Keheningan sempat terjadi di ruang makan kediaman Lombardi, Gilang memijit pelipisnya pelan. Ia tak bisa berbuat banyak untuk mendapatkan simpati dari adiknya. Dampak hubungan Azhar dan ayahnya juga menjadi pemicu retaknya hubungan kakak beradik itu, Gilang yang selalu membela ayahnya di tengah keterpurukan sang adik berhasil menambah goresan luka di hati Azhar.
"Pah, sepertinya kali ini Azhar nggak main-main." Cetus Gilang khawatir.
Morgan dengan santai menyesap tehnya kembali, "Kamu tenang saja, anak itu tidak mungkin bisa lepas dari perintahku."
"Maksud Papah?"
"Kamu hanya perlu fokus pada pekerjaanmu, Lang. Jika kamu teledor, bisa saja Papah memilih Azhar sebagai pewaris berikutnya." Sahut Morgan sedikit mengancam putra sulungnya.
Gilang mengangguk patuh, ia sudah seperti mainan yang di kendalikan oleh ayahnya. Tak jarang rasa iri muncul di hati pemuda itu, ketika melihat kebebasan yang di miliki Azhar. Namun di satu sisi, ia tak seberani adiknya yang rela menjadi pembangkang demi mendapatkan apa yang ia mau.
Morgan melihat jam di pergelangan tangannya, ia lalu menghabiskan teh yang tinggal sedikit. Setelahnya ia berdiri dari kursinya dan meraih jas yang tersampir di sandaran kursi.
"Papah pergi dulu, kamu jangan tidur terlalu malam." Pesan Morgan layaknya ayah yang baik.
"Baik, Pah." Sahut Gilang.
Ia melihat ayahnya mulai menjauh menuju pintu utama mansion, malam ini Morgan akan pergi menuju negara meksiko. Ada bisnis di sana yang perlu ia kerjakan tanpa sepengetahuan kedua putranya.
...***...
Di sisi lain, terlihat seorang gadis sedang duduk sambil menikmati sekaleng soda di taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ia Ava, meski hari sudah malam, namun gadis itu masih enggan kembali ke rumah. Ia bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya yang tadi pagi.
Ava melihat banyak muda mudi yang masih berada di luar rumah, namun kebanyakan dari mereka membawa pasangan. Ava tersenyum simpul, saat melihat seorang gadis yang kesusahan mengambil hak sepatu yang tersangkut di sela-sela paving.
Merasa kasihan, Ava bergerak menghampiri gadis itu. Tanpa berkata apa-apa, Ava berjongkok dan menarik hak sepatu gadis itu.
"Lain kali jangan pake sepatu begini, jalanan di sini kebanyakan pake paving." Ujar Ava sambil mendongak ke arah gadis itu.
"Loh, Ava?" raut wajah gadis itu nampak terkejut melihat seseorang yang ia kenal berada di hadapannya.
Ava kembali berdiri, ia menaikan satu alisnya bingung, "Kamu mengenalku?"
Gadis itu mengangguk singkat, ia lalu bertanya kembali pada Ava.
"Ngomong-ngomong, kapan kamu keluar dari penjara?" cerocos gadis itu.
"Seminggu yang lalu, dan maaf aku lupa siapa kamu. Apa kita dekat?"
Sontak kedua mata gadis itu melotot tak percaya, "A-apa? Yang benar!"
Ava mengangguk singkat, meski ia ingat dengan kehidupannya yang dulu. Tapi di sini, ia seperti orang asing yang tidak tahu arah jalan pulang.
Gadis itu mengulurkan tangan kanannya pada Ava, meski bingung Ava tetap menyambut uluran tangan tersebut.
"Kita kenalan lagi, sebelumnya kita juga nggak bisa di bilang dekat sih. Kamu itu susah di deketin, Va. Dah gitu sikap kamu dingin mulu tiap ketemu sama aku," curhat gadis itu.
"Terus?"
"Intinya kita saling kenal, cuma nggak deket gitu doang sih. Oh iya nama aku Laura Atmajaya, kamu bisa panggil aku Lala." Ujar gadis itu tersenyum hangat.
Senyum Lala menular pada Ava, "Salam kenal, La."
Ava melepas jabat tangan mereka, ia baru menyadari kalau pakaian Laura sangat mencolok. Warna pink terang dan juga tas mungil dengan warna senada, di tambah make up tebal di wajah gadis itu berhasil membuat Ava sakit mata dalam sekejap.
"Kamu mau kemana jam segini, La?" ujar Ava mencoba, mengalihkan perhatiannya dari penampilan Laura.
Seketika mimik wajah gadis itu berubah pucat, entah hal apa yang membuatnya terlihat begitu ketakutan. Belum sempat Laura menjawab, sebuah teriakan nyaring bergema hingga membuat gendang telinga Ava berdengung hebat.
