Bagian 7

...Jika baikmu di abaikan, maka ingatlah nggak semua manusia bisa memanusiakan manusia lainnya....

...> Ava <...

...☠️☠️☠️...

Satu jam kemudian, Ava terlihat sedang menuruni tangga. Hari ini ia libur jadi ia hanya mengenakan celana panjang kedodoran dan kaos oblong berwarna putih. Dari arah tangga ia bisa melihat sang ayah sedang duduk di kursi meja makan, sambil memegang koran. Elisa dan juga Maya entah sudah pergi kemana, sejak ia turun ia tidak melihat batang hidung mereka berdua di mansion.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, Mark pun menoleh. Ia melihat putrinya sedang berjalan ke arah meja makan

"Duduk, Va." Ujar Mark.

Ava menarik kursi dari bawah meja dan mendudukan tubuhnya di sana, ia menunggu apa yang akan Mark katakan padanya.

"Papah sudah mengatur jadwal pertemuan mu dengan calon suami mu lusa mendatang,"

"Kenapa aku harus menikah? Aku bahkan nggak kenal sama orang itu, bisakah Papah menjelaskan lebih rinci?" sahut Ava, ia terlihat begitu tenang seolah itu bukan masalah besar.

"Kamu nggak perlu tahu alasannya, kamu cukup menurut apa kata Papah!"

"Aku di jual bukan?" tabak gadis itu menatap lurus pada netra sang ayah.

Kedua bola mata Mark melotot seketika, ia menatap putrinya penuh keheranan. Padahal Mark sudah menutupi tujuan utama ia menikahkan Ava dengan pria itu, tapi sekarang justru putrinya sendiri yang mengatakan hal tersebut.

"Dari mana kamu mengetahui hal itu?"

Ava tertawa hambar, ia mengetahui hal itu dari buku yang ia baca semalam. Faktanya di dalam rumah besar yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung, malah menjadi neraka paling kejam di dunia.

"Itu nggak penting aku tahu dari mana! Tapi, Pah. Aku bukan barang, aku anak Papah! Kenapa dengan tega Papah menjual ku?"

"Jangan banyak tanya, Ava! Kamu mau Papah masukan ke dalam penjara lagi?" ancam Mark tanpa perasaan.

Ava merubah raut wajahnya menjadi lebih dingin dari sebelumnya, "Aku menolak menikah dengan orang itu, kalau Papah mau masukin aku ke penjara nggak masalah. Tapi aku nggak bakal tinggal diam jika Papah terus memaksa ku seperti ini!"

Mark menggeram marah, ia meraih gelas berisi kopi panas lalu melemparnya ke arah Ava hingga mengenai bajunya, rasa panas menyusup masuk ke dalam kulit gadis itu. Ava bisa menduga jika kulitnya pasti akan melepuh, baru saja Ava berniat mengambil tisu tiba-tiba sebuah pisau kecil hampir saja mengenai mata kanannya jika ia tidak reflek menghindar.

Ava melihat wajah Mark sudah merah padam, kesabaran gadis itu pun sudah berada di ujung batas. Ava berniat pergi saja dari sana, dari pada menambah suasana semakin tidak kondusif namun suara menggelegar dari Mark membuat Ava kehilangan kendali atas emosinya.

"BERANI KAMU PERGI DARI RUANGAN INI, MAKA IBUMU YANG GILA ITU AKAN PAPAH BINASAKA-"

BUUAK.

Pyaar.

Ava melempar gelas tanpa aba-aba ke arah Mark, terlihat nafas gadis itu tak beraturan. Kilatan emosi terpampang nyata dari tatapan matanya. Mark terkejut, ia memegang keningnya yang benjol setelah terkena lemparan gelas.

"Berani Papah nyentuh Mamah, maka aku pastikan Tante Maya dan Elisa akan bergelimangan darah di depan mata anda sendiri!" ucap Ava penuh penekanan.

Ia berbalik lalu kembali menaiki tangga, menghiraukan teriakan Mark yang terus memintanya berhenti. Sesampainya di depan kamar, Ava membuka pintu lalu menutupnya dengan kasar. Ia mengusap wajahnya sendiri dan bergegas mengganti pakaian.

Saat di kamar mandi, Ava melihat banyaknya memar dan juga hansaplas yang menempel di tubuhnya, ia menghela nafas berat. Baru juga dua hari ia berada di tubuh baru, tapi ia sudah mendapatkan begitu banyak luka fisik.

"Aku harus keluar dari rumah ini secepatnya, kalau terus begini yang ada aku mati duluan sebelum memenuhi permintaan pemilik tubuh." Gumam Ava.

Ia menemukan catatan permintaan tolong dari pemilik tubuh di buku yang semalam ia baca, permintaan itu mengharuskan Ava mencari petunjuk alasan Mark begitu membenci pemilik tubuh selama ini.

...***...

Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa dua sudah berlalu sejak pertemuannya dengan gadis acuh di dalam hutan. Kini terlihat Azhar sedang duduk di kursi kebesarannya, sambil membaca berkas-berkas yang baru ia terima.

Senyum smirk terlihat jelas di wajah Azhar, ia berhasil mendapatkan informasi gadis yang ia temui malam itu.

"Jadi dia akan di jual sebagai pengganti adiknya," seulas tawa remeh keluar dari bibir pria tersebut.

"Menarik, sepertinya gadis itu akan menolak mentah-mentah hal ini." Azhar mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja.

"Sepertinya seru jika aku ikut campur di antara keluarga itu,"

Azhar meletakan berkas tersebut, ia memanggil asistennya yang bernama Kai Miles.

"Kai, awasi gadis itu. Atur pertemuanku dengannya agar terlihat tidak sengaja," ujar Azhar.

Kai mengangguk patuh, sebelum pergi ia kembali bertanya, "Apa Tuan tertarik dengan gadis itu?"

Azhar tertawa lebar menampilkan deretan giginya yang berwarna putih, "Haha jangan bercanda kau, aku nggak mungkin tertarik pada gadis urakan seperti itu."

Mendengar jawaban tuannya, Kai hanya bisa tersenyum simpul. Ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Azhar. Selepas kepergian Kai, Azhar kembali melanjutkan tawanya.

"Kalau aku sampai menyukai gadis itu, pasti aku sudah gila haha,"

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

seperti pak guru ku saja namanya Azhar.. bad boy lho ini.. lagi nyamar kali ya

2024-08-06

0

Aprilia G. De Obelia

Aprilia G. De Obelia

bukan nya Lo memang udah gila, yah?

2024-07-11

4

Chauli Maulidiah

Chauli Maulidiah

moco novel ini istghfar tok pokok e..

istghfar karna othor e gak up tiap hari.

istghfar karna ada bpk kyk setan yg namanya mark.

2024-06-02

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!