Di dalam kamar milik Ava, terlihat Marvel sedang berbalik badan sambil menunggu pelayan menggantikan pakaian adiknya. Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, Marvel bergegas membuka pintu tersebut berharap jika itu dokter. Namun siapa sangka orang yang muncul justru Maya, sang ibu tiri.
"Ngapain anda ke sini?" ujar Marvel tak suka.
"Mamah ingin melihat kondisi putri Mamah, Vel." Sahut Maya lembut.
Namun Marvel yang sejak awal tak menyukai Maya, jelas melarang wanita itu melihat adiknya. Ia menyuruh Maya pergi dari sana, bersamaan dengan itu dokter yang di panggil oleh Mark muncul.
Marvel mengajak dokter itu masuk ke dalam kamar adiknya, sedangkan Maya pergi dari sana setelah Marvel mendorongnya menjauh. Di dalam kamar, dokter mulai memeriksa kondisi Ava, suhu tubuh gadis itu naik dan menyebabkan demam tinggi. Luka-luka di bagian punggung Ava membuat sang dokter merasa ngilu, bukan cuma lecet melainkan robek hingga darah terus keluar sejak tadi.
"Sementara waktu, Nona Ava tidak boleh tidur telentang. Saya akan menjahit punggungnya sekarang," ujar sang dokter.
Marvel mengangguk patuh, ia memperhatikan dokter itu menjahit punggung adiknya. Sesaat kemudian lima belas jahitan sudah berhasil dokter itu tangani, ia dan Marvel menatap nanar punggung gadis yang belum sadarkan diri itu.
"Sebaiknya, Nona jangan banyak bergerak dulu untuk sementara waktu sampai lukanya mengering. Sebisa mungkin, anda menjaga adik anda dan jangan meninggalkannya sendirian, Tuan Muda." Pesan dokter tersebut.
Ia sudah tahu jika Ava baru saja mendapat kedisiplinan dari Mark, karena ia sudah sering mengobati gadis itu. Namun kali ini benar-benar parah, tapi di satu sisi dokter itu merasa kagum karena meski luka itu cukup dalam, gadis itu masih sanggup bertahan.
"Suhu tubuhnya naik terlalu drastis, saya akan memberikan resep obat yang biasa di minum Nona Ava. Tolong tebus obat itu di apotik sekarang, apa anda bisa, Tuan Muda?"
"Tentu, saya bisa pergi sekarang juga." Sahut Marvel tegas.
Dokter itu mulai menulis resep obat yang perlu Marvel beli, setelah menyerahkan resep tersebut dokter itu memeriksa sekali lagi kondisi Ava sambil menyerahkan salep untuk di oleskan pada punggung gadis itu pada Marvel.
Sesaat kemudian dokter pun pamit, Marvel mengantar dokter itu keluar mansion sekaligus ia berniat pergi ke apotik. Sebelum pergi Marvel meminta satu pelayan menjaga Ava di dalam kamar, Marvel yang takut meninggalkan adiknya sendirian memilih mengunci kamar Ava dari luar dan membawa kuncinya. Ia takut kalau Elisa serta Maya kembali menggangu adiknya.
...***...
Sedangkan di alam bawah sadarnya, Ava sedang termenung menatap ke arah rumah sederhana yang berada di tengah-tengah hamparan tanah gersang, dengan pohon-pohon yang nampak kering kerontang.
"Aku dimana?" gumam gadis itu kebingungan.
Ia menoleh kesana kemari mencari seseorang untuk ia mintai pertolongan, namun ia tidak menemukan siapa pun. Hingga akhirnya ia memilih mendekati rumah tersebut, ia baru menyadari bahwa ia tidak mengenakan alas kaki.
Tok. Tok. Tok.
Ava mulai mengetuk pintu, saat ketukan ketiga pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ia merasa was-was karena rumah itu nampak sangat sepi, seperti tidak berpenghuni.
"Permisi, apakah ada orang di sini?" ujar Ava seraya melangkah masuk.
Namun begitu ia berada di dalam rumah, pintu itu kembali menutup sendiri hingga membuat Ava terlonjak kaget.
"Astaga kenapa genrenya berubah jadi horor?"
Ia menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha menepis pikiran negatif yang mulai masuk ke dalam pikirannya. Saat Ava berniat melanjutkan langkah mencari orang di dalam rumah tersebut, tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.
"Aku sudah menunggumu sejak lama, Va. Kenapa kamu baru datang sekarang?"
