Jalani dengan ikhlas

Anga baru terbangun setelah mendengar suara berisik dari dapur. Anga juga terkejut karena dia baru bangun saat matahari sudah lumayan tinggi. Padahal dia menumpang di rumah orang dan harusnya tau diri.

Semalam setelah makan malam, Anga memang langsung tertidur sampai pagi. Dia bahkan tidak tau Aditya tidur di mana, di kamar bersamanya atau tidur di ruang tamu.

Anga keluar dari kamar langsung menuju dapur. Di lihatnya pria gagah itu sedang mencuci piring juga peralatan masak.

Anga juga melihat di meja makan sudah tersedia dua piring nasi goreng yang terlihat masih panas lengkap dengan terlur mata sapi di atasnya.

"Kamu sudah bangun??" Aditya menyadari kedatangan Anga.

"I-iya Kak. Maaf aku kesiangan" Anga merasa tak enak hati. Apalagi Aditya juga sudah selesai memasak.

"Nggak papa, aku tau kalau kamu capek" Aditya mengeringkan kedua tangannya setelah menyelesaikan cucian piringnya.

"Ayo sarapan dulu. Setelah ini ada yang mau aku bicarakan sebelum aku berangkat kerja"

"Iya Kak"

Mereka berdiam duduk berhadapan di sebuah meja makan yang ukurannya tidak cukup besar.

Anga mulai menyuap nasi goreng buatan Aditya setelah Aditya memakannya lebih dulu.

Anga memuji kepiawaian Aditya dalam hal memasak. Tadi malam saat dia mencoba pertama kali masakan Aditya, Anga langsung menyukainya. Nasi goreng yang sedang ia lahap juga begitu enak. Anga tak menyangka kalau Aditya pandai memasak.

Sedangkan dia, sebagai seorang wanita, menggoreng telur saja tidak bisa.

"Mau di taruh di mana muka ku ini??" Anga malu karena harusnya dia yang memasak untuk Aditya, bukan sebaliknya.

Anya merasakan definisi tidak tau diri yang sebenarnya. Sudah menumpang gratis, bangun siang, makan pun di masakkan, cuci piring juga tidak. Tapaknya setelah ini Anga harus mulai belajar menjadi wanita yang sebenarnya.

"Enak??"

Uhukk...

Uhukk...

Anga tersedak karena pertanyaan Aditya yang tiba-tiba.

"Minum dulu, maaf membuatmu kaget"

Anga menerima segelas air putih yang di sodorkan Aditya. Pria itu juga beranjak dan menepuk pelan punggung Anga.

"Nggak papa Kak"

Aditya kembali duduk saat Anga sudah kembali tenang.

"Masakan Kak Adit enak, enak banget malahan. Aku yang wanita aja malah nggak bisa masak"

"Nggak ada yang mengharuskan wanita bisa masak. Jadi jangan malu!"

Justru kata-kata Aditya itu melah membuat Anga semakin malu. Sepertinya Anga benar-benar harus belajar memasak setelah ini.

🍀🍀🍀🍀

Saat Anga keluar dari kamar mandi, Aditya sudah rapi dengan kemeja lengan panjang berwarna biru laut juga celana bahan warna hitam. Rambutnya juga sudah di tata dengan rapi, membuat pria itu semakin tampan.

Anga bahkan tak berkedip beberapa detik melihat pria yang sedang memakai sepatunya itu.

Kemana saja Anga selama ini, kenapa dia baru menyadari kalau Aditya begitu mempesona. Padahal Anga sudah mengenal Aditya sejak dia masih SMP.

"Sini duduk dulu, ada yang harus aku katakan sama kamu" Aditya menepuk kursi di sampingnya.

Di kursi itu Anga juga melihat bantal yang sama dengan bantal di kamar. Sekarang Anga tau kalau Aditya tadi malam benar-benar tidur di luar.

