Kawin

Setelah membeli cincin pernikahan, tadi siang mereka langsung pulang ke rumah. Aditya sengaja tidak mengajak Anga makan siang di luar karena dia berencana untuk memasak saja di rumah.

Bersama Aditya, Anga benar-benar bisa merasakan kembali masakan rumahan yang biasanya asisten rumah tangganya buat untuknya.

Anga bahkan tidak bisa menyaingi Aditya perihal masak memasak seperti itu. Mungkin besok dia akan lebih giat lagi belajar dengan Mbak Sri.

Anga sedang mengaduk minuman dingin yang ia buat untuk Aditya. Di pandangnya cincin yang sudah tersemat di jarinya. Bibirnya tak ada hentinya untuk tersenyum saat ini.

Mungkin Angga memang memilih Aditya sebagai suaminya sebagai pelipur lara bagi Anga setelah kepergian Angga.

Anga membawa minuman ke ruang tamu. Di mana Aditya sedang berhadapan dengan laptopnya.

Anga mendekati suaminya, kaca mata yang bertengger di hidung suaminya, serta tatapan seriusnya justru membuat Aditya semakin terlihat tampan.

Pandangan Anga juga langsung tertuju pada jari manis Aditya yang dilingkari cincin pernikahan mereka. Anga bisa merona sendiri hanya menatap jari manis Aditya itu.

"Minumnya Mas"

Aditya mengalihkan pandangannya dari laptopnya untuk melihat istrinya.

"Makasih ya Dek" Senyum tipis di bibir Aditya membuat hati Anga menghangat.

"Sama-sama Mas"

Anga duduk di single sofa yang ada di samping Aditya, karena Aditya duduk di sofa yang panjang.

"Emm, Mas" Anga tampak ragu-ragu.

"Iya, kenapa??" Sahut Aditya setelah meneguk minuman dinginnya.

"Mas lagi sibuk ya??"

"Enggak, cuma lagi periksa kerjaan aja" Aditya sepertinya sudah bisa membaca gelagat Anga.

"Kalau mau bicara sini deketan, jangan jauh jauh kaya mau sidang skripsi aja. Sini temenin Mas!!" Kata Aditya sambil menepuk sofa di sampingnya.

Anga yang gugup hanya memainkan kedua tangannya di atas pangkuannya, lalu mulai beranjak untuk duduk di samping Aditya.

"Ada apa hemm??" Tanya Aditya setelah Anga duduk manis di sampingnya. Dia gemas sendiri melihat istrinya yang gugup dan malu seperti sekarang ini.

Aditya juga melepas kaca mata yang menghalangi penglihatannya untuk menatap Anga.

"Mas, emmm.. boleh nggak kalau Anga beli buku buat bahan tugas dari uang yang Mas kasih" Anga benar-benar menundukkan kepalanya dengan dalam. Jarinya ia remas dengan kuat, takut kalau Aditya marah atau melarangnya.

"Ya Allah Dek, kenapa kamu harus minta ijin Mas dulu kalau cuma mau beli buku??" Aditya sampai tak habis pikir dengan istrinya itu. Bukannya dia sudah memberitahu Anga untuk kegunaan uang nafkah darinya itu.

"Selama ini kamu naik ojek dan beli makan di kampus memangnya pakai uang siapa??" Aditya jadi penasaran, sampai dia tak sadar telah mengeluarkan suara yang sedikit meninggi pada Anga.

"I-itu pakai uang yang dulu di kasih Kak Angga. Tapi sekarang uangnya sudah habis" Suara Anga bergetar karena menahan tangisnya.

Dia memang sudah menyiapkan diri untuk segala reaksi yang di berikan Aditya. Tapi Anga tidak tau kalau mendengar suara Aditya sedikit keras membuatnya ingin menangis.

"Astaghfirullah, maafkan Mas Dek. Mas nggak bermaksud bentak kamu" Aditya menyadari kesalahannya saat mendengar suara Anga yang bergetar itu.

Aditya langsung meraih tangan Anga, menggenggam dan mengusapnya dengan lembut.

"Dek, Mas kan pernah bilang kalau uang itu adalah nafkah yang Mas berikan untuk kamu. Selain uang untuk belanja keperluan rumah dan sayur, semuanya sudah menjadi hak kamu. Mau kamu belikan apa saja boleh, Mas nggak akan melarang. Hanya satu pesan Mas, pergunakan uang itu sebaik-baiknya. Itu aja, selebihnya kamu yang atur sendiri"

Aditya tak menyangka kalau istrinya itu tidak pernah menggunakan uang yang ia berikan. Entah apa yang ada di pikiran istrinya itu.

"Atau kamu masih merasa kalau kamu ini hanya beban buat Mas??"

