini gadis itu tengah duduk di kursi meja belajar, terlihat kedua tangan gadis itu sedang membuka buku tanpa judul bersampul hijau daun.

Dalam buku tersebut, tertulis banyak sekali kata-kata kasar. Dengan telaten Ava membaca satu demi satu lembaran kertas itu, namun ketenangannya hilang ketika pintu kamarnya di ketuk.

"Masuk," sahut Ava dari dalam kamar.

Ceklek.

Pintu terbuka memperlihatkan sosok pelayan membawa nampan berisi makanan, dan segelas air putih.

"Nona, makan malamnya saya taro di sini yah?" ujar pelayan tersebut.

Ava menoleh, ia mengangguk tak lupa mengucapkan terimakasih. Pelayan itu kembali keluar kamar, sedangkan Ava? Dia kembali meneruskan membaca tulisan yang ada di buku.

Setengah jam berlalu, gadis itu terlihat menutup buku bersampul hijau daun dan meletakan kembali ke dalam rak. Ia meraih nampan dari sisi kiri meja belajarnya dan mulai memakan makanan tersebut.

Lima belas menit kemudian, Ava mengangkat nampan itu lalu membawanya keluar dari kamar. Begitu ia membuka pintu terdengar suara gelak tawa dari lantai bawah, Ava melongok ke pembatas tangga. Terlihat di meja makan satu keluarga cemara sedang menikmati makanan mereka, sambil bersenda gurau.

Ava kembali menarik tubuhnya, ia berbalik lalu meletakan nampan itu di meja luar kamar. Saat ia hendak masuk kembali ke dalam kamar, ia melihat Marvel baru saja keluar dari kamarnya.

"Mau kemana, Bang?" tanya Ava penasaran.

Ia melihat pakaian Marvel sudah rapi, dan tercium wangi parfum dari tubuh pemuda itu.

"Abang mau ketemu teman, kamu mau ikut?"

Ava menggeleng, "Nggak, aku mau tidur aja."

Marvel mengangguk, ia mengusap pucuk kepala adiknya sebelum berlalu menuruni tangga. Ava kembali masuk ke dalam kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu dari dalam.

"Aku perlu mencari tahu mengenai tubuhku," gumam Ava.

Ia berniat menuju hutan belantara yang menjadi tempatnya jatuh, ia belum bisa sepenuhnya mempercayai bahwa ia sudah meninggal.

Ava mengambil dompet yang berisi kartu kredit, dan juga ponsel. Ia mengganti pakaiannya menjadi serba hitam, ia berjalan ke arah balkon kamar, gadis itu menunggu mobil Marvel keluar dari rumah. Setelah melihat Marvel menjauh, Ava bergegas lompat ke atas pohon yang tumbuh di halaman samping kamarnya.

...***...

Beberapa saat kemudian Ava sudah berada di dalam taksi, ia meminta di antar menuju pinggiran hutan. Untungnya negara yang ia tinggali masih sama, dan kota yang kini menjadi tempat baru untuknya juga masih sama hanya berbeda jarak tempuhnya saja.

"Berhenti, Pak," ujar Ava ketika merasa sudah sampai.

Ia mengeluarkan selembaran uang berwarna merah, dan bergegas keluar dari taksi. Begitu taksi kembali melaju, Ava langsung masuk ke dalam hutan ia berlari sambil mengingat-ingat tempat jurang itu berada.

Drap. Drap. Drap.

Namun tanpa ia sangka, di tengah perjalanan ia mendengar suara teriakan seseorang dari kejauhan. Ava merasa orang tersebut membutuhkan pertolongan, tanpa pikir panjang ia berlari ke arah suara itu berasal.

Siapa sangka, begitu tiba di lokasi Ava menyaksikan seorang pria sedang menusukkan belati ke arah wajah pria paruh baya yang sudah berlumuran darah.

"Astaga!" reflek Ava berteriak.

Sontak pria itu menoleh, ia melihat siluet seseorang bersembunyi di balik pohon. Pria itu melepas belati dari wajah pria paruh baya tadi, sebelum pergi pria itu menusuk leher pria paruh baya itu hingga tewas.

Tap. Tap. Tap.

Ava mendengar suara langkah kaki mendekat ke tempat ia bersembunyi, baru saja ia menoleh sebuah belati sudah menyambut di depan wajah gadis itu.

"Wah ada tikus rupanya," ujar pria itu tersenyum remeh.

Tubuh Ava menegang saat belati berlumuran darah tersebut menyentuh kulit wajahnya.

