Jangan di lepas

Anga dan Caca buru-buru menuju parkiran depan dekat pintu masuk ke universitas ternama itu. Malah Caca yang berjalan lebih cepat dari Anga karena dia begitu penasaran dengan sosok suami sahabatnya itu.

"Yang mana Nga??" Caca celingukan menatap ke arah parkiran motor. Soalnya di sana juga banyak mahasiswa yang bersiap untuk pulang.

Anga ikut mengedarkan pandangannya, hingga menemukan pria dengan celana dan jaket yang sama dengan tadi Aditya pakai saat berangkat kerja.

"Itu yang lagi main hape pakai jaket hitam" Tunjuk Anga pada Aditya yang masih duduk di motornya.

"Hah itu?? Yakin umurnya udah tiga puluh tahun Nga?? Kalau model kaya gini, gue juga mau Nga" Caca sampai melongo menatap ke arah pria tampan itu.

Benar dugaan Anga kalau Adit berada di gerombolan pria, pasti dia yang paling menonjol. Buktinya saat ini banyak mahasiswa yang ada di sana juga, tapi mahasiswi yang lewat di sana tampak berbisik-bisik dan mengumbar senyum manis mereka setelah melihat Aditya.

"Jaga omongan kamu, suami orang itu!!" Anga menatap tajam pada Caca.

"Cieee, yang udah punya suami" Goda Caca.

"Udah ah, ayo pulang"

Caca mengekor di belakang Anga. Dia ingin melihat jelas wajah suami Anga itu.

"M-mas??" Lidah Anga masih kaku memanggil Aditya seperti itu.

Adit yang masih duduk di atas motor langsung menoleh ke belakang.

"Maaf ya lama"

"Nggak papa. Mau langsung pulang sekarang??"

Caca yang berdiri di belakang Anga masih melongo sampai saat ini. Dia setuju dengan apa yang Anga katakan tadi. Pria di hadapan Anga saat ini begitu lembut. Wajahnya juga semakin tampan kalau di lihat lebih dekat.

"*Pantas aja tadi Anga malu-malu waktu gue tanya suaminya ganteng nggak*"

"Iya Kak, pulang aja. Oh iya, kenalin Mas. Ini sahabat aku satu-satunya, Caca"

Anga menarik Caca yang bersembunyi di belakangnya.

Caca menunjukkan senyum lebarnya dan mengulurkan tangannya pada Aditya.

"Caca Kak"

"Aditya. Makasih ya udah temenin istri saya"

"Sama-sama Kak"

"Ayo pulang Dek" Aditya beralih pada Anga.

"Iya Mas. Aku duluan ya Ca??"

"Iya hati-hati, aku juga mau pulang. Daa Anga" Caca lebih dulu menuju ke mobilnya. Dia juga sempat melihat Anga dan Adit lagi dari kejauhan.

"*Kelihatannya Kak Adit emang orang baik. Semoga suami kamu adalah orang yang tepat untuk menjaga kamu Nga. Semoga pilihan Kak Angga memang nggak salah*"

Caca berdoa untuk kebahagiaan sahabatnya sebelum meninggalkan kampus lebih dulu.

"Pakai helmnya dulu" Aditya memberikan helm pada Anga.

"Ini baru Mas??" Anga tadi tak melihat Aditya membawa dua helm saat berangkat. Terus di kaca helmnya juga masih ada plastik yang menempel.

"Iya, sekarang Mas kan sudah punya istri. Pasti kemana-mana berdua kan?? Jadi Mas beli itu buat kamu"

Demi apapun, Anga merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia merasa senang hanya karena Aditya membeli helm khusus untuknya.

Bisa-bisanya dia tersipu hanya untuk perhatian kecil yang mungkin menurut Adit adalah hal yang biasa saja. Tapi entah untuk Anga rasanya berbeda

"Bisa nggak??" Anga sempat terkejut karena tangan Aditya berada di bawah dagunya untuk membantunya memasang helm. Sesuai anjuran polisi kalau memakai helm harus sampai bunyi klik, baru bisa di sebut safety.

"Kamu pernah naik motor??"

Anga menggeleng dengan ragu. Jujur ini untuk pertama kalinya, dari dulu memang dia terbiasa hidup enak dan di manjakan oleh Angga.

"Nanti Mas pelan-pelan kok, nggak usah takut"

Aditya memindah tas punggungnya ke depan menutupi dadanya agar Anga duduk dengan nyaman di belakang.

