Bagian 19

Marvel baru saja menginjakan kaki di depan pintu, namun saat ia memasuki rumah ia mendengar suara lantang ayahnya dari arah ruang keluarga. Marvel bergegas menuju ke sana, ia melihat wajah Mark yang memerah. Urat di leher pria paruh baya itu, nampak menonjol. Entah apa yang menyulut emosi pria tersebut.

"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini, Va!" sentak Mark menatap bengis putrinya.

Sedangkan Ava, ia dengan begitu santai menjawab pertanyaan tersebut. Tidak ada guratan emosi yang di tunjukan gadis itu, bahkan yang terpampang di wajahnya hanya ketenangan.

"Aku mendapatkannya dari seseorang, ah, benar sebentar lagi aku akan menikah. Aku harap Papah bisa menjadi wali bagiku,"

"APA!" teriak Mark, Maya, serta Elisa secara bersamaan.

"Siapa pria itu hah? mengapa kamu tidak memberi tau Papah sebelumnya!" sentak Mark.

Nada bicaranya semakin tinggi, ia tak bisa menerima pernyataan Ava. Api kebencian menguar menutupi hati nurani pria itu, namun mimik wajah Ava masih saja santai, ia sama sekali tidak terlihat takut pada Mark.

"Papah bakalan tau nanti, secepatnya aku juga akan meninggalkan rumah ini! Kalian tenang saja, aku tidak mengharapkan apa pun dari rumah ini," sahut Ava.

"Siapa yang mengizinkan kamu, pergi dari rumah ini, Va!"

"Kalian, bukannya selama ini Papah juga ingin melihatku pergi?" sahut Ava merasa heran, dengan sikap ayahnya.

Mark mengepalkan kedua tangannya erat, "Jangan mimpi kamu bisa keluar dari rumah ini!"

Marvel yang baru sampai ikut keheranan mendengar ungkapan sang ayah, ia tak menyangka ayahnya bisa begitu egois pada putrinya sendiri.

"Pah, Ava akan menikah. Bagaimana mungkin Ava bisa tetap tinggal di sini terus?" cetus Marvel ikut nimbrung.

Mark menoleh, ia mendekat dan langsung menarik kerah baju Marvel secara kasar.

"Pasti ini ulah kamu, kan? Kamu yang menyuruh Ava mencari laki-laki lain, demi membatalkan perjodohan dariku!" tuduh Mark marah.

"Bukan, aku bahkan nggak tau kalo adik aku sudah memiliki laki-laki lain, Pah," sahut Marvel setenang mungkin, agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Maya yang sejak tadi terdiam, kini ikut berbicara. "Pah, udah lepasin Marvel. Dia nggak ada sangkut pautnya sama masalah ini,"

Mendengar nasehat sang istri, amarah Mark justru semakin meluap. Ia tak kunjung melepaskan kerah baju Marvel, justru ia semakin menarik kerah baju itu hingga membuat Marvel merasa sakit di area lehernya.

Tak ingin terjadi hal buruk pada Marvel, Ava bergegas melepas paksa tangan Mark dari baju Marvel. Entah mengapa Ava merasa sudah muak melihat sikap ayahnya, meski baru sebentar berada di tubuh itu. Semua kelakuan Mark terlalu seenaknya dan merendahkan mereka berdua.

Saat cekalan Mark lepas, ia melihat ke arah putrinya yang kini tengah menanyakan kondisi Marvel. Mark merasa bermimpi, karena tadi tarikan Ava begitu kuat. Seolah anak itu sudah sering melakukan pekerjaan berat, hingga di tengah perasaan bingung tersebut ia mendengar Ava kembali berbicara.

"Pah, aku hanya menepati perjanjian kita pagi itu. Aku sudah bilang akan menggagalkan rencana perjodohan dari Papah, jangan salahkan Bang Marvel. Karena ini nggak ada urusannya sama Abang!" tegas Ava menatap tajam Mark.

"Va, kamu tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini! Mau di taruh mana wajah Papah jika sekarang Papah membatalkannya?"

Ava menoleh ke arah Elisa, ia kembali berucap, "Kalau Papah malu, Papah bisa suruh Elisa yang melakukan perjodohan tersebut. Toh semua ini karena ulahnya, jadi ajari dia buat tanggung jawab agar tidak merepotkan orang lain terus menerus,"

Setelah mengatakan hal itu, Ava dan Marvel bergegas pergi menuju kamar mereka. Uang satu amplop besar yang di taruh meja membuat Maya sangat berbinar-binar, ia bahkan mengabaikan Elisa yang sedang merengek di sampingnya.

