Bagian 10

Di dalam ruang kepala sekolah, terlihat Azhar sedang meneliti laporan yang di berikan kepala sekolah. Awalnya semua terlihat aman saja, dari laporan itu tidak ada korupsi apa pun tapi ada satu hal yang membuat Azhar kepikiran sejak tadi.

"Pak, apa di sekolah ini ada pembullyan?" cetus Azhar tiba-tiba.

Reflek kepala sekolah menggeleng, "Tidak ada, Tuan. Semua siswa dan siswi di sekolah ini akur."

"Anda yakin?" imbuh Azhar.

Awalnya kepala sekolah terlihat ragu, hingga akhirnya ia berkata jujur pada Azhar. Yang lebih mengejutkan lagi, orang yang menjadi korban bully tak lain ialah Ava Claire. Gadis yang sejak pertemuan pertama terus mengusik isi pikirannya.

"Sebenarnya, ada satu siswi yang selalu menjadi bahan penindasan, Tuan. Dia Ava Claire, gadis yang tadi sedang di hukum." Jelas kepala sekolah.

"Kenapa?"

"Ava sempat menodongkan senjata tajam pada sepupunya, dan membuat gadis itu berakhir di dalam penjara."

Azhar terperangah mendengar pernyataan barusan, ia tidak tahu kalau Ava memiliki sifat beringas seperti itu. Azhar semakin tertarik dengan sifat gadis itu, sebab dari luar gadis itu terlihat begitu tenang seperti air.

'Aku harus mencari tahu lebih banyak tentangnya,' batin Azhar membara.

...***...

Di sisi lain jam pelajaran baru saja usai, selama pelajaran berlangsung Ava dengan giat mencatat semua penjelasan dari guru. Ia tidak ingin mencoreng nama baik pemilik tubuh di bidang pelajaran, meski nilai pemilik tubuh masih berada di bawah rata-rata namun Ava ingin mengubah nilai itu menjadi nilai di atas rata-rata agar tidak ada lagi yang menganggapnya bodoh.

Semua murid mulai meninggalkan kelas menuju kantin, sedangkan Ava memilih kembali tidur. Entah mengapa ia merasa sangat lelah dan letih, bagian kakinya begitu pegal gara-gara lari tadi di lapangan.

Namun keheningan yang ia nikmati seketika hancur, saat bangkunya di tendang hingga membuat tubuh Ava limbung.

"Bangun sialan, apa yang kamu lakukan peda Milla heh!" ujar pemuda berambut pirang yang memakai pricing di bagian hidung.

Ava menatap pemuda itu tanpa ekspresi, "Kalau kamu penasaran, silakan tanya langsung sama orangnya!"

"Belagu banget dia, udah lupa sama kejadian hari itu rupanya!" ejek teman pemuda itu.

Ava melihat name tag di seragam masing-masing, mereka berdua bernama Hades Vesaurus dan Ares Vesaurus. Mereka berdua kakak beradik dan juga penggemar berat primadona sekolah.

"Kalau kalian cuma mau ngoceh nggak jelas, lebih baik kalian berdua pergi!" usir Ava, ia benar-benar sedang malas meladeni orang lain.

"Wah haha lihat, sekarang jala** ini berani melawan kita, Res!" ujar Hades sambil menunjuk kening Ava.

Ava menepis kasar telunjuk Hades dari keningnya, ia berniat kembali tidur tapi secara sengaja Ares menarik rambut Ava hingga membuat kepalanya mendongak ke atas. Tanpa permisi Ares meludahi wajah gadis itu yang membuat Ava naik pitam.

Cuih.

"Wajah mu memang mirip tempat sam-"

BUUGHHH.

Ava menonjok wajah Ares, tepat di hidungnya sebelum pemuda itu menyelesaikan perkataannya, tubuh pemuda itu pun mundur beberapa langkah. Ia melihat wajah Ava berubah dingin, dan sorot matanya berkilat marah.

"Jala** sialan, kenapa kau memukul wajahku hah!" sentak Ares.

Bukannya menjawab, Ava justru mendekat ia menarik paksa seragam sekolah Ares hingga membuat seragam itu robek tak beraturan. Ava menyeka ludah yang menempel di bagian keningnya, rasa jijik menyelimuti perasaan gadis itu.

"Kamu yang memulai, jangan salahkan aku jika salah satu bagian tubuhmu tidak bisa berfungsi lagi!" gumam Ava yang hanya bisa di dengar oleh pemuda itu.

Belum sempat Ares menjawab, tinjuan Ava sudah mengenai wajahnya lagi. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali hingga darah mengucur deras dari bibir dan hidung pemuda tersebut.

