Bugh.
Tubuh Ava terhuyung, saat ia mendapat tendangan di bagian punggung. Jumlah mereka empat orang, tapi keahlian mereka bukan sembarangan.
"Menyerah lah, Nona, kau tidak mungkin bisa melawan kami berempat!" ucap pria berbadan besar.
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
"Sesuatu yang hanya di miliki olehmu, apa kau ingat?" sahut pria tersebut.
Gadis itu terdiam sesaat, ia mencoba mengingat apa yang di maksud pria tersebut. Sesaat kemudian Ava menarik sudut bibirnya ke atas hingga membentuk seringai, ia ingat apa yang mereka incar.
"Ah, sekarang aku ingat kalian dari kelompok itu, kan! Sayangnya benda itu sudah tidak ada padaku!"
"Pembohong! Kau kira kami bodoh hah? dengar, Nona, kalau kau menyerahkan benda itu sekarang kau akan selamat!" ancam pria tersebut.
Ava tersenyum simpul, ia menyusupkan tangan ke dalam saku kantong celananya. Gadis itu menarik pisau lipat dari saku celana, pistol yang tadi ia bawa sudah ia simpan kembali di gedung Sky Blue, karena perusahaan itu melarang para anggotanya membawa senjata keluar kecuali saat menjalankan misi.
"Sebelum itu aku ingin tahu, untuk apa kalian menginginkan benda tersebut?" tanya Ava.
"Kau tak perlu banyak tanya! Lebih baik berikan benda itu sekarang jika kau masih sayang nyawa!"
"Sayangnya aku tidak mau~"
Selepas gadis itu menjawab, ia langsung mengarahkan pisau itu ke arah pria tersebut. Dalam sekali lemparan pisau itu berhasil mengenai mata sebelah kanan milik pria tersebut.
Jleeb.
"Aaarrghh, mataku!" teriakan pria itu membuat para rekannya panik.
Ketiga teman pria itu bergegas menghajar Ava kembali, hingga akhirnya pertarungan sengit kembali terjadi. Ava berusaha mempertahankan diri, ia berhasil menangkis beberapa pukulan yang mengarah padanya. Akan tetapi tanpa ia sadari, pria tadi sudah mencabut pisau kecil tersebut dari matanya.
Ia menatap benci pada sosok gadis yang tengah bertarung dengan para rekannya, pria itu berdiri ia menggenggam erat pisau perak itu.
"Jala** sialan, kau harus mati!" geram pria tersebut.
Ia berlari ke arah Ava tanpa sepengetahuan gadis itu, selang beberapa detik pisau perak itu menancap sempurna di perut Ava.
Jleb.
"Ugh," Ava menunduk, ia melihat darah mulai keluar dari balik bajunya.
"Bunuh gadis itu, tidak usah pikirkan benda yang kita cari! Kematian gadis itu lebih penting," perintah pria tersebut tak terbantahkan.
Para rekan pria itu mengangguk, mereka kembali menghajar Ava tanpa ampun. Di tengah rasa sakit yang gadis itu rasakan, ia berusaha terus melawan hingga ia berhasil menumbangkan dua orang.
Keringat mulai turun di kening Ava, darah kian banyak yang keluar dari area perutnya. Ava mulai merasa pusing, dan juga lemas.
'Sialan, apa aku kabur saja?' batin Ava bimbang.
Kondisinya saat ini sangat buruk, ia belum makan dan baru saja pulang bekerja. Ava merasa tenaganya sudah habis terkuras, tak punya pilihan lain Ava memilih kabur masuk ke dalam hutan yang gelap gulita. Ia mencoba mencari tempat bersembunyi, namun para pria itu tak membiarkan dirinya bernafas meski hanya sebentar.
"Bajingan! Mereka sungguh ingin membunuhku di sini," gumam gadis itu di sela-sela pelariannya.
Sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan cairan berwarna merah, Ava berlari tak tentu arah. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan bahwa pria itu masih berjarak cukup jauh darinya.
Namun sayang, jalan yang gadis itu ambil menuju ke arah jurang. Baru saja ia berniat balik arah, tiba-tiba para pria itu sudah berdiri di depannya.
"Kau mau lari kemana lagi heh, kemarilah aku akan membunuh mu tanpa rasa sakit, Nona!" ejek pria yang terkena tusukan pisau tadi.
