Suasana ruang Kepsek terasa sangat menegangkan, tanpa perduli dengan pangkat yang melekat pada pria di hadapannya. Ava mulai mengutarakan keluhan mengenai sekolah yang ia tempati.
"Pak, saya akan berbicara langsung pada intinya saja. Sekolah yang anda bangun tidak memiliki kualifikasi dalam hal perlindungan, sering kali para guru mengabaikan tindakan pembullyan yang terjadi di depan mata mereka, dengan alasan mereka masih anak-anak." Ava mengambil nafas lalu mengeluarkannya dengan kasar, ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Di sekolah ini para orang tua menitipkan anak mereka dengan harapan, anak mereka pulang membawa ilmu dalam kondisi baik-baik saja. Namun tak jarang, saya melihat banyak murid yang menyombongkan status keluarga mereka demi melakukan pembullyan. Sistem kasta di sekolah ini masih ada, yang lebih parah para guru lebih melindung sang penindas hanya karena mereka berasal dari keluarga kaya!"
Azhar tetap diam, ia membiarkan gadis itu menyuarakan semua pendapatnya. Selama ini tidak ada orang yang berani melakukan hal tersebut, hingga ia juga mengabaikan hal terkait pembullyan di sekolah yang ia bangun.
Selepas Ava menyelesaikan ucapannya, Azhar bertepuk tangan sebagai apresiasi atas keberanian gadis itu. Azhar berdiri dari kursi lalu mendekat ke arah gadis itu, ia menunduk dan mengurung Ava dengan kedua tangan bertengger di kursi bagian sisi kanan serta kiri gadis itu.
"Saya sangat terkesan dengan protes darimu, Nona Ava Claire. Secepatnya saya pastikan tidak ada lagi perundungan di sekolah ini,"
Tangan kanan Azhar terangkat, lalu menyelipkan anak rambut gadis di depannya kebelakang telinga. Azhar mendekat, pria itu berbisik di samping telinga Ava.
"Saya menantikan kemampuan anda di masa depan, Nona." Bisik Azhar, suara rendah dari pria itu sedikit membuat Ava merinding.
Ava mendorong tubuh Azhar menjauh, ia lalu berdiri dan berniat pergi. Namun Azhar kembali menarik pergelangan tangannya, hingga tubuh gadis itu menabrak dada bidang pria tersebut.
Sontak kepala sekolah tercengang, ia menyeka keringat di kening. Kepala sekolah merasa bahwa Ava telah membuat Azhar tertarik padanya.
"Kalau kau kesulitan, cari saja saya. Dengan senang hati saya pasti membantumu, Nona!" ujar Azhar sambil menyelipkan kartu namanya di saku seragam Ava.
Setelahnya ia membiarkan gadis itu pergi, Azhar kembali menoleh kepada kepala sekolah. Mimik wajah pria itu terlihat keruh, ia memasukan satu tangannya ke dalam saku celana.
"Kenapa anda tidak pernah melaporkan hal ini pada saya, Pak? Apa menurut anda hal itu tidak penting hingga membuat anda tutup mata?"
Kepala sekolah menggeleng cepat, "Tidak Tuan, saya minta maaf. Saya benar-benar bodoh membiarkan mereka berti-"
"Cukup, mulai besok saya akan mengirim orang lain untuk menggantikan posisi anda di sini. Silahkan bereskan barang-barang anda hari ini, saya tidak ingin mendengar alasan apa pun dari anda!" tegas Azhar tak terbantahkan.
Ia pergi dari ruang kepala sekolah bersama Kai, sedangkan sang kepala sekolah menggeram marah ketika Azhar sudah menjauh. Ia tidak terima di keluarkan begitu saja oleh Azhar, apa lagi itu hanya karena laporan dari gadis ingusan seperti Ava.
"Awas saja kamu Ava! Saya tidak akan tinggal diam," gumam kepala sekolah.
...***...
Sinar matahari mulai meredup, di gantikan dengan kegelapan yang memenuhi langit. Di sebuah mansion mewah tempat tinggal pria bernama Bumi Azhar Galaksi, terlihat seorang paruh baya serta satu orang pemuda sedang duduk mengitari meja makan.
Mereka semua keluarga Azhar, namun suasana di meja makan itu terlihat tak nyaman. Pria paruh baya itu nampak menunjukan raut sinis dan benci pada putra keduanya, namun Azhar sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut. Ia lebih memilih menyesap wine di gelasnya, dari pada mengomentari tatapan sang ayah.
"Gilang, Papah dengar kamu berhasil mendapatkan kerja sama dengan perusahaan xx apa berita itu benar adanya?" tanya Morgan Lombardi.