Anga terdiam membuat Aditya justru merasakan hatinya begitu sakit.

"Sekali lagi Mas tegaskan sama kamu Dek, kamu itu bukan beban buat Mas. Kamu ini istri Mas dan mulai sekarang cobalah untuk mengerti itu ya??"

"Iya Mas, Anga minta maaf" Cicit Anga dengan air mata yang dia sembunyikan dari Aditya.

"Kamu bilang apa Dek, Mas nggak dengar. Tatap mata Mas kalau kamu lagi ngomong sama Mas"

Perlahan Anga mengangkat kepalanya. Terlihat sudah wajah yang sudah basah dengan air mata itu.

Aditya yang begitu merasa bersalah, mencakup wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Aditya juga mengeringkan air mata Anga dengan ibu jarinya.

"Jangan nangis, Mas nggak marah sama kamu kok. Mas cuma mau kasih tau kamu kalau kamu ini istri Mas yang berhak atas segala sesuatu yang Mas berikan, bukan beban. Ya??"

"Iya Mas, Anga ngerti"

"Gitu dong, ini baru istrinya Mas" Aditya mengusap pucuk kepala Anga sampai membuat pemiliknya tersenyum malu.

"Ada lagi??"

"Apanya Mas??"

"Ya siapa tau kamu mau tanya apa gitu tentang Mas"

Sekarang Aditya bersandar ke belakang, dengan tangannya yang terus mengusap rambut panjang Anga. Sesekali Aditya juga memainkan ujung rambut Anga yang begitu lembut dan harumnya selalu membuat Aditya ketagihan untuk menciumnya.

Pelukan mereka tadi malam saat tidur membuat Aditya tak bisa melupakan harum rambut milik Anga.

"Mas Adit sebenarnya kerja di mana??"

"Jadi kamu belum tau tempat kerjanya Mas??"

"Belum"

"Ya Allah, Maas kira kamu udah tau. Mas kerja di Bank *** yang ada di dekat pertigaan yang kalau ke kanan ke arah kampus kamu itu"

"Hah, tapi itu kan masih jauh dari kampus Mas. Jadi Mas Adit kalau nganterin Anga, nanti balik lagi ke sana??"

"Iya"

"Berarti butuh dua puluh menitan dong Mas kalau bolak balik" Anga tidak tau kalau kantor Aditya justru berada jauh sebelum kampus Anga.

"Ya nggak papa, kan yang Mas antar jemput itu istri Mas sendiri"

"Ya udah. Mulai besok, Anga turun di pertigaan itu aja. Biar Anga naik angkutan dari sana ya Mas"

"Ngak!! Nggak boleh!!" Aditya sampai menegakkan tubuhnya saat menolak keras ide dari Anga itu.

"Selama Mas masih bisa antar kamu. Biar Mas yang antar sampai kampus. Kecuali Mas ada keperluan atau Mas pulang telat, kamu baru boleh pergi atau pulang sendiri!!"

Anga sedikit takut dengan penolakan Aditya itu. Tapi hatinya merasa senang karena dia benar-benar di perhatikan oleh Aditya, suami yang menikahinya tanpa dasar cinta.

"Masih ada lagi nggak??" Tanya Aditya lagi.

"Kalau itu, Mas. Nama lengkap kamu siapa?? Maaf Anga nggak tau karena waktu kita menikah Anga terus memperhatikan Kak Angga. Surat nikah juga Mas yang pegang kan??"

Aditya tampak menarik tas gendongnya mendekat ke arahnya kemudian mengambil dompet kulit berwarna hitam dari dalam sana.

"Ini" Aditya menyerahkan KTP miliknya pada Anga.

"KTP baru kamu juga udah jadi. Maaf Mas lupa kasih ke kamu"

Anga melihat foto Aditya yang ada di KTP itu. Wajahnya tak jauh berbeda dengan Aditya yang sekarang. Tapi menurut Anga, Aditya yang kini ada di sampingnya terlihat lebih gagah di banding dulu yang tampak kurus.

Anga kemudian membaca nama dari Aditya yang baru pertama kali ini ia baca.

"R. Aditya Bagus Satya Dinata" Gumam Anya. Ternyata nama Aditya cukup panjang juga menurut Anga.

Tapi dia buru-buru melihat ke KTP miliknya sendiri. Bibirnya melengkung dan pipinya memerah saat membaca statusnya di sana. Yang dulunya lajang sekarang sudah berubah menjadi Kawin.