"LAURA!" teriakan itu berasal dari seorang gadis yang tak lain adalah Mila.
Tap. Tap. Tap.
Mila menghampiri Ava dan juga Laura, ia tidak sendiri melainkan bersama kedua orang sahabatnya yang belum pernah Ava lihat sebelumnya.
"Ngapain kamu bersama narapidana ini hah?" sentak Mila tak suka.
Laura terlihat memilin ujung bajunya, ia menunduk tak berani melihat ke arah Mila. Hal itu membuat tanda tanya besar di benak Ava, ia jadi teringat tentang pembullyan di sekolah. Dugaan bahwa Mila juga merundung murid lain di luar sekolah, semakin membuat Ava tak habis pikir.
Seorang ketua kelas, sekaligus primadona sekolah. Namun memiliki attitude terburuk di sana, sikap Mila mengingatkan Ava pada salah satu rekannya dulu di Sky Blue yang selalu mencari masalah dengannya.
"M-maaf, Mil. A-aku nggak sengaja ketemu Ava di disini, t-tadi Ava abis bantuin aku," sahut Laura gagap.
Tanpa di duga, Mila menunjuk kepala Laura dan mendorongnya layaknya bola mainan.
"Alasan, kamu mau kabur dariku, kan?" tuduh Mila sambil terus menerus menoyor kepala Laura.
"M-maaf, aku nggak mungkin kabur, Mil."
Melihat tingkah Mila yang terus menyalahkan Laura, membuat Ava sedikit kesal. Namun ia malas ikut campur dalam urusan mereka, tapi sayangnya sikap Mila yang dengan entengnya mengangkat tangan dan berniat menampar pipi Laura, membuat Ava seketika tak bisa diam saja. Ia menahan pergelangan tangan Mila di udara.
"Apa menampar sudah menjadi kebiasaanmu, Mil?" ucap Ava tanpa melepas cekalan di tangannya.
"Lepas, sialan! Kamu jangan berlagak menjadi pahlawan di sini, Va." Sentak Mila geram.
Ava mengangkat kedua bahunya acuh, ia melepas cekalan di tangan Mila. Ava menarik pergelangan tangan Laura, lalu menyuruhnya berdiri di belakangnya.
"Kenapa? Kamu takut kalah hm," Ava menyahut dengan enteng.
"Kamu-" Mila menggantung ucapannya, ia lalu merubah raut wajahnya menjadi sendu seperti orang yang tengah kesakitan.
Awalnya Ava tidak tahu alasannya, namun seketika ia mendengar suara bariton dari sebelah kiri memanggil namanya, sontak semua orang menoleh. Ava menarik nafasnya dengan kasar lalu membuangnya lewat hidung.
'Makin males aku berada di sini,' batin Ava lelah.
"Ava, apa yang kamu lakukan pada sepupumu hah? Belum puas kemarin kamu berniat membunuhnya?" bentak Mark kalap begitu sampai di hadapan putrinya.
Tubuh Laura bergetar hebat, ia takut melihat sorot mata Mark yang terlihat sedang menguliti putrinya sendiri di depan mereka semua.
"Bukankah anda memiliki mata, anda bisa melihat dan menilai sendiri tanpa perlu aku jawab, kan?" sahut Ava tanpa rasa takut.
Namun detik berikutnya, ia merasakan kebas dan perih di bagian pipi serta sudut bibirnya. Laura dan kedua teman Mila reflek berteriak saat melihat sudut bibir Ava mengeluarkan darah.
"Va, kamu berdarah." Gumam Laura terlihat begitu shock.
Tak ingin Laura melihat lebih banyak hal buruk, ia menarik Laura menuju tepi jalan lalu menghadang satu taksi di sana.
"Kamu pulang dulu sana, udah malam nanti orang tuamu nyariin," usir Ava.
"Tapi kamu sendiri gimana?"
"Nggak papa, aku bisa mengatasi mereka semua kok." Ava tersenyum simpul, seolah memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
Selepas kepergian Laura, Ava kembali ke tempat Mark berdiri. Ia menatap datar pria paruh baya yang menjadi ayahnya.
"Jawab Papah, kenapa kamu menindas Mi-"
BUUAGH.
"AAKHHH," Mila berteriak tanpa sengaja, kedua kakinya seketika lemas melihat keberingasan Ava pada ayahnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Husein
Thor kok digantung siiiiih... pengin liat ava bejek-bejek yg ngakunya papa itu... sama anak kok kejammmm
2024-06-06
2
DISTYA ANGGRA MELANI
Greget q... Bpak nya di hajar biar badut sklian
2024-06-06
0
Yusrina Ina
bagus Ava jangan bagi peluang pada org2 yang menyakiti mu lawan sampai habis walaupun keluarga sendiri 😡😡😡
2024-06-06
0