"Mamah, aku nggak mau gantiin Kak Ava, Mah." Rengek Elisa, sambil menggoyangkan lengan Maya.

"Papah mu tidak mungkin membiarkan kamu per-"

"Diam kalian berdua! Kepalaku sakit mendengar rengekan kalian berdua!" sentak Mark kesal.

Maya dan Elisa seketika terdiam, mereka berdua beringsut mundur dan berlalu menuju kamar Elisa. Mereka takut melihat wajah Mark yang merah padam.

Selepas kepergian istri dan anaknya, Mark berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya. Saat ini isi kepalanya hanya mengutuk Ava, karena berani mengambil keputusan sendiri tanpa memberitahunya lebih dulu.

"Ini nggak bisa di biarin, anak itu nggak boleh menikah dengan pria lain selain pilihanku!"

Mark tiba di depan ruang kerjanya, ia membuka pintu lalu memasuki ruangan yang di penuhi foto ibu dari Ava. Mark meraih bingkai foto yang ada di atas meja, terlihat wajah perempuan yang tengah menggendong bayi kecil tersenyum hangat.

"Jasmine, sampai kapan kamu mau menyiksaku seperti ini hm?" gumam Mark sambil mengelus lembut foto tersebut.

Namun mimik wajah Mark berubah sengit, ketika melihat sesosok pria yang berdiri di samping ibu Ava. Pria yang menjadi ayah kandung Ava Claire, sekaligus saudara kembar Mark Leonardo.

"Bahkan setelah Kakak meninggal, aku belum bisa mendapatkan Jasmine! Alih-alih membiarkan aku menikahinya, wanita keras kepala itu justru memilih masuk ke dalam rumah sakit jiwa!"

Helaan nafas berat terdengar berulang kali dari bibir pria paruh baya itu, Mark membenci Kakaknya yang telah mendapatkan wanita yang dulu ia cintai. Bahkan sampai memiliki keturunan, dan kini Mark melampiaskan amarahnya pada anak yang tidak tau apa-apa itu.

"Aku nggak bakal biarin Ava mendapat kebahagian, dia harus membayar perbuatan Kakak yang sudah merebut Jasmine dariku!"

Mark meletakan kembali foto itu, ia meraih sebotol alkohol serta gelas yang ada di dalam lemari. Ruang kerja itu hanya bisa di masuki oleh Mark, serta kepala pelayan yang sudah mendapat izin darinya.

Tidak ada yang tau bahwa di dalam ruangan itu, terdapat banyak sekali berkas rahasia serta coretan abstrak sejak Mark duduk di bangku sekolah menengah atas. Dimana saat itu menjadi awal pertemuannya dengan Jasmine, hingga melihat wanita yang ia sukai menjadi kakak iparnya.

...***...

Berbeda dengan kediaman Mark, kini di markas Death Demon terlihat sedang sibuk. Azhar selaku pemimpin mafia tersebut, baru saja mendapat kabar jika ayahnya sudah bergerak dan mengirim mata-mata padanya.

"Dimana keberadaan mata-mata itu saat ini?" ujar pemuda tersebut.

"Kediaman anda, Tuan. Sepertinya Tuan Besar mengira anda belum mengetahui pekerjaan kotornya," sahut Kai selaku tangan kanannya di organisasi itu.

Mendengar ucapan dari Kai, Azhar menunjukan seringainya. Ia sudah menduga bahwa ayahnya tidak mungkin menyadari bahwa, ia juga mendirikan organisasi.

"Menurutmu lebih baik kita habisi, atau kita permainkan dulu mereka, Kai?"

"Lebih baik anda permainkan mereka, Tuan. Sepertinya kali ini anda perlu berhati-hati, karena Tuan Besar sudah mulai mencurigai organisasi kita." Sahut Kai sopan.

Azhar mengangguk setuju, memang belakangan ini selalu ada tamu tak di undang yang mengintip ke area kekuasaannya. Sudah lebih dari dua puluh orang, mendapat kematian instan dari organisasi pemuda itu.

"Tuan, ada satu hal yang perlu anda ketahui lagi,"

Pemuda itu mengernyitkan dahi, sambil menatap penasaran ke arah Kai.

"Apa itu?"

"Sebenarnya..."

Terpopuler

Comments

Binti

Binti

benar dugaan ku ava bukan anak kandung.kalo begitu bantai aja siksa pelan2 sampe mampus

2024-10-26

0

nacho

nacho

kesian cinta tidak berbalas

2024-08-04

1

Husein

Husein

jd itu, alasan Mark kejam ke ava... tp harusnya ya ga bs sekejam itu dong, ava aja ga tau apa2...

2024-06-19

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!