Terpopuler

Comments

Sayacha Noi

Sayacha Noi

Salah satu culture/budaya di Jawa. Ini tapi zaman dahulu, sekarang udah jarang dipakai bahkan hampir ga pernah. Jadi zaman dulu itu nama orang itu menunjukkan kelas sosialnya. Nama orang Jawa kalau bukan dari kalangan priyayi, orang kaya, atau orang berpendidikan pasti cuma pakai 1 kata aja contoh nih Sriati, Suliyono dsb, penggunaan ini identik digunakan kelas menengah ke bawah, biasanya dari keluarga yang berprofesi sebagai petani, buruh, peternak. Beda lagi jika kalangan yang berpendidikan, priyayi, orang penting dan kaya biasanya punya nama yang lebih panjang biasanya lebih dari 2 kata. Contohnya kayak namanya Adit ini.

2024-10-14

5

Bunda SalVa

Bunda SalVa

bisa jadi Aditya ada keturunan darah biru karena pakai gelar R di depan yang barti Raden kalo dalam adat jawa 🤔🤔

2025-01-26

0

Soumena Mishy

Soumena Mishy

pasti Aditya ni keturunan ningrat ni
dr namax Uda ketahuan

2024-11-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bunga Kenanga
2 Dunia yang hancur
3 Kamu punya aku, suamimu
4 Jalani dengan ikhlas
5 Ganteng nggak??
6 Jangan di lepas
7 Menerima dengan ikhlas
8 Suami sempurna
9 Saran dari Caca
10 Istri titipan
11 Istri yang baik
12 Hujan perhatian
13 Kedatangan malapetaka
14 Pelukan dan kecupan pertama
15 Siapa wanita itu??
16 Mas milik kamu
17 Kawin
18 Masalah baru
19 Dua wanita ular
20 Jatuh cinta
21 Bekal makan siang
22 Malam mingguan
23 Ditinggal suami
24 Pap dari suami
25 Langkah yang Anga ambil
26 Aditya pulang
27 Matang dan tampan
28 Bantuan Caca
29 Rasa bersalah
30 Mas tunggu di rumah!!
31 Dingin
32 Penyesalan Anga
33 Kejujuran
34 Ngurusin suami
35 Mas Adit
36 Kemarahan Aditya
37 Tentang lidah
38 Kedatangan Mayang
39 Tidak ada rasa
40 Hak suami
41 Rencana Anga
42 Tidak bisa berhenti
43 Seperti drakula
44 Kilasan masa lalu
45 Sama-sama beruntung
46 Mantan pacar suami
47 Penjelasan Aditya
48 Uang tak bisa membeli cinta
49 Kejutan untuk suami
50 Kejutan yang gagal
51 Peringatan Aditya
52 Penjelasan Aditya
53 Noda membandel
54 Permintaan Anga
55 Belajar mencintai
56 Obat mujarab
57 Kedatangan tamu
58 Hanya takut
59 Ketakutan Anga
60 Ungkapan perasaan
61 Ngidam
62 Berbohong demi kebaikan
63 Pelajaran untuk Angel
64 Terlalu indah
65 Ibu hamil yang senstif
66 Berkunjung ke makam
67 Hampir kehilangan
68 Pelaku
69 Ungkapan tanpa sadar
70 Minta obat
71 Perasaan Diah
72 Butuh kepastian
73 Tante Malini
74 Jalan keluar
75 Hadiah dari suami
76 Permintaan maaf
77 Suami sombong
78 Datang ke Jogja
79 Acara penting
80 Jelaskan!!
81 Baru sadar
82 Kenapa??
83 Dua pilihan
84 Jangan menghinanya
85 Syarat
86 Mendapat restu
87 Tak berubah
88 Pergilah!!
89 Pamit
90 Syarat yang sebenarnya
91 Kenapa Bu??
92 Jangan pergi!!
93 Kekecewaan Aditya
94 Maaf
95 Sudah sejak dulu
96 Menemui Ajeng
97 Pesakitan Ajeng
98 Perubahan Ajeng
99 Keputusan Ajeng
100 Sama-sama beruntung
101 Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102 Kepergian Ajeng
103 Kabar untuk mertua
104 Pura-pura bahagia
105 Tiga bulan
106 Utang
107 Kangen
108 Ancaman Raka
109 Tak peduli
110 Keterkejutan Raka
111 Mengakhiri
112 Dikokop
113 Marah
114 Terbakar cemburu
115 Pergilah temui dia!!
116 Menemui Ratna
117 Hilang kepercayaan diri
118 Kemarahan Aditya
119 Masih halal
120 Perubahan Raka
121 Sampai di rumah
122 Cemburu
123 Di salahkan
124 Pergilah!!
125 Meyakinkan perasaan
126 Sultan
127 Dua wanita
128 Cemburu
