Ganteng nggak??

"ANGAAA!!"

Suara cempreng itu terdengar memenuhi lorong kampus yang lumayan ramai.

"Caca"

Brukkk....

Tubuh Anga di tubruk begitu saja oleh Caca, sahabat satu-satunya di kampusnya itu.

"Maafin gue Nga. Maaf gue nggak bisa temenin lo kemarin hu..hu.." Caca tiba-tiba menangis tersedu-sedu di pelukan Anga.

Caca menyesal karena tidak ada di saat-saat Anga butuh dukungan. Kemarin Caca memang sedang berada di rumah Neneknya yang ada di luar kota dan baru pulang tadi pagi. Jadi dia tidak bisa hadir di pemakaman Kakaknya Anga.

"Nggak papa Ca. Jangan nangis dong, dilihat orang banyak"

Caca menjauhkan tubuhnya laku menoleh ke kiri dan kanannya. Memang benar kalau dia sedang menjadi pusat perhatian.

"Ya udah, kita cari tempat duduk dulu. Gue mau lo cerita semuanya, kenapa Kak Angga bisa kecelakaan kaya gitu"

Caca menarik Anga untuk duduk di baku taman yang letaknya ada di bawah pohon. Rindangnya dedaunan menghalau sinar matahari hingga tempat itu tak terlaku terik.

"Kalau menurut polisi dan rekaman cctv, Kak Angga dinyatakan hilang kendali saat berkendara karena ini termasuk kecelakaan tunggal. Kak Angga juga dinyatakan bebas dari obat terlarang dan minuman beralkohol" Cerita Anga menurut polisi kemarin di Rumah sakit.

"Astaghfirullah, yang sabar ya Nga" Caca kembali memeluk Anga.

Kata-kata sabar yang di ucapkan Caca justru membuatnya kembali terenyuh. Dia kembali mengingat semua yang terjadi kepadanya dua hari ini.

Caca pasti akan terkejut jika dia tau apa saja kejadian yang menimpa Anga selain musibah kepergian Angga.

"Lo tenang aja Nga. Lo nggak sendirian di dunia ini. Masih ada gue, lo bisa anggap gue saudara lo"

"Makasih Ca. Aku seneng banget punya sahabat kaya kamu"

Mereka berpelukan cukup lama. Keduanya sama-sama menangis tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya.

"Jadi sekarang lo tinggal sendiri?? Apa perlu gue pindah ke rumah lo untuk sementara, biar lo tinggal sendirian?? Atau lo bisa tinggal di rumah gua?? Gimana??"

Anga menggeleng sambil mengusap air matanya yang tak lagi terbendung. Dia menunduk sambil menangis tanpa suara.

"Kenapa??" Lirih Caca merasa iba.

"Sebenarnya....." Akhirnya Anga menceritakan semuanya pada Caca.

Anga membagi semuanya dengan Caca bukan untuk mengeluh sebenarnya, tapi dia hanya ingin mengurangi beban pikirannya dengan sahabatnya itu.

"Astaghfirullah Nga. Cobaan lo benar-benar nggak main-main" Caca kembali memeluk Anga. Tapi kali ini dia tidak menangis. Dia malah mencoba menenangkan Anga dengan menepuk pelan punggung Anga.

"Jadi sekarang lo udah nggak tinggal di rumah itu lagi??"

Anga melepaskan diri dari Caca sebelum menjawab pertanyaan Caca dengan sebuah gelengan.

"Lo tinggal sama s-suami lo itu??" Caca sedikit ragu menyebut Aditya dengan suami.

"Iya, sekarang dia yang menggantikan Kak Angga"

"Tapi dia baik kan Nga?? Dia Nggak kaya suami-suami di novel yang jahat dan nggak mau mengakui lo sebagai istri?? Dia nggak buat perjanjian yang aneh-aneh kan Nga?? Dia nggak punya pacar kan Nga??" Caca begitu khawatir kalau pernikahan Anga terjadi seperti di novel yang sering ia baca.

"Aku belum kenal M-mas Adit lebih jauh Ca" Anga mencoba membiasakan diri memanggil Aditya seperti yang orangnya minta.