Anga duduk di samping Aditya dengan kedua tangan saling bertaut di atas pahanya. Anga merasa gugup karena sepertinya Aditya ingin membicarakan hal serius.

"Apa Kak Adit akan menceraikan ku?? Atau Kak Adit mau buat perjanjian pernikahan kaya di novel-novel itu??" Pikiran Anga sudah kemana-mana.

Aditya menggeser duduknya hingga bisa menatap Anga dengan leluasa.

"Dek, kamu tau kan kalau kita sudah sah menjadi pasangan suami istri??"

"I-iya Kak" Anga gugup bukan main saat di tatap seperti itu oleh Adit.

"Pernikahan kita memang mendadak dan bukan keinginan kita berdua. Tapi bagi ku, pernikahan ini bukan main-main. Meski kita menikah tanpa ada cinta di dalamnya, tapi aku tetap berkomitmen untuk menikah sekali seumur hidup"

"Huffftt.." Anga tampak membuang nafas lega saat mendengar pernyataan langsung dari Aditya.

"Kamu kenapa?? Jangan-jangan kamu berpikir kalau aku mau membuat perjanjian pernikahan kaya di novel-novel ya??"

Anga hanya meringis karena pikirannya bisa di tebak oleh Aditya.

"Jangan berpikir terlalu jauh Dek. Aku tidak akan melakukan hal aneh kaya gitu. Aku menghargai pernikahan dan aku nggak mau mengingkari janjiku sama Kakak kamu terutama sama Allah"

"......"

"Jadi, aku minta sama kamu untuk mencoba menerima pernikahan ini. Ayo kita sama-sama belajar untuk saling menerima. Kamu mau kan??"

Anga tampak ragu menjawabnya. Dia yang masih begitu asing denhan Aditya tentu saja tak mudah untuk mengambil keputusan walau sebenarnya tak ada gunanya juga karena nyatanya pernikahan itu sudah terjadi.

"Apa kamu malu punya suami yang umurnya jauh di atas kamu. Atau kamu sudah punya pacar??" Tanya Aditya karena Anga tak langsung menjawab.

"Enggak Kak, aku nggak punya pacar!" Jawab Anga dengan cepat karena tak mau Aditya salah paham.

"Kalau cowo yang aku suka sih ada" Lanjut Anga dalam hati. Dari dulu Angga memang begitu ketat menjaga adiknya. Anga tidak pernah mengalami yang namanya pacaran karena semua pria yang mendekatinya pasti takut dengan Kakaknya.

"Jadi gimana?? Apa kamu mau menerima pernikahan ini??"

"Insyaallah Kak" Jawab Anga setelah meyakinkan dirinya.

"Tapi Kak Adit pasti tau aku ini tidak bisa apa-apa. Aku tidak seperti wanita di luar sana yang pintar mengurus rumah. Aku nggak bisa masak kaya Kak Adit" Anga menunduk dalam, dia merasa benar-benar malu saat ini.

"Semuanya butuh proses Dek. Kamu bisa belajar pelan-pelan, aku tidak memaksa. Kalau masak, aku juga bisa jadi nggak usah khawatir. Atau kita juga bisa beli kalau nggak sempat masak. Jangan tertekan dengan semua itu. Jalani saja dengan ikhlas"

"Iya Kak, Anga ngerti"

"Sebenarnya masih banyak yang mau aku bicarakan sama kamu. Tapi ini sudah semakin siang, aku harus berangkat" Aditya mulai memakai jaketnya.

Kalau kalian kira Aditya memiliki mobil sebagai kendaraannya, kalian salah. Walau sebagai manager di Bank swasta terkemuka di Negeri ini. Aditya hanya memiliki satu motor matic sebagai teman berangkat dan pulang kerja untuknya.

"Kamu mau libur dulu kan untuk beberapa hari??" Aditya mengerti kalau Anga sebenarnya masih begitu kehilangan Kakaknya.

