Bagian 13

Suara pukulan bertubi-tubi terus terdengar dari perkelahian anak dan ayah tersebut, suasana taman yang ramai menimbulkan banyak orang menonton perkelahian itu. Ava benar-benar kalap, ia paling benci dengan orang yang suka main tangan dan menutup telinga dengan penjelasan orang lain.

Mila menutup mulutnya, mimik wajah gadis itu berubah pucat. Ia perlahan mundur dan menjauh dari pertarungan Mark dan juga Ava.

"I-ini nggak mungkin," Mila menggeleng perlahan, "Sejak kapan Ava bisa berkelahi?"

Sorak sorai dari orang-orang yang menonton terdengar begitu nyaring, Mark tak terima dirinya di permalukan secara besar-besaran di depan umum.

BUGH.

Mark memukul balik tepat ke wajah putrinya, hingga membuat tubuh Ava mundur beberapa langkah. Mark menatap tajam ke arah putrinya, ia heran dari mana datangnya tenaga gadis itu.

"Sejak kapan kamu bisa bela diri, Va? Papah nggak pernah mengizinkan kamu mempelajarinya!" sentak Mark.

Ava menyeka darah dari sudut bibirnya menggunakan punggung tangan, ia membalas tatapan Mark dengan dingin.

"Apa anda takut aku akan membunuh kepala keluarga Leonardo?" sahut Ava tanpa beban.

Ia menoleh ke sekelilingnya, saat Mark berniat memberikan perlawanan kembali. Ava lebih dulu berbalik menuju mobil Mark, ia meminta sang supir keluar dari mobil itu. Awalnya Mark tidak paham, namun ketika Ava masuk ke dalam mobilnya ia seketika kelabakan.

"Mobilnya aku bawa, sampai jumpa di rumah, Pah!" ejek Ava dari dalam mobil.

Ia menginjak pedal gas mobil itu dan berlalu meninggalkan kerumunan di sana, melihat Ava menjauh Mark tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia menghentikan taksi secara paksa, lalu mengejar putrinya menuju mansion.

"Awas saja kamu, Va!" geraman rendah terdengar dari pria paruh baya tersebut, selama menuju kediamannya.

...***...

Setengah jam kemudian, Ava memarkirkan mobil ayahnya di halaman rumah. Ia malas memasukan mobil itu ke garasi, baru saja ia keluar dari mobil secara tiba-tiba para bodyguard yang berjaga langsung mencekalnya.

"Maaf, Nona. Tapi anda di larang memasuki rumah sebelum Tuan Besar datang," ujar bodyguard bernama Vernan.

Kening Ava mengkerut, ia heran kenapa Mark melarangnya masuk? Padahal itu juga masih menjadi rumahnya, karena ia belum di keluarkan dari kartu keluarga.

"Kenapa? Apa Papah meminta kalian me-"

"AVA CLAIRE!" teriak Mark dari luar gerbang rumahnya.

Sontak Ava mengelus dadanya pelan, sejak tadi ia selalu mendengar teriakan dari orang-orang di sekitarnya. Ia merasa gendang telinganya bisa retak jika terus menerus mendengar teriakan bariton sang ayah.

"Tangkap anak itu, dan bawa dia ke ruang bawah tanah!" titah Mark tak terbantahkan.

Sontak kedua bola mata gadis itu melotot sempurna, ia berusaha memberontak namun Vernan dengan cekatan memborgol kedua tangan Ava ke belakang membuat gadis itu tak bisa melayangkan pukulan.

"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah," ujar Vernan tanpa ekspresi.

Ava tak menjawab, ia sedang memikirkan cara agar bisa lepas. Tanpa ada yang menduga, Ava menendang kaki Vernan sangat keras hingga membuat tubuh pria itu jatuh ke lantai.

BRUUK.

Cekalan tangan Vernan berhasil lepas, Ava berlari menuju arah gerbang akan tetapi tanpa ia sangka Mark mengambil pistol dari saku Vernan. Ia mengarahkan pistol itu ke arah putrinya.

"Ava, berhenti atau Papah tembak kamu!" ancam Mark.

Ava tak menggubrisnya, isi kepalanya sat ini meminta ia keluar dari mansion itu secepat mungkin. Saat ini Marvel sedang ada tugas bersama teman-temannya, ia tak bisa pulang cepat dan Ava tidak menyangka Mark akan menggila seperti ini.

