Sinar matahari semakin menyingsing tinggi, membuat hawa panas kian menembus kulit seorang gadis yang sedang berlarian di lapangan. Sesekali gadis itu menghela nafas kasar, stamina tubuh barunya benar-benar payah. Baru 30 putaran namun nafas gadis itu sudah terengah-engah, di tengah rasa haus yang menyerang tenggorokannya. Seorang pemuda dari kejauhan memanggil nama gadis itu, seketika Ava menoleh ia lalu menghentikan langkahnya menunggu pemuda itu datang.
"Va, minum dulu nih," ujar pemuda tersebut menyodorkan satu botol air mineral.
Ava melihat name tag di seragam pemuda itu, 'Nathan,' batin Ava.
"Va, kamu kenapa?" tegur Nathan heran, ia sudah berbicara sejak tadi namun Ava masih saja tak menjawab.
Ava terkejut, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf, tadi aku melamun, Nat. Btw makasih airnya,"
Nathan mengangguk, ia memperhatikan gadis di depannya meneguk air dari dalam botol. Selepas Ava selesai minum, tanpa permisi Nathan menyeka keringat menggunakan handuk basah.
Ava membiarkan Nathan melakukannya, rasa dingin menyentuh kulit gadis itu yang memerah terkena sinar matahari. Di tengah-tengah suasana tersebut, seseorang berdehem sangat keras hingga membuat Ava serta Nathan menoleh serempak.
"EKHEM!" Azhar berdehem hingga membuat kepala sekolah serta Kai juga ikut terkejut.
Ava mengernyit heran ketika netranya bertabrakan dengan tatapan setajam pisau yang mengarah padanya, ia teringat kejadian malam itu saat berada di hutan.
'Dia, kan psikopat itu? Kenapa orang sepertinya ada di sekolah?' batin Ava kebingungan.
Azhar menarik sudut bibirnya ke atas, ia menyisir rambut hitamnya ke bekalang saat mendapati Ava sedang menatapnya. Tingkah Azhar membuat Kai geleng-geleng kepala, ia merasa malu melihat tuan yang ia layani bersikap seperti remaja yang sedang tebar pesona.
Selang beberapa saat, Azhar mengajak kepala sekolah dan Kai kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dalam perjalanan menuju ruang kepala sekolah, Azhar tak bisa menyembunyikan senyumannya. Ia terus terbayang-bayang wajah terkejut dari gadis tadi.
'Dia pasti terpesona denganku,' batin Azhar kepedean.
Ia bahkan menutup mata bahwa Ava sama sekali tidak terpesona padanya, justru tatapan gadis itu lebih datar dari pada saat mereka bertemu sebelumnya.
...***...
Di sisi lain, Nathan menepuk pundak Ava pelan hingga gadis itu menoleh. Nathan mengajak Ava masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi jam pelajaran kedua akan segera di mulai, mereka berjalan beriringan menuju ruangan kelas tiga yang berada di lantai dua.
Lantai satu menjadi tempat kelas satu, sedangkan lantai tiga menjadi kelas untuk kelas dua. Ya begitulah susunan kelas di sekolah tersebut.
"Nat, kamu kenal pria yang tadi bersama kepala sekolah?" cetus Ava tiba-tiba.
Kini mereka sudah berada di lorong dan hendak menaiki tangga, Nathan mengangguk singkat. Ia sudah mengenal Azhar saat mereka berkunjung tahun lalu.
"Dia pemilik sekolah ini, tahun lalu juga dia kesini kok masa kamu lupa, Va?" sahut Nathan.
"Aku lupa, mungkin efek masuk penjara jadi aku sedikit bodoh,"
Nathan berdecak sebal, "Ck jangan terlalu merendahkan diri sendiri, Va. Lagi pula itu bukan salah kamu tapi salah Mila yang terlalu sering cari masalah sama kamu."
Ava menghentikan langkah saat mendengar nama tersebut, ia menarik pundak Nathan hingga membuat mereka saling bertatapan.
"Siapa Mila?"
"Mila sepupu kamu, dia yang laporin kamu sama orang tuamu." Sahut Nathan.