"Aku mau masuk aja Kak. Kalau sendiri di rumah aku malah ingat sama Kak Angga" Mata Anga langsung berair kalau mengingat Angga.

"Ya sudah lekas ganti baju, aku tunggu. Kampus kamu searah sama tepat kerja ku"

"Nggak usah Kak, Aku kuliah siang jadi Kak Adit duluan aja. Nanti telat"

"Ya sudah kalau begitu. Pakai ini untuk ongkos kamu" Aditya memberikan dua lembar uang berwarna merah.

"E-enggak usah Kak. Aku masih ada" Tolak Anga karena masih begitu sungkan.

"Terimalah, ini termasuk nafkah dariku sebagai suamimu"

Hati Anga kembali terenyuh karena sikap Adit. Pria itu benar-benar mengemban tanggungjawab yang di berikan Kakaknya.

"Makasih Kak"

"Maaf baru memberimu itu saja karena aku lupa belum menarik uang tunai"

"Nggak papa kok Kak, ini sudah cukup"

Tapi Anga di buat terkejut karena Aditya malah memberikan ponselnya pada Anga.

"Tulis nomor hape kamu di situ. Biar aku bisa menghubungi kamu"

"Oo oh iya Kak"

Anga sampai lupa kalau mereka belum bertukar nomor telepon.

"Ini Kak"

Aditya tampak mengotak atik ponselnya sebentar sebelum mengulurkan tangannya pada Anga lagi.

Kali ini Anga kebingungan karena tadi Aditya memberikan ponselnya, tapi sekarang tangan Aditya kosong tak memegang apapun.

"Salim dulu kalau suami mau berangkat kerja!" Ucap Aditya karena istri kecilnya itu tampak kebingungan.

Blusshh....

Wajah Anga langsung memerah dan terasa panas.

"Iya, hati-hati ya Kak??" Anga langsung menyambut tangan Aditya dan mencium punggung tangan berotot itu dengan lembut.

Nyesss...

Berdesir seluruh tubuh Anga saat bibirnya bersentuhan dengan kulit Aditya untuk pertama kalinya.

Memang pertama kali karena saat mereka menikah Anga tidak sempat mencium tangan Aditya.

"Bisa aku minta sesuatu sama kamu sebelum berangkat??"

"Apa Kak??" Anga mengangkat wajahnya setelah mencium tangan Aditya.

"Aku suamimu bukan Kakakmu, Angga. Jadi jangan panggil aku Kakak seperi kamu memanggil Angga"

"Terus harus panggil a-apa Kak??" Aditya selalu berhasil membuat Anga gugup karena tatapannya yang dalam.

"Mas" Pinta Adit.

"M-mas??" Ulang Anga dengan terbata.

"Dalem Dek"

Duuaaarrrr...

Jantung Anga seperti meledak di dalam dalam sana.....

