PRC Group Hospital
Kaysa hanya menatap wajah kedua orang tua pasiennya yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa putrinya sulit disembuhkan karena penyakitnya. Sang ibu menangis tanpa henti sementara sang ayah tampak shock. Kaysa tidak bisa berbuat apa-apa karena meskipun melakukan cangkok sum-sum tulang belakang pun, sel kanker nya sudah menyebar.
"Ya Allah Dok ... Kami menunggu empat tahun dan sepuluh tahun terakhir ini adalah hari-hari bahagia kami tapi kenapa kondisi putri kami begini ..." ucap sang ayah yang tampak tidak bisa menerima kenyataan bahwa putri kecilnya kecil kemungkinannya bisa sembuh.
"Maafkan kami pak ... "ucap Dokter Alamsyah, dokter onkologi yang juga senior Kaysa.
"Apa yang bisa kami lakukan?" tanya sang ibu.
"Kemoterapi dan terapi radiasi Bu. Saya tahu ini sudah agak terlambat tapi kita tetap berusaha dan berikhtiar Bu, Pak. Kami akan sekuat tenaga membuat putri ibu mendapatkan dispensasi umur..." jawab Dokter Alamsyah.
***
"Kans nya kecil dok..." ucap Kaysa ke seniornya.
"Aku juga tahu, Kay, tapi mendengar bagaimana mereka menunggu kehadiran anak dan sekarang mereka menerima kondisi yang seperti itu, sudah pasti kita harus berusaha keras.. Semampu kita. Karena semua itu kan berpulang pada Allah SWT yang sudah menuliskan suratan takdir kita sejak dalam usia empat bulan di kandungan .. " jawab dokter Alamsyah.
Kaysa mengangguk. "Kalau saja ketahuannya lebih dini..."
"Sudah, Kay ... Jangan menyalahkan segala sesuatu yang sudah terjadi. Orangtuanya juga sudah merasa bersalah karena tidak aware dari awal ..."
***
Dua Minggu Kemudian
Alsaki melihat Kaysa tampak sendu sambil mengaduk-aduk lattenya dengan wajah tidak semangat, membuat dirinya menghampiri gadis itu.
"Hei ..." sapa Alsaki sambil membawa nampan berisikan makan siangnya.
"Hei..." balas Kaysa tidak semangat.
"Kamu kenapa ?"
Kaysa menatap Alsaki dan pria itu bisa melihat mata sembab dokter bedah tersebut.
"Pasien kamu meninggal?" tebak Alsaki yang dijawab anggukan pelan. "Umur berapa?"
"Sepuluh tahun..."
"Innalilahi... Sakit apa?"
"Kanker tulang belakang... Dokter Alamsyah sudah berusaha dengan semua metode tapi ... " Kaysa tercekat. "Tubuhnya tidak kuat, Saki ..."
Alsaki menggenggam tangan Kaysa. "Itu sudah suratan takdir, Kay. Mau kamu marah, mau kamu kesal ... Kalau Allah sudah berkehendak, kita tidak bisa apa-apa..."
"Tapi dia masih kecil, Saki ! Dan anak tunggal yang sudah ditunggu empat tahun !"
Alsaki tersenyum. "Mungkin ada kebaikan di balik berpulangnya pasienmu ... Kita tidak ada yang tahu kan?"
Kaysa hanya menghela nafas panjang. Entah mengapa dirinya tidak merasa lebih baik setelah mendengar ucapan Alsaki.
***
PRC Group Building Kuningan Jakarta, Hari Minggu
Aizen menatap tumbuhan bambu kuning yang berada di halaman belakang gedung perkantoran milik keluarga klan Pratomo. Bambu - bambu itu memang sudah berantakan dan perlu di tata ulang. Aizen sudah mendapatkan mandat dari Hoshi untuk merapihkan bambu itu dan tidak boleh ditebang habis karena wasiat dari eyang buyutnya yaitu Arga Pratomo. Jika ada bambu yang mati atau rusak, harus diganti yang baru.
"Mas Aizen, bambunya dirapihkan?" tanya Udin, tukang kepercayaan keluarga Reeves.
"Iya pak Udin. Aku tidak tahu kenapa Opa melarang keras membuang bambu itu ... Ada yang aneh di wasiat Eyang Arga..." gumam Aizen.
"Mas Aizen percaya sixth sense tidak ?" Udin menatap Bossnya yang agak skeptis.
"Karena si L dan Dendeng anak indigo, ya percaya tidak percaya sih ..." jawab Aizen.
"Mas, aku bisa lihat dan memang ada penghuninya disana ... Namanya mbak Nita. Dia lah yang menjaga gedung ini dari jaman eyang Arga. Bahkan saat perang dunia kedua meletus dan bangunan ini masih berupa rumah kantor, tidak ada pasukan Belanda maupun Jepang yang bisa menempati..." jawab Udin.