"Aku cuma kenal dia sebagai sahabat Kak Angga aja. Tapi dari kemarin aku sama dia, dia baik kok Ca. Dia perhatian dan lembut sama aku. Tadinya aku sempat mikir kaya kamu tadi, Mas Adit bakalan buat perjanjian pernikahan. Tapi ternyata tadi pagi dia bilang kalau dia mau serius sama pernikahan ini. Dia pingin nikah cuma sekali seumur hidup dan dia pingin aku menjalani pernikahan ini dengan ikhlas. Dan kalau soal pacar...aku nggak tau"

"Gue paham Nga. Kayaknya dari cerita lo ini, Mas Adit lo itu orangnya baik deh, mungkin juga dia nggak punya pacar. Buktinya dia mau terima pernikahan kalian gitu aja"

"Mungkin aja Ca. Tapi aku masih canggung sama keadaan ini"

Anga yang jarang bergaul dengan laki-laki tentunya merasa begitu canggung berada di dekat Aditya. Apalagi mereka berada dalam satu rumah dan mungkin aja akan berada di dalam kamar yang sama dan berbagi ranjang yang sama pula.

"Namanya juga baru dua hari. Tapi lo harus mencoba membiasakan diri Nga. Benar kata Mas suami lo itu, kalau lo harus ikhlas biar bisa menjalani pernikahan kalian dengan baik. Pepet terus Nga, jangan sampai kendor. Udah sah juga"

"Iiihh apaan sih Ca!!" Anga memukul pelan lengan Caca yang suka bicara aneh dan ceplas-ceplos.

"Tapi ngomong-ngomong, dia ganteng nggak Nga?? Mau lihat dong!!"

"Ganteng??" Gumam Anga.

Pikirannya lalu tertuju pada Adit. Anga mengingat detail wajah Adit serta penampilan suaminya itu. Tiba-tiba Anga menunduk dan menyembunyikan senyumnya dari Caca.

"Yaah elah Nga!! Kalau lihat senyuman lo yang malu-malu putri malu itu gue yakin kalau Mas suami lo itu ganteng pakai banget. Masalahnya dari dulu banyak cowok bejibun yang deketin lo dan lo biasa aja. Nah ini, baru aja di tanya ganteng apa enggak malah mesam mesem sendiri"

Anga langsung memegang kedua pipinya yang ikut terasa panas hanya karena membayangkan Aditya saja.

"Mana dong lihat, ada fotonya nggak??"

"Nggak ada, nggak punya" Jawab Anga dengan jujur.

"Kalau nomor hp?? Kan biasanya ada tuh di foto profilnya. Penasaran banget gue sama suami ya udah bikin sahabat gue malu-malu kaya gini"

"Nggak ada Ca, aku nggak punya nomor teleponnya juga"

Gubrakk ...

Ingin rasanya Caca ingin pingsan karena kesal dengan kepolosan Anga.

"Ih gimana sih lo Nga!!"

Pembicaraan mereka berakhir karena sudah waktunya masuk ke dalam kelas.

Beberapa jam berlalu....

Anga dan Caca berjalan beriringan keluar dari kelas mereka. Tapi tiba-tiba Anga berhenti karena ponselnya yang bergetar.

"Nomor siapa ini??" Gumam Anga karena di aplikasi pesan yang ia punya, pemilik nomor itu tidak memiliki foto profil.

"Halo??"

"Udah pulang belum Dek??"

Suara laki-laki yang menyapanya langsung membuat Anga tau siapa yang meneleponnya.

"Belum M-mas. Ini baru keluar dari kelas" Jawab Anga gugup.

Sementara Caca hanya menjadi pendengar yang baik di sisi Anga.

"Kalau gitu cepat keluar, Mas udah ada di depan kampus kamu"

"Apa?? Mas ada di depan??"

"Iya, Mas tunggu ya"

Pip...

Anga masih menempelkan ponselnya di telinga walau panggilan dari suaminya sudah berakhir.

"Kenapa lo Nga??"

"Ca!!"

"Kenapa??"

"Dia ada di depan Ca!!"

"Siapa??" Caca bingung.

"Mas Adit. Dia jemput aku dan sekarang udah di depan"

"Apa??"

Terpopuler

Comments

Nuryati Yati

Nuryati Yati

bener kata Caca pepet terus mas suami Nga gk usah malu2

2025-01-22

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

wah...gercep y mas.mufah" an Adit punya rasa jg sm Anga

2024-12-28

0

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Duhh bahagianya punya suami cakep.. Perhatian...