Anga mulai duduk di belakang Aditya dengan kaku. Apalagi dia memakai dress karena tidak tau kalau Aditya akan menjemputnya.

"Pegangan ya Dek??"

"I-iya Mas"

Mereka mulai keluar dari area kampus saat hari sudah mulai gelap. Aditya juga mengendarai sepeda motornya dengan pelan sesuai katanya tadi agar Anga tidak takut.

Keduanya saling terdiam dengan kedua tangan Anga yang memegang ujung jaket Aditya di bagian pinggang. Dia sebenarnya takut jatuh, tapi untuk berpegangan lebih erat, atau memeluk pinggang Aditya, Anga merasa sungkan.

"Dek??"

"Iya Mas??" Anga sedikit memajukan kepalanya agar mendengar suara Aditya yang kabur di bawa angin.

"Kita beli makan di luar aja ya, Mas belum sempat belanja lagi. Di rumah udah nggak ada apa-apa"

"Iya Mas boleh"

"Kamu mau makan apa??"

Seperti halnya wanita, pasti bingung kalau di tanya ingin makan apa. Sebenarnya Anga juga tidak ada selera makan sama sekali. Tadi malam dan tadi pagi dia makan hanya karena menghargai Aditya yang telah bersusah payah memasak untuknya.

"Kalau Mas mau makan apa??"

"Mas apa aja, semuanya Mas suka. Jadi samakan aja kaya kamu" Sahut Aditya agak keras karena suara disekitarnya yang cukup berisik.

Aditya tak mendengar jawaban Anga setelah beberapa detik.

"Kamu nggak selera makan ya??"

Anga kembali diam saat Aditya berhasil menebak pikirannya.

Entah kenapa Anga kembali merasa sedih. Sekarang dia tak punya siapa-siapa. Hanya Aditya yang notabennya bukan siapa-siapa sebelumnya, kini menjadi suaminya.

Tapi Aditya memperlakukannya dengan begitu baik. Aditya bahkan menjemputnya ke kampus tanpa mengabarinya lebih dulu. Bagaimana kalau tadi ternyata Anga sudah pulang, apa Aditya tidak akan sia-sia datang ke kampus Anga.

Anga mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir. Anga tidak mau Aditya kembali melihatnya menangis.

"Kok diam??"

"Anga mau bebek goreng boleh Mas??" Celetuk Anga begitu saja. Padahal dia sama sekali tidak menginginkannya.

Dia asal menyebut hanya untuk membeli lauk untuk makan malam Aditya.

"Boleh ayo kita cari bebek goreng yang enak"

Aditya tak sengaja menarik gasnya dengan sedikit kencang hingga Anga yang tak siap langsung memeluk tubuh Aditya sengan begitu erat. Kedua tangannya melingkar di pinggang Aditya begitu pun wajah Anga yang menempel di punggung Aditya.

"Maaf Dek, Mas nggak sengaja. Mas lupa kalau ada kamu di belakang"

Anga sempat merasakan jantungnya mau lepas karena takut kalau jatuh dari motor Aditya di tengah jalan seperti itu.

"Nggak papa kok Mas" Anga ingin menarik tangannya yang refleks memeluk Aditya itu. Dia merasa malu saat ini. Memeluk pinggang suaminya yang terasa keras dan berotot itu. Dari memegangnya sekilas saja, Anga bisa membayangkan bagaimana isi di balik baju Aditya itu.

Tapi gerakan Anga yanh ingin menarik tangannya itu di tahan oleh Aditya. Pria itu malah memegang tangan Anga yanga ada di pinggannya.

"Jangan di lepas, peluk yang erat, biar nggak jatuh"

Anga malah jadi kesusahan bernafas saat merasakan punggung tangannya di usap Aditya dengan lembut di depan sana.

Kalau sudah begitu, Anga hanya bisa pasrah. Toh Aditya juga suaminya.