"Hah? Kok bisa ?" Aizen terkejut karena ini sangat diluar Nurul mengingat bukan dua sepupunya indigonya yang bilang.
"Sebentar mas .. " Udin tersenyum. "Kata mbak Nita, mas Aizen mirip eyang Arga wajahnya ... Tapi lebih ke eyang Adrianto..."
Aizen melongo. "Tunggu ... Jadi mbak Nita ini sudah menunggu tempat ini dari jaman eyang Arga ... Tahu sejarahnya bangunan ini ?"
"Iya mas Aizen. Eyang Arga dulu waktu beli tempat ini tahun 1938, melihat ada pohon Ketapang di belakang sini. Tapi karena tahu ada mbak Nita disini jadi eyang Arga membuat perjanjian. Rumah mbak Nita diganti dengan bambu kuning dengan syarat tidak boleh ditebang hingga kiamat ..." jawab Udin.
Aizen akhirnya bisa merangkai peristiwa. "Aku paham kenapa Eyang Arga mau menebang pohon Ketapang karena akarnya bisa kemana-mana dan akan merusak pondasi suatu hari nanti. Okelah .. Aku akan meneruskan wasiat Eyang Arga jika memang bambu ini ada penghuninya apalagi sudah jaman perang dunia kedua ..."
"Kata mbak Nita, terima kasih mau merawat rumahnya .. Dulu katanya yang sering merawat eyang Adrianto, terus ke Opa Reza Pratomo, turun ke Opa Keanu terus ke Opa Levi lanjut ke Opa Hoshi dan ke Pak Valentino dan Pak Arkananta... Sekarang ke mas Aizen..."
Aizen tersenyum. "Kalau aku tidak punya sepupu indigo ... Aku mungkin tidak akan percaya tapi karena punya ... Aku mau tidak mau percaya... " Cucu Hoshi itu pun mengambil ponselnya dan menghubungi Lachlan de Luca di Palermo.
"Yo mas Ai ..." sapa Lachlan de Luca. "Ada apa telpon malam-malam?"
Aizen tidak menjawab hanya menunjukkan kamera ponselnya ke arah pohon bambu kuning.
"Assalamualaikum mbak ..." salam Lachlan membuat Aizen melongo.
"Eh keliatan L ?" tanya Aizen takjub.
"Iya. Namanya mbak Nita. Elu mau rapihin rumahnya ya ?" tanya Lachlan.
"Ho oh. Soalnya mumpung hari Minggu dan Pak Udin pas bisanya ... " jawab Aizen.
"Kata mbak Nita, ada bambu yang rusak dan agak busuk di bagian pojok. Katanya terlalu lembab, jadi kalau bisa ditata ulang. Mbak Nita bilang dia tidak apa-apa pergi sementara ke pohon blossom Cherry di sebelah selama rumahnya direnovasi..."
Aizen menggelengkan kepalanya. "Benarkah pak Udin ?" tanya Aizen yang dijawab anggukan Udin.
Tukang kebun itu mendekati rimbunan pohon bambu kuning itu. "Iya mas .. Ini ada yang busuk ... Harus segera diganti karena satu memang sudah usia plus Sayangnya, daya tahan dan umur bambu dapat berkurang jika bersentuhan dengan tanah yang lembap..." jawab Pak Udin yang memeriksa kondisi bambu-bambu itu.
"L, kalau bukan elu yang ngomong, gue gak bakalan percaya soalnya pak Udin bilang itu pohon ada sejarahnya dari Mbak Nita..." ucap Aizen sambil kembali melihat wajah sepupunya.
"Itu sudah perjanjian Eyang Arga dengan mbak Nita. Jadi kita sebagai keturunan Eyang Arga, harus menjaga wasiatnya..." jawab Lachlan. "Mbak Nita menjaga kantor keluarga kita lho dari jaman perang dunia kedua." ( Baca My Dutch Lady ).
Lagi-lagi Aizen melongo karena Lachlan baru dihubungi hari ini dan Lachlan sudah lama tidak ke Jakarta. "Kalau elu dah ngomong gitu, gue gak bisa berkitty-kitty ..."
Lachlan terbahak.
Hari Minggu itu pun dihabiskan Aizen bersama Udin dan para pegawainya untuk merenovasi rumah milik mbak Nita.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ita Xiaomi
Kangen Nonik
2024-11-16
1
Jenong Nong
eeeeehh...mbak NITA nongol ..untung Aizen g ketakutan kyak sohei ...🤣🤣🤣❤❤❤🙏🙏🙏
2024-05-26
1
🥰Siti Hindun
eh.. aku belum baca yg ini loh, nanti deh kita cuss baca..
2024-05-26
2