"Siapa kau? Kenapa kau mengikuti ku, Nona?"

"Aku tidak mengikuti mu, aku hanya sedang lewat!" tegas Ava.

Kedua pupil matanya terus bergerak-gerak mengikuti belati yang bermain-main di area wajahnya. Ava melirik sekilas pada sosok pria itu, dalam hitungan detik Ava menendang perut pria itu hingga mundur beberapa langkah, namun sialnya belati tadi berhasil menggores pipi gadis tersebut.

BUGH.

"Ssstt, kau boleh juga rupanya." Ledek pria itu menatap sinis pada gadis di depannya.

"Aku tidak memiliki urusan dengan mu, permisi!" pamit Ava.

Ia berniat pergi namun pria itu langsung menarik pergelangan tangan Ava, dan meletakan belati di leher gadis itu.

"Kau salah besar jika berpikir aku akan melepaskan mu begitu saja, Nona!" bisik pria tersebut membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.

'Sial! Dia psikopat,' batin Ava kesal sendiri dengan kesialan yang ia dapatkan.

"Siapa yang menyuruhmu, Nona?" tanya pria itu lagi.

Ava merasakan belati itu mulai menyayat kulit lehernya, "Tidak ada, aku benar-benar tidak sengaja bertemu dengan mu!"

Namun jawaban Ava justru membuat tawa pria tersebut meledak, ia mendekatkan wajahnya hingga pipi mereka berdua saling bersentuhan.

"Jangan bermain-main denganku, Nona! Aku tidak suka kebohonganmu!"

Suara pria itu terdengar sangat dingin dan menusuk, Ava merasa seperti terperangkap di sarang serigala kelaparan. Ia mengutuk dirinya sendiri lantaran menuruti rasa penasarannya yang berujung masuk ke habitat psikopat.

Ava menghela nafas, ia berusaha setenang mungkin agar tidak menyulut amarah pria tersebut.

"Singkirkan belati anda lebih dulu, maka aku akan memberimu jawaban!" ujar Ava mencoba bernegosiasi.

"Pfftt haha, kau takut hm?"

Suara deep voice milik pria itu berhasil membuat tubuh Ava membatu, ia belum pernah menghadapi psikopat gila darah seperti ini. Bau amis semakin menusuk indra penciuman gadis itu, melihat reaksi tubuh Ava. Pria itu akhirnya melepaskan belati dari leher gadis tersebut.

Merasa ada kesempatan untuk melawan, Ava langsung menarik pria tersebut dan membanting tubuhnya hingga menghantam tanah. Ava menyeka darah yang menetes dari leher dan juga pipinya menggunakan punggung tangan.

"Dasar orang gila!" maki Ava dan berbalik meninggalkan pria tersebut.

Melihat Ava semakin menjauh pria itu berteriak, "NAMAKU BUMI AZHAR GALAKSI, INGAT ITU, NONA!"

Ava menoleh ia mengangkat jari tengah dan menunjukan pada pria tersebut, "Fuck!"

Sontak Azhar tertawa sampai terpingkal-pingkal, ia baru pertama kali melihat ada yang berani memperlakukan dirinya dengan kasar bahkan di pertemuan pertama mereka. Azhar menengadah menatap langit yang di sinari terang bulan, senyuman di wajah pria itu tak kunjung redup.

Azhar bersiul tiga kali, tak lama kemudian muncul tiga orang berpakaian serba hitam. Mereka adalah orang kepercayaan Azhar, mereka juga yang selalu membereskan kekacauan yang di buat pria itu.

"Kalian melihat wajah gadis barusan?" cetus Azhar tanpa menoleh.

"Ya, Tuan," sahut mereka bertiga secara bersamaan.

Azhar mengangguk, "Cari tahu siapa gadis itu dan dimana tempatnya tinggal, berikan laporan itu padaku lusa!"

"Baik, Tuan,"

Azhar tersenyum puas, ia mengangkat tangannya yang terkena darah gadis tadi. Tanpa ada rasa jijik, ia menjilat darah tersebut.

"Selamat Nona, kau berhasil membuatku penasaran." Gumam Azhar di selingi senyum smirk.

Terpopuler

Comments

nichi.raitaa

nichi.raitaa

boleh protes ngga? kok gk dipanggil Bumi ajaaaa🫣👉👈

2024-06-13

6

Ayu Dani

Ayu Dani

wah wah wah wah ini dia bintang nya baru keluar

2024-06-10

1

Hasna 💙

Hasna 💙

waaahhh cinta pandangan pertama , udah kya lagu ajah 😁😁

2024-05-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!