"Kau pikir aku takut kematian hm, dari pada aku mati di tangan kalian lebih baik aku jatuh dari sini," sahut Ava pedas.
Benar saja setelah ia mengatakan hal tersebut, Ava menjatuhkan dirinya ke dalam jurang. Bersamaan dengan itu muncul sebuah cahaya berwarna merah dari saku jaket gadis itu.
...***...
Suara bising mulai mengganggu indra pendengaran milik seorang gadis yang sedang terbaring di atas karpet kusam dan bau, perlahan kedua netra gadis itu mulai terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit ruangan yang catnya sudah terkelupas.
"Ssstt, aku dimana?" desis gadis itu ketika rasa sakit mendera kepalanya.
Ia menoleh ke arah kiri, seketika kening gadis itu mengkerut. Di depannya sedang berkumpul para wanita yang mengenakan baju berwarna oranye bertuliskan TAHANAN.
Gadis itu perlahan bangun dari tidurannya di lantai, ia memegangi bagian belakang kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Kamu sudah bangun, Va?" pertanyaan itu terlontar dari seorang perempuan paruh baya yang memiliki badan sedikit gemuk.
"Y-ya? Anda memanggil saya?" ujar Ava menunjuk dirinya sendiri.
Perempuan itu mengangguk, "Kamu pingsan setelah jatuh di kamar mandi, apa kepalamu baik-baik saja?"
'Pantas saja bagian belakang kepalaku sangat sakit,' batin Ava.
Tanpa sengaja ia melihat wajahnya di cermin yang tergeletak di dinding, wajahnya sangat berbeda. Wajah itu terlihat sangat mulus dan kulitnya terlihat putih seperti porselen.
"Itu siapa?" tanya Ava menunjuk ke arah cermin.
Para perempuan yang ada di sana mengikuti arah pandang Ava, "Itu kamu, Va. Masa kamu nggak kenal sama wajahmu sendiri?" ujar salah satu perempuan tersebut.
"Sebentar, siapa namaku?"
"Nama kamu Ava Claire, kamu masuk ke dalam sel ini sudah seminggu yang lalu, jangan bilang kamu beneran amnesia?" sahut perempuan itu lagi.
"A-apa?" Ava benar-benar di buat bingung saat ini.
Ia masih ingat dengan jelas, bahwa ia baru saja meninggal setelah menjatuhkan diri ke dalam jurang. Tapi sekarang, ia justru mendekam di penjara dan itu sudah seminggu.
Ava tak habis pikir dengan kejadian yang ia alami, bahkan lebih anehnya nama tubuh yang ia tempati sama persis seperti namanya. Apa semua itu hanya sebuh kebetulan semata?
"Apa kalian tahu kenapa aku di tahan di sini?" tanya Ava penasaran, ia tidak mungkin masuk ke dalam sel penjara hanya karena ingin mencicipi menjadi tahanan bukan.
"Kami tidak tahu pastinya, tapi beberapa waktu lalu kami dengar kamu berniat menghabisi sepupumu sendiri,"
Sontak Ava tak bisa lagi menyembunyikan raut terkejutnya, ia memijit pelipisnya pelan. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, kejutan yang ia dapat benar-benar luar biasa bahkan sulit di terima logikanya.
'Jadi aku transmigrasi, dan jiwaku masuk ke dalam tubuh gadis yang mendekam di penjara?'
"Sialan, apa ini efek dari benda pemberian ketua dulu?" gumam Ava.
Benda berbentuk cincin yang memiliki hiasan berlian berwarna ruby, di berikan oleh pemimpin Sky Blue yang telah wafat empat tahun yang lalu, benda yang sangat di sayangi oleh mendiang pemimpin perusahaan itu. Sekaligus benda yang harus ia jaga hingga rela mengorbankan nyawanya.
"Jika itu benar, kenapa aku harus masuk ke dalam tubuh narapidana seperti ini? Bukankah biasanya orang yang bertransmigrasi masuknya ke dalam tubuh orang yang sedang sekarat? Tapi kenapa aku berbeda?" gumam Ava tak habis pikir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Suwanto Wanto
hadir thoor semangat👍😎
2024-10-17
0
Fp
mangat author
2024-08-13
0
nichi.raitaa
Avaa lu knapa lari ke hutan sih yampoon tp kalo ga ke hutan ceritanya gajadi, oke lanjot~ akkk🫠👍
2024-06-13
4