129 Takut kecewa
130 Pria tanpa identitas
131 Mencari Raka
132 Menjadi penguntit
133 Ngidam
134 Wanita pengganggu
135 Nggak cemburu
136 Pria misterius
137 Ajeng menyerah
138 Maafkan aku
139 Ancaman Ajeng
140 Kembali bersama
141 Ngaak mungkin!!
142 Ketulusan Ajeng
143 Kamu bisa Mas!!
144 Aku nggak marah!
145 PROMO NOVEL BARU
146 Pingin punya anak
147 Tujuh bulanan
148 Hamil??
149 Bahagia tiada tara
150 Empat kelinci lucu
151 Melahrikan
152 Akhir
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Bunga Kenanga
2
Dunia yang hancur
3
Kamu punya aku, suamimu
4
Jalani dengan ikhlas
5
Ganteng nggak??
6
Jangan di lepas
7
Menerima dengan ikhlas
8
Suami sempurna
9
Saran dari Caca
10
Istri titipan
11
Istri yang baik
12
Hujan perhatian
13
Kedatangan malapetaka
14
Pelukan dan kecupan pertama
15
Siapa wanita itu??
16
Mas milik kamu
17
Kawin
18
Masalah baru
19
Dua wanita ular
20
Jatuh cinta
21
Bekal makan siang
22
Malam mingguan
23
Ditinggal suami
24
Pap dari suami
25
Langkah yang Anga ambil
26
Aditya pulang
27
Matang dan tampan
28
Bantuan Caca
29
Rasa bersalah
30
Mas tunggu di rumah!!
31
Dingin
32
Penyesalan Anga
33
Kejujuran
34
Ngurusin suami
35
Mas Adit
36
Kemarahan Aditya
37
Tentang lidah
38
Kedatangan Mayang
39
Tidak ada rasa
40
Hak suami
41
Rencana Anga
42
Tidak bisa berhenti
43
Seperti drakula
44
Kilasan masa lalu
45
Sama-sama beruntung
46
Mantan pacar suami
47
Penjelasan Aditya
48
Uang tak bisa membeli cinta
49
Kejutan untuk suami
50
Kejutan yang gagal
51
Peringatan Aditya
52
Penjelasan Aditya
53
Noda membandel
54
Permintaan Anga
55
Belajar mencintai
56
Obat mujarab
57
Kedatangan tamu
58
Hanya takut
59
Ketakutan Anga
60
Ungkapan perasaan
61
Ngidam
62
Berbohong demi kebaikan
63
Pelajaran untuk Angel
64
Terlalu indah
65
Ibu hamil yang senstif
66
Berkunjung ke makam
67
Hampir kehilangan
68
Pelaku
69
Ungkapan tanpa sadar
70
Minta obat
71
Perasaan Diah
72
Butuh kepastian
73
Tante Malini
74
Jalan keluar
75
Hadiah dari suami
76
Permintaan maaf
77
Suami sombong
78
Datang ke Jogja
79
Acara penting
80
Jelaskan!!
81
Baru sadar
82
Kenapa??
83
Dua pilihan
84
Jangan menghinanya
85
Syarat
86
Mendapat restu
87
Tak berubah
88
Pergilah!!
89
Pamit
90
Syarat yang sebenarnya
91
Kenapa Bu??
92
Jangan pergi!!
93
Kekecewaan Aditya
94
Maaf
95
Sudah sejak dulu
96
Menemui Ajeng
97
Pesakitan Ajeng
98
Perubahan Ajeng
99
Keputusan Ajeng
100
Sama-sama beruntung
101
Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102
Kepergian Ajeng
103
Kabar untuk mertua
104
Pura-pura bahagia
105
Tiga bulan
106
Utang
107
Kangen
108
Ancaman Raka
109
Tak peduli
110
Keterkejutan Raka
111
Mengakhiri
112
Dikokop
113
Marah
114
Terbakar cemburu
115
Pergilah temui dia!!
116
Menemui Ratna
117
Hilang kepercayaan diri
118
Kemarahan Aditya
119
Masih halal
120
Perubahan Raka
121
Sampai di rumah
122
Cemburu
123
Di salahkan
124
Pergilah!!
125
Meyakinkan perasaan
126
Sultan
127
Dua wanita
128
Cemburu
129
Takut kecewa
130
Pria tanpa identitas
131
Mencari Raka
132
Menjadi penguntit
133
Ngidam
134
Wanita pengganggu
135
Nggak cemburu
136
Pria misterius
137
Ajeng menyerah
138
Maafkan aku
139
Ancaman Ajeng
140
Kembali bersama
141
Ngaak mungkin!!
142
Ketulusan Ajeng
143
Kamu bisa Mas!!
144
Aku nggak marah!
145
PROMO NOVEL BARU
146
Pingin punya anak
147
Tujuh bulanan
148
Hamil??
149
Bahagia tiada tara
150
Empat kelinci lucu
151
Melahrikan
152
Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!