Terpopuler

Comments

citra marwah

citra marwah

Uuuuh kan enak bgt naik motor bareng pak su....dlu sblm q punya mobil,kmna2 naik mtor bahkan mudik lebaran aja naik motor...peluk2 sambil ngobrol teriak2 gak jelas,yg penting jawab dg kata *iya* dri pda keder🤣naik motor itu romantis loh ya bukan mlah kampungan,gen Z yg belum pernah ngerasain spt kita milenial😅😅uuuh cocuiit tau,

2025-02-23

0

Erma

Erma

kalo motor bebek berarti Supra ya motor nya?? atau jupiter mx / jupiter Z 😅😅😅

2025-01-02

2

Agustin Mahfud

Agustin Mahfud

ya Allah thor aku baca ulang beneran...
ini aku ngebayanginnya mereka naik N max...haha

2024-12-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bunga Kenanga
2 Dunia yang hancur
3 Kamu punya aku, suamimu
4 Jalani dengan ikhlas
5 Ganteng nggak??
6 Jangan di lepas
7 Menerima dengan ikhlas
8 Suami sempurna
9 Saran dari Caca
10 Istri titipan
11 Istri yang baik
12 Hujan perhatian
13 Kedatangan malapetaka
14 Pelukan dan kecupan pertama
15 Siapa wanita itu??
16 Mas milik kamu
17 Kawin
18 Masalah baru
19 Dua wanita ular
20 Jatuh cinta
21 Bekal makan siang
22 Malam mingguan
23 Ditinggal suami
24 Pap dari suami
25 Langkah yang Anga ambil
26 Aditya pulang
27 Matang dan tampan
28 Bantuan Caca
29 Rasa bersalah
30 Mas tunggu di rumah!!
31 Dingin
32 Penyesalan Anga
33 Kejujuran
34 Ngurusin suami
35 Mas Adit
36 Kemarahan Aditya
37 Tentang lidah
38 Kedatangan Mayang
39 Tidak ada rasa
40 Hak suami
41 Rencana Anga
42 Tidak bisa berhenti
43 Seperti drakula
44 Kilasan masa lalu
45 Sama-sama beruntung
46 Mantan pacar suami
47 Penjelasan Aditya
48 Uang tak bisa membeli cinta
49 Kejutan untuk suami
50 Kejutan yang gagal
51 Peringatan Aditya
52 Penjelasan Aditya
53 Noda membandel
54 Permintaan Anga
55 Belajar mencintai
56 Obat mujarab
57 Kedatangan tamu
58 Hanya takut
59 Ketakutan Anga
60 Ungkapan perasaan
61 Ngidam
62 Berbohong demi kebaikan
63 Pelajaran untuk Angel
64 Terlalu indah
65 Ibu hamil yang senstif
66 Berkunjung ke makam
67 Hampir kehilangan
68 Pelaku
69 Ungkapan tanpa sadar
70 Minta obat
71 Perasaan Diah
72 Butuh kepastian
73 Tante Malini
74 Jalan keluar
75 Hadiah dari suami
76 Permintaan maaf
77 Suami sombong
78 Datang ke Jogja
79 Acara penting
80 Jelaskan!!
81 Baru sadar
82 Kenapa??
83 Dua pilihan
84 Jangan menghinanya
85 Syarat
86 Mendapat restu
87 Tak berubah
88 Pergilah!!
89 Pamit
90 Syarat yang sebenarnya
91 Kenapa Bu??
92 Jangan pergi!!
93 Kekecewaan Aditya
94 Maaf
95 Sudah sejak dulu
96 Menemui Ajeng
97 Pesakitan Ajeng
98 Perubahan Ajeng
99 Keputusan Ajeng
100 Sama-sama beruntung
101 Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102 Kepergian Ajeng
103 Kabar untuk mertua
104 Pura-pura bahagia
105 Tiga bulan
106 Utang
107 Kangen
108 Ancaman Raka
109 Tak peduli
110 Keterkejutan Raka
111 Mengakhiri
112 Dikokop
113 Marah
114 Terbakar cemburu
115 Pergilah temui dia!!
116 Menemui Ratna
117 Hilang kepercayaan diri
118 Kemarahan Aditya
119 Masih halal
120 Perubahan Raka
121 Sampai di rumah
122 Cemburu
123 Di salahkan
124 Pergilah!!
125 Meyakinkan perasaan
126 Sultan
127 Dua wanita
128 Cemburu
129 Takut kecewa
130 Pria tanpa identitas
131 Mencari Raka
132 Menjadi penguntit
133 Ngidam
134 Wanita pengganggu
135 Nggak cemburu
136 Pria misterius