Melihat Ava tak menghiraukan ancaman darinya, tanpa belas kasih sedikit pun Mark menarik pelatuk pistol di tangannya.

DOR.

BRUUK.

Ava terjatuh begitu kakinya terkena peluru, ia meringis merasakan rasa sakit di bagian kaki. Ava menoleh ke belakang, ia tak bisa berkutik lagi ketika Vernan menangkap dan membawanya seperti karung beras.

Selama perjalanan menuju ruang bawah tanah, para pelayan seakan menutup mata melihat Ava yang di bawa oleh Vernan. Seakan pemandangan itu sudah sering terjadi, Ava semakin bingung melihat kebencian yang di tunjukan Mark padanya. Ia merasa Mark bukanlah ayah kandung pemiliki tubuh, sebab tidak ada sedikit pun rasa iba yang di tunjukan oleh Mark padanya.

Sesaat kemudian mereka semua tiba di ruang bawah tanah, Ava di turunkan di bawah tali yang terikat di sebuah tiang besi. Tanpa aba-aba Vernan melepas borgol di tangannya, tapi ia langsung mengikat kembali kedua tangan Ava pada tali tersebut.

Ikatan Vernan sangat kencang, hingga membuat pergelangan tangan gadis itu memerah.

Mark tersenyum puas melihat Ava tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisinya kali ini, ia melangkah mendekati putrinya. Mark merasa heran saat melihat raut wajah putrinya yang tetap dingin tanpa ekspresi.

"Apa kamu takut?" ujar Mark begitu berhadapan dengan Ava.

"Apa ada alasan untukku merasa takut?" tanya balik gadis itu.

Mark jelas merasakan perubahan sikap putrinya, ia belum pernah melihat Ava begitu tenang di saat ia merasa terancam. Mark seperti mendapat kesenangan yang telah lama hilang, ia meminta Vernan mengambilkan cambuk dari lemari yang ada di sisi ruangan.

"Kamu lihat ini, Va. Sudah lama Papah tidak mendisiplinkan kamu bukan?" cetus Mark sambi mengelus cambuk di tangannya.

Ava tak menjawab, ia melihat cambuk di tangan Mark dengan seksama. Cambuk itu terlihat sudah sering di pakai, Ava mengira jika itu selalu Mark gunakan untuk menyiksa pemilik tubuh.

Mark berjalan ke belakang tubuh putrinya, senyum smirk terlihat jelas di wajah Mark. Ia mulai mengangkat tangan kanannya ke atas, dalam sekejap suara cambukan terdengar menggema di dalam ruangan tersebut.

CTAAAR.

"Sstttt," Ava mendesis pelan saat punggungnya mendapat cambukan pertama.

CTAAAR.

CTAAAR.

Ava menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, ia menolak untuk berteriak apa lagi mengemis pada Mark. Ia tak sudi melihat Mark merasa menang telah berhasil membuatnya memohon belas kasihan padanya.

"Kamu hebat juga bisa menahan semua ini, Va, kita lihat sampai kapan kamu bisa menahannya!" ujar Mark remeh.

Mark terus mencambuk Ava tanpa henti, darah sudah mengalir dari balik seragam gadis itu yang berwarna putih. Tanpa rasa iba, Mark juga mencambuk kaki gadis itu yang terkena peluru.

Nafas Ava mulai terengah-engah, rasa sakit dan juga panas mulai membakar seluruh tubuhnya. Ia masih tetap diam tanpa ada rintihan selama Mark menyiksanya.

Setengah jam kemudian, Mark membuang cambuknya ke sembarang arah. Ia melihat karya di punggung tubuh putrinya, warna merah dan seragam yang robek membuat Mark tersenyum senang.

"Ini akibatnya kalau kamu menjadi pembangkang, Va! Lain kali pikirkan dulu resikonya sebelum kamu berani mengutarakan pendapatmu!" tegas Mark, dan berlalu meninggalkan Ava sendirian di ruangan tersebut.

Terpopuler

Comments

Suwanto Wanto

Suwanto Wanto

balas vaa si mark sialan Ampe JD perkedel kentang nanti...hish greget thoor aku wkwk🤣

2024-10-18

0

YuWie

YuWie

sampe sini jengkel gak sih..bodyguard hebat kok LOL banget.. gak bisa baca situasi malah sengaja cari penyakit nekad tanpa taktik yg cerdik.

2024-08-06

1

wonder mom

wonder mom

lbh keji dri buaya.

2024-07-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!