Hades berniat membantu adiknya, namun baru saja ia melangkah Ava sudah lebih dulu berbalik arah dan menarik kerahnya hingga membuat Hades kesulitan bernafas.

"L-lepas jala**!" sentak Hades dengan gagap.

Ava meraih buku dari atas mejanya, tanpa aba-aba dia memasukan buku itu ke dalam mulut Hades secara paksa. Melihat Hades terus memberontak, Ava mendorong tubuh pemuda tersebut hingga telentang di atas meja.

Tanpa perasaan Ava memukul buku yang sejak tadi berada di mulut Hades, seketika wajah Hades berubah pucat. Buku tersebut berhasil mengenai kerongkongannya, Ava melepas tangannya dari kerah baju pemuda itu dan berbalik kembali mendekati Ares.

"M-minggir, kamu monster!" teriak Ares ketakutan.

Wajahnya sudah bonyok terlebih bagian bibir yang sudah membengkak, namun Ava tak mengindahkan permintaan Ares. Ia menginjak telapak tangan Ares sangat keras hingga terdengar bunyi retakan, saat itu juga Ares berteriak nyaring dan membuat para murid bergegas menerobos kelas Ava.

"AAARGH, sakit, Va." Cicit Ares memelas.

Bukannya iba, gadis itu justru kembali menghadiahkan pukulan terakhir ke arah wajah Ares dan membuat pemuda itu pingsan. Ava menarik sedikit sudut bibirnya ke atas, bersamaan dengan selesainya perkelahian mereka. Sosok kepala sekolah dan juga Azhar muncul dari arah pintu.

"AVA CLAIRE!" teriak kepala sekolah nyaring.

Ava menoleh, ia menaikan satu alisnya ketika melihat Azhar tengah tersenyum misterius padanya. Namun keheranan Ava hilang dalam sekejap saat kepala sekolah menyuruh ia mengikutinya menuju ruang kepsek.

Dengan santai Ava berjalan menuju pintu keluar, ia terlihat acuh tak acuh setelah membuat kekacauan yang begitu parah. Para murid mulai membantu Hades serta Ares menuju rumah sakit, mereka berdua sudah pingsan setelah di hajar habis-habisan oleh Ava.

...***...

Selang beberapa saat kemudian, Ava sudah duduk di kursi depan meja kepala sekolah. Ia sebagai murid masih menghormati kepala sekolah, selagi mereka tidak merendahkannya maka ia juga tidak akan mengganggu mereka.

"Ava, jelaskan kenapa kamu memukul Hades dan Ares dari kelas sebelah?" tanya kepala sekolah langsung pada intinya.

"Mereka meludahi wajahku, Pak!" sahut Ava apa adanya.

"Tapi kamu menghajarnya hingga babak belur, Va. Apa itu setimpal?"

Tanpa ragu Ava mengangguk, "Ya, karena hukum di sekolah ini tidak berlaku pada mereka yang suka menindas, tetapi hukum selalu mencekik korban yang mereka tindas."

Sontak kepala sekolah menggeram marah mendengar ucapan Ava, kedua tangannya mengepal erat. Ia melirik sekilas ke arah Azhar yang masih anteng duduk di sofa sambil memperhatikan mereka beradu argumen.

"Jaga bicaramu, Va! Di sini ada pemilik sekolah, kamu mau mencoreng nama baik sekolah ini!" sarkas kepala sekolah tersebut.

Namun bukannya takut, Ava justru tersenyum simpul. Ia memutar kursi hingga menatap ke arah Azhar.

"Kebetulan sekali, mumpung ada pemilik sekolah saya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai sekolah ini boleh, kan, Pak?" ujar Ava pada Azhar.

"Ava, cu-"

Azhar mengangkat satu tangannya meminta kepala sekolah untuk diam, "Silahkan lanjutkan perkataan anda, Nona!"

Ava tersenyum smirk, begitu juga dengan Azhar yang ikut menyeringai. Sorot mata mereka sama-sama menyorot tajam, seolah tengah berperang dalam diam.

Terpopuler

Comments

Husein

Husein

waaaoooowww... keren kereeeennn to dikit bgt Thor... duh sll penasaran aku sama ceritanya 👍👍😍😍😍

2024-06-04

1

Astuti Setiorini

Astuti Setiorini

keren lanjut thor semgat

2024-06-04

0

Yusrina Ina

Yusrina Ina

author 📢📢📢 lagi upnya tidak cukup 🤭🤭🤭

2024-06-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!