137 Ajeng menyerah
138 Maafkan aku
139 Ancaman Ajeng
140 Kembali bersama
141 Ngaak mungkin!!
142 Ketulusan Ajeng
143 Kamu bisa Mas!!
144 Aku nggak marah!
145 PROMO NOVEL BARU
146 Pingin punya anak
147 Tujuh bulanan
148 Hamil??
149 Bahagia tiada tara
150 Empat kelinci lucu
151 Melahrikan
152 Akhir
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Bunga Kenanga
2
Dunia yang hancur
3
Kamu punya aku, suamimu
4
Jalani dengan ikhlas
5
Ganteng nggak??
6
Jangan di lepas
7
Menerima dengan ikhlas
8
Suami sempurna
9
Saran dari Caca
10
Istri titipan
11
Istri yang baik
12
Hujan perhatian
13
Kedatangan malapetaka
14
Pelukan dan kecupan pertama
15
Siapa wanita itu??
16
Mas milik kamu
17
Kawin
18
Masalah baru
19
Dua wanita ular
20
Jatuh cinta
21
Bekal makan siang
22
Malam mingguan
23
Ditinggal suami
24
Pap dari suami
25
Langkah yang Anga ambil
26
Aditya pulang
27
Matang dan tampan
28
Bantuan Caca
29
Rasa bersalah
30
Mas tunggu di rumah!!
31
Dingin
32
Penyesalan Anga
33
Kejujuran
34
Ngurusin suami
35
Mas Adit
36
Kemarahan Aditya
37
Tentang lidah
38
Kedatangan Mayang
39
Tidak ada rasa
40
Hak suami
41
Rencana Anga
42
Tidak bisa berhenti
43
Seperti drakula
44
Kilasan masa lalu
45
Sama-sama beruntung
46
Mantan pacar suami
47
Penjelasan Aditya
48
Uang tak bisa membeli cinta
49
Kejutan untuk suami
50
Kejutan yang gagal
51
Peringatan Aditya
52
Penjelasan Aditya
53
Noda membandel
54
Permintaan Anga
55
Belajar mencintai
56
Obat mujarab
57
Kedatangan tamu
58
Hanya takut
59
Ketakutan Anga
60
Ungkapan perasaan
61
Ngidam
62
Berbohong demi kebaikan
63
Pelajaran untuk Angel
64
Terlalu indah
65
Ibu hamil yang senstif
66
Berkunjung ke makam
67
Hampir kehilangan
68
Pelaku
69
Ungkapan tanpa sadar
70
Minta obat
71
Perasaan Diah
72
Butuh kepastian
73
Tante Malini
74
Jalan keluar
75
Hadiah dari suami
76
Permintaan maaf
77
Suami sombong
78
Datang ke Jogja
79
Acara penting
80
Jelaskan!!
81
Baru sadar
82
Kenapa??
83
Dua pilihan
84
Jangan menghinanya
85
Syarat
86
Mendapat restu
87
Tak berubah
88
Pergilah!!
89
Pamit
90
Syarat yang sebenarnya
91
Kenapa Bu??
92
Jangan pergi!!
93
Kekecewaan Aditya
94
Maaf
95
Sudah sejak dulu
96
Menemui Ajeng
97
Pesakitan Ajeng
98
Perubahan Ajeng
99
Keputusan Ajeng
100
Sama-sama beruntung
101
Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102
Kepergian Ajeng
103
Kabar untuk mertua
104
Pura-pura bahagia
105
Tiga bulan
106
Utang
107
Kangen
108
Ancaman Raka
109
Tak peduli
110
Keterkejutan Raka
111
Mengakhiri
112
Dikokop
113
Marah
114
Terbakar cemburu
115
Pergilah temui dia!!
116
Menemui Ratna
117
Hilang kepercayaan diri
118
Kemarahan Aditya
119
Masih halal
120
Perubahan Raka
121
Sampai di rumah
122
Cemburu
123
Di salahkan
124
Pergilah!!
125
Meyakinkan perasaan
126
Sultan
127
Dua wanita
128
Cemburu
129
Takut kecewa
130
Pria tanpa identitas
131
Mencari Raka
132
Menjadi penguntit
133
Ngidam
134
Wanita pengganggu
135
Nggak cemburu
136
Pria misterius
137
Ajeng menyerah
138
Maafkan aku
139
Ancaman Ajeng
140
Kembali bersama
141
Ngaak mungkin!!
142
Ketulusan Ajeng
143
Kamu bisa Mas!!
144
Aku nggak marah!
145
PROMO NOVEL BARU
146
Pingin punya anak
147
Tujuh bulanan
148
Hamil??
149
Bahagia tiada tara
150
Empat kelinci lucu
151
Melahrikan
152
Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!