Terpopuler

Comments

Farani Masykur

Farani Masykur

mas adit yg jawab ak yg ser - seran... /Drool/

2025-02-08

1

Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲

Masya Allah tabarakaAllah 🙏🤲

definisi sehidup se'syurga, bahagia itu sederhana. tanpa harus terlihat mewah, 🙏

2025-01-21

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

dalem sanget loh mmaassh.... pie tow.pemirsah mlh seng kelonjotan

2024-12-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bunga Kenanga
2 Dunia yang hancur
3 Kamu punya aku, suamimu
4 Jalani dengan ikhlas
5 Ganteng nggak??
6 Jangan di lepas
7 Menerima dengan ikhlas
8 Suami sempurna
9 Saran dari Caca
10 Istri titipan
11 Istri yang baik
12 Hujan perhatian
13 Kedatangan malapetaka
14 Pelukan dan kecupan pertama
15 Siapa wanita itu??
16 Mas milik kamu
17 Kawin
18 Masalah baru
19 Dua wanita ular
20 Jatuh cinta
21 Bekal makan siang
22 Malam mingguan
23 Ditinggal suami
24 Pap dari suami
25 Langkah yang Anga ambil
26 Aditya pulang
27 Matang dan tampan
28 Bantuan Caca
29 Rasa bersalah
30 Mas tunggu di rumah!!
31 Dingin
32 Penyesalan Anga
33 Kejujuran
34 Ngurusin suami
35 Mas Adit
36 Kemarahan Aditya
37 Tentang lidah
38 Kedatangan Mayang
39 Tidak ada rasa
40 Hak suami
41 Rencana Anga
42 Tidak bisa berhenti
43 Seperti drakula
44 Kilasan masa lalu
45 Sama-sama beruntung
46 Mantan pacar suami
47 Penjelasan Aditya
48 Uang tak bisa membeli cinta
49 Kejutan untuk suami
50 Kejutan yang gagal
51 Peringatan Aditya
52 Penjelasan Aditya
53 Noda membandel
54 Permintaan Anga
55 Belajar mencintai
56 Obat mujarab
57 Kedatangan tamu
58 Hanya takut
59 Ketakutan Anga
60 Ungkapan perasaan
61 Ngidam
62 Berbohong demi kebaikan
63 Pelajaran untuk Angel
64 Terlalu indah
65 Ibu hamil yang senstif
66 Berkunjung ke makam
67 Hampir kehilangan
68 Pelaku
69 Ungkapan tanpa sadar
70 Minta obat
71 Perasaan Diah
72 Butuh kepastian
73 Tante Malini
74 Jalan keluar
75 Hadiah dari suami
76 Permintaan maaf
77 Suami sombong
78 Datang ke Jogja
79 Acara penting
80 Jelaskan!!
81 Baru sadar
82 Kenapa??
83 Dua pilihan
84 Jangan menghinanya
85 Syarat
86 Mendapat restu
87 Tak berubah
88 Pergilah!!
89 Pamit
90 Syarat yang sebenarnya
91 Kenapa Bu??
92 Jangan pergi!!
93 Kekecewaan Aditya
94 Maaf
95 Sudah sejak dulu
96 Menemui Ajeng
97 Pesakitan Ajeng
98 Perubahan Ajeng
99 Keputusan Ajeng
100 Sama-sama beruntung
101 Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102 Kepergian Ajeng
103 Kabar untuk mertua
104 Pura-pura bahagia
105 Tiga bulan
106 Utang
107 Kangen
108 Ancaman Raka
109 Tak peduli
110 Keterkejutan Raka
111 Mengakhiri
112 Dikokop
113 Marah
114 Terbakar cemburu
115 Pergilah temui dia!!
116 Menemui Ratna
117 Hilang kepercayaan diri
118 Kemarahan Aditya
119 Masih halal
120 Perubahan Raka
121 Sampai di rumah
122 Cemburu
123 Di salahkan
124 Pergilah!!
125 Meyakinkan perasaan
126 Sultan
127 Dua wanita
128 Cemburu
129 Takut kecewa
130 Pria tanpa identitas
131 Mencari Raka
132 Menjadi penguntit
133 Ngidam
134 Wanita pengganggu
135 Nggak cemburu
136 Pria misterius
137 Ajeng menyerah
138 Maafkan aku
139 Ancaman Ajeng
140 Kembali bersama
141 Ngaak mungkin!!
142 Ketulusan Ajeng