Penjelasan Nathan mampu merangsang ingatan terkubur dari pemilik tubuh, awal mula bagaimana Ava bisa masuk penjara dan menyandang julukan narapidana. Sialnya lagi mereka berada dalam satu kelas, sedangkan Elisa berada di kelas dua.
Ketika ingatan itu muncul, pening di kepala Ava tiba-tiba kambuh. Namun ia mencoba menahan rasa sakit tersebut, ia malas di kasihani oleh orang lain dan di anggap manja ia sudah pernah berada dalam posisi itu sebelum meninggal.
Ava melanjutkan kembali langkahnya, ketika sampai di depan pintu kelas. Ia langsung di sambut tatapan sinis oleh seluruh penghuni kelas, seorang gadis berjalan ke arah Ava sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Wow ada narapidana di kelas kita gaes!" ujar gadis bername tag Mila.
'Jadi dia orangnya,' batin Ava sambil meneliti pakaian Mila, pakaiannya begitu mini rok gadis itu berada di atas lutut yang mempertontonkan paha mulusnya, serta seragam atasan yang sangat ketat hingga menonjolkan kedua buah dadanya.
Mila mengernyit heran ketika Ava hanya diam, tidak seperti biasanya yang meledak-ledak. Mila mendorong bahu Ava dan membuat tubuh gadis itu mundur satu langkah.
"Rupanya kamu bukan hanya mantan napi tapi juga tuli haha," ejek Mila.
Tawa gadis itu membuat seluruh kelas ikut nimbrung, mereka tak segan-segan mengolok-olok Ava layaknya mainan yang sengaja mereka letakan di sana untuk memuaskan dahaga mereka.
Nathan berbeda kelas dengan Ava, ia berada di sebelah kelas Ava. Kini hanya ia seorang diri yang harus menghadapi para remaja gila penindasan itu.
"Bisa tutup mulutmu, baunya sangat menusuk. Lain kali sebelum berangkat sekolah, sebaiknya kamu sikat gigi lagi. Ah~ atau mungkin pepsodent mu habis," sahut Ava mengejek balik.
Ia melihat wajah Mila memerah, terdengar geraman rendah dari gadis itu. Tanpa sepengetahuan semua orang, Ava menarik sudut bibirnya sedikit sangat sedikit sampai tidak ada yang melihat. Ava berniat menuju tempat duduknya saja, namun secara tiba-tiba rambutnya di tarik ke belakang oleh Mila. Tak terima dengan ulah gadis itu yang semakin menjadi, tanpa aba-aba Ava menarik pergelangan tangan Mila ke depan lalu mengangkat tubuhnya dan berakhir tubuh Mila jatuh ke lantai dengan suara keras.
BRUUGH.
"AAAKKHH," teriak semua murid yang ada di dalam kelas.
Wajah mereka terlihat pucat pasi, terlebih mereka melihat darah keluar dari hidung Mila. Tadi saat Ava membantingnya, wajah Mila lebih dulu mendarat di lantai itulah yang mengakibatkan hidungnya berdarah.
Ava berjongkok, ia meraih dagu Mila hingga membuat kedua mata mereka saling bertatapan. Semua murid sudah khawatir melihat Ava menyentuh ketua kelas mereka, Mila adalah ketua kelas di ruangan tersebut sekaligus primadona sekolah itu.
"Dengar, Mil. Aku pasti membalas setiap perilaku orang yang menyakitiku sesuai dengan perlakuan mereka, kali ini kamu hanya lebam di wajah lain kali aku bisa membuatmu cacat seumur hidup, maka dari itu jaga mulutmu selagi aku masih diam!" bisik Ava.
Ia melepas dagu Mila dan berlalu begitu saja, sesampainya di kursi. Ava merebahkan kepalanya di atas tangan yang menyilang di meja, rasa lelah dan kantuk segera menyerang gadis itu.
Tanpa menunggu lama ia mulai terlelap, membiarkan bisik-bisik para murid yang kembali menjudge dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Leni Ani
maaf thor satu yg aku paling ngaj suka dlm sebuah cerita yg pemeran utama nya ini suka tidur di kls.🤔🤔🤔🙏
2024-08-20
0
Chalysta Nara Nugraha
jir lah ngakak gw😭😭
2024-07-23
2
Anhy Salewa
keren
2024-07-21
1