2024-11-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bunga Kenanga
2 Dunia yang hancur
3 Kamu punya aku, suamimu
4 Jalani dengan ikhlas
5 Ganteng nggak??
6 Jangan di lepas
7 Menerima dengan ikhlas
8 Suami sempurna
9 Saran dari Caca
10 Istri titipan
11 Istri yang baik
12 Hujan perhatian
13 Kedatangan malapetaka
14 Pelukan dan kecupan pertama
15 Siapa wanita itu??
16 Mas milik kamu
17 Kawin
18 Masalah baru
19 Dua wanita ular
20 Jatuh cinta
21 Bekal makan siang
22 Malam mingguan
23 Ditinggal suami
24 Pap dari suami
25 Langkah yang Anga ambil
26 Aditya pulang
27 Matang dan tampan
28 Bantuan Caca
29 Rasa bersalah
30 Mas tunggu di rumah!!
31 Dingin
32 Penyesalan Anga
33 Kejujuran
34 Ngurusin suami
35 Mas Adit
36 Kemarahan Aditya
37 Tentang lidah
38 Kedatangan Mayang
39 Tidak ada rasa
40 Hak suami
41 Rencana Anga
42 Tidak bisa berhenti
43 Seperti drakula
44 Kilasan masa lalu
45 Sama-sama beruntung
46 Mantan pacar suami
47 Penjelasan Aditya
48 Uang tak bisa membeli cinta
49 Kejutan untuk suami
50 Kejutan yang gagal
51 Peringatan Aditya
52 Penjelasan Aditya
53 Noda membandel
54 Permintaan Anga
55 Belajar mencintai
56 Obat mujarab
57 Kedatangan tamu
58 Hanya takut
59 Ketakutan Anga
60 Ungkapan perasaan
61 Ngidam
62 Berbohong demi kebaikan
63 Pelajaran untuk Angel
64 Terlalu indah
65 Ibu hamil yang senstif
66 Berkunjung ke makam
67 Hampir kehilangan
68 Pelaku
69 Ungkapan tanpa sadar
70 Minta obat
71 Perasaan Diah
72 Butuh kepastian
73 Tante Malini
74 Jalan keluar
75 Hadiah dari suami
76 Permintaan maaf
77 Suami sombong
78 Datang ke Jogja
79 Acara penting
80 Jelaskan!!
81 Baru sadar
82 Kenapa??
83 Dua pilihan
84 Jangan menghinanya
85 Syarat
86 Mendapat restu
87 Tak berubah
88 Pergilah!!
89 Pamit
90 Syarat yang sebenarnya
91 Kenapa Bu??
92 Jangan pergi!!
93 Kekecewaan Aditya
94 Maaf
95 Sudah sejak dulu
96 Menemui Ajeng
97 Pesakitan Ajeng
98 Perubahan Ajeng
99 Keputusan Ajeng
100 Sama-sama beruntung
101 Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102 Kepergian Ajeng
103 Kabar untuk mertua
104 Pura-pura bahagia
105 Tiga bulan
106 Utang
107 Kangen
108 Ancaman Raka
109 Tak peduli
110 Keterkejutan Raka
111 Mengakhiri
112 Dikokop
113 Marah
114 Terbakar cemburu
115 Pergilah temui dia!!
116 Menemui Ratna
117 Hilang kepercayaan diri
118 Kemarahan Aditya
119 Masih halal
120 Perubahan Raka
121 Sampai di rumah
122 Cemburu
123 Di salahkan
124 Pergilah!!
125 Meyakinkan perasaan
126 Sultan
127 Dua wanita
128 Cemburu
129 Takut kecewa
130 Pria tanpa identitas
131 Mencari Raka
132 Menjadi penguntit
133 Ngidam
134 Wanita pengganggu
135 Nggak cemburu
136 Pria misterius
137 Ajeng menyerah
138 Maafkan aku
139 Ancaman Ajeng
140 Kembali bersama
141 Ngaak mungkin!!
142 Ketulusan Ajeng
143 Kamu bisa Mas!!
144 Aku nggak marah!
145 PROMO NOVEL BARU
146 Pingin punya anak
147 Tujuh bulanan
148 Hamil??
149 Bahagia tiada tara
150 Empat kelinci lucu
151 Melahrikan
152 Akhir