143 Kamu bisa Mas!!
144 Aku nggak marah!
145 PROMO NOVEL BARU
146 Pingin punya anak
147 Tujuh bulanan
148 Hamil??
149 Bahagia tiada tara
150 Empat kelinci lucu
151 Melahrikan
152 Akhir
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Bunga Kenanga
2
Dunia yang hancur
3
Kamu punya aku, suamimu
4
Jalani dengan ikhlas
5
Ganteng nggak??
6
Jangan di lepas
7
Menerima dengan ikhlas
8
Suami sempurna
9
Saran dari Caca
10
Istri titipan
11
Istri yang baik
12
Hujan perhatian
13
Kedatangan malapetaka
14
Pelukan dan kecupan pertama
15
Siapa wanita itu??
16
Mas milik kamu
17
Kawin
18
Masalah baru
19
Dua wanita ular
20
Jatuh cinta
21
Bekal makan siang
22
Malam mingguan
23
Ditinggal suami
24
Pap dari suami
25
Langkah yang Anga ambil
26
Aditya pulang
27
Matang dan tampan
28
Bantuan Caca
29
Rasa bersalah
30
Mas tunggu di rumah!!
31
Dingin
32
Penyesalan Anga
33
Kejujuran
34
Ngurusin suami
35
Mas Adit
36
Kemarahan Aditya
37
Tentang lidah
38
Kedatangan Mayang
39
Tidak ada rasa
40
Hak suami
41
Rencana Anga
42
Tidak bisa berhenti
43
Seperti drakula
44
Kilasan masa lalu
45
Sama-sama beruntung
46
Mantan pacar suami
47
Penjelasan Aditya
48
Uang tak bisa membeli cinta
49
Kejutan untuk suami
50
Kejutan yang gagal
51
Peringatan Aditya
52
Penjelasan Aditya
53
Noda membandel
54
Permintaan Anga
55
Belajar mencintai
56
Obat mujarab
57
Kedatangan tamu
58
Hanya takut
59
Ketakutan Anga
60
Ungkapan perasaan
61
Ngidam
62
Berbohong demi kebaikan
63
Pelajaran untuk Angel
64
Terlalu indah
65
Ibu hamil yang senstif
66
Berkunjung ke makam
67
Hampir kehilangan
68
Pelaku
69
Ungkapan tanpa sadar
70
Minta obat
71
Perasaan Diah
72
Butuh kepastian
73
Tante Malini
74
Jalan keluar
75
Hadiah dari suami
76
Permintaan maaf
77
Suami sombong
78
Datang ke Jogja
79
Acara penting
80
Jelaskan!!
81
Baru sadar
82
Kenapa??
83
Dua pilihan
84
Jangan menghinanya
85
Syarat
86
Mendapat restu
87
Tak berubah
88
Pergilah!!
89
Pamit
90
Syarat yang sebenarnya
91
Kenapa Bu??
92
Jangan pergi!!
93
Kekecewaan Aditya
94
Maaf
95
Sudah sejak dulu
96
Menemui Ajeng
97
Pesakitan Ajeng
98
Perubahan Ajeng
99
Keputusan Ajeng
100
Sama-sama beruntung
101
Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102
Kepergian Ajeng
103
Kabar untuk mertua
104
Pura-pura bahagia
105
Tiga bulan
106
Utang
107
Kangen
108
Ancaman Raka
109
Tak peduli
110
Keterkejutan Raka
111
Mengakhiri
112
Dikokop
113
Marah
114
Terbakar cemburu
115
Pergilah temui dia!!
116
Menemui Ratna
117
Hilang kepercayaan diri
118
Kemarahan Aditya
119
Masih halal
120
Perubahan Raka
121
Sampai di rumah
122
Cemburu
123
Di salahkan
124
Pergilah!!
125
Meyakinkan perasaan
126
Sultan
127
Dua wanita
128
Cemburu
129
Takut kecewa
130
Pria tanpa identitas
131
Mencari Raka
132
Menjadi penguntit
133
Ngidam
134
Wanita pengganggu
135
Nggak cemburu
136
Pria misterius
137
Ajeng menyerah
138
Maafkan aku
139
Ancaman Ajeng
140
Kembali bersama
141
Ngaak mungkin!!
142
Ketulusan Ajeng
143
Kamu bisa Mas!!
144
Aku nggak marah!
145
PROMO NOVEL BARU
146
Pingin punya anak
147
Tujuh bulanan
148
Hamil??
149
Bahagia tiada tara
150
Empat kelinci lucu
151
Melahrikan
152
Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!