Gilang mengangguk, "Benar, Pah. Mereka bahkan dengan senang hati, memberikan keuntungan lebih pada kita untuk kerja sama kali ini."
Senyum bangga terlihat di wajah pria itu, ia menoleh ke arah Azhar yang masih acuh tak acuh pada pembicaraan mereka berdua.
"Kamu dengar, kan. Kakakmu berhasil menggaet perusahaan besar ke sisi kita, sedangkan kamu apa? Kamu setiap hari hanya keluyuran tak jelas, mau jadi apa kamu nanti hah?" ejek Morgan tanpa perasaan.
Memang usaha yang di miliki Azhar sengaja ia sembunyikan, bahkan mereka hanya tahu perusahaan itu di pimpin oleh Kai. Azhar sendiri tidak di perbolehkan menggunakan marga sang ayah, dengan alasan ia tidak mempunyai kualifikasi dalam keluarga Lombardi.
"Mau jadi apa pun aku nanti, itu bukan urusan kalian. Lagi pula aku bukan anggota keluarga Lombardi, jadi aku tidak perlu pembuktian apa pun pada kalian, kan?"
"AZHAR!" bentak Morgan kalap.
Azhar dengan santai menaikan satu alisnya, ia kembali menjawab, "Apa lagi? Memang itu faktanya kok. Anda tidak menganggap saya anak, begitu juga sebaliknya."
"Zhar, jaga bicaramu! Beliau masih Papah kamu, darah Papah mengalir di tubuhmu, Zhar!" sentak Gilang tak suka dengan cara bicara adiknya.
"Terus mau kalian apa? Mau ngambil darah di tubuh aku, gampang kok tinggal kalian bunuh aku terus ambil deh darahnya," sahut Azhar enteng.
Mendengar jawaban ngawur sang adik, Gilang menghela nafasnya pelan. Sikap Azhar sangat keras kepala, ia selalu membantah jika berbicara dengan mereka terlebih pada ayah mereka. Azhar sama sekali tidak pernah memanggil Morgan dengan sebutan Ayah sejak lama, semua berawal dari kejadian 20 tahun yang lalu.
Azhar yang merasa kehadirannya tidak lagi di perlukan, ia berniat pergi namun ucapan Morgan selanjutnya membuat ia terpaksa mengurungkan niatnya.
"Tiga hari, kamu hanya mempunyai waktu tiga hari untuk memperkenalkan kekasihmu. Kalau kekasihmu gagal dalam kualifikasi dariku. Maka kamu harus menikah dengan orang pilihan Papah!" cetus Morgan tak terbantahkan.
"Pfft anda mengancam ku?" sahut Azhar.
Morgan mengangguk tanpa ragu, "Kamu sendiri sudah tau, bahwa kamu sudah di jodohkan sejak kecil. Dan itu juga perjodohan ini merupakan pesan terakhir dari ibumu, bukankah saat ini Papah masih berbaik hati padamu dengan memberikan kelonggaran, Zhar."
Kedua tangan Azhar mengepal erat, "Kenapa anda selalu membawa nama ibuku setiap kali kita bicara hah! Anda ingat gara-gara anda aku harus kehilangan beliau!"
Morgan tertawa getir, ia meraih cangkir berisi teh dari atas meja. Pria paruh baya itu menyesap teh tersebut, lalu meletakan kembali ke atas meja.
"Azhar, kamu tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Saat itu Papah tidak punya pilihan lain selain-"
"Membunuhnya!" potong Azhar, emosinya sudah tak terkendali. Ia menatap benci pada pria yang menyandang gelar sebagi ayah.
Azhar menyibak rambut hitamnya ke belakang, ia sungguh membenci Morgan. Namun ia tidak bisa pergi dari sana untuk saat ini, karena Morgan masih menyembunyikan makam sang ibu darinya.
"Oke tiga hari lagi aku akan membawa kekasihku ke sini, setelah dia lolos dari ujian anda. Jangan pernah anda mengusik urusan pribadiku lagi, paham!" sentak Azhar.
Ia pergi dari meja makan menuju kamarnya, tanpa menunggu jawaban Morgan. Jika bukan karena makam ibunya yang belum ia ketahui, ia pasti sudah pergi dari rumah itu sejak lama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
wonder mom
kelg zuper bobrok. materi punya tp hati...masuk septitank
2024-07-29
0
Astuti Setiorini
penasaran mkam ibu azhar disembunyikan dimana sma papanya
2024-06-05
0
Fransiska Husun
errrr bukanx bos besar 😑 masalah yg begitu saja gak bisa di ketahui 😑
2024-06-05
4