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Bunga Kenanga
2
Dunia yang hancur
3
Kamu punya aku, suamimu
4
Jalani dengan ikhlas
5
Ganteng nggak??
6
Jangan di lepas
7
Menerima dengan ikhlas
8
Suami sempurna
9
Saran dari Caca
10
Istri titipan
11
Istri yang baik
12
Hujan perhatian
13
Kedatangan malapetaka
14
Pelukan dan kecupan pertama
15
Siapa wanita itu??
16
Mas milik kamu
17
Kawin
18
Masalah baru
19
Dua wanita ular
20
Jatuh cinta
21
Bekal makan siang
22
Malam mingguan
23
Ditinggal suami
24
Pap dari suami
25
Langkah yang Anga ambil
26
Aditya pulang
27
Matang dan tampan
28
Bantuan Caca
29
Rasa bersalah
30
Mas tunggu di rumah!!
31
Dingin
32
Penyesalan Anga
33
Kejujuran
34
Ngurusin suami
35
Mas Adit
36
Kemarahan Aditya
37
Tentang lidah
38
Kedatangan Mayang
39
Tidak ada rasa
40
Hak suami
41
Rencana Anga
42
Tidak bisa berhenti
43
Seperti drakula
44
Kilasan masa lalu
45
Sama-sama beruntung
46
Mantan pacar suami
47
Penjelasan Aditya
48
Uang tak bisa membeli cinta
49
Kejutan untuk suami
50
Kejutan yang gagal
51
Peringatan Aditya
52
Penjelasan Aditya
53
Noda membandel
54
Permintaan Anga
55
Belajar mencintai
56
Obat mujarab
57
Kedatangan tamu
58
Hanya takut
59
Ketakutan Anga
60
Ungkapan perasaan
61
Ngidam
62
Berbohong demi kebaikan
63
Pelajaran untuk Angel
64
Terlalu indah
65
Ibu hamil yang senstif
66
Berkunjung ke makam
67
Hampir kehilangan
68
Pelaku
69
Ungkapan tanpa sadar
70
Minta obat
71
Perasaan Diah
72
Butuh kepastian
73
Tante Malini
74
Jalan keluar
75
Hadiah dari suami
76
Permintaan maaf
77
Suami sombong
78
Datang ke Jogja
79
Acara penting
80
Jelaskan!!
81
Baru sadar
82
Kenapa??
83
Dua pilihan
84
Jangan menghinanya
85
Syarat
86
Mendapat restu
87
Tak berubah
88
Pergilah!!
89
Pamit
90
Syarat yang sebenarnya
91
Kenapa Bu??
92
Jangan pergi!!
93
Kekecewaan Aditya
94
Maaf
95
Sudah sejak dulu
96
Menemui Ajeng
97
Pesakitan Ajeng
98
Perubahan Ajeng
99
Keputusan Ajeng
100
Sama-sama beruntung
101
Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102
Kepergian Ajeng
103
Kabar untuk mertua
104
Pura-pura bahagia
105
Tiga bulan
106
Utang
107
Kangen
108
Ancaman Raka
109
Tak peduli
110
Keterkejutan Raka
111
Mengakhiri
112
Dikokop
113
Marah
114
Terbakar cemburu
115
Pergilah temui dia!!
116
Menemui Ratna
117
Hilang kepercayaan diri
118
Kemarahan Aditya
119
Masih halal
120
Perubahan Raka
121
Sampai di rumah
122
Cemburu
123
Di salahkan
124
Pergilah!!
125
Meyakinkan perasaan
126
Sultan
127
Dua wanita
128
Cemburu
129
Takut kecewa
130
Pria tanpa identitas
131
Mencari Raka
132
Menjadi penguntit
133
Ngidam
134
Wanita pengganggu
135
Nggak cemburu
136
Pria misterius
137
Ajeng menyerah
138
Maafkan aku
139
Ancaman Ajeng
140
Kembali bersama
141
Ngaak mungkin!!
142
Ketulusan Ajeng
143
Kamu bisa Mas!!
144
Aku nggak marah!
145
PROMO NOVEL BARU
146
Pingin punya anak
147
Tujuh bulanan
148
Hamil??
149
Bahagia tiada tara
150
Empat kelinci lucu
151
Melahrikan
152
Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!