Sontak Ava menoleh, ia terperangah melihat wujud tubuhnya ada pada gadis itu.
"Siapa kamu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" cecar Ava penasaran, ia takut jika gadis di depannya bukan orang melainkan hantu yang bisa berubah wujud.
Namun bukannya menjawab, gadis itu justru menarik tangan Ava menuju kursi yang berada di tengah-tengah ruangan. Mereka berdua duduk bersebelahan sambil menatap ke arah jendela.
"Ya, kamu pernah menolongku sekali. Apa kamu lupa?" sahut gadis itu tanpa menoleh ke arah Ava.
"Dimana?"
Raut bingung terlihat jelas di wajah Ava, ia tidak ingat kapan dan dimana ia bertemu bahkan menolong gadis di depannya.
"Di depan sekolah Galaksi, saat itu ada penyerangan dadakan di sana, dan kebetulan kamu sedang menjadi bodyguard salah satu murid di sekolah itu,"
Ava mengangguk singkat, meski ia tak ingat dengan jelas namun ada hal lain yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Apa kamu pemilik tubuh yang aku tempati saat ini?" tebak Ava, setelah sekian lama mengamati tubuh gadis tersebut yang tidak berubah.
Gadis itu tersenyum hangat lalu mengangguk, ia menoleh menatap lekat ke arah bola mata Ava.
"Selamatkan ibuku, Va. Cuma kamu yang bisa melakukan itu semua!" ujar gadis itu memelas.
Kening Ava berkerut, ia teringat bahwa ibu pemilik tubuh ada di rumah sakit jiwa. Bahkan ia belum pernah menjenguknya, karena selama ini Mark selalu berusaha menghalangi ia untuk menemui ibunya sendiri.
"Maksudmu, mengeluarkan ibumu dari rumah sakit jiwa?"
Gadis itu kembali mengangguk, "Ibuku nggak gila, dia korban. Tolong bawa ibuku pergi, Va."
"Sebentar, tadi kamu bilang ibumu nggak gila? Lalu kenapa beliau ada di rumah sakit jiwa?"
Gadis itu berkali-kali membuka mulutnya berusaha mengatakan yang sebenarnya pada Ava. Akan tetapi suara gadis itu menghilang seketika, dan Ava tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi.
Melihat wajah gadis di depannya yang terlihat sedih, Ava memilih mengalihkan pembicaraan. Ia menepuk lembut punggung gadis itu.
"Nggak usah di paksa, nanti aku cari tahu sendiri alasannya. Tapi bisakah kamu memberiku petunjuk mengenai dirimu, dan berikan ingatan yang kamu miliki padaku." Ava menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan perkataannya.
"Saat ini aku seperti orang hilang yang nggak tahu apa-apa, aku memerlukan ingatanmu agar memudahkan aku mendapatkan petunjuk," lanjut Ava.
Gadis itu mengangguk, ia meraih kepala Ava lalu mengecup lama keningnya. Sekejap ingatan baru mulai masuk ke dalam kepala Ava, bersamaan dengan rasa pening yang mendera seluruh bagian kepalanya.
Lima menit kemudian gadis itu melepaskan ciuman di kening Ava, ia menggenggam kedua tangan Ava dengan lembut.
"Maaf karena aku tidak bisa ikut campur dalam duniamu lagi, aku harap ingatan itu bisa membantumu mencari petunjuk. Dan tolong jaga Bang Marvel, karena aku sudah lama mengabaikannya." Ujar gadis itu, terlihat jelas penyesalan di kedua netranya.
Ava membalas genggaman tangan gadis tersebut, "Ya, aku janji akan menjaga keluargamu. Kamu bisa pergi dengan tenang, tugasmu biar aku yang membereskannya."
"Makasih, Va. Aku harap kamu juga bisa menemukan kebahagiaanmu suatu saat nanti," ucap gadis itu dengan tulus.
Sesaat kemudian, tubuh gadis itu mulai menghilang. Namun sebelum ia benar-benar pergi ke alam kematian, gadis itu mengucapkan kata-kata yang membuat tubuh Ava menenggang seketika.
"Blue Sky....milikmu~"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
YuWie
hah..tidak sebadas yg kuduga kamu va..ekspetasiku terlalu tinggi kepadamu.
2024-08-06
1
Astuti Setiorini
makin penasaran sama ceritanya.
2024-06-10
0
Husein
eh kok tau blue sky dia... tp kan ava udah meninggal... apakah ava yg br ini yg akan gantiin?
kan dia jg pegang cincin itu
2024-06-10
1